
Endo, aku tahu urusanmu hanya denganku. Kenapa kau libatkan Yuki?! Lepaskan dia!" Arya berseru sekuat tenaga.
Endo menatap tajam pada Arya. Dia pun lantas menghampiri Arya dan langsung memberi tendangan tepat perut Arya. Tendangan yang keras hingga Arya berteriak lalu terbatuk.
"Karena kau telah mengambil Hana-ku. Lalu Yuki? Dia akan menjadi target mainan Tuan Hoka selanjutnya. Meskipun incaran utamanya adalah gadis baru bernama Anta itu," tukas Endo dengan senyum menyeringai ke arah Arya.
"Sekali saja tuanmu itu menyentuh Anta, aku akan pastikan mematahkan tangannya!" pekik Arya.
"Tutup mulutmu! Kau harusnya sadar diri kalau Tuan Hoka bukan tandinganmu!" seru Endo.
"Paman Endo, dengarkan aku! Jika kau menyukai Hana, kau harus bergegas menyelamatkannya. Paman Kenta membawanya pergi bersama Kakek Hoki dan Nona Arisa. Mereka ke luar dari pulau ini," ucap Yuki.
"Jangan bohong! Kau hanya menggertak dan berniat membohongiku, kan?!" pekik Endo menuding Yuki.
"Aku sungguh-sungguh, Paman Endo!"
"DIAM KAMU!" Endo menampar Yuki sampai sudut bibir gadis itu berdarah.
"Woi! Pengecut! Beraninya pukul perempuan! Lepaskan aku! Lawanmu adalah aku!" tantang Arya.
Endo bergerak menuju Arya dan menarik rambutnya ke belakang.
"Aarrgghh!" Arya mengaduh.
"Putri Hanako itu bidadariku! Dari kecil aku merawatnya sepenuh hati. Kutunjukkan rasa cinta dan kasih sayang yang tak pernah bisa padam. Tapi, kau datang seenaknya mengusik hati bidadariku! Harusnya tak ada yang bisa merebut Hanako dari tanganku!" teriak Endo.
"Kamu gila, Paman Endo?! Bukankah kau merawat Hana seperti putrimu sendiri? Singkirkan perasaan menjijikan itu!" lirih Yuki.
Kali ini Endo menuju ke arah Yuki dan memukulnya sampai berkali-kali.
"Woi, sialan! Banci! Pengecut!"
Arya berteriak keras, tak terima melihat perlakuan Endo pada Yuki. Hal itu malah membuat Endo semakin marah sedangkan Yuki hanya bisa menangis tersedu-sedu. Pipinya terasa sakit, bahkan ada beberapa giginya yang rontok. la ditendang dan dipukuli habis-habisan sehingga mungkin saja ia bisa kehilangan kesadaran.
"Pa-paman Endo, lepaskan kami. Aku mohon...."
"Diaaam!!!"
__ADS_1
Endo memukuli Yuki sebagai pelampiasan. Pria kalap itu memukul gadis itu tanpa ampun hingga wajahnya berdarah dan kembali tak sadarkan diri. Arya berusaha menghentak-hentakkan kursinya berharap bisa hancur dan merusak ikatan di tangannya. Namun pada akhirnya, dia tidak dapat berbuat apa pun untuk menolong Yuki yang malang.
"Dasar gila! Perasaanmu pada Hanako itu sebuah hal yang tak mungkin terjadi. Kalau kakeknya saja tidak menerimaku yang jelas lebih tampan darimu, kenapa dia harus menerimamu, hah? Pria tua tak tahu diri!" teriak Arya.
"Kurang ajar!" Endo menampar Arya sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Kau bilang tak mungkin terjadi? Karena Hanako menaruh perasaan padamu, begitu? Sungguh aku tak mengerti, kenapa Hana tak pernah peka dengan segala rasa yang aku tunjukkan? Kenapa?!"
Endo memukul Arya sampai tersungkur ke lantai. Lalu, pria itu menendang perutnya Arya beberapa kali membuat Arya terbatuk mengeluarkan darah.
"Pengecut! Kamu cuma bisa pukul aku karena tangan aku terikat, kan?" ledek Arya.
Endo tertawa
"Anggap saja aku gila." Endo terus meracau.
Endo kembali menendang Arya. Kali ini Arya berteriak mengaduh saat kakinya diinjak keras, mungkin saja kakinya patah.
"Aku harus menyingkirkanmu juga, karena kamu akan menghalangiku mendapatkan Putri Hanako! Tuan Hoka juga memintaku menyingkirkanmu karena kamu mulai berani mendekati Anta! Benar-benar siap sekali hidupmu. Dasar pria bodoh!" Endo sampai meludahi Arya.
...***...
Anta bersama Ria dan Dion meminta bantuan pada Ken. Kebetulan, Ken kenal baik dan dekat dengan kepala polisi yang baru Pulau Ju. Pria itu membawa Anta dan yang lainnya ke kantor polisi setempat.
"Paman Conan, masih ingat dengan para turis yang tinggal di rumahku?" Ken menyapa seorang pria berusia empat pulih tahun, dengan tubuh tinggi tegap layaknya seorang aktor.
"Tentu saja aku masih ingat. Akhirnya kita bisa berkenalan secara langsung, ya." Kepala polisi bernama Conan Doragawa mempersilakan Anta dan yang lainnya untuk duduk.
Dion lalu menceritakan perihal dirinya yang kehilangan Arya kepada kepala polisi yang baru itu. Tak lama kemudian, seorang polisi lainnya datang menghadap.
"Pak Conan, Nyonya Oshin Simitzu melapor kalau putrinya yang bernama Yuki telah menghilang," ucapnya.
"Apa? Yuki menghilang?!" pekik Anta.
"Anda mengenalnya?" tanya Conan pada Anta.
"Tentu saja, Pak. Saat upacara pembukaan lompat perahu layar, kami bersama. Dengan Arya juga, kok," sahut Anta.
__ADS_1
"Itu artinya sudah lima hari yang lalu, Nona," ucap Conan lalu menoleh pada anak buahnya, "Apa kau sudah mengirim anak buah ke sana untuk memeriksa?" tanya Pak Conan.
"Sudah, Pak. Baru saja Obi dan Itachi yang pergi ke sana untuk meminta keterangan."
"Apa Tuan Takura sudah tahu akan hal ini?" tanya Pak Cona karena dia baru saja bertemu ayahnya Yuki dan wanita simpanannya di resort yang baru.
"Menurut Nyonya Oshin, suaminya sedang pergi ke luar negeri dalam perjalanan bisnis," tutur anak buah Conan itu.
"Oh, begitu rupanya. Saya akan mengurus kehilangan turis kita ini dulu. Minta Obi untuk memberi kabar pada saya secepatnya," titah Conan.
"Siap, Pak." Petugas itu lalu bergegas pergi.
...***...
Di Rumah Suci milik Nyonya Micin dan Kakek Hoki.
Malam itu, setelah ritual terhadap Hanako dilaksanakan, Kakek Hoki sedang duduk seorang diri di dalam sebuah ruangan. Ia tengah mengamati sejenis boneka yang dibuat dari jalinan jerami yang diikat menjadi satu. Boneka ini disebut sebagai "wara ningyo".
Akan tetapi, wara ningyo bukanlah boneka sembarangan hasil karya seni. Dibanding boneka yang menggemaskan, wara ningyo lebih mirip boneka voodoo Jepang yang menakutkan. Boneka ini dibuat untuk seseorang yang ingin dicelakai dengan menancapkan benda tajam di tubuh boneka jerami tersebut.
Tak lama kemudian terdengar pintu berderit terbuka diikuti suara langkah kaki menggema. Arisa baru saja tiba, la menghadap pada Hoki Takurugi. Pria paruh baya itu menoleh.
"Tuan Todachi yang baru saja tiba di Pulau Ju, ternyata memiliki saingan bisnis yang merepotkan. Ia memohon bantuan kepada kita untuk menyingkirkan mereka semua." Kakek Hoki hanya diam, sesekali mengangguk-angguk.
Tiba-tiba, tangannya meraih satu boneka. Pria paruh baya itu mulai sibuk mengikat bagian-bagian sendi dalam boneka, sementara Arisa masih berdiri di sampingnya.
"Apa Todachi mengirimkan foto saingannya?" tanya Kakek Hoki.
Arisa mengangguk. Wanita itu lalu mendekat, menyerahkan dua lembar foto wajah seorang pria dan wanita dari keluarga Simitzu. Kakek Hoki lalu meminta Arisa untuk memanggil Nyonya Micin.
Arisa lalu keluar dari ruangan milik sang atasan. Suara langkah kaki kepergian perempua itu terdengar kembali menggema, diikuti oleh suara berdecit dari pintu yang sedang ditutup.
Tak lama kemudian, Nyonya Micin hadir setelah membuka pintu ruangan tersebut.
"Kau memanggilku?" tanyanya.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1