
Bab 60 PI
Anta dan Arya masuk semakin dalam di rumah pinggir rawa. Tiba-tiba, langkah Arya sejenak terhenti saat menyadari di balik jendela yang mereka lintasi sudah dipenuhi oleh makhluk-makhluk pocong. Semua sosok itu tertuju ke satu titik, ke arah Anta.
"Nta, mereka ngapain ngeliatin kamu kayak gitu," bisik Arya menahan tangan gadisnya.
"Anta juga nggak tahu. Tapi Anta yakin mereka nggak bisa sentuh kita." Anta meyakinkan Ary jika tidak akan ada satu makhluk pun yang berani menyentuh mereka.
"Nta, itu si Alvin sama Vivi di luar sana!" tunjuk Arya.
Anta hendak menuju ke luar dari pintu belakang. Namun, lagi-lagi Arya menahannya.
"Kita lewatin mereka?" tanya Arya.
"Habisnya mau lewat mana?" Anta tersenyum menenangkan Arya. Pemuda itu menarik napas dalam.
Dengan langkah gentai, Anta dan Arya melewati pocong-pocong beraneka wajah itu. Ada yang hitam gosong, merah padam, bersimbah darah, ada juga yang berlubang penuh luka borok.
Keduanya berjalan menyusuri dari sekat-sekat antara mahkluk tersebut. Arya tak berani menatap wajah hancur hitam dengan aroma anyir darah yang amis. Berusaha menahan mual pula
Begitu sampai di ambang pintu sebuah pagar kayu, mereka melihat Vivi sedang duduk bersama Alvin dan pria paruh baya yang mengenakan jubah. Vivi mengutarakan keinginannya lalu meninggalkan Alvin. Sosok anak lelaki itu hanya diam dan menatap datar. Dia sangat tenang seolah sedang terhipnotis.
Setelah kepergian Vivi, kakek tadi masuk ke dalam sebuah gua. Anta dan Arya langsung saja berinisiatif hendak memanggil Alvin dan mengajaknya pulang. Namun, Kakek tadi muncul seketika. Dia berdiri dengan kedua tangan di belakang. Tersenyum sumringah seakan menunggu kedatangan Anta dan Arya.
Anta dan Arya akhirnya melangkah masuk melawati pintu pagar. Pria bernama Mbah Marjan yang pertama duduk, diikuti oleh Anta dan Arya. Sosok Alvin masih termenung, mengangkat wajah, melihat ke tempat Anta dan Arya seolah tak mengenal. Tak ada senyuman di wajahnya, hanya ekspresi sedih bercampur dengan kebingungan.
"Kalian mau cari anak ini?" tanyanya.
"Iya, Mbah. Tolong lepaskan anak itu. Anak itu nggak salah," pinta Arya.
"Dia sudah dijadikan tumbal di sini. Kamu tahu jika saya melepaskan dia?" tanyanya.
__ADS_1
Anta dan Arya sama-sama menggeleng.
Mbah Marjan lalu berdiri menuntun Anta dan Arya menuju ke salah satu kamar tempat di mana dia menyimpan sesuatu di sana. Tepat ketika mereka berdiri di muka pintu gua, Mbah Marjan mendorong Arya dan Anta masuk.
"Itu, lihat ke sana itu!" seru Mbah Marjan.
Anta yang pertama masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Arya. Sejenak mereka merasa tak enak hati, apakah keingintahuan mereka ini yang membuat Mbah Marja menjadi terlihat murka. Padahal, mereka hanya ingin menyelamatkan Alvin.
Tepat ketika Anta berjalan masuk melihat apa yang ada di dalam ruangan itu, aroma amis darah dengan nanah busuk seketika tercium di hidungnya. Dengan wajah menahan ngeri, Anta melihat tubuh manusia tanpa kulit terbaring di atas dipan kayu. Tubuh pria itu masih menggelinjang hebat. Luka borok bercampur menjadi satu dengan warna merah darah kehitaman.
Arya yang melihatnya tak bisa lagi menahan rasa mualnya. Dia memuntahkan isi perutnya tak jauh dari ruangan tersebut. Anta menelisik ke bagian bawah dipan. Gadis itu tersentak akan sebuah ember yang telah penuh berisi genangan darah. Aliran darah itu terus menetes dari anus manusia yang tak diketahui identitasnya tersebut.
"Itu adalah suaminya wanita tadi. Dia mencoba membebaskan suaminya dengan menumbalkan anak ini sebagai gantinya," ucap Mbah Marjan.
"Di-dia, dia masih hidup, kan, Mbah?" tanya Anta.
"Tentu saja. Tapi tersiksa. Perjanjian dengan iblisnya tak ditepati," sahut pria itu itu.
"Tentu saja bukan. Saya hanya penjaga di sini. Meskipun saya bukan manusia lagi, tapi saya sudah mengabdikan diri menjaga tempat ini," tuturnya.
"Astagfirullah! Mbah hina sekali mau mengabdi dengan iblis," ucap Anta tak percaya kalau pria mengerikan di depannya ini masih hidup dan pria tua yang berbicara di sampingnya mengabdi pada iblis.
"Jaga mulut kamu, Nduk!" kata Mbah Marjan sembari menatap tajam.
"Maaf, Mbah, kata bunda saya memang nggak boleh mengabdi sama iblis. Apalagi mereka semua jahat," sahyt Anta mulai geram. Dia sesekali menoleh pada sosok suaminya Vivi dengan wajah iba.
"Nta, tahan emosi kamu," Arya berusaha menenangkan.
"Beliau sudah lama disembunyikan di tempat ini. Sayang sekali hidupnya benar-benar tersiksa akibat apa yang ia tanam sebelumnya. Ia tak akan pernah bisa mati dan juga tak akan bisa kembali jika belum mendapat ganti tumbalnya," ucap Mbah Marjan.
"Tapi, kenapa harus anak itu? Alvin nggak salah. Dia bisa dong Anta bawa pergi?" tanya Anta dengan penekanan nada di sana.
__ADS_1
"Kan sudah aku bilang, dia sudah ditandai. Maka anak itu tetap akan seperti ini," tegas pria tua itu.
Arya yang sedari tadi terpaku akhirnya tak sanggup lagi. la palingkan muka, berharap tak melihat semua ini dengan mata kepalanya sendiri. Meski begitu ada sedikit rasa penasaran, bagaimana seorang manusia bisa berproses menjadi seperti ini? Kulit pria itu terlihat sudah tidak rata lagi dengan urat-urat dan serat daging yang terlihat begitu jelas.
"Anta nggak peduli. Anta mau minta tolong bunda aja buat ke sini sama Ratu Kencana Ungu," ucap Anta.
"Hahaha, dasar bocah tengik! Bisa-bisanya kau–" Mbah Marjan lantas menghentikan ucapnya lalu menoleh pada Anta, "Kau bilang Ratu Kencana Ungu?" tanyanya.
"Iya, Ratu Kencana Ungu, nenek moyangnya Anta." Gadis itu menaruh kedua tangannya layaknya posisi bersedekap.
...***...
Arga yang tersesat, berada di dalam hutan. Dia mencari keberadaan Ria dan yang lainnya yang tak jua dia temukan. Suara cekikikan terdengar membuat bulu kuduknya merinding.
"Ah, nggak lucu kalau gini caranya. Kenapa ada kunti segala lagi," keluh Arga.
Dia terus memanggil Ria ke segala arah. Kali ini Arga sudah berteriak dengan lantang. Tiba-tiba, pemuda itu mendengar suara aneh, suara tangisan dua perempuan yang bersahutan.
Suara itu bertambah tidak hanya satu tapi dua atau mungkin lebih. Suara itu semakin dekat, Arga merasakan hawa dingin menyergap ke tubuhnya. Bulu kuduk pemuda itu mulai merinding tiba-tiba. Segera saja Arga melafalkan ayat kursi agar para sosok itu menjauh.
"Arga … Arga ... Tolong aku!" Terdengar suara seorang wanita memanggil namanya.
"Siapa? Siapa di sana? Ria, apa itu kamu?" Arga langsung mengamati sekelilingnya dengan saksama.
"Ya … Arga ... Tolong aku …."
"Kok, bukan suara Ria, ya? Kayaknya itu suara si Anta," gumamnya.
"Arga … Arga tolong aku …."
Suara perempuan merintih itu kembali terdengar.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...