
Tiba-tiba, Siti kembali mendengar ******* napas wanita dan gemeretak tulang yang bergesekan diikuti sesuatu yang jatuh ke bahunya. Dan ketika wanita itu menyadari sesuatu yang jatuh itu berupa rambut, dia segera menengadah.
Wanita itu melihat sosok hitam yang dia temui dalam mimpinya tadi. Sosok itu memaksa masuk ke dalam mulutnya. Siti berusaha berteriak, tetapi yang dia dengar adalah suara dirinya sendiri yang tertawa cekikikan diikuti suara Alvin yang memanggilnya mama.
"Astagfirullah, ada apa ini?" Herman yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung tersentak melihat istrinya tertawa sendirian.
Tubuh wanita itu mencengkeram ke lantai. Dia menyeret tubuhnya ke dinding dan seolah menempel di sana bagaikan cicak.
"Alvin, mama kenapa, Nak?" tanya Pak Herman pada putranya yang hanya mengucap kata "mamah".
Pupil milik istrinya Herman itu memutih. Dia masih tertawa cekikikan dan menempel di dinding. Herman jadi yakin kalau istrinya tengah kerasukan. Dia langsung menggendong Alvin dan membawa putranya keluar rumah.
Tak ada sanak famili yang ada di rumahnya. Hanya ada tetangga yang mulai akrab dia kenal yaitu keluarga Anan. Pria itu langsung menuju rumah Anan dan menekan bel pintu yang ada di dekat pagar rumah berkali-kali.
"Yanda, kayaknya ada suara bel rumah." Dita terbangun dari tidurnya dan mengguncang tubuh suaminya yang tak mengenakan sehelai benang pun selalu pertempuran asmara dua jam lalu bersama Dita.
"Ah, masak sih? Siapa yang mau bertamu jam segini?" Anan mengucek kedua matanya.
Keduanya lalu bergegas meraih pakaian piyama mereka dan mengenakannya. Saat hendak keluar dari kamar, Dita sempat tersentak dengan sosok pocong Doni yang berdiri mematung di dekat anak tangga.
"Astagfirullah, si Doni ngagetin aja!"
"Dia lagi tidur apa gimana, sih? Kalau tidur kok berdiri? Dasar pocong aneh!" gumam Anan.
"Yanda liat dulu dari jendela, yang mencet bel manusia apa setan," pinta Dita.
Anan menuju pintu depan dan mengintip dari balik tirai.
"Pak Herman lagi gendong anaknya, Bun," ucap Anan.
"Hah, serius? Bukain Yanda pintunya!" seru Dita.
Ternyata Anta juga terbangun bersama Raja. Keduanya menuruni anak tangan seraya mengucek kedua mata.
"Ada apa sih, Bunda?" tanya Anta.
"Pak Herman bertamu sambil gendong anaknya, nggak tau mau ngapain," jawab Dita.
"Bertamu?" Anta dan Raja mengucap bersamaan.
Anan membukakan pintu, lalu menghampiri Pak Herman yang raut wajahnya pucat dan ketakutan.
"Ada apa, Pak?" tanya Anan.
"Tolong titip anak saya. Saya mau ke rumah Pak Ustaz di dekat masjid sana. Istri saya kesurupan," ucapnya.
__ADS_1
"Hah? Kok bisa?"
"Saya juga nggak tau, Pak Anan. Dia cekikikan terus nempel di tembok rumah," ujarnya penuh kepanikan.
Dita langsung meraih Alvin, dia menggendongnya.
"Mau saya temani, Pak?" tanya Anan.
"Boleh, Pak. Tapi istri saya gimana, ya?" tanyanya.
"Anta, kamu telpon Arya. Suruh dia sama ayahnya keluar rumah buat bantuin Bu Siti yang katanya lagi kesurupan!" perintah Anan.
"Baik, Yanda."
Anta masuk ke dalam rumah mencari ponselnya. Sementara Anan berjalan cepat menuju rumah Pak Ustaz menemani Pak Herman.
"Ribet banget sih pake nyari hape!" gumam Raja lalu menaiki dinding pemisah rumah menuju rumah Tasya dan Herdi.
Raja kemudian menggedor pintu rumah itu dengan kencang berkali-kali. Arya yang membuka pintu rumah berbarengan dengan ponselnya yang berbunyi. Herdi juga keluar dari kamarnya.
"Ayo, Kak! Bantu aku pegangin Bu Siti katanya dia kesurupan," ajak Raja.
Arya yang menggunakan kaus putih dan celana panjang motif kotak-kotak itu mengangguk lalu keluar mengikuti Raja. Anta juga ikut ke rumah Bu Siti.
"Kalian hati-hati, ya!" ujar Dita seraya menggendong Alvin.
...***...
"Saya tahu seseorang yang mungkin bisa bantu. Jin-nya jahat ini yang nempel, ada banyak juga," ujar seorang wanita yang menggunakan hijab hitam panjang, istri dari Ustaz Abu.
Wanita itu seolah tahu maksud kedatangan Herman saat meminta bantuan.
"Boleh, Bu. Siapa kira-kira orangnya?" tanya Herman.
"Saya sendiri," ujarnya seraya menunjuk ke dirinya.
"Hadeh… kirain orangnya jauh, Bu. Ya udah Bu, ayo buruan ikut kita!" ajak Anan.
"Saya mau minta tolong anak saya dulu keluarin motor. Kalau jalan kaki saya pegel, jadi saya naik motor aja, ya," pungkasnya.
"Oke, Bu, kita duluan kalau gitu," sahut Anan seraya menarik tangan Pak Herman agar bergegas kembali ke rumahnya.
...***...
Anta masuk ke dalam rumah Bu Siti. Dia mendapati sosok wanita yang tengah kerasukan itu menempel di dinding rumahnya.
__ADS_1
"Lha, kenapa kayak spiderman begini si ibu?" gumam Raja.
"Heh, jangan macam-macam, ya! Ayo, turun, Bu!" seru Anta.
"Tau ih, ngeri kecengklak itu nempel begitu. Kayak kipas dinding aja," celetuk Arya.
Siti yang tengah kerasukan hanya tertawa melengking seraya menatap Raja, Arya, dan Anta dengan melotot.
"Hmmm … jangan-jangan mah si kodok buduk kayaknya." Anta menatap tajam menelisik lebih jauh.
"Jadi, ini mau diapain? Mau ditonton aja?" tanya Herdi yang datang menyusul.
"Kita tarik aja, Yah!" Arya memberi ide.
Namun, mendadak kemudian tubuh Bu Siti terlihat kejang-kejang dan jatuh menimpa Raja sampai membuat pemuda itu tak bisa bernapas.
"Astagfirullah! Tolong angkatin ini!" rengek Raja.
Arya dan Pak Herdi buru-buru mengangkat tubuh Bu Siti. Kuntilanak Silla datang bersama Ratu Sanca atas perintah Dita.
"Siapa kamu? Cepat keluar dari tubuh itu!" seru Ratu Sanca.
"Woah, di sini ada siluman ular juga rupanya dan kuntilanak jadi-jadian," ucap makhluk yang berada dalam tubuh Bu Siti.
"Eh, maaf ya, Sis, aku kuntilanak beneran bukan jadi-jadian! Dia juga Ratu Sanca bukan siluman ular biasa, paham?!" Silla berkacak pinggang.
"Kalian sama saja sepertiku!" seru sosok yang ada di dalam tubuh Bu Siti.
Tiba-tiba, Raja memencet jempol kaki Bu Siti.
"Aawwww! Sakit bodoh!" Sosok itu memekik kesakitan.
"Ja, kamu ngapain?" tanya Anta.
"Kan, katanya kalau orang kesurupan jempolnya dipencet, hehehe."
"Lepaskan! Sakit Bodoh!" pekik hantu itu.
"Heh, enak aja ngatain bodoh! Aku sekolah tau! Wah, ngajak ribut, nih!" Raja bersiap melawan tetapi Anta menahannya.
"Sabar, Ja, biar bagaimanapun itu badannya Bu Siti. Jangan diapa-apain!" Anta menarik Raja menjauh.
Suara gemeurutuk tulang kembali terdengar. Sosok itu bangkit berdiri dan berbalik badan. Dia hendak melakukan putaran leher 180 derajat. Namun, Anta buru-buru menahannya.
"Jangan sembarang muterin leher orang! Nanti dia bisa mati, sedangkan kamu udah nggak bisa mati! Lagian, emang kita takut apa liat kamu kayak gitu! Kalau berani sama kita, keluar kamu dari tubuh Bu Siti!" seru Anta menahan sosok itu memutar leher Bu Siti.
__ADS_1
Sosok gaib yang merasuk di tubuh Siti hanya bisa melongo. Baru ini dia merasa direndahkan sebagai sosok hantu. Biasanya para manusia akan ketakutan. Tetapi tidak kali ini. Mereka malah merundungnya habis-habisan.
...**** Bersambung ****...