
Kepala hantu perempuan itu menoleh ke Anta. Karena luka gorokan itu sangat dalam, sehingga membuat kepalanya terlihat hampir putus dan seperti ingin terpisah dari tubuhnya. Hantu perempuan itu tersenyum menyeringai ke arah Anta.
Embusan udara yang terlontar dari mulutnya sangat busuk. Hantu itu berharap Anta akan menjerit ketika menoleh ke arahnya. Hantu perempuan yang menyeramkan itu juga akan tertawa puas ketika Anta berlari ketakutan bahkan jatuh pingsan ketika melihat wajah datar nan menyeramkan miliknya.
"Jangan deket-deket, bau tau!" Anta menampar pipi hantu perempuan itu dan mendorongnya menjauh.
"Ka-kau … bagaimana kau bisa menyentuhku?" Hantu perempuan itu mencoba mengulurkan kedua tangannya ke leher mulus Anta. Dia akan mencekiknya.
"Huhuhu, ngapain sih gangguin Anta aja! Huhuhu, mana tangannya kotor lagi." Anta meraih tangan kiri milik si hantu. Dia meraih hand sanitizer dari tas ranselnya.
"Cuci tangan dulu, nih. Mana item semua gini tangannya. Duh, kukunya juga panjang lagi," ucap Anta seraya terisak.
Gadis itu teringat dengan peralatan meni pedi yang baru saja Ria beli ada di dalam tas ranselnya.
"Potong kuku dulu, ya." Anta meraih satu persatu jari si hantu perempuan dan memotongnya.
Hantu itu hanya bisa menganga. Rasa terkejut bercampur haru menghinggapinya. Dia tak menyangka akan ada manusia yang memperlakukannya seperti itu.
Dion kembali membawa pesanan Anta. Pemuda itu langsung tersentak melihat Anta berbicara dengan seseorang yang tidak bisa dia lihat. Ria mendekat dan berdiri di samping Dion.
"Oh, jangan heran kalau Anta lagi kayak gitu." Ria menunjukkan kamera ajaibnya pada Dion.
"Astaga! Ngapain si Anta motongin kuku hantu? Dia nggak takut apa?" pekik Dion.
"Ya, emang Anta begitu. Nggak ada takutnya sama hantu. Eh, tapi …." Ria memastikan lagi apa yang dia lihat. Apalagi ketika potong kuku terdengar.
"Ya ampun, Anta! Itu kan meni pedi aku yang baru dibeli. Kenapa buat dia?" Ria melangkah menghentak dengan marah. Namun, ketika hantu perempuan itu menoleh ke arahnya, dia segera bersembunyi di balik punggung Dion. Menyerahkan kamera pada Dion yang langsung menolak.
"Udahan, Tante. Udah rapi kukunya. Sana pergi! Gangguin Anta lagi sedih aja!" Hantu perempuan itu menatap ke arah jari tangannya yang sudah bersih. Kukunya juga rapi. Lalu dia pamit dan menghilang.
***
Malam itu, Dion menceritakan tentang keberadaannya di Pulau Ju. Dia akan melakukan riset tentang musik tradisional di sana. Dia juga mendengar kalau di pulau tersebut ada bahan baku pembuatan gitar yang bagus.
__ADS_1
Hebatnya Pulau Ju, warganya tak ketinggalan zaman. Teknologi yang mereka punya juga cukup maju sehingga fasilitas yang mereka punya layaknya fasilitas ibukota. Mereka mandiri dan banyak usaha yang dijalankan tanpa harus bergantung pada subsidi pemerintah. Semua berkat Tetua Hoki Takurugi.
Pria itu bahkan sudah didapuk menjadi pemilik pulau. Bahkan, banyak negara lain yang menyarankan sebaiknya Pulau Ju berpisah dengan Jepang. Mereka dinilai layak jika memiliki wilayah sendiri tanpa campur tangan pemerintah lain.
"Oh iya, aku akan manggung di sebuah club pinggir pantai. Apa kalian mau ikut?" tanya Dion.
Ria membujuk Anta yang akhirnya mau mengangguk.
...***...
Malam itu, Ria dan Anta menyusul langkah Dion menuju ke dalam Kafe Sweet Season. Sampai di dalam sana Fion memberi perintah pada kedua gadis itu untuk naik ke lantai dua duduk di sudut.
"Kalau ada pria sembarangan yang mendekati kalian, jangan mau!" tegas Dion.
"Iya, Abang." Ria mengangguk.
"Aku ke belakang dulu mau siap-siap." Dion berlalu ke bagian belakang kafe.
Bangunan kafe pinggir pantai itu ternyata cukup luas memiliki dua lantai. Di sana terdapat beberapa area dansa yang terdapat sebuah sangkar besar yang berisi satu atau dua orang yang menari dengan pakaian minim menggoda para pria. Di lantai tengahnya terdapat panggung tempat para wanita dan pria lainnya berlenggak-lenggok memakai busana renang menggoda pria.
"Kak Dion ngapain sih bawa kita ke sini? Kalau Yanda tau, Anta bisa habis diomelin, nih," bisik Anta.
"Namanya juga nyambi. Mungkin duitnya lumayan. Keluarga kita kan udah bangkrut, Nta," bisik Ria.
Anta mulai paham. Dulu Ria dan Dion merupakan orang berada. Namun, setelah kejadian mengerikan itu, mereka semua jatuh bangkrut. Sebegitu mudahnya Tuhan membolak-balik takdir seseorang dari segi harta, kesehatan, maupun jodoh.
Di bagian sudut-sudut ruangan ada meja bar yang menyediakan aneka minuman keras bagi pelanggan yang datang. Tak jauh dari kafe tersebut ternyata terdapat hotel yang disediakan dengan fasilitas lengkap dengan tambahan pria atau wanita pekerja se*s komersil. Hotel tersebut dikelola oleh Tuan Hoki Takurugi.
Ria melihat kedatangan Arya yang digandeng oleh Hanako. Beberapa gadis meneriaki nama Pak Guru Asahi. Hanako tersenyum dengan bangga karena menggandeng pria yang dirasa tertampan di sana.
"Nta, liat tuh!" bisik Ria.
Anta terbelalak dan hendak bangkit menghampiri Arya. Akan tetapi, Ria menahannya.
__ADS_1
"Tunggu, Nta. Jangan buat keributan lagi. Kita kan udah tau kalau Arya amnesia. Jadi, kita coba kembalikan ingatan Arya pelan-pelan."
Seorang pria datang menghampiri Ria dan Anta.
"Boleh duduk di sini?" tanya pria yang merupakan Ken itu. Dia memakai kemeja pantai tanpa terkancing memperlihatkan perut kotak-kotak sempurna. Ditambah celana boxer di atas lutut yang menonjolkan otot paha yang kekar.
Anta menutup mulut Ria yang sempat menganga.
"Maaf, teman Anta suka rada lapar kalau lihat roti sobek," ucap Anta.
"Maksudnya?" tanya Ken.
"Hehehe, nggak ada maksud apa-apa, Kak Ken. Silakan duduk!"
Anta masih mengamati sosok Arya yang tengah mantap mengikuti irama jedag jedug yang tercipta di dalam kafe luas tersebut.
"Wah, mentang-mentang hilang ingatan mulai berulah dia," geram Anta memukul tangannya sendiri.
Ken akhirnya membuka perbincangan tentang kekasih yang Anta cari. Ria dengan antusias menceritakan tentang pertemuan mereka dengan salah satu korban selamat yaitu Arya. Namun sayangnya, pria itu hilang ingatan.
Tiba-tiba, pandangan Ken tertuju pada seorang pria yang datang dengan wanita bergaun warna hitam dengan belahan dada yang rendah dan berada di atas lutut. Wanita itu merotasikan kedua matanya berkeliling. Ia sibakkan sebagian rambutnya dan diselipkan ke belakang telinga.
"Astaga, bukankah itu, Miyako!" seru Ken yang melihat wanita tersebut masuk ke dalam kafe bersama Hoka.
"Hah, Miyako? Siapanya cosmos Kak Ken?" tanya Ria ceplas-ceplos.
"Oh, dia sepupunya tunangan saya."
"Hah? Kak Ken udah punya tunangan?" Ria berteriak tak percaya.
"Tapi dia sudah meninggal," sahut Ken.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1