
"Wah, ada yang nggak beres sama tempat ini. Dia bilang cari tumbal," lirih Anta.
Gelang rantai sebelah kiri di tangan Anta menyala keunguan. Gelang pemberian dari Bunda Dita untuk menjaga kedua anaknya. Gelang yang memiliki kekuatan sang Ratu Kencana Ungu.
Hantu wanita paruh baya yang menyeramkan itu lantas melayang mundur dan makin menghilang. Tak lama kemudian, beberapa sosok hantu tanpa kepala mendekat. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Para hantu itu berjalan sempoyongan dengan kedua tangan mengarah ke depan. Mereka melangkah gontai hendak menghampiri Anta dan Ria.
"Nta, buruan tutup pintunya!" pekik Ria.
"Ini juga Anta lagi usaha buat tutup pintunya!" balas Anta
Akhirnya pintu lift tertutup. Raja menekan angka "12". Namun, seseorang mengamati pergerakan di dalam lift tersebut dari kamera pengawas dalam lift.
"Sial! Mereka tak bisa dijadikan tumbal rupanya!" gumam Tuan Wang mengamati dari layar cctv.
...***...
Ria kini tinggal bersama Anta dan keluarganya. Hari itu, si kembar Dira dan Adam hampir saja diculik oleh segerombolan orang tak dikenal. Beruntung ada ibu-ibu yang sedang arisan melihat kejadian tersebut. Mereka langsung menolongnya.
Anan terlihat gusar kala itu. Dia segera mendiskusikan dengan seluruh anggota keluarganya untuk menyembunyikan si kembar ke suatu tempat. Tiba-tiba, ponsel Anta berdering. Tasya menghubunginya untuk melihat ke berita internasional pada layar ponsel. Link tautan berita sudah dikirimkan via whatsapp oleh Tasya.
Di dalam layar ponselnya tertera sedikitnya sebelas orang dikonfirmasi tewas dalam kecelakaan kapal wisata pada akhir pekan di Jepang. Salah satu korban tewas merupakan seorang anak yang jenazahnya dievakuasi petugas penyelamat pada hari minggu malam waktu setempat.
Tim penyelamat masih berupaya untuk mencari korban selamat lainnya dan masih berlanjut. Kapal wisata bernama Konoha V itu dilaporkan membawa dua puluh lima penumpang, termasuk dua anak-anak, dan dua awak ketika mengirimkan sinyal darurat pada hari Sabtu sore waktu setempat. Dilaporkan bahwa kapal wisata itu tetap berlayar di perairan dingin di lepas pantai utara Pulau Hokkaido.
Penjaga pantai Jepang menambahkan bahwa pihaknya mengevakuasi seorang anak pada malam yang sama, yang kematiannya dikonfirmasi pada Senin pagi waktu setempat. Kapal wisata itu mengirimkan sinyal darurat dari lepas pantai Semenanjung Shiretoko, Jepang, yang memicu peluncuran operasi pencarian dan penyelamatan segera. Namun, lokasi yang terpencil berarti dibutuhkan waktu berjam-jam bagi kapal dan helikopter penjaga pantai Jepang untuk tiba di lokasi.
Semua orang di kapal wisata itu dilaporkan mengenakan jaket pelampung, akan tetapi harapan menemukan korban selamat semakin memudar karena suhu dingin di lautan yang diperkirakan mencapai dua sampai tiga derajat Celsius. Pandangan Anta beralih pada deretan nama penumpang. Bulir bening di matanya bergulir kala melihat nama "Wijaya, Arya - INA" di deretan nama penumpang itu.
"Anta nggak bisa ikut Yanda sama Bunda. Anta mau ke Jepang susul Arya. Anta mah cari Arya!" pekik gadis itu seraya menangis.
__ADS_1
Dita memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan Ria.
"Aku bisa nemenin Anta, Bunda, Yanda." Ria menoleh pada Anan dan Dita.
"Tapi, Bun–" Anan mencoba protes.
"Kita amankan anak-anak dulu, Yanda. Lalu, biarkan Anta pergi bersama Ria ke Jepang. Toh, Tasya sama Herdi juga pasti berangkat ke sana," ucap Dita.
Anan akhirnya mengerti dan mengangguk. Jika sang istri sudah berbicara dan memberi titah, rasanya dia tak akan bisa menolaknya.
...***...
Anta dan Ria memesan tiket menuju ke Bandara New Chitose. Arga yang mengetahui hal tersebut juga ikut serta untuk menjaga para gadis. Bandara yang akan mereka tuju terletak di wilayah Chitose di Hokkaido dan melayani wilayah metropolitan Sapporo, Bandara New Chitose adalah bandara terbesar di Hokkaido baik dari segi lalu lintas maupun daratan. Dengan beberapa penerbangan internasional langsung,
Bandara New Chitose sering dianggap sebagai pintu gerbang ke Hokkaido. Tidak hanya pintu gerbang ke Hokkaido, tetapi juga akan sering terhubung ke bandara yang lebih kecil di pulau seperti Hakodate, Kushiro, Rishiri, Nemuro Nakashibetsu, dan Bandara Wakkanai untuk beberapa nama.
Anta, Arga, dan Ria akhirnya sampai di Jepang. Mereka lalu mencari penginapan yang sesuai budget. Ketiga anak muda itu akhirnya mendapatkan penginapan murah. Mereka memasuki kamar penginapan yang sangat sederhana itu. Saat mereka hendak menuju kamar melewati lorong gelap yang lampunya remang-remang, ada suara jejak kaki di belakang mereka.
"Nggak ada suara apa-apa. Lagian cuekin aja!" sahut Anta.
Sesampai di depan pintu kamar mereka berdua lalu Ria membuka pintunya. Sedangkan Arga menginap di kamar yang sebelah.
"Abis buka pintu kamar, kok malah disambut aroma lembap yang menusuk hidung gini,.sih? Terus ada gesekan pintu dengan lantai terdengar samar-samar," ucap Ria.
"Jangan mulai, deh. Kita istirahat dulu, besok baru ke posko penyelamatan. Gadis itu langsung membaringkan diri di atas kasur.
Saat keduanya ingin terlelap dalam tidurnya masing-masing karena lelah dengan kegiatan seharian tadi, Ria malah dikejutkan oleh suara dengkuran yang sangat kencang membuatnya terpaksa terbangun.
"Baru banget aku merem, si Anta kenapa tidur aja suaranya ngorok keceng banget, ya?"
__ADS_1
Namun, saat Ria menoleh ke Anta asal suara itu tak berasal dari bibir gadis yang berbaring di sampingnya. Sumber suara ngorok tersebut berasal dari arah balkon kamar mereka. Ria hanya bisa membenamkan kepalanya di bantal saking ketakutan. Apalagi Anta tak jua bergeming saat tubuhnya diguncang-guncang.
...***...
Keesokan paginya, Ria yang baru saja terbangun langsung disapa selamat pagi oleh Anta yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menyuruh Ria untuk segera mandi.
Namun, Ria bukannya mandi malah meraih air termos yang semalam dia minta dari pihak penginapan. Lalu, gadis itu membuat teh manis hangat karena kerap dia lakukan setelah bangun tidur.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, Ria segera mengangkat sambungan tersebut.
"Ria, maaf ya Anta tadi duluan. Buruan ke sini ya. Arga nungguin kamu di depan kamar katanya dari tadi. Anta nggak kasih dia masuk soalnya nanti kalau Anta izinin masuk kalian berbuat yang iya iya lagi," ucap Anta.
"Bentar bentar, kamu sejak kapan di luar kamar?" Tanya Ria.
"Dari jam enam. Anta nggak sabar mau tanya-tanya warga sini soal kecelakaan itu."
Ria menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Ngaco kamu, kapan kamu turunnya? Kamu tuh baru aja dari kamar mandi. Aku juga juga nggak liat kamu keluar kamar," pungkas Ria.
"Hah, maksud kamu apa sih?" tanya Anta.
"Kamu barusan ngobrol sama aku, Nta!"
Ria langsung menoleh ke arah gadis yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Nta … ini yang sekarang ada di sini siapa, dong?" lirihnya.
Perlahan-lahan, suara gemeretak dari leher gadis yang duduk di atas ranjang itu terdengar. Dia memutar kepalanya 180 derajat lalu tertawa menyeringai menatap Ria dengan wajah hancur bersimbah darah.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa!"
...*** Bersambung ***...