
Setelah memastikan kondisi bayi itu bersih, Anta lalu membungkusnya dengan kain. Dia lalu menyerahkannya pada Ibu Liya.
"Selamat ya, Bu, bayinya sehat dan jenis kelaminnya laki-laki," ucap Anta.
"Terima kasih ya, Neng," sahut Ibu Liya sampai menitikkan air mata kala menerima bayi itu dengan hati-hati.
"Sekali lagi, selamat ya Bapak dan Ibu," ucap Anta melayangkan senyuman hangat.
"Terima kasih atas bantuannya, Neng," ucap Pak Rudi menghampiri gadis itu sembari mengulurkan tangan untuk menjabat Anta.
"Sama-sama," balas Anta.
Keluarga tak kasat mata itu lantas menghilang.
"Ria, bangun! Ayo, kita pulang!" Arga mengguncang tubuh Ria.
"Coba gue bawa hape tadi," celetuk Anta.
Ria mengerjap seraya mengusap air liur yang menetes ke samping bibirnya.
"Kenapa emangnya kalau bawa hape?" tanya Arya.
"Habisnya Ria pingsan lucu banget sampai mantap gitu, hihihi." Anta dan Arya lantas tertawa bersamaan.
"Ih, Anta mah gitu. Aku kan takut!" Ria lalu menangis di pelukan Arga. Dia meminta pria itu untuk menggendongnya.
"Dih amit, manja banget!" cibir Arya.
"Bilang aja sirik, wleeeekk!" Ria menjulurkan lidahnya pada Arya.
"Nta, sini aku gendong?" Arya menggoda Anta.
"Hadeeeehhhh!" Anta malah mencubit pipi Arya sampai mengaduh.
...***...
Arga menghentikan langkahnya. Dia menurunkan tubuh Ria yang dia gendong.
Dari sudut mereka berada, latar belakang pagar usang itu dengan jelas tergambarkan. Seruas jalan terlihat. Di baliknya ada hamparan kebun yang luas dengan pohon-pohon yang beragam seperti mahoni, waru, jati, mangga, dan juga petai cina.
"Kayaknya kita nyasar, deh," gumam Arga dengan penuh kecemasan.
"Ini gimana, sih, Ga? Jangan-jangan elu bawa kita masuk ke dunia alam gaib lagi," sahut Arya.
__ADS_1
"Terus gimana ini, aku mau pulang …." Ria terlihat cemas.
"Iya, Sayangku… kita akan pulang," sahut Arga.
Tiba-tiba, seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun mengejutkan kesempatan. Dia juga bersama seorang pria yang lebih muda dan juga bayinya.
"Kalian mau ngapain ke sini?" tanya wanita itu.
"Kita juga nggak tahu kalau ada di sini," sahut Arya. Kala menoleh ke arah gadisnya, rupanya Anta sudah mendekat untuk menelisik ke arah wanita tadi.
"Kakinya napak, guys!" sahut Anta kala memastikan kaki wanita itu menjejak tanah.
"Apa-apaan, sih? Saya manusia tau!" keluh wanita itu lalu melanjutkan lagi ucapnya, "kalian tuh jagoan banget sih berani-beraninya masuk alam sini?!"
"Maksud Ibu apa, ya?" tanya Anta.
"Lho, Memangnya kalian belum tahu ceritanya, ya?"
Anta menoleh pada Arya dan yang lainnya. Mereka mengernyit kemudian menggelengkan kepala bersamaan.
"Buk, ayo kita kembali!" ajak pria yang usianya lebih muda dan ternyata suaminya itu.
"Iya, tunggu." Wanita itu lalu menggoyangkan bayi di gendongannya untuk menghentikan tangisnya. Wanita itu tetap tak beranjak pergi.
"Apa kalian tak tahu kalau tempat ini adalah tempat pembuangan bayi-bayi hasil aborsi. Di tempat ini juga digunakan untuk melakukan penumbalan demi permintaan pesugihan. Kalian mau menumbalkan apa?" tanya wanita itu.
"Bu, sudah hentikan! Ayo, kita pergi saja!" ajak sang suami lalu mereka pamit.
"Hmmm … ada yang aneh, deh." Anta mencoba mengikuti wanita dan pria tadi. Akan tetapi, Arya menahannya.
"Lihat itu si Vivi bawa Alvin!" tunjuk Arya.
"Wah, nggak bener ini. Mau apa mereka ke sini?" Anta mencoba mengamati.
"Siapa, sih?" tanya Arga.
"Tetangganya si Anta," bisik Ria.
Anta bergegas mengikutinya, "ini nggak bisa dibiarkan."
Arya mendesah napas dan menghirup oksigen dalam. Sempat mengacak-acak rambutnya, akhirnya Arya mengikuti gadisnya. Arga juga menarik tangan Ria untuk ikut mengikuti Vivi yang menggandeng tangan Alvin.
Anta menemukan sebuah rumah kayu yang ada di pinggir rawa.
__ADS_1
"Anta sama Arya masuk ke dalam. Kamu sama Arga jaga di luar, ya. Kalau ada apa-apa, kalian teriak aja panggil Anta!" pinta gadis itu pada Arga dan Ria. Keduanya mengangguk.
Keduanya mengendap-endap. Anta dan Arya makin memasuki rumah pinggir rawa tersebut.
Di luar, Ria mendengar suara langkah terseret yang terdengar makin dekat. Gadis itu hendak berdoa, tapi lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya terasa tercekat. Terdengar suara menyayat-nyayat, memilukan. Ada juga suara isak tersedu-sedu, lirih, dan panjang, menggema seakan memantul dari kejauhan.
"Ga, itu suara apa?" Ria menoleh ke aray Arga dan baru sadar kalau pemuda itu ternyata tak ada di sampingnya tiba-tiba.
Mereka tak sadar kalau telah terpisah padahal sedari tadi masih berdiri dekat satu sama lain.
"Duh, gimana ini?" Ria mulai panik.
Tawa cekikikan mulai terdengar, makin dekat, dan semakin dekat, menuju ke arah gadis itu. Ada isak tersedu-sedu yang semakin terasa jelas menggema di telinga Ria. Suara itu makin terasa mendekat, membuat Ria tak bisa berkutik. Ria ingin berteriak tetapi tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Ria hendak berlari masuk ke rumah pinggir rawa tadi, tetapi tubuhnya sanga5 kaku, tak bisa digerakkan sedikit pun. Dari balik jendela rumah kosong itu dalam semburat cahaya rembulan yang mulai menerangi petang itu, Anta dan Arya tak melihat apa pun.
Mendadak memudahkan, ada sesuatu yang mulai memasuki wilayah tempat Ria berada. Ria langsung terkejut kala melihat ada wanita berwajah pucat merangkak dengan tangan berlumuran darah. Mulut wanita itu terbuka, menyeringai dengan gigi-gigi yang runcing meneteskan darah.
Ria semakin gemetaran sangat takut.
Di belakang wanita yang merangkak tadi juga ada seorang wanita tua berambut panjang tergerai putih keperakan. Sosok nenek itu melangkah terseok-seok. Wanita yang merangkak tadi seakan menggiring wanita tua tadi menuju ke arah Ria. Wajah hantu wanita tua yang semula menunduk sekonyong-konyong menatap ke arah gadis itu. Ria terhenyak kala melihat sepasang matanya bolong dan berwarna hitam.
"Ya Allah, tolong aku. Arga, Anta, kalian di mana?" lirih Ria tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.
Jantung gadis itu berdegup keras, seluruh tubuhnya gemetar hebat, semua jadi gelap. Dalam keadaan tak sepenuhnya sadar, telinga Ria masih mendengar tembang yang menyayat dengan nada diseret-seret. Iramanya memantulkan perasaan yang sangat pilu. Suara itu seakan berasal dari ekspresi kehampaan hidup yang paling nestapa sekaligus berisi dendam. Lantunannya mengurung gadis itu dalam kekosongan. Gadis itu sungguh ingin berdoa, tetapi semua terasa lenyap dari ingatan dan tak bisa dirapalkan.
"Sepertinya dia ditinggalkan untuk kita," ucap hantu wanita yang tadi merangkak.
"Siapa yang meninggalkan gadis ini? Aku juga mencium aroma perawan suci darinya." Sosok hantu wanita tua yang di belakangnya menyahut.
Kedua sosok itu mendekat dengan wajah menyeringai ke arah Ria.
...***...
Sementara itu, Arga yang baru sadar terpisah oleh Ria juga ikut tersesat.
"Ini kenapa di kompleknya si Anta ada hutan yang ke alam gaib gini, sih? Duh, pada ke mana lagi? Masa aku nyasar sendiri, sih?" Arga mencoba menelisik sekitar dan mencari keberadaan Ria dan kawan-kawannya.
"Ria! Anta! Arya! Kalian di mana?" Arga memanggil dengan suara lebih lantang.
Namun, tidak ada yang menjawab.
...*** Bersambung. ***...
__ADS_1