
Anta pergi bersama Ria untuk mencari makan malam. Sementara Arya dan Dion berada di rumah untuk berbenah. Ken juga pergi ke poskonya. Harusnya para gadis yang membersihkan rumah, tetapi karena permintaan makanan yang aneh-aneh dari Ria dan Anta membuat Arya dan Dion jengkel.
Dion sedang berada di kamar mandi saat Arya mendengar pagar rumah Ken terbuka. Awalnya dia pikir sosok Masayu yang ingin main, tetapi tak ada siapa pun di sana. Saat menutup pintu, sepasang mata hitam keabuan itu tidak sengaja menangkap sosok siluet tubuh manusia yang berdiri di bawah pohon di depan rumah Ken. Dari posturnya, sosok itu seperti seorang pria dengan badan tinggi dan memakai baju serba hitam. Arya sampai memicingkan matanya dan bergumam.
"Siapa sih? Mencurigakan sekali kayaknya. Aku harus menyelidikinya. Jangan-jangan dia ingin berbuat jahat di daerah sini."
Arya berpura-pura masuk kembali ke rumahnya. Dia pun sengaja mematikan lampu agar orang itu menyangka dia sudah tidur. la bersembunyi di balik pintu dan menunggu reaksi orang itu dengan mengawasi dari balik gorden.
Benar saja, orang itu berlari menyeberang jalan dan mendekati rumahnya. Dengan membawa sesuatu di kantong kresek warna hitam, ia lalu menaruhnya di depan pintu. Arya menahan napas. la tetap mengintai. Di luar sangat sepi. la takut jika orang itu sebenarnya datang berkomplot. Arya memilih mencari aman dengan tetap bersembunyi. Barulah setelah orang asing itu berlari pergi, Arya memutuskan untuk mengeceknya.
"Jangan-jangan dia mau naro pelet apa pesugihan lagi di depan rumah Ken?" pikirnya.
Seribu pertanyaan muncul di benak Arya tentang orang asing itu. la bingung apa maksudnya. Arya perlahan keluar dari rumah Ken. Dengan hati-hati, tangannya membuka pintu kemudian diambilnya bungkusan tersebut. Bungkusan yang isinya membuatnya terperanjat.
Buru-buru tangannya melempar bangkai kucing hitam tersebut karena terkejut. Bersamaan dengan itu, secarik kertas pun ikut melayang. Tangannya mengambil kertas yang jatuh di atas. Ada secarik kertas dengan tulisan yang dilumuri darah.
"PERGI DARI PULAU INI ATAU MATI!"
"Sial! Siapa dia? Awas aja kalau ketemu, akan aku patahkan lehernya," dengus Arya.
BUGH!
Tiba-tiba, sebuah benda keras tiba-tiba saja menghantam kepala Arya. Pemuda tampan itu jatuh terhuyung dan kehilangan kesadaran saat itu juga. la hanya merasakan, tubuhnya diseret dan menghantam beberapa ranting serta duri yang mungkin akan membuatnya tergores.
Sementara itu, Dion keluar dari kamar mandi dalam keadaan gelap. Sepasang airpods di telinganya dia lepas. Dia baru saja melaksanakan buang air besar sembari mendengarkan lantunan suara dari Chester Linkin Park.
"Lha, rumah Ken mati lampu apa ini? Gelap amat. Si kunyuk ke mana lagi sepi begini."
Dion mulai mencari ponselnya yang tertinggal di atas wastafel. Dia menyalakan aplikasi senter lalu mencari tombol saklar. Ruangan menjadi terang kembali. Hening, tak ada sosok Arya.
Dion mulai mencari Arya ke setiap sudut rumah. Dia tak mendapati siapa pun di sana. Bahkan ponsel Arya tergeletak di atas meja ruang tamu rumah Ken. Bagaimana bisa Arya pergi begitu saja tanpa membawa ponsel?
Sampai akhirnya, Dion menemukan satu sandal bagian kanan yang Arya kenakan di halaman. Tak jauh dari tempat itu, sandal bagian kiri Arya ditemukan. Dion merasakan kejanggalan. Dia lalu menghubungi Anta perihal sosok Arya yang menghilang tiba-tiba.
__ADS_1
...***...
Wanita yang kedua kakinya terikat rantai dan tak dapat bergerak itu hendak menyerang Kakek Hoki. Namun, Nyonya Micin langsung menghadangnya. Dia merapal sebuah mantera. Kakek Hoki jug ikut serta. Keduanya membuat Nyonya Matsumoto terdiam lalu duduk kembali dengan tenang.
Hanako yang masih ketakutan mencoba mengingat wajah wanita tersebut. Wajah yang mirip dengan seseorang yang pernah dia kenal.
"Di-dia, dia mirip Yuna," lirih Hanako.
"Nak, mari ke sebelah sini!" Nyonya Micin meraih tangan Hanako yang gemetar.
Hanako masih menatap Nyonya Matsumoto yang sedang duduk dan menatapnya tajam.
"Ayo, Hana. Kakek percaya kamu bisa melakukannya." Kakek Hoki tersenyum hangat pada sang cucu.
Hanako mengangguk. Dia mengikuti Nyonya Micin menuju ke sebuah ruangan. Semakin jauh melangkah masuk, ruangan tersebut terasa semakin pengap. Bau anyir darah yang sedari tadi tercium kuat, rupanya berasal dari tubuh sosok misterius di atas sebuah ranjang dalam ruangan.
Hanako mulai mengamati seluruh ruangan. Di dalam ruangan itu, ia menemukan banyak kentang dan jagung secara serampangan sampai hampir memenuhi isi di dalam kamar tersebut.
"Makanan apa itu?" tanya Hanako agak takut.
"Darah dan daging … manusia."
Nyonya Micin tersenyum menyeringai.
"Ap-apa?" Hanako memekik tertahan.
"Tak usah dipedulikan, ya."
Hanako masih berdiri melihat Nyonya Micin sebelum beralih mengamati sosok di dalam tirai tersebut. Ia berselimutkan kain hitam seakan-akan sedang bersembunyi dari cahaya. Hal yang membuat Hanako penasaran dengan sosok di balik wajahnya.
"Silakan duduk, Nak Hana!" kata si Nyonya Micin. Ia kemudian menyibak tirai hanya untuk dirinya sendiri.
Hanako menoleh ke sang kakek. Dia sangat ketakutan. Apalagi ketika melihat dengan jelas sosok di balik tirai sedang berbisik kepada si wanita yang tak lama kemudian kembali tersenyum melihat ke arah Hanako yang sedang duduk.
__ADS_1
"Dia bilang selamat datang, Nak," katanya, "sudah saatnya kau memenuhi janji orang tuamu."
"Janji orang tuaku?" tanya Hanako ak mengerti maksudnya.
Nyonya Micin menoleh pada Kakek Hoki.
"Apa dia belum tahu, Tuan Hoki?" tanyanya.
"Belum."
"Hmmm … begini Nak Hana. Kecelakaan yang menimpa orang tuamu dan merenggut nyawa mereka, sebenarnya juga menimpamu. Namun, ibumu ingin kau tetap selamat. Maka dia memohon pada sang Yagi untuk menyelamatkanmu. Dia meyakinkan Yagi kalau kau dapat diandalkan sebagai media kebangkitan sang ratu yang selalu gagal."
"Aku tak mengerti. Lalu, bagaimana dengan Kak Hoka? Mengapa hanya aku yang dijadikannya media perjanjian?" tanya Hanako.
"Karena Hoka bukan kakak kandungmu. Dia cucuku dari seorang warga, yang ayahnya tak pernah aku akui sebagai anak. Tapi, ayah dan ibunya Hoka telah meninggal dengan mengorbankan diri bagi Yagi."
"Mengorbankan diri?" Hanako masih tak percaya.
"Terlalu rumit untuk dimengerti. Nanti kau akan tahu, Hana cucuku." Kakek Hoki mencengkram bahu Hanako pelan. Pria itu lalu pamit. Dia menunggu di ruangan yang lain.
Nyonya Micin kembali mendengarkan sosok asing itu berbisik.
"Baiklah, sudahi percakapan silsilah keluarga ini. Apa kau siap, Nak Hanako?"
Hanako menggeleng, dia masih bingung. Nyonya Micin tampak mengerti. Dia lalu menjelaskan kepada Hanako apa yang sebenarnya akan terjadi kepada dirinya. Hanako sama sekali tidak mengingat kecelakaan tersebut.
"Kakekmu, dia membuat dirimu melupakan semua ingatan yang ada di dalam kepalamu. Tentu saja dia pasti punya alasan kenapa melakukan hal itu. Karena itu, Yagi bertanya, apakah kamu yakin menjadikan tubuhmu sebagai media dari sang ratu?" Nyonya Micin meraih cawan emas berisi darah manusia.
"Sang ratu siapa yang Anda maksud?" tanya Hanako.
"Ratu Masako Yang Agung." Tawa Nyonya Micin menggelegar.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1