Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
66. Titisan Nyi Ageng


__ADS_3

Bab 66 PI


Di sebuah rumah yang berada di belakang bukit dekat Villa Kemuning, Tuan Kartasasmita berhadapan dengan seorang wanita yang sudah dia tunggu sedari tadi. Wanita itu menatapnya dengan tatapan sayu tapi tegas. Perawakannya cantik, putih, dengan gaya rambut disanggul. Bibirnya pun di warnai merah merona diikuti dengan senyum yang memabukkan, tetapi justru membuat siapa pun merinding melihatnya.


"Selamat datang, Nyonya Karina!" sapa Karta.


"Halo, Tuan Karta!" 


Karta lantas meminta Karina untuk masuk. Mereka lalu menuju ke ruang makan. Seorang pelayan datang dengan mempersilakan beberapa pelayan meletakkan piring saji berisi daging. Keduanya pun lalu duduk menghadap meja makan panjang itu. Terjadi jeda di antara keduanya, sebelum si wanita beralih pada sepotong daging yang ada di atas piring. 


"Bayi ini segar?" tanya Karina.


"Tentu saja, Nyonya." Karta menyeringai.


Wanita itu sekali lagi tersenyum, menatap Karta secara bergantian dengan sang pelayan sebelum mulai berkata kepada pria itu, "Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terpilihnya Anda sebagai walikota yang baru. Maafkan saya bila tidak dapat menghadiri kesakralan acara upacara pelantikan dan pesta syukuran Anda yang tentu saja pastilah megah untuk keluarga sekelas Kartasasmita."


"Terima kasih, Nyonya, itu semua tak akan terjadi jika tanpa bantuan Anda." Karta lalu mempersilakan Karina untuk bersantap. 


Beberapa menit berselang, hanya suara denting pisau dan garpu milik Karina. Benda itu beradu dengan piring yang di atasnya berhidangkan daging dan sayuran kacang panjang serta jagung itu. Suara pisau dan garpu yang terdengar itu memecah kesunyian serta kecanggungan di antara mereka.


Karina begitu menikmati sepotong demi sepotong daging di hadapannya. Melahapnya tanpa memedulikan Karta yang mulai dibalut dengan perasaan mula sebagai tuan rumah. Dia tahu dari mana daging itu berasal. Dia menahan mati-matian gejolak mual tersebut. 


Tak lama kemudian, Karina yang bersanggul hitam itu, menaikkan kerudung tipis warna hitamnya. Meletakkan pisau dan garpu yang ada di tangannya ke atas meja. la mengusap perlahan bibirnya dengan tisu makan berwarna merah muda. 


"Apa Nyonya bisa merasakan kehadiran gadis itu?" tanya Karta.

__ADS_1


"Hmmmm, aku merasakannya. Tapi, aura Kencana Ungu juga sangat terasa," tuturnya dengan lembut. 


Karta terlihat bingung. Dia lalu memberi isyarat kepada pelayannya untuk mengambilkan kudapan buah dan teh hijau kesukaan Karina. Pelayan pria itu menganggukkan kepala. 


"Ratu Kencana Ungu ada di sini?" tanyanya tersirat keingintahuan yang akhirnya diungkapkan.


"Kencana Ungu pasti ada dalam tubuh ibunya. Tapi, aku juga merasakan aura yang lain, aura keburukan yang lebih hitam pekat," ucap Karina.


"Apa dia salah satu musuh kita, Nyonya" tanya Karta.


Wanita itu terdiam sejenak, memandang kosong ke tempat si pria yang mulai merasa tidak nyaman karena memperhatikan dirinya. 


"Aku belum tahu pasti apakah mereka lawan atau kawan. Tapi, sebagai Karina Ageng Wijaya, titisan dari Nyi Ageng penguasa wilayah barat, aku tak akan membiarkan ada makhluk lain yang akan merebut gadis itu," ucapnya. 


"Tapi, bukankah Nyi Ageng telah kalah oleh Ratu Kencana Ungu? Bagaimana jika Kanjeng Nyai kalah lagi?" tanya Karta.


Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Karta sempat tertegun sejenak, sebelum menoleh melihat sebuah bayangan seorang pria yang mendekat dengan membawa sebuah kotak kayu warna hitam. 


"Ini, Nyonya Karina," ucap pria asing yang mengenakan jas safari itu kemudian meletakkan kotak kayu hitam berukir tepat di atas meja. Setelahnya ia melangkah mundur sebelum berdiri menjaga jarak dengan tempat duduk Nyonya Karina. Karta tampak sedang mengamati dengan bingung. Karta bangkit dan mendekat.


"Apa itu?" tanya Karta. 


"Bukti kekuasaan Nyi Ageng masih ada dan tak tertandingi. Silakan Anda buka kotak itu!" titah Karina.


Karta terdiam sejenak, matanya beralih kepada Karina yang menunjukkan ekspresi wajah begitu tenang. Dengan hati-hati, Karta mulai membuka kotak kayu tersebut. Setelah memutar kenop, pria itu lantas tercekat mendengar bunyi klik dari kotak yang digembok oleh semacam selot kayu. Ia menyingkirkan slot kayu yang menghalangi dan membuka kotak kayu tersebut. 

__ADS_1


Terdengar suara berderit saat penutup kotak diangkat. Selintas Karta melihat kain lembut berwarna merah menghiasi isi di dalam kotak, dengan sesuatu yang mulai terlihat memiliki rambut dengan kelenjar kulit.


Karta terus mengangkat penutup sampai kotak akhirnya benar-benar terbuka. Karta terdiam dalam ekspresi wajah terguncang hebat. Ia menoleh kepada sang pelayan dengan tatapan tidak percaya. Pemandangan yang baru saja dilihat oleh Karta seakan-akan mematikan seluruh syaraf di dalam tubuhnya. Mulutnya tak dapat mengeluarkan kata-kata apa pun.


Karta mendekat sebelum memutar kotak


tersebut agar dia bisa melihat dengan jelas isi di dalam kotak tersebut. Karta termangu dalam diam, tubuhnya membeku. Pria itu begitu terkejut kala melihat isi di dalam kotak yang baru terbuka itu. Terlihat dengan jelas kalau itu adalah penggalan dari kepala milik istrinya.


"A-ayunda?" Karta menatap tak percaya. 


"Nyi Ageng tetap lebih unggul, bukan? Harusnya Ayunda berpikir dulu sebelum berucap. Dia lupa dengan siapa dia berhadapan," ucap Karina dengan melayangkan senyum smirk.


Karta terhenyak mulai emosi. Dia meraih sebilah keris dan hendak menusuk Karina. Akan tetapi, pelayan tinggi dan kurus itu mengingatkan. Lebih baik bila Karta meletakakn sebilah keris itu di atas meja, sebelum semua yang ada di sini menjadi semakin bertambah kacau. Mendengar hal itu, tangan Karta tiba-tiba merasa gemetar. Bagaimana bisa seorang wanita bisa menggertak dirinya tanpa membawa apa pun, tetapi tatapan tajamnya mampu menggoyahkan dirinya.


Suara denting keris terpelanting terdengar dari atas lantai marmer. Karta ternyata terlalu takut dengan seseorang yang saat ini berada di hadapannya. Ia seperti memiliki sesuatu yang mengerikan dari dirinya. Karta hanya diam, tak mengatakan apa pun. Dia mencoba kembali duduk tenang di atas kursi. Kemarin sang istri pamit untuk bertemu dengan teman-teman sosialitanya di kota bahkan hendak menginap. Namun kini, hanya penggalan tubuhnya lah yang kembali pulang. Karina berdiri dari tempatnya duduk, berniat untuk pergi meninggalkan kediaman Karta. Pria itu langsung menghentikannya.


"Aku tak akan berani meragukan kekuatan Nyi Ageng," ucap Karta. 


Wanita itu terdiam sejenak sebelum tersenyum menyeringai. Sebenarnya kulit wajah wanita itu sangat kendur dan keriput kalau dilihat dari dekat. Namun, wanita itu seolah memiliki sihir yang membuatnya terlihat awet muda jika dilihat dari jauh.


"Bagus, Tuan Karta. Malam jumat nanti adalah malam jumat kliwon ditambah dengan Blood Moon. Waktu yang tepat untuk menunaikan ritual tersebut. Kau harusnya tahu apa yang harus kau lakukan terhadap gadis itu," ucap Karina. 


"Baik, Nyonya Karina." Karta mengangguk.


Karina tersenyum menyeringai, lalu dia pamit melangkahkan kaki keluar dari rumah besar itu bersama sang asistennya. Wanita itu bersenandung sepanjang langkahnya. Nyanyian yang membuat siapa pun merinding kala mendengarnya.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2