
"Halo, selamat datang di Butik Fatimah. Ibu Tasya nggak ikut?" tanya wanita itu.
"Bunda saya lagi cek persiapan hotel," jawab Arya.
"Halo Tante, nama saya Anta," sapa gadis itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ibu Fatimah.
"Wah, calon pengantinnya cantik sekali. Apa kamu masih berminat memakai gaun buatan saya setelah kejadian tadi?" sapanya pada Anta yang mengangguk tersenyum.
"Bajunya bagus-bagus, kok. Saya malah pengen nikah lagi," sahut Ria.
Arga yang baru masuk membawa beberapa minuman susu kotak langsung terperanjat.
"Kamu bilang mau kawin lagi, Yang?" tanya Arga.
"Cuma mau pakai bajunya aja. Kawinnya mah maunya sama kamu terus," ucap Ria yang langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Ummm, tapi maaf sebelumnya, gaun buatan saya ini bau bangkai semua. Apa kamu masih berkenan memakainya?" tanya Bu Fatima lagi.
"Ibu Fatima, kenapa bilang begitu?" Sang asisten tampak panik.
"Biar saja, Ti. Saya udah nggak sanggup rasanya mengelola butik ini." Bu Fatima terlihat putus asa.
Anta lalu mendekat. Dia sempat menoleh ke semuanya. Apalagi Raja juga mengerti dan mengangguk.
"Ibu siapa tadi namanya?" tanya Anta.
"Ini namanya Ibu Fatimah. Sejak tiga bulan lalu, butik kami sepi pengunjung. Katanya baju-baju di sini bau bangkai, terus pelanggan pada ketakutan," sahut sang asisten.
"Sebentar ya, rasanya Anta tahu." Gadis itu melangkah menuju ke sosok pocong yang berdiri di sudut.
"Begini, Bu, bukan sulap bukan sihir, tapi kami semua dapat melihatnya," ucap Arya meskipun agak takut.
"Melihat apa?" tanya Bu Fatimah tak mengerti.
"Siap-siap, kalian pegangin ibunya. Aku takut si ibu pingsan nanti," ucap Ria yang sudah bersembunyi di belakang Arga.
Sementara Anta mendekat ke arah pocong tadi.
"Om, om, mau tanya ngapain ada di sini?" tanya Anta di hadapan sosok pocong itu.
Sosok itu hanya diam bahkan melotot. Anta yang gemas menarik ikatan tali pocong tersebut.
"Ngaku sama Anta, kamu mau ngapain di sini? Jangan-jangan kamu yang buat tempat ini nggak laku dan bau bangkai, ya?" tuduh Anta. Gadis itu menarik pucuk ikatan di atas kepala pocong itu sampai jatuh ke arah depan.
"Dia bicara dengan siapa?" tanya Ibu Fatimah tak mengerti. Sang asisten juga terlihat heran.
__ADS_1
"Kak Anta lagi ngomong sama pocong, Bu," sahut Raja.
"Astagfirullah, pocong?!" pekiknya.
"Ja, sini bantuin Kak Anta! Kita bakar dia sekarang!" seru sang kakak.
"Oke, Kak. Kalau perlu kita siksa dulu lah jangan main bakar aja." Raja menghampiri.
"Ampun, ampun! Saya cuma disuruh," Akhirnya sosok pocong itu mengaku.
"Siapa yang nyuruh kamu?" tanya Anta lagi.
"Pemilik butik yang di ujung jalan itu," ucapnya.
"Ya ampun, hari gini masih ada aja yang takut kesaing dengan cara Begini? Astagfirullahalazim…," ucap Anta.
Ibu Fatimah masih saja tak percaya dengan siapa Anta berbincang. Akhirnya gadis itu terpaksa menunjukkan sosok menyeramkan itu pada pemilik butik. Pada akhirnya, Ibu Fatimah sampai terduduk lemas. Anta menjelaskan pembicaraan dengan sosok pocong itu.
"Ja-jadi, jadi dia dikirim ke sini untuk membuat saya rugi?" tanya Bu Fatimah.
"Iya, Bu. Pengirimnya pemilik salon di ujung jalan sana. Anta curiga ada sesuatu di pot tanaman di depan itu. Anta izin ya mau acak-acak," ucapnya.
Gadis itu menuju ke bagian pot tanaman yang ada di depan salon. Ucapan Anta terbukti kala gadis itu menemukan tali pocong yang dipendam di dalam tanah pot tersebut.
"Astagfirullah!" pekik Bu Fatimah.
"Sebaiknya kita adakan pengajian saja, Bu, di tempat ini," ucap Tati, sang asisten.
"Ya, Ti, kita buat pengajian," ucap Fatimah.
"Nak Anta sebaiknya kembali besok atau nanti sore saya bawa gaun saya ke rumah kamu," ucap Bu Fatimah.
Anta mengangguk setuju. Dia pun pamit bersama yang lainnya.
"Kita makan dulu, ya?" pinta Anta pada Arya.
"Hmmmm… nggak jauh deh sama makanan," cibir Raja.
"Kalau berhubungan dengan hal begini, pastinya bakalan bikin Kak Anta laper tau, Ja."
"Ya udah kita makan dulu," sahut Arya.
...***...
Seorang pria sedang mengawasi Anta dan yang lainnya dari dalam mobil sedan hitam. Ia lalu meraih gawat miliknya untuk menghubungi pria bernama Kartasasmita.
__ADS_1
"Tuan Karta, gadis itu dan adiknya dapat membakar sosok pocong pemutus rezeki," tukasnya.
"Kamu yakin, Sep?" tanya Karta dari dalam ponsel.
"Saya lihat sendiri, Tuan, kalau Non Anta dan adiknya bisa memusnahkan pocong itu," ucapnya lagi.
"Kalau begitu, dia lah yang saya cari. Titisan Ratu Kencana Ungu. Tunggu sampai dia menikah, karena menurut Nyonya Karina, gadis itu akan mendapat kekuatan dari sang ratu. Kita akan menggunakannya untuk Nyi Ageng. Ingat, bertindak lebih cepat agar gadis itu tak dikuasai lebih dulu oleh Micin dan dijadikan media Ratu Masako," ucap Karta mengingatkan Asep.
"Baik, Tuan." Sambungan ponsel itu tertutup. Lantas, Asep menghubungi pihak lain untuk merencanakan penculikan Anta.
Sementara itu, Ria merengek meminta makan nasi padang favoritnya demi si jabang bayi alias ngidam. Dia ingin makan di sana, di sebuah restoran masakan padang yang di dekat jalan tol hendak menuju ke luar kota. Setelah satu jam melaju, Arga memberhentikan laju mobilnya di di halaman parkir restoran padang yang besar itu. Ada banyak bus dan kendaraan lainnya terparkir.
"Jauh banget nyari makanan padang aja ke sini," keluh Raja.
"Udah ikut aja, dari pada anak aku ngiler," sahut Ria.
Tiba-tiba, wanita hamil itu merasa kandung kemihnya penuh. Dia menarik tangan Anta dan membawanya menuju ke toilet umum terdekat.
"Temenin aku sampai dalam pokoknya ya, Nta," pinta Riam
"Ya elah, Ria! Nggak mau, ah! Udah gini aja, nanti aku tunggu depan pintu aja," sahut Anta.
"Nggak mau! Aku mau ditemani sampai dalam, pokoknya sampai dalam. Aku rada takut di toilet umum gini, Nta," rengek Ria.
Anta menghela napas dalam. Dan akhirnya dengan terpaksa dia turuti juga keinginannya sahabatnya itu.
Raja sedari tadi terdiam. Dia lalu menoleh pada sebelah kirinya ke arah ujung jalan. Ia melihat sosok pria mendekat kepadanya dari kejauhan. Lebih mengerikannya lagi, sosok itu tanpa kepala. Dia melangkah semakin dekat.
...***...
Sementara itu, Ria dan Anta di toilet.
"Kok, masuknya berdua, Mbak?" tanya Ibu si penjaga toilet perempuan.
"Tau nih, Mbak, katanya takut," sahut Anta.
"Oalah, ya udah kalau begitu." Wanita penjaga toilet itu mempersilakan.
Sepuluh menit berlalu. Para pria masih menunggu di tempat parkir restoran tersebut.
"Kok, masih pada di sini?" tanya Ria.
"Kita solat zuhur dulu barusan," sahut Arga.
Setelah itu, mereka melangkah masuk ke dalam restoran. Ada perasaan tak enak yang bergelayut pada diri Anta. Gadis itu menarik napas sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
"Raja mana, ya?" gumam Anta.
...*** Bersambung ***...