
"Apa kau datang ke sini untuk mengusik wilayahku?" tuding sosok itu dengan suara berat nan parau menyeramkan.
"Sa-saya, saya nggak akan mengganggu, kok. Mana saya berani," ucap Arya yang tak mau melihat ke arah sosok itu.
Perlahan tubuh pemuda itu bisa bergerak kembali. Arya lalu mencoba menjauh setelah menahan napas sedari tadi. Arya hendak melangkah pergi, tetapi sosok itu menarik kerah belakangnya.
"Eh, eh, eh, lepasin!" pekik Arya.
"Aku pemimpin di wilayah ini, tak boleh ada yang menganggu di sini," tukas hantu besar itu.
"Kan tadi udah dibilang, saya nggak mau ganggu, kok. Saya hanya mengajar di sini. Saya nggak peduli dengan keberadaan kamu. Jadi, kamu juga nggak usah peduli dengan saya yang ada di sini. Meski kita berdampingan, kita hidup masing-masing aja nggak usah ganggu!" ucap Arya.
Hantu besar itu malah tertawa. Sampai perut buncit gemuk itu bergoyang-goyang. Arya menahan diri untuk tidak mual.
"Hidup masing-masing? Hahaha, kau lucu anak muda."
"Oh iya lupa. Maksudnya hidup masing-masing di alam kita masing-masing. Saya di alam nyata, kamu di alam gaib. Jangan pada ganggu," ucap Arya yang baru sadar akan kesalahannya.
"Hmmm, baiklah. Apapun yang akan terjadi di sekolah ini, kamu juga jangan ikut campur!" tegas si hantu besar itu penuh ancaman.
"Maksudnya?" Arya malah tak mengerti dengan nada ancaman itu.
"Lihat saja nanti. Kalau kamu sampai nekat ikut campur urusan saya di sini, maka kamu juga akan saya jadikan target selanjutnya," ancamnya.
"Dih, gila!" sungut Arya.
"Kamu bilang apa?!" hardiknya.
"Om Jin, cakep banget. Badannya sesuai dan cocok buat menakuti," ucap Arya lalu melangkah mundur pergi dan setelahnya berlari menjauh dengan kencang.
"Haha, selamat datang di Ju Wakanda! Habis ketemu bos besar, ya? Dia memang paling menakutkan di sini," sapa Yuna yang datang mengejutkan Arya dan ikut berlari.
"Hih, malas banget sebenarnya saya di sini kalau nggak butuh uang."
"Aku boleh ikut kelas kamu ya, Pak Asahi?" pinta Yuna.
"Hmmm, tapi jangan buat kekacauan, ya!"
Arya menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap Yuna.
__ADS_1
"Kamu kenapa bisa meninggal?" tanya Arya.
"Aku tak tahu bagaimana aku mati. Aku hanya terbangun di sini, di malam hari lalu tak bisa ke mana-mana. Aku juga tak ingat siapa aku, hanya tanda pengenal ini yang buat aku tahu namaku," ujar Yuna.
"Oh, gitu."
Arya lalu masuk ke sebuah kelas dan langsung dihadiahi sorakan para gadis yang menyambutnya. Dengan mode sok cool, dia sibakkan rambut ke atas seraya berjalan bak model. Tebar pesona siap dijalankan.
...***...
Hanako menunggu Arya di depan kelas saat bel istirahat berdentang.
"Aku tak suka melihatmu senyum sana sini pada mereka," ucap Hanako.
"Sebagai guru yang baik, aku harus murah senyum, dong," sahut Arya.
"Tapi aku tak suka. Senyum itu punya aku," rengek Hanako yang mana terlihat menakutkan.
Seorang gadis berponi bernama Yuasa datang memberikan Arya sekotak bekal makan siang.
"Ini buatanku, anggap saja tanda sama datang untuk Pak Asahi," ujarnya.
Yuasa tersipu malu lalu pergi. Hanako meraih bekal tersebut dan membuangnya ke tong sampah.
"Hana!" pekik Arya.
"Aku bilang kau hanya milikku! Hanya aku yang akan merawat dan melayanimu. Sekarang, makanlah bekal di atas meja mu yang sudah aku siapkan tadi," ucap Hanako dengan tatapan tajam lalu pergi.
Arya hanya menghela napas dalam. Lalu, ia menuju toilet. Langkah Arya terhenti di sebuah ruangan musik. Sebenarnya ruangan itu tidak begitu menyeramkan karena bangunannya menghadap jalan. Namun, tetap saja gara-gara ada pemandangan sumur tua yang terlihat dari jendela ruangan itu dan para penampakan yang kerap datang, seluruh area di sekolah tersebut terasa sama mengerikannya. Suara tuts piano terdengar. Namun, tak ada siapa pun yang sedang melantunkan musik di sana.
Tiba-tiba, suara piano yang seolah ditekan oleh sepuluh jari bersamaan terdengar mengejutkan Arya. Yuna meraih tangan Arya untuk berjongkok seketika.
"Jangan hiraukan, Pak! Pergi saja dari ruangan ini!" bisik Yuna yang menarik tangan Arya. Gadis itu juga terlihat ketakutan.
"Kamu tuh, ya, ngagetin aja kayak setan!"
"Lha, emang saya hantu, Pak."
"Ya, maksudnya jangan ngagetin. Memangnya kenapa dengan ruangan itu?" tanya Arya.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya! Cepat hindari ruangan itu!" bisik Yuna.
"Tunggu di sini, ya. Saya mau pipis dulu," titah Arya.
Yuna mencoba mengikuti, tetapi Arya langsung menahannya. Mendorongnga menjauhi toilet pria.
Setelah Arya selesai dari kamar mandi, Yuna menceritakan pengalaman seram di ruangan itu. Usut punya usut, Yuna punya pengalaman menyeramkan di ruangan tersebut. Suatu ketika setelah bel istirahat berbunyi, dia masih mengerjakan latihan musik bermain piano. Teman-temannya yang lain sudah bergegas menuju kantin, jadi hanya tinggal Yuna yang sendirian di ruangan tersebut.
Suara alunan denting piano lantang terdengar ketika gadis itu masih menulis not balok. Selang beberapa menit, suara denting piano kembali terdengar. Beradu cepat dengan suara keyboard yang Yuna mainkan dan ada di ruangan itu. Terdengar saling bersahutan dan bersaing. Segera saja Yuna menghentikan kegiatannya. Anehnya, suara piano yang terdengar berbeda itu juga ikut berhenti.
"Kamu kenapa tahu kejadian itu? Bukannya kamu juga nggak tahu bagaimana kamu mati?" tanya Arya.
"Entahlah, hanya ingat sekilas sekilas saja, aih." Yuna melanjutkan lagi ceritanya.
Suara dinding piano yang berasal dari arah depan itu kembali berbunyi ketika Yuna melanjutkan menekan tuts keyboard. Namun, suara denting piano kembali berhenti ketika Yuna selesai.
Akhirnya, gadis itu memberanikan diri mendekat ke arah piano. Seperempat gerakan tubuhnya seperti hendak menoleh, tiba-tiba suara piano yang ditekan bersamaan secara mendadak terdengar mengejutkan. Sontak saja Yuna terkejut dan ingin segera pergi.
Yuna memberanikan diri untuk berusaha kabur. Namun, di sela-sela jendela ruangan, Gadis itu melihat sesosok perempuan yang sedang bermain piano. Dia memakai seragam jas guru yang sama dengan Arya. Rambutnya berantakan dan terurai panjang sampai menutupi wajahnya.
"Jadi, ada hantu di ruangan itu?" bisik Arya.
"Anda, benar! Dan hantu itu menakutkan."
"Apa dia guru musik kali mau ngajar musik," ucap Arya.
"Bukan, Pak Asahi. Ibu Sajiku itu mengajar pelajaran Bahasa Inggris. Kayaknya nggak mungkin kalau dia ada di ruangan musik dan terlihat seperti sedang bermain piano. Jadi, aku yakin itu hantu, lalu aku segera bergegas pergi dari situ."
"Hah, guru Bahasa Inggris?"
"Iya, Pak. Seminggu sebelum aku meninggal dia ada di sana. Saat itu, aku menuruni tangga. Aku mendengar suara teriakan beberapa murid dari ruang kesenian. Aku yang baru saja menuruni tangga langsung berlari menuju ruang musik tadi apalagi banyak murid yang berlarian ingin tahu. Ya sudah, aku mengikuti murid yang pada lari ke sana," ucap Yuna.
"Lalu, kalian pada lihat apa, tuh?" tanya Arya penasaran.
"Ya, Ibu Sajiku yang sudah tewas mengenaskan, Pak. Serem banget pokoknya. Di sana pada ngeliat Ibu Sajiku udah tiduran di samping piano dengan mulut berbusa."
"Hah? Cuma ketiduran doang kok pada teriak?" tanya Arya dengan polosnya.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1