
Hanako mengajak Arya mengunjungi kuil di tepi pantai. Mereka menggunakan mobil sedang putih milik Hanako. Gadis itu sempat meminta Arya untuk berhenti di rest area setempat. Hanako hendak membeli aneka minuman dan cemilan di rest area.
Arya sempat melihat rombongan manusia yang disembunyikan dalam mobil box yang mengisi bahan bakar tak jauh dari tempat Arya memarkirkan kendaraannya. Arya sampai berdecak keheranan. Mungkin saja manusia dalam mobil box itu merupakan pengungsi yang masuk ilegal ke Jepang.
Mendadak saja, ada sesuatu yang janggal. Arya merasa kalau dia sedang diperhatikan. Tiba-tiba, dia menjumpai sosok pria yang dia kenal. Pria yang mirip dengan Hoka dan Endo di sebuah mobil SUV. Endo turun membawa sebuah karung. Lalu, dia lemparkan karung itu ke bawah tebing.
"Pak Endo buang sampah kali, ya? Tapi, masa buang sampah ke tebing situ," gumam Arya.
Hanako kembali dan membuat Arya terkejut.
"Ada apa, Asahi? Kenapa terkejut begitu?" Hanako duduk di kursi depan samping Arya.
"Aku hanya– sudahlah bukan apa-apa."
"Kau mau dorayaki? Ini enak, loh." Hanako menyodorkan satu dorayaki pada Arya. Pemuda itu meraihnya.
"Terima kasih."
Arya lalu melajukan mobilnya. Beriringan dengan sebuah bus berwarna hijau. Dia juga kembali melaju beriringan dengan mobil box yang berisi beberapa imigran ilegal tadi.
Arya sempat melihat sebuah penampakan mengerikan yang berdiri di tengah jalan menuju ke arah terowongan. Ada sosok perempuan berwajah rusak, berpakaian hitam sedang mengikuti sedari tadi. Wajahnya rusak menyeramkan dan sedang menyeringai.
__ADS_1
Tiba-tiba, bus yang ada di depan Arya terlihat mulai oleng dan membuat Arya hampir saja kehilangan kendali. Bus tersebut harus menghindari terjangan bus lain yang datang mengejutkan dari arah berlawanan. Bus lain tadi menghantam mobil box bagian belakang yang berisi imigran ilegal tadi.
Untungnya, Arya cekatan menginjak rem. Namun nahas, mobil box dan bus tadi masuk ke jurang samping tebing pantai.
Mobil box yang membawa hampir dua puluh manusia itu tergelimpang masuk ke jurang dan setengah dari penumpangnya meninggal dunia di tempat.
Sang sopir bus dari arah berlawanan tadi sebenarnya membanting setir ke kiri untuk menghindari sosok makhluk wanita menyeramkan sampai akhirnya tertabrak bus dari belakang.
Bus satunya tadi melaju di turunan cukup kencang. Sang sopir bus padahal sudah menginjak pedal remnya, tapi tidak berfungsi. Alhasil, dia hampir menabrak.
Bus satunya juga mengalami hal yang sama. Rem bus tersebut tidak dapat berfungsi melaju keluar marka jalan dan merangsek masuk ke dalam jurang, begitu juga dengan truk yang ditabrak tersebut.
Arya turun dari mobil dan meminta Hanako untuk menghubungi polisi dan tim evakuasi. Arya menolong seorang pria yang terbentur besi di kursi bus tepat di kepala, dahinya berdarah.
Sopir bus dan truk ternyata hanya mengalami luka ringan. Mereka langsung meminta bantuan kepada masyarakat sekitar. Arya kembali melihat sosok perempuan menyeramkan memakai dress hitam tadi. Dia juga penasaran sekali pada sosok yang ia lihat di tikungan itu. Namun, ia tidak mendapati siapa siapa di sana lagi. Tempat itu seolah-olah memang daerah yang sangat sepi.
Tak berapa lama, mobil ambulans dan polisi datang untuk mengevakuasi korban. Beberapa korban tewas di tempat karena kehabisan darah. Ada pula yang tertimpa bak truk itu. Asap mengepul dari mesin truk. Teriakan korban kecelakaan yang kesakitan memekak menyayat telinga.
Arya paham dan ikut merasakan penderitaan mereka. Kesakitan mereka di ambang takdirnya. Pemuda itu berusaha mencari korban yang lain. Ada wanita paruh baya yang terhimpit badan bus.
Arya lantas berteriak memanggil petugas medis dan beberapa yang masih selamat untuk menolongnya menarik wanita tua itu. Arya juga sempat melihat arwah-arwah korban kecelakaan yang meringkuk dan menangis memandangi jasadnya. Ada yang pinggangnya remuk serta pendarahan otak di kepala yang membuatnya tak dapat mensuplai oksigen itu membuatnya tak bisa hidup.
__ADS_1
"Nek, ayo terus berusaha. Nenek harus bisa bertahan. Sebentar lagi ambulans pasti datang. Kita ke rumah sakit sekarang." Arya berusaha menggenggam tangan wanita tua yang merupakan nenek dari Ken.
Wanita paruh baya itu sudah muntah darah dan keluar darah di bagian hidung dan telinga. Nenek Suzuka hanya tersenyum pada Arya. Kedua kakinya mati rasa tak dapat digerakkan. Bahkan fatalnya, dia tak bisa lagi merasakan apalagi menggerakkan tubuh bagian bawahnya.
"Waktu untukku sudah datang, Nak. Tolong sampaikan pada cucuku. Namanya Ken, tim sar. Sampaikan permintaan maaf nenek." Wanita itu berkata sepatah demi patah dan terlihat menahan sakitnya. Air matanya tak terbendung.
"Nenek pasti kuat! Nenek harus menyampaikan pada cucu nenek sendiri. Ayolah saya mohon bertahanlah," pinta Arya yang tak terasa mulai terisak.
"Nenek!" Suara Ken yang baru hadir langsung mendekat. Dia berusaha menolong neneknya sekuat tenaga.
"Tak bisa, Ken. Nenek harus pergi. Maaf Nenek tidak bisa menepati janji Nenek untuk hadir di pernikahanmu nanti." Nenek Suzuka lantas memgembuskan napas terakhirnya.
"Neneeeeeek!" Ken berteriak dan terus menggenggam tangan neneknya. Di sampingnya ada Arya yang tak terasa menangis pilu. Hanako juga ada di sampingnya.
Kejadian tersebut menjadi tragedi yang paling banyak merenggut korban jiwa menurut warga sekitar. Para korban yang cedera dan selamat dibawa ke rumah sakit terdekat. Bus dan mobil box juga mulai dievakuasi. Para korban yang meninggal juga dibawa ke rumah sakit sampai para keluarga datang mengambil. Rata-rata mereka mengalami patah leher, patah tulang punggung, patah tulang kaki, dan juga pendarahan akibat benturan di kepala.
Setelah kejadian itu, pihak keamanan yang melakukan investigasi mendapati rem yang ada di mobil box dan bus itu berfungsi dengan normal. Memang sangat janggal. Beberapa warga mulai mengaitkan kalau kejadian tersebut ulah dari penunggu pintu terowongan yang mulai mencari tumbal darah dari kecelakaan tersebut.
Peristiwa maut tersebut katanya hanya datang dari pengaruh gaib yang sangat kuat. Siapa lagi kalau bukan sosok keramat penunggu jalan raya tersebut.
Keesokan harinya, Hanako dan Arya datang ke pemakaman neneknya Ken. Di sana mereka bertemu dengan Anta, Ria, dan Dion. Lagi-lagi, Hanako tampak mencibir Anta. Namun, Anta tak peduli.
__ADS_1
Arya mencoba menelisik sosok Anta hari itu. Akan tetapi, Dion selalu menghalangi. Pria itu tak membiarkan Arya untuk mengamati Anta. Dion sudah bertekad memanfaatkan keadaan. Dia berharap agar Arya hilang ingatan selamanya sehingga dia akan mencoba mendekati Anta.
...*** Bersambung. ***...