Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
51. Kiriman untuk Keluarga Herman


__ADS_3

Malam itu, Raja diminta untuk menjemput Ustaz Abu yang sudah berada di rumahnya. Dia lalu membawa pria berjanggut yang menggunakan gamis putih itu ke rumah Siti. 


Di rumah Siti sudah ada Anta, Dita dan Anan serta keluarga Tasya. Mereka berkumpul menggelar pengajian untuk mendoakan rumah Siti dan Herman sedari tadi. Sayangnya tetangga di samping kanan dan kiri rumah mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing sehingga berdalih tak bisa hadir. 


"Jadi, apa istri saya disantet, Pak Ustad?" tanya Herman.


"Ya, bisa dibilang gitu." 


"Apa salah saya dan keluarga saya, Pak Ustad?" tanyanya lagi.


"Kadang manusia butuh pengakuan, hati manusia kan nggak ada yang tahu. Nggak ada masalah sebetulnya, dia memang ingin dianggap hebat saja," kata Ustaz Abu.


"Siapa orangnya, Pak Ustad?" 


Ustaz Abu mengubah duduknya. 


"Istri Pak Herman ini kebetulan lagi sering kosong pikirannya. Dia juga jarang cerita kan kalau punya masalah apa-apa, jadi masuklah si makhluk gaib ini dengan mudah," katanya sambil tertawa kecil. 


"Kamu pernah mimpi lihat ular, nggak?" tanya Ustaz Abu pada Pak Herman. 


"Iya, Ustaz," jawabnya dengan mengangguk.


"Nah, ular itu yang masuk ke tubuh istri kamu, yang bikin bagian kepala sampai tulang ekor dia kesakitan. Mereka ini ngincer pencernaan," kata Ustaz Abu.


"Kok, Ratu Sanca masuk ke tubuh Bu Siti, Nda?" bisik Anta.


"Bukan dia, Nta, ini ular yang lain," jawab Dita seraya berbisik pula.


"Jadi, kalau hal santet seperti itu biasanya dibarengi sama penyakit, iya kan Pak Ustad?" tanya Anan yang sedari tadi menyimak.


"Biasanya begitu. Kita cuma bisa berserah diri sama Allah dan tetap berdoa pada Nya," ujar Ustaz Abu.


Setelah Pak Ustaz pulang, dia memberi air yang telah didoakan. Tubuh Bu Siti terasa lebih enteng. Meski masih kejang dan sakit, tetapi wanita itu sudah bisa buang air kecil lebih banyak. Pengajian malam itu pun berakhir. Semuanya pulang ke rumah masing-masing. 


Anta masih menoleh ke arah rumahnya di seberangnya.

__ADS_1


"Ada hawa yang lain ya, Bunda, sepertinya ini lebih baru dan lebih gelap," ucap Anta.


"Ya, sebaiknya kita tetap waspada. Perasaan Bunda juga nggak enak pas keluar dari rumah itu meninggalkan Bu Siti. Semoga dia dan keluarganya baik-baik aja," sahut Dita.


***


Malam harinya ketika berbaring di atas kasur, ternyata Siti kembali diserang dengan sosok-sosok gaib yang bermunculan. Suara-suara yang entah dari siapa sedang berteriak ke padanya.


"Kamu harus mati! Kamu harus mati!" 


Suara-suara itu terdengar keluar masuk dari indera pendengarannya. Ketakutan Siti semakin menjadi-jadi. Pukul dua malam, dia berteriak tanpa henti. Tubuhnya berkali - kali lipat terasa sakit dari yang sebelumnya. Badannya sudah sangat lemas.


Rasa takut itu makin menyerang Siti, tetapi dia memilih untuk diam. Dia takut menyusahkan orang lain. Dia menjadi merasa tak berguna dan merasa semuanya sia-sia. Terlebih sampai detik ini, dia masih kejang-kejang dan kesakitan. 


"Mati atau menderita seumur hidup!" Tiba-tiba, suara-suara itu kembali menyerang Siti.


"Aku mau mati," kata Siti yang menyerah tiba-tiba.


"Istighfar, Ma! Kamu harus kuat. Kamu harus kuat demi aku, demi Alvin!" seru Herman menguatkan kala mendengar rintihan sang istri.


"Aku nggak kuat, Pah. Aku mau mati aja," kata Siti lagi.


Akhirnya Herman membacakan ayat kursi. Istrinya tetap tak berhenti kejang-kejang. Wanita itu malah mengalami sesak napas. Matanya sulit ditutup. Dia merasakan ketakutan, kesedihan, dan kepedihan sekaligus. 


"Sebentar lagi kamu akan mati!" Kalimat itu terus. terusan terputar telinga Siti.


Tiba-tiba, Herman mencium aroma bau kabel terbakar. Dia berusaha  mencari sumber bau itu tetapi tak ketemu. Dia bahkan mengecek keadaan gas yang takut bocor dan juga kompornya. Tak ada apapun keanehan di dalam rumah yang dia temukan, lalu dia berdoa dan menemani istrinya kembali.


"Sampai kapan pun, kamu tak akan bisa pergi. Kamu harus mati atau menderita seumur hidup! Kamu harus mati!" 


Seseorang yang entah siapa mengatakannya sambil berteriak menyentak raga Siti. Wanita itu merasa seperti berada di ruangan yang gelap.


...***...


Dua hari berlalu, Siti selalu merasa was-was dan gelisah, ia sering takut dan merasa ada yang sedang mengintainya. Pada mulanya, Herman biasa saja. Tapi pada akhirnya ia pun mulai kewalahan menghadapi perubahan sikap Istrinya.

__ADS_1


Herman jadi sering izin agar tak masuk kerja, dikarenakan menemani istrinya yang kembali ketakutan. Sang istri mengatakan jika ada yang ingin melukainya. Siti terkadang menangis, tertawa dan menjerit histeris.


Herman dengan sabar menghadapi sikap istrinya, ia kadang memeluk erat istrinya jika dia sedang mengamuk dan tidak jarang tubuhnya jadi sasaran amukan istrinya. Cakaran, tamparan, dan pukulan sering ia dapatkan jika sang istri mulai kambuh.


Untungnya, keluarga Dita dan Anan selalu sigap membantu. Dita juga sering merawat Alvin dan mengajak anak itu berada di rumahnya. Alvin akan bermain bersama Adam dan Dira saat ibunya sedang kambuh.


Herman sampai sudah berusaha membawa istrinya berobat ke ahli jiwa, tetapi para dokter di sana mengatakan jika istrinya baik-baik saja. Atas anjuran salah satu rekannya, ia membawanya ke orang pintar. Tapi tetap saja, hanya berlaku sementara, tidak lebih dari tiga hari istrinya akan kembali mengamuk.


Anta berusaha mencari tahu ke alam bawah sadar Bu Siti mengenai apa yang sebenarnya pernah wanita itu lakukan. Namun sayangnya, tak ada gambaran buruk tentang wanita itu. Dia dan Dita juga tak mengerti bagaimana caranya mengetahui siapa pengirim santet yang mengganggu tetangga mereka itu.


Beberapa makhluk gaib juga berdatangan. Untungnya Ratu Sanca dan Silla sigap membantu untuk menghalau mereka. Sampai suatu ketika Raja mengatakan hal yang membuat Dita dan Anta tersentak.


"Bunda, aku … ah, semoga aku salah," ucap Raja.


"Kamu kenapa, Ja?" tanya Dita.


"Aku nggak bisa lihat bayangan Bu Siti di cermin."


Dita yang mendengar itu langsung merasa gundah. Dia tahu akan bakat putranya dalam meramalkan orang yang sebentar lagi akan pergi. Namun, Dita mencoba meyakinkan Raja agar tidak terlalu takut dan terbawa perasaan tentang gambaran yang Raja lihat kala itu.


"Semoga kamu salah lihat, Ja. Kita doain aja semoga Bu Siti dan keluarganya baik-baik saja," ujar Anta yang mendengar hal tersebut. 


Dita, Anta, dan Raja lalu pamit pada Herman dan Siti. 


"Untuk malam ini, biar Alvin tidur di rumah saya saja, Pak," ucap Dita.


"Makasih, Bu, biar saja Alvin tidur di sini. Mertua saya juga sudah datang menemani kami," ucap Herman.


"Nggak apa, Pak. Alvin juga udah tidur sama si kembar. Kasian kalau dibangunin."


Arya datang menghampiri Anta. Dia berdiri di tengah jalan antara rumah keluarga Anan dan Herman.


"Yang, lihat itu!" Arya memanggil Anta. Dia melihat sesuatu yang mengintip di ujung jalan dekat gapura masuk komplek mereka.


"Apa itu? Ayo, kita kejar!" Anta segera bergegas berlari menghampiri sosok yang ditunjuk Arya.

__ADS_1


Raja dan Arya langsung menyusul Anta.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2