Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
48. Misteri di Rumah Alvin


__ADS_3

"Alvin liat apa?" tanya Siti.


Alvin menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Ayo, kita solat dulu!" ajak Siti.


"Alvin bareng ayah aja," jawabnya dengan cadel. 


"Ya udah kalau begitu."


Alvin terlihat tampak mencuri pandang ke jendela untuk melihat ayahnya. Apalagi ketika suara tawa di luar sana  terdengar. Tampaknya, Herman dan teman-temannya masih agak lama berbincang. Siti segera mengambil air wudu dan bersiap melakukan ibadah Salat Magrib di kamarnya.


Alvin yang berada di dekat ibunya mulai asyik bermain ketika Siti memulai salat. Namun tak lama kemudian, terdengar suaminya membuka pintu lalu masuk ke rumah. Alvin yang tengah bermain kemudian terdengar langsung pergi menemui ayahnya untuk bercanda dengannya.


Setelah Siti selesai menunaikan salat, dia menghampiri suaminya untuk menanyakan keberadaan Alvin.


"Alvin mana, Pah?" tanya Siti gusar karena jadi tak tenang saat menunaikan salat tadi. Wanita itu tampak sambil memakai sandal dengan tergesa-gesa kala tak melihat putranya.


Herman juga baru menyadari kalau Alvin tidak ada di sampingnya. Dia segera bangkit lalu mencari keberadaan putranya. Di tengah cahaya remang-remang dari lampu jalan, Siti melihat Alvin sedang berdiri di jalanan depan rumah sambil memandang ke atas rumahnya. 


"Itu dia, Mah," kata Herman sambil menunjuk Alvin yang berdiri di tengah jalan beberapa meter dari rumah. Keduanya langsung berlari kecil menghampiri putranya. 


"Alvin lihat apa?" tanya ibunya sambil memegang tangan kecil putranya itu. Namun, Alvin tak bergeming. Ia tetap menatap ke atap rumahnya.


Jantung Siti mulai berdegup kencang ketika kembali memanggil putranya dan ia tetap tidak menjawab.


"Alvin!" Wanita itu mempertegas nada panggilannya sampai Alvin menoleh lalu menggumamkan sesuatu sambil menunjuk ke atas rumahnya.


"Mah, itu …." 


"Ayo pulang, ya!" seru Siti lalu menggendongnya. 


Alvin memberontak, dia masih ingin tetap melihat ke atap rumahnya. Bulu kuduk wanita itu langsung merinding ketika tiba-tiba angin semilir melewati tubuhnya diikuti tawa Alvin.


"Mamaaaa," ujar Alvin sambil kembali menunjuk lagi ke atap rumahnya.


"Hai, Alvin! Kamu lihat apa?" tanya Anta yang keluar dari rumah kala mendengar teriakan Siti.


"Itu!" Alvin menunjuk ke atap rumahnya.

__ADS_1


"Oh, itu sih kodok buduk. Jangan diliatin nanti dia kegeeran," ucap Anta.


"Kodok buduk?" tanya Bu Siti tak mengerti.


"Tadi ada kodok buduk, Tante. Tuh, ada di situ. Tante nggak lihat, ya? Udah deh jangan lihat, jijik soalnya. Tante mendingan anaknya dibawa masuk ke dalam, nanti takut kena penyakit kodok buduk," ucap Anta. 


Meskipun Bu Siti dan Pak Herman tak mengerti, tetapi mereka menurut. Lalu keduanya pamit dan membawa putranya masuk ke dalam rumah.


"Dadah, kodok buduk," ucap Alvin ke atap rumahnya dengan suara yang cadel, tetapi Anta mengerti.


Gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak kala melihat sosok penampakan menyerupai wanita tua yang bertubuh kurus dengan kuku menggulung itu.


"Kurang ajar! Berani-beraninya kau bilang aku kodok buduk!" seru makhluk gaib itu. Melotot dengan kedua mata yang merah menatap Anta.


"Anta nggak takut ya sama kamu! Awas aja kalau kamu berani ganggu anak itu!" ancam Anta seraya bertolak pinggang.


Sosok makhluk gaib itu hampir saja menghampiri Anta, tetapi kukunya tersangkut di genteng tanah liat warna hijau milik Pak Herman.


"Emangnya enak! Makanya tuh kuku potong dulu," ledek Anta.


"Nta, pulang yuk! Nggak enak diliat orang nanti kalau kamu ngomong sendirian tengah jalan gitu. Lagian itu nenek sihir juga serem banget, hiiyy," bisik Arya menghampiri. Pemuda itu lalu menarik tangan gadisnya untuk masuk ke dalam rumah Anta. 


"Arya! Rumah kamu sebelah sana!" Anan hadir menghadang Arya.


"Mau saya bikin lecet kamu?" ancam Anan.


"Nggak usah, Om, makasih." Arya langsung berbelok ke arah rumahnya.


...***...


Malam itu, Siti mendengar suara Alvin sedang bercanda dengan seseorang. Wanita itu memastikan lagi jam dinding di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima menit.


Siti segera bangkit dan menuju kamar Alvin untuk memastikan lagi suara tawa anak kecil dari kamar putranya itu. Daun pintu jati yang dicat warna putih itu dia buka perlahan. Wanita tersebut menangkap suara mendesah dari dalam kamar putranya. ******* yang mengerikan itu makin terasa. 


Betapa terkejutnya Siti kala melihat sosok penampakan tinggi dan kurus yang memiliki kuku tajam melengkung sedang  mengelus-elus rambut anak lelakinya. Wanita itu mendengar suara gemeretak tulang-tulang tangan dan jari dari penampakan sosok tersebut ketika sedang membelai rambut Alvin.


Tak lama kemudian, sosok nenek menakutkan sadar kalau ada yang sedang memperhatikannya. Sosok itu berhenti mengelus rambut Alvin, lalu matanya yang putih menatap tajam ke arah Siti. 


"Astagfirullahaladzim, Alvin!" pekik Siti.

__ADS_1


"Anak ini milikku." Suara makhluk itu terdengar parau.


Makhluk itu terus mengatakan, "anak ini milikku". Dia ingin memiliki Alvin. Siti ingin berteriak "jangan", tetapi mulutnya tiba-tiba saja terasa terkunci dan tak mampu bergerak. Tubuh wanita itu langsung kaku seperti batang pohon yang tak jua bisa goyah. Dan ketika makhluk itu masuk ke kegelapan sambil membawa Alvin, Siti seakan terbebas dan berteriak sekencang-kencangnya.


"Lepaskan Alvin! Lepaskan anakku!" pekiknya.


Peluh membanjiri tubuh Siti ketika dia membuka mata dan mendapati dirinya sedang terduduk di tempat tidur. Dia langsung menyalakan lampu tidur yang terletak di nakas samping kasusnya. Wanita itu memastikan lagi dan meyakini dirinya ada di dalam kamarnya.


"Alhamdulillah, untung cuma mimpi," ucapnya seraya menghela napas penuh kelegaan. 


Namun entah mengapa, mimpinya barusan begitu nyata. Siti melihat sang suami masih terlelap diiringi dengan dengkuran. Ibu Siti bangkit, lalu meraih segelas air putih yang selalu dia siapkan di kamar. Perasaannya masih memikirkan keberadaan Alvin. Demi memastikan lagi kalau mimpi tadi tak akan menjadi kenyataan, dia beranjak menuju kamar putranya.


Namun, hal yang tak dia inginkan terjadi. Alvin tak berada di kasurnya. Dia segera berlari dengan panik untuk membangunkan Herman. Guncangan dengan teriakan kepanikan langsung meradang sampai membangunkan suaminya.


"Pah, Alvin hilang!" pekik Siti.


"Hilang gimana?" Seraya mengerjap, pria itu berusaha bangkit dari kasurnya meskipun agak pusing dan kaget.


"Alvin nggak ada di kamarnya, Pah!" ujar Siti. 


"Yang bener kamu!" Herman segera bangkit dan ikut mencari Alvin.


Keduanya keluar kamar dan terdengar suara Alvin dari kamar belakang. Setelah memastikan keberadaan putranya ada di sana, hati Siti langsung merasa lega melihat Alvin tengah bermain di dalam kamar belakang.


"Aduh, Mah, kamu ini buat aku kaget saja," kata Herman sambil berlalu masuk ke kamar mandi.


Siti mencoba menyalakan lampu di kamar belakang. Namun, lampu itu tidak mau menyala. Dia lantas bergegas masuk dan mendekati Alvin yang tengah bermain.


"Alvin, kenapa tidak tidur?" tanyanya sambil mengelus rambut putra semata wayang itu.


Sang anak hanya melihat ibunya sambil tersenyum lalu tiba-tiba menunjuk sambil berkata, "Mamah Mamah ...."


"Kenapa, Nak?" tanya Siti lagi.


"Mah, Mamah …."


Namun entah mengapa, tiba-tiba Siti mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Jari Alvin masih menunjuk ke arah ibunya sambil berkata "mamah".


Tak lama kemudian, Siti menyadari Alvin tidak menunjuk ke arah ibunya dan memanggil wanita itu "mama". Pandangan mata anak itu mengarah ke arah langit-langit dan jari telunjuknya menunjuk ke atas sambil terus berkata,

__ADS_1


"Mama...."


...*** Bersambung ***...


__ADS_2