Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
70. Hanako Tertangkap


__ADS_3

"Jadi, kalau Tuan Daniel sama keluarga nya tinggal menetap di sini, itu artinya ada hawa manusia yang akan terus ada di sini dan membuat segel pusat pertemuan atau persinggahan para hantu jadi hilang. Begitu, kan?" tanya Anta.


"Bisa jadi, Non." 


Dita datang dari arah kamarnya dan hendak menuju ke dapur. Si kembarnya tiba-tiba merengek ingin minum susu.


"Eh, ada Bunda," ucap Anta.


"Eh, Nyonya Dita ngagetin aja." Bi Ijah tersenyum.


"Serius banget ceritanya. Anta belum tidur? tanya Dita. 


"Belum, Bunda. Anta habis ambil minum," sahutnya.


"Lho, Mbak Kunti nggak balik ke kamarnya? Kok, malah cosplay jadi guru ngejelasin panjang lebar ke Anta?" Dita menatap tajam dan tersenyum ke arah wanita yang menyerupai Bi Ijah yang berdiri di samping Anta.


"Biar aja sih, Bunda. Anta malah sengaja biarin dia jelasin semua ke Anta," ucap Anta seraya menoleh pada wanita di sampingnya yang langsung mengubah wujudnya. 


"Jadi, kamu sudah tahu kalau saya hantu, ya?" tanya kuntilanak itu.


"Udah, dong. Anta sengaja aja pura-pura nggak tau," sahut Anta seraya terkekeh.


Rupanya dari tadi Anta sedang berbicara dengan hantu kuntilanak yang mengasuh hantu anak perempuan yang kerap naik turun tangga. Dialah hantu wanita yang mendiami kamar yang ditempati Raja dan Arya saat ini.


"Kalau nggak mau saya ganggu, jangan ganggu kami, ya! Sana balik!" pinta Dita.


"Baik, Kanjeng Ratu." Hantu kuntilanak itu lalu menarik hantu anak perempuan dan pergi melayang menuju kamar mereka di lantai dua.

__ADS_1


...***...


Malam itu lebih gelap dari malam-malam sebelumnya. Karta sedang bersiap saat ia melihat dari jauh kerumunan pengikut Nyonya Karina sudah berdatangan. Mereka berjalan menuju kediaman miliknya, tempat hajatan akan dilaksanakan.


Karta melangkah mengikuti mereka, berbaur bersama abdi lain. Para tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Mereka adalah para bawahan Nyonya Karina, termasuk seorang bupati yang ternyata mengabdi di bawah kaki wanita itu. 


Hanya Karta yang tahu tentang hal ini karena ia sudah dipercaya menjadi tangan kanan seorang Karina yang sekarang memimpin sekte Nyi Ageng.


Karta melihat Nyonya Karina duduk di singgasana sebagai pemimpin tertinggi. 


Karina merupakan wanita yang berpostur tinggi, ramping bak model dan berparas ayu awet muda layaknya Angelina Jolie versi asia. Meski usianya sudah berkepala lima, tetapi dari luar ia terlihat masih muda seperti wanita berusia tiga puluh tahun. 


Karina memilih rumah Karta, pria yang menjadi pewaris ayahnya, Agung Kartasasmita. Pria itu juga meninggal karena sesuatu yang tak diketahui sampai saat ini. Tanah luas dengan berbagai usaha besar menjadi pokok bisnis keluarga Kartasasmita hingga dikenal sepanjang wilayah Kemuning. Tak ada yang tidak mengenal nama Kartasasmita. Sejak zaman dahulu, semua orang tahu bahwa keluarganya adalah tuan tanah yang harus senantiasa dihormati di wilayah tersebut. 


Meski begitu, ada desas-desus mengenai kematian ayahnya Karta, yang ditandai dengan wabah yang mengerikan. Banyak orang tewas dalam kondisi badan berwarna kemerahan, seakan-akan kulit mereka melepuh, dan gatal tak tertahan. Konon kematian Agung Kartasasmita meminta banyak tumbal, tetapi ada pendapat lain yang Karta pernah dengar. Di balik kematian ayahnya tersimpan rahasia kalau beliau dibunuh dengan santet keji oleh musuh-musuhnya. Sejak saat itu tak ada yang lebih pantas untuk menjadi pewaris tunggal keluarga, selain Karta junior. 


Sebagai seorang penguasa wilayah Kemuning, Karta seharusnya bisa membuat semua orang bertekuk lutut termasuk Mina dan Nyonya Micin. Berkali-kali dia mengingatkan pada siapa pun pesaingnya tentang sebenarnya mereka. Tak sepantasnya 


"Tempat kita di sini bukan untuk saling mengunjuk diri melainkan untuk saling melengkapi," ucap Micin yang coba meyakinkan agar mereka membebaskan Mina. 


"Kami tahu, Nyonya. Tapi, kami tak suka jika harus bekerja sama. Harus ada yang mengalah untuk mendapatkan tujuan kita yang sama." Karina menyeringai.


"Lalu, bagaimana jika Ratu Masako lebih unggul dari Nyi Ageng kalian itu?" sentak Micin.


Karina dan Karta tergelak. 


"Kau hanya berdua, Nyonya. Lihatlah kami semua!" seru Karina.

__ADS_1


"Ini wilayah kalian. Coba kalau kalian ke wilayahku. Aku pastikan aku bisa bersaing dengan komunitas kalian," tantang Micin. 


Karta yang duduk di singgasana bersama Karina yang tampak cantik jelita, mempersilakan Micin untuk duduk menyimak. Di samping kanan mereka, dua pejabat wilayah duduk memandang ke latar tempat api berkobar di atas tumpukan kayu. Di kiri mereka, ada Hanako yang tengah duduk dengan anggun seperti sedang terhipnotis.


Karta sempat termenung memandang Hanako, ia begitu cantik. Hanako tampak menjadi gadis dewasa dengan rias yang memancarkan kecantikan. Para penari perempuan datang memutari kobaran api, melenggak lenggok dengan anggun mengikuti irama dari tabuhan gamelan. 


Pak Asep yang ternyata anak buah Karta, mengawasi dari jauh. Sesekali ia melihat tuannya. Sebagai tangan kanan beliau, Asep harus siap kapan pun Karta memanggil. Tepuk riuh dari para pengikut yang duduk bersila melingkari lapangan terdengar riuh. Para penari berlutut pamit melangkah pergi setelah mempertontonkan tarian Bedhaya Ketawang pada Kartasasmita dan Karina. 


Saat itulah Asep mendengar Karta memanggil dirinya. Segera la menuju ke kursi utama tempat sang tuan duduk.


Karta berbisik, "Bawa satu nanti ke kamar," katanya sambil melirik para penari.


Karina sempat melirik Karta. Ditinggal sang istri tetap tak mengubahnya sebagai pria hidung belang. Toh, semua tahu siapa Kartasasmita baik junior maupun senior. Mereka semua sama. Pria-pria yang tak pernah puas dengan satu wanita. Semua yang mereka inginkan tak bisa ditolak oleh siapa pun, termasuk mendiang istrinya sendiri. Sang istri hanya bisa membiarkan jika suaminya tidur dengan wanita lain.


Asep mengangguk kemudian melangkah menuruni anak tangga teras kediaman Karta. Pria itu berdiri dan berkata kepada semua yang datang. 


"Malam ini akan menjadi malam yang istimewa karena Nyi Ageng akan kembali dan memberikan kekuatannya pada Nyonya Karina dan kita semua!" seru Karta.


Asep menoleh ketika mendengar seruan tersebut. Dia sudah lama bekerja untuk seorang Kartasasmita, tetapi ia masih belum mengerti siapa Nyi Ageng. 


"Apa yang akan dia lakukan pada gadis itu," gumam Asep berbicara pada dirinya sendiri.


Asep pernah mencoba mencari tahu tentang patung dewi yang sangat Karta agungkan itu, tetapi tak ada satu pun pekerja di rumah Karta yang paham.


Karta melangkah turun diikuti oleh Karina. Mereka membawa Hanako menuju api unggun. Para pengikut masih duduk bersila memutari Karta dan Karina. Dua orang pengikut lalu berdiri, meninggalkan area tersebut. Tak lama kemudian, mereka kembali dengan menarik seekor hewan yang terlihat menyeramkan.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2