Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
31. Pembukaan Lomba


__ADS_3

"Pak Asahi lihat Yuna? Lalu, bagaimana keadaannya?" tanya Yuki.


Yuna merupakan sahabatnya. Bersama Miyayam, gadis yang diduga dibunuh oleh ayahnya di pantai. Mereka bersahabat dan saling menguatkan saat dirundung oleh Hanako.


"Keadaan Yuna?" tanya Arya.


Yuki mengangguk.


"Ya, udah meninggal." Arya terkekeh.


Namun, Anta dan Yuki langsung menghujani pemuda itu dengan tatapan tajam.


"Jadi, gimana Kak Anta, kenapa Miyako menganggu saya?" tanya Yuki.


"Anta juga nggak tahu, sih. Apa sebaiknya kita ke sana biar Anta bisa ketemu dan tanya dia mau apa?"


Arya dan Yuki langsung menggeleng bersamaan.


"Hih, gimana sih? Kalian pada takut?"


Arya dan Yuki mengangguk bersamaan.


"Cocok kalian kayak pajangan di dashboard mobil." Anta terkekeh.


...***...


Sore itu, seperti sore pada umumnya di Pantai Ju, gemuruh ombak yang berdesir riang seolah menyambut para pengunjung resort untuk mendekat dan melihat indahnya matahari terbenam.


Anta, Ria, dan Yuki datang ke pantai bersama. Dion telah kembali dari London ke tempat itu untuk menemani Anta dan Ria. Dion akan mengadakan pertunjukan solo di acara pembukaan perhelatan lomba perahu layar.


Arya tadinya mau datang bersama Anta dan yang lainnya. Tetapi, Hanako terus mengekor. Arya terpaksa menemani Hanako. Dia berada di rombongan keluarga Takurugi. Kakek Hoki juga akan memberikan sambutan bersama Menteri Pariwisata hari itu.


Burung-burung camar pun berkicau merdu. Raja kelana yang melambai-lambai membuat Dion termenung, melamun, hanyut dalam alunan nada. Pemuda itu pun mulai bersenandung sambil memetik gitar.


Dalam waktu singkat, suara Dion mengundang senyum genit dari beberapa perempuan yang sedang menikmati alunan suara merdunya dipayungi keindahan pantai. Mereka bergerombol, dan tak ada satu pun pria di antara gerombolan itu.


Para turis asing maupun lokal perempuan, banyak melemparkan senyum genit ke arah Dion. Anta dan Ria memicing. Sesekali melirik para wanita yang sok seksi itu. Salah satunya berambut panjang warna cokelat dan memakai bikini dengan warna paling mencolok, hijau stabilo. Seorang perempuan yang sedang berbisik-bisik dengan si bikini hijau stabilo itu berkali-kali membenahi bikini merah mudanya yang menurut Anta terlalu ketat.


Tadinya Yuki juga memakai atasan bikini putih dan bawahan rok pendek. Namun, Anta meminta gadis itu memakai tambahan cardigan. Sedangkan Anta dan Ria memilih memakai kaus putih dan bawahan celana gemes berbahan jeans di atas lutut.


Hoka datang mengenakan kemeja pantai yang kancingnya dibuka dengan dipadukan celana boker hitam. Dia menyapa Anta seraya menawarkan segelas cocktail di tangannya dan


"Maaf, Anta nggak suka alkohol. Anta minum jus aja," kata Anta.


Hoka tergelak. Dia lalu mengulurkan tangan berkenalan dengan Anta. Sebenarnya, ada beberapa gadis yang siap menjadi teman kencan Hoka kala itu. Namun kala melihat Anta, tekad pria itu makin kuat untuk mengenal Anta lebih jauh.


"Apa kau mau makan malam denganku?" tanya Hoka.

__ADS_1


"Ummm, nggak usah. Anta udah masak, kok. Nanti makan malam di rumah aja." Gadis itu berusaha menghindari Hoka.


"Apa aku boleh makan malam di rumahmu?" tanya Hoka lagi.


"Nggak boleh. Itu bukan rumah Anta juga, kok." Gadis itu melangkah sedikit demi sedikit untuk menjauh dan masuk dalam kerumunan para gadis bersama Ria dan Yuki. Ketiganya berhasil kabur dari Hoka yang dikerumuni para pengunjung di depan panggung itu.


"Sial! Gadis ini benar-benar tidak teperdaya olehku," gumam Hoki.


...***...


Setelah Dion mempersembahkan lagu, acara berlanjut ke sambutan sang menteri pariwisata. Lalu, beralih ke Kakek Hoki. Saat matahari mulai terbenam acara pun berakhir.


Arya berhasil lepas dari tatapan Hanako, dia mengarah menghampiri Yuki, Anta, dan Ria yang menjauh di bawah pohon kelapa. Arya sudah mengamati sedari tadi.


Yuki sedang menunjukkan sebuah video. Di layar ponselnya mulai beredar video penemuan mayat yang ditemukan Arya dan Anta. Namun, ada video viral juga yang direkam oleh teman-temannya Yuki. Video tentang penemuan jasad wanita yang terjun dari tebing. Ada Ken juga yang terekam dalam beberapa video itu.


"Ngapain elu di sini?" Dion datang dan menepuk bahu Arya. Dia menemukan para gadis setelah menghubungi ponsel Ria.


"Lah, suka suka gue, lah! Ini tuh pantai buat umum dan luaaaaaas! Siapa aja boleh di sini termasuk gue!"


"Elu bukannya gigolonya sih Hanako? Sana, dicariin sama rekening berjalan luh." Dion terus mencibir Arya.


"Jaga mulut elu!" Arya menarik kerah Dion dan hendak memukul.


Anta segera melerai keduanya.


"Dia duluan yang mulai menghina, Nta!" tuding Arya.


"Emang nyatanya begitu, kok!" sahut Dion.


"Setooooooop!" Anta meremas dan mengunci mulut Arya dan Dion bersamaan.


"Mereka ngomong apa sih, Kak?" tanya Yuki pada Ria.


"Bahasa Indonesia, Yuk. Eh, nggak enak banget manggilnya, ganti deh, Ki."


"Oooohh, terus artinya apa?"


"Artinya mereka saling sayang. Itu cara mereka menunjukkan rasa sayang karena mereka sahabat yang akrab," sahut Ria berusaha menahan tawanya.


"Oh, gitu." Yuki mengangguk-angguk.


Ponsel Arya berdering, Hanako mencarinya. Pemuda itu lantas menekan tombol silent karena tak ingin diganggu Hanako.


"Udah, deh. Tujuan Anta ke sini nungguin matahari terbenam, kan, buat ketemu sama hantu dalam video itu." Anta menunjuk ponsel di tangan Yuki.


"Makanya itu, aku juga penasaran, Nta," sahut Arya.

__ADS_1


Ponsel Dion berdering. Rekan kerjanya di sebuah kafe menghubungi.


"Kafe kamu, gimana?" tanya Dion,"masih sepi? Hah, mereka takut ke arah sana? Ya udah nanti aku cari tahu."


Dion menutup sambungan teleponnya.


"Kenapa, Bang?" tanya Ria.


Dion mengedikkan bahu, "Kayaknya banyak perempuan yang masih takut keluar malam, ya? Apalagi sendirian."


Yuki mencibir, "Yah, siapa juga yang berani keluar malam sendirian setelah ditemukan mayat bunuh diri. Ditambah penemuan mayat nggak utuh tempo hari.


"Jadi, kafe temennya Abang yang nggak jauh dari sini sepi gara-gara itu?" tanya Ria lagi.


Dion mengangguk.


"Ini bener-bener viral, sih. Mana beritanya disiarin nggak cuma di stasiun TV lokal, tapi juga stasiun TV nasional!" Arya menggeleng berkali kali.


"Padahal pamanku sudah berusaha nutup-nutupin berita itu dengan program acara positif di stasiun TV yang dia pegang." Yuki mendecak prihatin. Aku maklum.


"Tentu saja ditayangkan gede-gedean di stasiun TV lokal. Pasalnya, yang bunuh diri kan Miyako. Dia putri tunggal seorang pengusaha kaya yang punya gedung serbaguna mewah di Hokaido," ucap Dion mendekat pada Arya dan terlihat akrab. Lalu, keduanya tersadar dan menjauh seketika seraya bergidik.


"Itu orang tua asuhnya. Kak Miyako diadopsi. Kami satu ayah tapi beda ibu. Saat ayahku menikah dengan ibuku, ibunya Kak Miyako pergi. Dia sakit dan menitipkan Kak Miyako pada pengusaha kaya di Hokaido. Aku baru tahu kalau dia menjadi orang hilang selama lima tahun karena kabur bersama pria berengsek bernama Honda." Yuki menjelaskan.


Anta, Ria, Arya, dan Dion menyimak lalu menganggukan kepala bersamaan. Ria lalu mendapatkan chat dari Ken.


"Eh, pada lihat Igeh, nggak?" tanya Ria.


"Kenapa memangnya?" Anta balik bertanya.


"Apa-apaan sih nyebarin video penampakan hantu di TKP! Itu sungguhan atau rekayasa? Ini Ken yang kirim." Ria menunjukkan layar ponselnya.


Mereka lantas menyimak video tersebut.


"Apa itu hantu, Kak?" Yuki menoleh pada Anta.


Gadis itu mengedikkan bahu.


"Sebaiknya kita makan dulu!" Dion akhirnya mengakhiri obrolan yang mulai serius tersebut.


Dion ingin menggandeng tangan Anta, tetapi dia malah menarik tangan Arya.


"Cieeeee, so sweet banget!" Ria dan Anta menggoda bersamaan.


Dion tersadar, pria itu langsung meboleb pada Arya dan melepas genggaman tangannya. Keduanya lantas menatap tajam dan berkata bersamaan.


"NAJIS!!!"

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2