
Suara itu terdengar lagi. Arya mulai bangkit karena perhatiannya jadi teralihkan.
"Jangan-jangan itu setan lagi," gumam Arya.
Pemuda itu jadi takut kalau suara itu berasal dari makhluk astral yang sedang mengganggunya kala itu. Arya lalu menengok ke arah jendela. Di luar terlihat sangat gelap. Namun, hatinya masih dirundung rasa penasaran akan apa yang terjadi.
Arya akhirnya bangkit dan mengintip ke arah jendela. Tak ada apa pun yang ada di sana. Sampai akhirnya pemuda tampan itu memutuskan untuk masuk ke kamar mandi demi mengganti celana dan membersihkan miliknya yang terasa lengket.
Duk! Duk! Duk!
Suara itu kembali terdengar.
"Hissh, siapa sih iseng banget? Awas aja kalau ketemu hantu. Dipikir gue berani kali, ya." Arya meraih handuk menutupi kepalanya. Dia gunakan handuk itu untuk menutup matanya juga.
Arya perlahan menuju ke arah jendela kamarnya. Dia bersembunyi menunduk. Sempat dia mendongak ke atas untuk melihat sekilas. Lalu akhirnya, dia memutuskan membuka tirai jendela.
Sosok hantu laki-laki dengan tempurung kepala pecah itu terlihat mengintip dari balik jendela. Kedua matanya bertatapan dengan Arya. Keduanya lantas sama-sama berteriak.
"Waaaaaaaaaaaaa!"
Arya ketakutan kala melihat hantu tanpa bagian perut dan kaki itu. Begitu juga dengan hantu tersebut. Karena melihat Arya bertudung handuk, hantu itu terperanjat. Biasanya para hantu yang akan mengejutkan manusia. Namun kali ini, hantu tersebut yang terkejut karena kehadiran Arya yang mengejutkan baginya.
Arya kembali mengintip. Hantu itu terjatuh dengan tangan terentang.
"Kayaknya pernah lihat itu hantu, tapi di mana, ya?" Arya memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.
"Ha-halo, Om, tolong jangan nakutin saya!" Arya menyapa hantu tersebut yang kembali menatapnya heran.
Sosok berwajah pucat itu mendekat. Rambutnya cepak dengan janggut agak panjang. Hantu menyeramkan itu bangkit. Dia mengenakan kemeja pantai yang terseret saat bergerak dengan kedua tangannya. Bagian bawah kemeja pantai itu lusuh dengan motif pohon kelapa. Kedua tangannya mulai penuh luka berongga dengan darah masih menetes.
Sosok itu makin mendekat dengan tangis menyayat. Sampai tinggal beberapa inci lagi menyentuh kaki Arya.
"Jangan coba-coba sentuh!" seru Arya yang menatap sosok itu dengan takut.
"Aku tahu kamu dapat melihatku," ucapnya. Dia menatap nanar Arya dan mendekatkan wajahnya. Aroma busuk tercium dari mulutnya yang menyeringai menunjukkan gusi penuh darah dan gigi hitam.
"Bau banget elu, Om! Jangan deket-deket apa!" Arya menepis tangan hantu itu dengan kakinya.
"Kau bisa menolongku, kan?" tanyanya.
"Duh, mau minta tolong apa lagi! Aku bukan penolong hantu. Harusnya kamu datang ke cewek yang namanya Anta. Dia katanya suka menolong hantu," tukas Arya.
"Tapi saya hanya tahu kamu yang bisa melihat dan menolong saya," rengeknya.
__ADS_1
"Hadeh… repot ini mah. Om, jalan pakai tangan ke sini? Emang nggak capek?" tanya Arya.
"Saya menempel di belakang mobil kamu," ucapnya.
"Oh iya ya, kenapa tadi nggak ngecek bagian belakang, ya." Arya lantas memilih masuk ke dalam kamar.
"Tapi kamu mau tolong saya, kan?" tanya pria itu.
"Oke deh, besok ikut aku ketemu sama Anta. Biar dia bantuin buat nolong kamu! Sekarang kamu di sini aja!" titah Arya.
"Nama saya Mito, senang berkenalan dengan kamu," ucapnya.
"Iya, Om Mito. Nama saya Arya."
...***...
Di hari libur itu, Arya mengendarai mobil pick up milik Paman Kenta. Pria itu memintanya untuk mengambil barang. Namun, Endo menyabotase mobil yang dikendarai Arya sehingga mobil itu akan mengalami kecelakaan jika dalam kecepatan di atas 80 km per jam.
Anta dan Ria sedang berada di pom bensin. Mereka mengikuti Ken untuk membantu Ken ke tempat kejadian perkara pencarian korban yang tenggelam di dekat pantai. Ken mulai percaya kalau Anta dapat bertemu dan berkomunikasi dengan hantu. Untuk itu, Ken meminta bantuan Anta.
"Anta mau beli es krim dulu, ya," ucap gadis itu.
"Oke." Ria tersenyum senang. Ditatapnya Ken dengan lekat saat sedang mengisi bahan bakar.
Di dalam mini market, Anta tak sengaja bertabrakan dengan Arya.
"Iya, nggak apa-apa." Arya menuju kotak pendingin besar yang menyimpan aneka es krim. Anta mengikutinya. Gadis itu menatap Arya penuh cinta.
"Ngapain sih ngeliat gue kayak gitu?" tukas Arya yang berbicara bahasa yang sama dengan Anta.
"Woaaah, sudah terbiasa rupany dengan bahasa itu. Anta mau email es krim, kok." Gadis itu tersenyum manis. Arya mulai salah tingkah.
Pemuda itu meraih es krim rasa coklat lalu menyerahkannya pada Anta.
"Nih!"
"Kok, tahu kalau Anta suka coklat?" tanya gadis itu.
"Spontan aja, sih. Cewek biasanya suka coklat."
"Oh… nih, buat Arya." Anta .meraih es krim rasa vanila untuk Arya, "biasanya kamu suka ini."
"Oh… eh iya. Gue mau minta tolong."
__ADS_1
"Tolong apa?"
"Tolong bantuin hantu yang lagi datang gangguin gue," ucap Arya.
Anta tertawa terkekeh karena mendengar itu.
"Kok, ketawa sih?" Arya mengernyit.
"Lucu aja. Terus Anta seneng karena kamu minta tolong ke Anta."
"Minta nomor hape kamu," pinta Arya seraya menyerahkan ponselnya.
"Oke."
Anta bukan hanya menyimpan nomor ponselnya di ponsel Arya. Gadis itu juga mengambil foto selfie dirinya.
"Dih, nggak jelas!" ledek Arya lalu meraih ponselnya dari tangan Anta. Pemuda itu menyerahkan lima es krim lagi pada Anta.
"Nih, buat stok! Habisin!" Pemuda itu lalu berlalu menuju kasir untuk membayar kemudian melangkah ke mobil pick up milik Paman Kenta.
"Yaa Allah, Ya Tuhanku… kalau Arya jodoh Anta tolong dekatkanlah. Kalau dia bukan jodoh Anta, kalau bisa tetep jodohkanlah. Tapi, kalau dia sudah kau jodohkan dengan orang lain, tolong dicek lagi, terus putuskanlah, dan jodohkan ia dengan Anta, aamiin." Anta tersenyum-senyum sendiri sampai pemilik mini market melihat ke arahnya dengan heran.
Di dalam mobil pick up, Arya tersenyum sendiri kala melihat layar ponselnya. Foto Anta terpasang dengan manis dan cantik di ponselnya. Ada debaran yang aneh kala dia mengamati dengan saksama. Lantas, Arya lalu melajukan mobil tersebut dengan bersenandung mengikuti musik dari radio mobil yang diperdengarkan.
...***...
Setelah membantu Ken di TKP dan menemukan dua jasad gadis remaja yang tenggelam, ponsel Ken berdering. Saat menerima sambungan ponsel itu, tiba-tiba raut wajahnya berubah.
"Ada apa, Ken?" tanya Ria.
"Sebuah mobil pick up menabrak pembatas jalan. Berhubung aku ada di dekat sini, Polisi Yukata minta bantuan aku buat ke TKP," sahut Ken.
Anta mendengar penuturan Ken dan memastikan warna mobil pick up tersebut. Dia teringat dengan mobil yang dibawa oleh Arya. Gadis itu mulai panik dan bergegas menuju mobilnya Ken. Dia memaksa untuk ikut
"Kecelakaan di mana, Ken?" tanya Anta.
"Dia kecelakaan di Jalan By Pass, mengendarai mobil pick up yang isinya bahan-bahan makanan buat penginapan. Terus rem-nya blong dan menabrak pembatas jalan," ucap Ken setelah mencari tahu.
"Ayo, cepet ke sana! Tunggu apa lagi!" seru Anta.
"Emangnya kenapa sih, Nta? Kok, kamu panik banget?" Ria menimpali.
"Tadi Anta lihat Arya pakai mobil pick up, jadi Anta takut kalau yang kecelakaan itu dia," kata Anta dengan panik.
__ADS_1
"Waduh!"
...*** Bersambung ***...