
Di sebuah ruangan tempat Hanako diasingkan sementara waktu oleh kakeknya. Selama kurun waktu dua hari, Hanako telah disekap di sebuah ruangan rahasia. Tak ada satu pun lagi orang yang datang ke tempat gadis itu. Wanita itu terkurung di dalam kamar berukuran 2 x 2 meter.
Di dalam ruangan yang begitu gelap, minim pencahayaan, dan juga lembab, hanya ada satu dipan untuk tidur. Ada pula wastafel. Ruangan yang terlihat seperti bangsal rumah sakit jiwa. Namun, selama Hanako tinggal di tempat tersebut, dia tak pernah tidur.
Hanako tak sekali pun mau berada di atas ranjang dikarenakan rasa takutnya akan mimpi yang pernah datang. Dalam mimpi tersebut ada sosok Yagi yang dia lihat di dalam kamar sebelumnya. Yagi yang sangat ingin menyantap dirinya dan menginginkan nyawanya.
Hanako lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, duduk meringkuk di sudut ruangan. Terkadang dia hanya minum dari keran wastafel. Gadis itu tak menyangka kalau kakeknya tega mengurungnya seperti itu.
Gadis itu mulai frustasi sampai menggores dinding dengan kuku jari tangannya. Perutnya terus menerus berbunyi, rasa lapar sudah sangat tak tertahan. Memenuhi dirinya yang tak tahu harus memakan apa. Apalagi kini wastafel tak keluar air. Hanako sangat haus.
Betapa teganya sang kakek dan Nyonya Micin tak pernah datang sekali pun membawa makanan. Mereka seakan sengaja melakukannya, membuat Hanako tersiksa dengan rasa lapar yang hebat. Ditambah dengan rasa haus yang meradang.
"Aaaarrrggg! Lepaskan aku! Siapa pun tolong aku!" jerit Hanako seraya menggedor pintu yang terkunci itu.
Rasa nyeri, sakit, serta penderitaan menjadi satu-satunya kawan yang dia miliki. Lambungnya terasa perih dan melilit. Tak ada lagi tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya. Bahkan untuk berdiri saja tubuhnya gemetar. Kedua kakinya tak mampu menopang lagi.
Rasa lapar yang tak tertahan bahkan membuat Hanako nyaris kehilangan kesadaran. Gadis itu tak lagi mengenal batas waktu. Entah sudah berapa lama ia diperlakukan seperti ini.
"Peduli setan, bila memang kalian ingin melihat aku mati di sini! Kalian memang ingin menyiksaku, kan? Paling tidak, aku tak ingin menjadi iblis yang diinginkan kakek. Bukan kah itu lebih baik bagiku. Aku tak akan menjadi seperti yang kakek inginkan yang menghabisi siapa pun hanya demi kehormatan dan kekayaan saja." Hanako bermonolog dengan dirinya sendiri seraya berkeliling dengan langkah gontai.
__ADS_1
Namun, rasa lapar dan haus ini benar-benar begitu menyiksa Hanako. Gadis itu mulai tersengal-sengal dengan kesakitan yang berpusat di dalam perutnya. Tiba-tiba, di tengah kesadaran yang mulai memudar itu, Hanako mendengar sebuah suara di dalam telinganya. Suara yang terus menerus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
"Lapar! Harus makan! Lapar!"
Suara tikus berdecit melintasi jeruji kecil dinding ruangan tersebut. Hanako memukulnya dengan potongan kayu dari kursi yang sudah dia rusak. Tikus itu tak sadarkan diri kemudian. Tanpa sadar Hanako tiba-tiba mulai merobek tikus tersebut dengan jari-jari hitam panjang yang sudah lama tidak lagi pernah dipotong.
Tubuh tikus got itu dia lahap untuk menghilangkan rasa lapar dan haus yang benar-benar sudah menyiksa dirinya, juga merongrong kesadarannya. Hanako tak lagi jijik dengan binatang itu. Hanako menggigit leher si tikus sampai membuatnya mati.
Hanako melihat tangannya berlumuran darah dari si tikus. Gadis itu mulai mengisapnya dan menjilatinya. Ia merasakan perasaan nikmat serta rasa puas yang menghilangkan dahaga yang ada di dalam dirinya. Sudah lama sekali Hanako tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Dia tak lagi jijik mengunyah tubuh tikus tersebut.
Keinginan dirinya untuk hidup mulai kembali lagi. Hanako telah menghabiskan seekor tikus tersebut dan mulai mencari kembali. Dia menjilati sisa-sisa darah tikus yang ada di tangannya sampai menggigit tangannya sendiri. Hanako mencakar-cakar bagian tubuhnya dan berharap ada darah yang keluar dari sana agar dia bisa mengisapnya kembali.
Gadis itu benar-benar menjelma menjadi wanita yang benar-benar gila. Gadis itu bahkan mematahkan kuku sampai mengeluarkan darah dari jari jemarinya. Semua ia lakukan hanya untuk bertahan hidup.
"Apakah ini yang diinginkan kakek? Apa dia mau aku ditumbalkan dan mati di tempat ini?" batin Hanako seraya tersungkur jatuh seolah akan meregang nyawa di atas air seninya sendiri.
Hanako mulai tertawa begitu keras, ia sudah tak lagi mengerti arti dari emosi yang saat ini memenuhi isi kepalanya.
Di atas ranjang yang tadinya tak mau dia sentuh, Hanako melihat sosok wanita berwajah mengerikan sedang mengamati dirinya.
__ADS_1
Sosok wanita itu hanya tersenyum menyeringai. Beberapa kali, Hanako mendapati wanita itu sedang menatap dirinya dengan ekspresi penuh hasrat. Sosok wanita Jepang itu ingin menguasainya lebih jauh. Sosok wanita yang sama yang pernah dirinya lihat saat hendak dilakukan ritual terhadap dirinya.
Di samping wanita itu terdapat sosok lain yang tinggi besar, jangkung, dengan bulu hitam yang menyelimuti tubuhnya. Di atas kepalanya terdapat tanduk panjang menjulang menyerupai seekor kambing. Sosok menyerupai manusia kambing yang disebut Yagi. Ia juga sedang berdiri memandang ke arah Hanako. Matanya merah menyala dengan sesekali menyeringai melihat dirinya.
"Kalian mau membunuhku? Tunggu apa lagi? Bunuhlah aku!" lirih Hanako.
Gadis itu sudah tak peduli lagi. Mau mati atau tidak dia tak peduli lagi. Mungkin kematian lebih baik dari pada tersiksa seperti itu. Hanako hanya duduk meringkuk memandang ke arah mereka dengan sorot wajah tersenyum.
Apakah Nyonya Micin yang mengirim mereka untuk menghabisi dirinya? Entahlah, yang jelas Hanako sudah tak memiliki perasaan takut pada apa pun, bahkan kepada kematian sekali pun.
Saat itulah Hanako melihat sosok Yagi itu tiba-tiba saja menundukkan kepala di hadapannya.
"Aku harap kau kuat menjadi mediaku," ucap sosok wanita itu.
Sosok wanita tadi lantas mendekati Hanako. Dia membuat mulut gadis itu menganga. Sosok wanita itu menjadi kabut hitam pekat yang perlahan masuk ke dalam mulut Hanako. Gadis itu lantas tak sadarkan diri kemudian.
...***...
Hari mulai gelap, Hanako terbangun dari pingsannya. Ia tak lagi mendapati dua sosok sebelumnya. Wanita dan Yagi itu telah menghilang entah ke mana. Hanako mendengar suara pintu berderit. Gadis menoleh, melihat ke arah pintu yang sedang terbuka lebar. Tanpa sadar dia mulai berdiri, kedua mata lentik itu teralihkan pada cahaya yang keluar dari balik pintu.
__ADS_1
Hanako melangkah tertatih-tatih, berjalan perlahan meski keseimbangannya masih terasa goyah. Gadis itu menyusuri setapak demi setapak dengan tubuhnya gemetar. Hanako mulai menyusuri lorong yang panjang di dalam tempat itu.
...*** Bersambung ***...