Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
68. Pernikahan Arga dan Ria


__ADS_3

Karta mendengarkan semua instruksi dari dalam ponsel. Lalu kemudian, dia pergi menjauh dan tak terlihat lagi oleh Anta kala itu.


"Kayaknya dia ngomongin Anta, deh. Hmmmm, apa perasaan Anta aja, ya. Dih, pede banget Anta, ya." Gadis itu bermonolog sendiri. Lalu, mulai merebahkan diri di atas ranjang empuk tersebut. Tiba-tiba, ada hal yang ia lupakan.


"Eh, hape Anta tadi mana, ya?" Gadis itu segera bergegas menyusur ke luar kamar mencari ponselnya.


Anta tak sengaja menabrak Raja yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Cari apa, Kak?" tanyanya.


"Hape Kak Anta di mana, ya?"


"Coba cari di dapur! Tadi 'kan Kak Anta bikin milo," titah Raja.


"Oh iya, bener juga kamu." Anta segera melangkah ke dapur diikuti Raja.


Benar saja apa kata Raja, ponsel Anta tertinggal di atas meja kitchen set. Mereka segera kembali ke kamar tetapi malah melihat ayah tirinya Arga sedang meletakkan suatu benda ke atas piring. Kedua kakak beradik itu saling menatap satu sama lain lalu memutuskan untuk mengintip agar bisa memeriksa lebih jelas benda apa yang di atas piring itu.


"Kak, Bunda suruh kita masuk kamar terus tidur," bisik Raja.


"Sssttt, jangan berisik. Kak Anta mau kepo dulu soalnya." Anta meletakkan jari telunjuknya ke bibir Raja yang langsung menepis karena terasa asin dan asam akibat Anta baru saja menggaruk ketiaknya.


Anta dan Raja lalu mengamati ke dalam ruangan kosong tempat ayah dan ibunya Arga. Bentuk dari benda putih itu akhirnya dapat diketahui jelas saat keduanya bersembunyi. Benda itu terpantul sinar rembulan dari jendela luar.


Tuan Daniel tak sendiri, istrinya menyusul kemudian. Laila mengernyit saat melihat sosok benda yang disebut boneka pocong di tangan suaminya. Di dalam boneka pocong itu ada sebuah catatan yang dibalut dengan kain kafan asli.


Daniel lalu mengambil pisau dan membuka tali tipis yang mengikat boneka jelek itu. Dia sampai membelalak saat melihat tanah merah dari kuburan beserta bunga-bunga pun tercecer di piring.


"Sudah saya duga, ini adalah 'kiriman' kepada ku, Mi," tutur Tuan Daniel.


"Pantas saja, usaha kamu sekarang ini terasa berat, Pih. Rumah kita menjadi mencekam dan tidak enak untuk ditempati. Belum lagi uang yang disimpan di rumah selalu saja hilang," gerutu Laila.

__ADS_1


"Masa kita pindah ke sini saja masih dikirimi benda seperti ini? Apa jangan-jangan dia selalu berada di sekitar kita?" tanya Daniel pada Laila.


"Mana aku tahu, Pih. Musuh-musuh kaku kan lumayan banyak. Kamu juga sering main curang, kan?"


"Loh, itu semua karena kamu, Mih. Kamu nuntut ini itu, makanya Papih kerja apa pun sampai kecurangan Papih lakukan biar menang tender. Sekarang apa nyatanya? Semua usaha Papih melempem, mungkin gara-gara ini atau bisa juga gara-gara Mamih!" sungut Daniel.


"Kok, jadi gara-gara aku, sih? Papih nyebelin!" Laila mengerucutkan bibirnya.


Daniel terlihat mengabadikan fenomena yang dikenal dengan sebutan voodoo dengan kamera ponsel. Dia juga sibuk mengorek-ngorek isi boneka menjijikkan itu. Rupanya usaha yang dimiliki Tuan Daniel diberi tanah kuburan. Dia juga mendapat kiriman dari pesaing bisnisnya. Segala kejadian buruk perlahan menyerang satu per satu ke Daniel dan juga mengarah pastinya ke anggota keluarganya yang lain. Sehingga saat pernikahan Arga dan Ria, mereka harus memikirkan otak agar bisa pindah rumah untuk sementara waktu. Atau lebih tepatnya, bersembunyi.


...***...


Pagi hari saat pernikahan Ria dan Arga akan dilangsungkan. Ria menatap dirinya di depan cermin rias. Kedua mata lentik itu berkaca-kaca. Senyum terulas di wajahnya.


"Cantik banget anak Bunda," ucap Dita yang masih terampil merias wajah Ria.


"Wah … cantik banget kamu Ria!" Anta tak kalah berseru kala melihat sahabatnya sudah cantik dengan kebaya warna putih.


"Eits! Jangan nangis dong! Nanti make up ala bunda hilang loh." Anta buru-buru meraih tisu dan memberikannya pada Ria.


Ria langsung memeluk Anta. Dita ikut serta dan berpelukan bersama. Dira dan Fasya yang selesai merangkai buket bunga mawar untuk Ria pegang, jadi terharu kala memasuki kamar pengantin. Kedua gadis kecil itu juga sudah tampil cantik dengan seragam dress batik warna ungu.


Tak lama kemudian datanglah Raja ke kamar untuk memberitahukan kalau penghulu sudah datang. Dengan segera mereka mengawal Ria sampai ke area pernikahan. Adam dan Disya bersama keluarga yang lain juga tampak kompak dengan seragam mereka. Mereka menaburi potongan kelopak mawar yang dilempar ke arah Ria menyambut kedatangan gadis itu.


Acara pernikahan tersebut diawali dengan sambutan dari pihak mempelai pria oleh Tuan Daniel lalu sambutan dari Anan selaku mewakili pihak dari Ria. Setelah acara sambutan kedua belah pihak akhirnya ijab kabul dilangsungkan.


Arga sempat melirik ke arah gadisnya yang tampak cantik. Ria begitu menggemaskan dari biasanya. Senyum puas dan bangga terlukis di wajah tampannya. Pemuda tersebut akhirnya melaksanakan ijab kabul yang berhasil dengan satu kali napas yang dilantangkan dari mulut Arga. Anan dan Herdi bertindak sebagai saksi pernikahan kala itu.


"SAH.......!!!"


Suara sorak mengucap syukur dan tepuk tangan langsung terdengar setelah Ria dan Arga dinyatakan sah menjadi pasangan suami istri. Anta sampai meneteskan air mata harunya mendengar ucapan para tamu barusan. Akhirnya, kedua sahabatnya itu resmi menjadi suami istri.

__ADS_1


"Kita akan segera menyusul ya, Nta," bisik Arya.


"Aamiin … makasih sayang udah mau nungguin Anta." Anta tersenyum hangat dan melingkarkan tangannya di lengan Arya kala itu.


Raja yang bertindak sebagai pembawa acara memimpin acara pernikahan dengan meriah.


"Waktunya lempar bunga!" seru Angel yang mengambil ancang-ancang paling depan berharap dia yang menerima.


"Eh, Njel! Kamu masih sekolah kan?" tegur Tuan Daniel.


"Nggak apa, Pih. Kali aja bisa nikah muda setelah lulus sekolah hehehe." Angel menoleh ke arah Raja dan mengedipkan mata kirinya.


Raja langsung bergidik tak mau menoleh. Anta lalu membawa Ria ke tengah area untuk bersiap melempar bunga.


"Aku bakalan kasih ke kamu aja, Nta." Ria berbisik seraya melirik genit pada Anta.


"Huuu … itu namanya curang. Udah lempar aja sesuka kamu. Aku sih udah nyolong bunga kantil kamu dari tadi," jawab Anta terkekeh.


"Yeee … ada orang nyolong bilang gitu ckckkcc."


"Ada … ini Anta buktinya bilang hehehe."


"Kamu ngapain, Ja? Mau ikutan maju dapet bunga biar cepet kawin gitu?" tanya Arya.


"Hehehe khilaf, Kak. Aku pengen aja tiba-tiba maju ke depan. Kak Arya juga semangat banget, Kak," sahut Raja.


"Iya dong jelas! Kan demi Anta!"


Pak Herdi dan Anan juga tak sadar ingin mengikuti acara tangkap bunga.


"Pada mau ngapain, mau kawin lagi?" Tasya sudah siap berkacak pinggang. Di sampingnya ada Dita yang juga menatap tajam ke arah Anan.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2