
Bab 62 PI
Bus itu menyambarnya seolah menjadi puing-puing, Ketika Vivi membuka mata, dia mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang sangat asing. Dari kejauhan, Vivi sempat melihat bayangan Mbah Marjan menggunakan jubah hitam. Dialah sosok bayangan misterius yang dilihatnya tadi.
"Kini, kau menjadi Jiwo Luknut menggantikan suamimu," kata Mbah Marjan.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku sudah korbankan Alvin. Kenapa kau tetap mengambilku, Mbah?"
"Dia bebas karena kau bodoh! Perjanjian itu tak berlaku!" Mbah Marjan lantas tertawa.
Menertawai Vivi tepatnya. Paling tidak sosok "Jiwo Luknut" itu akan berganti tubuh segar yang baru. Dan sosok suaminya Vivi akan menghilang dimakan oleh para iblis yang sesat.
Vivi hanya bisa menangis saat melihat seorang wanita tergeletak dengan genangan darah di sekitarnya. Wajah itu sama persis dengan dirinya, tak bernyawa.
...***...
Di suatu rooftop sekolah tempat Raja bersekolah. Anta mendapat panggilan di ponselnya untuk menolong adiknya yang sedang berhadapan dengan pemuda psychopath. Pemuda itu gemar mengumpulkan bagian tubuh bagi para gadis incarannya.
“Lho, kita mau ke mana?” tanya Arya tak mengerti.
“Mau nolongin Raja!”
Sesampainya di sana, Anta bergegas menarik tangan Arya yang masih tak mengerti untuk naik ke rooftop gedung tersebut. Di atas atap gedung itu, seorang pria sudah mengancam Raja yang berbaring di bawah injakan kaki kanannya dengan pisau. Dia menoleh ke arah Anta dan Arya yang baru saja tiba.
"Mau apa kakakmu datang ke sini? Memangnya kamu masih minta jemput, ya?" cibir Agung si pemuda psychopath yang sedang mengancam Raja.
"Heh, dasar penjahat kelamin nggak punya otak! Lepasin adik Anta!” seru Anta.
Agung hanya tertawa menyeringai padahal di sekeliling pemuda itu sudah berdiri lima hantu perempuan, murid dari SMA Aphrodite.
“Kamu yang membunuh mereka dengan keji, kan?" Anta menunjuk para hantu yang mengelilingi Agung.
"Siapa yang kamu ajak bicara?" tanya Agung tak mengerti.
Anta mendekat, lalu menepuk bahu pemuda itu seraya memperlihatkan sosok para murid perempuan yang menjadi korban keganasan pemuda itu. Agung langsung mundur beberapa langkah menjauh karena ketakutan kala melihat para hantu dengan tubuh yang tak utuh itu.
"Ini ada apa sih sebenarnya?” tanya Arya tak mengerti.
"Gini, Sayang … menurut apa yang Anta lihat, cowok ini merupakan pembunuh para gadis itu. Dia mengoleksi potongan tubuh mereka, dan hampir saja Raja sama Alisha dibunuh kalau bukan Om Lee yang bilangin Anta supaya ke sini,” ucap Anta.
__ADS_1
“Wah, kurang ajar ini cowok!”
Arya mengambil celah dan berhasil mendekati Agung sampai menjatuhkan pisaunya. Dia langsung menyerang pemuda itu sampai membuat keduanya bergulingan. Namun, pemuda itu lebih cekatan dari Arya saat meraih pisau tersebut di lantai atap.
"Kalian mundur atau aku akan gorok leher pria ini!" ancam Agung yang langsung mendekatkan pisau lipat di leher Arya.
"Yah, aku pikir bakal keren bisa naklukin si Agung, taunya Kak Arya payah," celetuk Raja yang langsung diberi jitakan oleh Anta.
"Awas lu ya, Ja!" seru Arya menunjuk Raja.
"Heh, diam kamu atau leher kamu aku sayat!" ancam Agung.
"Gimana ini, Kak Anta?" bisik Raja dengan paniknya.
Anta tak kehilangan akal, dia melihat hantu Silla yang tiba-tiba muncul. Hantu kuntilanak merah itu terbang melayang dan berdiri di belakang tubuh Agung.
"Nta, aku cinta sama kamu, cuma kamu yang ada di hatiku. Malam ini aku mau melamar kamu jadi istriku. Tapi, kalau malam ini aku harus mati, maafin aku ya, Nta." Arya sampai memejamkan kedua matanya.
Anta langsung menganga kala mendengar ucapan pria tersebut.
“Arya nggak boleh bilang gitu, Anta nggak bisa hidup tanpa Arya,” sahut gadis itu searay menangis tersedu-sedu.
"Saya lebih mual lagi, Ja," sahut genderuwo Lee.
Hantu Silla yang memang sudah bisa menyentuh benda-benda manusia, lantas meraih pisau lipat yang ada di tangan Agung. Pemuda itu langsung terperanjat kala tangannya bergerak begitu saja dan melepaskan pisau itu. Arya langsung meraih tangan Agung dan membanting pemuda itu ke lantai atap.
"Nah, rasakan itu!" seru Arya yang langsung bertos ria dengan hantu Silla.
Anta lantas memeluk Arya dan berseru, "Aryaaaaaa!"
"Idih, dasar pasangan lebay main nubruk aja satu sama lain," sahut Raja.
"Sirik aja, Luh!" sahut Arya.
Para hantu yang mendekati Agung mendekat dan tertawa menyeringai. Pemuda itu sampai memundurkan tubuhnya perlahan dengan cara menyeret bokongnya.
"Apa yang kamu tanam, maka itulah yang akan kamu tuai," ucap Anta menatap tajam ke arah Agung.
"Pergi! Pergi kalian semuanya!" teriak Agung.
__ADS_1
"Kenapa, sayang? Bukankah kami para gadis sempurna untukmu," ucap Fani salah satu hantu.
"Pergi! Pergi dari sini! Kalian sudah mati, kalian sudah membusuk!" Agung terus berteriak ke arah para hantu tersebut.
Pria itu tergelincir jatuh dari atap gedung berlantai lima. Tubuhnya menghantam ujung tiang panggung yang ujungnya lancip. Perutnya sampai menembus tiang tersebut. Darah segar mengucur dari perutnya yang tertusuk.
Salah satu kakinya juga tersangkut kabel listrik dan membuatnya terkena setruman. Tubuh pemuda itu langsung kejang-kejang dan akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Tak berapa lama beberapa polisi bantuan datang untuk memeriksa tempat kejadian dan membubarkan acara pertunjukan musik malam itu.
...***...
Setelah pertempuran di rooftop sekolah milik Raja, Anta menelisik ke arah Arya dengan saksama.
“Tadi katanya mau melamar Anta, kok nggak diterusin lagi?” tanya gadis itu.
“Oh iya, hampir aja lupa.” Arya merogoh saku celananya lalu berlutut di hadapan Anta kala itu.
“Ratu Ananta Prayoga, maukah kau menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?” Arya menyerahkan kotak kecil warna merah berisikan cincin berlian yang dia beli dari hasil tabungannya.
“Yes, Anta mau!” seru gadis itu tanpa keraguan dan langsung memeluk kekasihnya di hadapan para polisi yang sedang memeriksa TKP.
Raja dan para hantu bersorak seraya bertepuk tangan, diikuti para polisi yang ada di sekitar keduanya juga. Hantu Silla bahkan menangis haru seraya melingkarkan tangannya di lengan Lee kala itu.
Ponsel Arya tiba- tiba berdering mengejutkan semuanya.
“Bentar, Nta.” Arya melepaskan pelukan gadisnya.
“Telepon dari siapa?” tanya Anta.
“Si Arga.” Arya menekan tombol hijau di layar sentuh ponselnya.
“Ya, elu ada di mana? Kita udah nunggu dari tadi, nih! Elu jadi nggak ngelamar Anta?!” Suara teriakan Arga langsung terdengar dari seberang ponsel milik pemuda itu.
“Ya ampun gue lupa, gue malah ngelamar Anta di sini!” pekik Arya seraya menepuk dahinya sendiri.
“Koplak!” Arga bersungut-sungut seraya menutup sambungan ponsel itu.
“Ada apa, sih?” tanya Anta lagi.
“Kita ke restoran The Anan’s sekarang! Adegan lamaran tadi aku ulang ya di sana,” ucap Arya yang menarik tangan Anta menuju mobil.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...