
Gadis itu kini menutup rapat mulutnya. la tak mau ******* daging wanita busuk itu. Hanako mulai muak. Namun, Kakek Hoki mencengkeram leher Hanako. Posisi tubuh gadis itu terikat sehingga memudahkan pria itu untuk mengendalikan mulut Hanako.
"Sambut takdirmu, Nak. Kau harusnya bangga karena terpilih menjadi penerus Ratu Masako yang selanjutnya." Tawa Nyonya Micin menggelegar menggema di ruang kosong itu, disambut oleh tawa serupa dari Kakek Hoki.
Di luar sana, awan kelabu mulai memayungi sekitar. Bahkan terdengar petir menggelegar dengan kilat yang menyambar. Angin mulai berembus lebih kencang membuat pepohonan bergoyang lebih kuat menambah suasana yang kian mencekam.
Kakek Hoki membuat cucunya membuka mulut lebar. Nyonya Micin menjejalkan potongan daging secara paksa sampai menyentuh ujung tenggorokan Hanako. Membiarkan gadis itu menelannya bulat-bulat. Selang waktu beberapa saat, Hanako menjerit, berteriak semakin kasar atas segala sikap janggal sebagai seorang manusia yang dinodai oleh kakeknya sendiri. Dia tak mau menjelma sebagai iblis.
Kedua bola matanya menghitam. Tawanya menyeringai menyeramkan. Suara Hanako berubah menjadi lebih berat. Gadis itu melayang dengan dada membusung ke atas. Setelah itu Hanako terjatuh. Gadis itu terbatuk-batuk dan muntah darah lalu tak sadarkan diri.
"Tidak mungkin! Aku mohon jangan sampai terjadi!" Kakek Hoki berseru seraya mengguncang tubuh Hanako yang pingsan.
"Dia tak siap. Ratu Masako menolaknya. Bagaimana ini?" Nyonya Micin juga tampak gelisah.
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba Hanako sadar dan bisa melihat perubahan garis wajah Kakek Hoki. la seperti menahan diri. Ada guratan rasa kecewa pada pandangan matanya ketika melihat Hanako terbaring tak berdaya.
"Bawa dia ke kamar biasa saja. Nanti kita siapkan lagi jika dia sudah siap," ucap Kakek Hoki memberi perintah pada Nyonya Micin.
...***...
Sore itu, Hanako berjalan menapaki selangkah demi selangkah setiap lorong yang dia lihat. Sudah lama sekali ia tidak memperhatikan setiap ruangan yang ada di dalam rumah yang dibangun oleh kakeknya ini. Hanako ingat kali terakhir ke tempat ini saat usianya baru menginjak delapan tahun. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Semuanya sama dengan ingatan terakhir yang ada di dalam kepala gadis itu.
Beberapa kamar kosong terbentang sejauh mata memandang. Hanako tidak tahu lagi fungsi kegunaan rumah ini. Mungkin saja Kakek Hoki dan Nyonya Micin memang sengaja membiarkannya terbengkalai seperti ini.
Kakek Hoki sudah tak lagi menahan cucunya untuk tetap berada di dalam ruangan. la kini memberi kebebasan kepada dirinya, asalkan Hanako tak pergi meninggalkan tempat ini sampai ritual terakhir selesai dilakukan kepada dirinya. Hanako akhirnya memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh keluarganya. Kilasan ingatan yang dia lihat dari Kakek Hoki membawanya untuk mengambil jalan ini.
__ADS_1
Saat Hanako kembali berkeliling melihat seisi Rumah Suci. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat memandang ke arah pintu. Tempat Nyonya Matsumoto disekap. Hanako yakin sekali kalau dia adalah ibunya Yuna yang sudah dinyatakan tewas. Namun, kenapa ibunya Yuna masih hidup.
Hanako memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Akan tetapi, dia teringat dengan sosok Yagi. Iblis kambing itu pasti masih berada di sana. Hanako menarik napas dalam dan memberanikan diri masuk ke dalam ruangan tersebut. Rupanya Nyonya Matsumoto masih hidup tetapi dia tersiksa.
"A-anda, Anda ibunya Yuna, kan?" tanya Hanako akhirnya.
"Di mana anakku? Di mana Ken dan Yuna?" tanyanya lirih.
"Yuna sudah meninggal. Tapi, Kak Ken masih hidup. Mereka mengira Anda sudah mati," ucap Hanako.
Sosok Yagi datang mendekat mengejutkan Hanako.
"Pergi dari sini! Jangan buat dirimu menderita sepertiku! Pergi dari sini!" Matsumoto berteriak berusaha menghentikan Yagi.
Hanako lari keluar Rumah Suci. Dia melihat seekor kambing berwarna hitam tetapi berjalan dengan dua kaki menuju ke arahnya. Binatang itu berdiri sembari memandang ke tempat Hanako dengan sorot mata diam.
Namun anehnya, kambing hitam yang ia lihat tiba-tiba berjalan mendekat ke tempatnya. Ia melangkah menuju ke pintu Rumah Suci yang saat ini dalam kondisi terbuka lebar. Hanako mulai berlari, ia yakin jika binatang itu adalah Yagi yang bisa dia lihat jelas kini.
Suara langkah kaki Hanako terdengar menggema ketika menelusuri lorong. Napasnya tersenggal-sengal. Sempat dirinya menoleh melihat ke belakang, sosok Yagi itu sedang berdiri di sana, memandang ke arahnya.
Makhluk itu lalu tak bergerak sama sekali, hanya memperhatikan Hanako yang sedang berlari menjauh darinya. Tiba-tiba, tanpa ada sebab Hanako jatuh tersungkur tersandung oleh sesuatu yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
Hal itu membuat wajahnya menghantam keras ke lantai. Hanako tak dapat berdiri, tubuhnya seperti ditekan dengan sangat keras oleh sesuatu yang terasa mengimpit wajahnya ke lantai.
Hanako menjerit kala kaki dari Yagi menginjaknya. Gadis itu menahan kesakitan luar biasa. la mencoba bertahan dengan tubuh yang terus menerus ditekan oleh salah satu kaki dari Yagi.
__ADS_1
Tak lama kemudian sekujur tubuhnya merasakan panas yang membakar. Dari lubang pori-pori kulitnya, Hanako merasakan darahnya merembas keluar. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi belum pernah dia merasakan kesakitan yang seperti ini. Ia merasa setiap jengkal tulangnya terasa dipatahkan satu per satu. Tak lama kobaran api tiba-tib muncul di sekitar Hanako.
Asap mulai berkabut keluar dari kobaran api tersebut. Membuat dada Hanako terasa sesak dan tak bisa bernapas. Sayup-sayup, Hanako mendengar suara teriakan sang kakek dan Arisa. Tubuh mereka terbakar dan berlarian ke sana ke mari.
Suara hentakan langkah kaki seseorang terdengar. Hanako sempat melihat wajah Nyonya Micin menyeringai ke arahnya. Lalu, gadis itu tak sadarkan diri kemudian.
...***...
Anta melihat anak kecil yang terbaring di rumah sakit. Anak perempuan itu sedang tertidur. Namun, anak itu ketakutan dan berkeringat bahkan dia mengigau.
"Carikan Baku untuk Royco Baku sekarang, Yah!" Wanita kurus itu berucap pada pria yang kemungkinan suaminya.
"Tuan Hoki dan keluarganya menghilang. Bagaimana aku bisa mencari Baku? Sama siapa aku bisa meminta Baku?" Sang pria tampak cemas.
Anta mendekat lalu melihat ada sosok hantu yang berwujud lentera tak jauh dari anak perempuan tadi. Sebenarnya hantu itu tidak jahat seperti hantu lainnya. Hanya saja, hantu ini sering mengganggu anak kecil dan senang iseng mengganggu manusia.
Anta bahkan tertawa melihat hantu berbentuk lentera kertas yang sedang menjulurkan lidahnya. Sebenarnya lidah itu sangat menjijikan, berbau busuk dan amis.
Orang tua anak perempuan tadi menoleh pada Anta. Sang ibu bahkan bertanya, "Apa yang kau tertawakan di sini?"
"Halo, selamat malam. Maaf Anta nggak sengaja tertawa karena dia." Anta menunjuk hantu lentera tadi.
"Dia siapa yang kamu maksud?" tanya ayahnya Royco.
"Dia!" Anta menyentuh tangan ayah dan ibu anak kecil yang bernama Royco tadi.
__ADS_1
... **** Bersambung ****...