Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 10


__ADS_3

"Kalian kenapa sih diam saja." ucap Gita saat diperjalanan menuju rumah, namun aku dan mas Rama tidak menyahuti ucapan Gita, membuat Gita terlihat kesal.


"Keponakan tante, kamu bisa tidak menjelaskan ke Tante apa yang terjadi? Terkadang orang dewasa itu malah kekanakan dibandingkan bayi sepertimu Atma." Gita berbicara pada Atma melampiaskan kekesalannya, akupun tersenyum melihat tingkah Gita. Ponselku berdering menampilkan nama Kak Janu, Aku baru teringat sore ini Kak Janu akan kembali ke Australia.


"Kamu sudah sampai mana Amanda?" ucap kak Janu dari seberang telepon.


"Aku masih dijalan Kak, baru selesai kontrol kerumah sakit, sepertinya Aku tidak bisa kebandara, waktunya pasti tidak akan cukup."


"Tidak masalah, yang penting kamu memberi kabar padaku, dari pagi sama sekali tidak ada pesan darimu, aku hanya khawatir."


"Aku dan Atma baik-baik saja Kak, jangan khawatir, semoga selamat sampai tujuan, jangan lupa kabari Aku jika sudah sampai." Kututup sambungan telepon dari Kak Janu, dan setelahnya Gita mengajukan banyak pertanyaan untukku


"Kak, yang dikatakan Ummik dan Abi benar tidak?"


"Tentang apa?"


"Kakak dilamar Kak Janu kemarin." ucap Gita, mas Rama seketika mengerem mobilnya secara mendadak, Aku dan Gita kaget, untung saja Atma memakai baby car seat sehingga ia aman dari benturan.


"Duh Kak Rama gimana sih, hati-hati dong!" Protes Gita.


"Maaf, tadi tiba-tiba ada yang menyeberang." ia pun melajukan mobilnya kembali.


"Kak jangan bohong deh, inikan jalan tol kota, mana ada yang menyeberang." tawaku pecah mendengar ucapan Gita.


"Bawel." ucap mas Rama kesal


"Akan Aku adukan pada Ibu dan Ummik ya kalau kak Rama menyetir dengan ugal-ugalan." ancam Gita


"Ya ampun Gita, sudahlah mungkin tadi benar ada yang lewat, mungkin petugas tol yang lewat." Aku membela Mas Rama kali ini, agar Gita tidak benar-benar mengadukannya pada ibu Ratri dan juga Ummik.


"Wah kompak sepertinya kalian, sampai Kak Amanda membela Kak Rama, Aku yakin terjadi sesuatu pada kalian, lihat saja Aku akan mengadukan semua yang terjadi dirumah sakit sampai kejadian sekarang pada Ibu, Ummik bahkan Abi." 


"JANGAN" ucapku berbarengan dengan mas Rama, kulihat Gita tertawa, ahh ternyata kami dikerjai olehnya.


****


Hari ini keberangkatan Aku kebandung untuk menetap disana selama melanjutkan kuliah, Aku mempersiapkan semua barang-barang yang akan dibawa agar tidak ada yang tertinggal, tiga koper dan satu box mainan Atma sudah siap untuk dibawa ketempat kami yang baru, Atma bertambah aktif dan pintar meskipun harus selalu rutin melakukan therapi agar tumbuh kembangnya optimal mengingat riwayat penyakit jantung yang ia derita.


"Sudah siap, Nak?" Tanya Ummik masuk kedalam kamarku.


"Sudah Ummik, tinggal mengangkut semuanya."


"Sebelum kamu pergi, ada masalah yang harus kamu selesaikan dahulu bersama Rama." 


"Maksud Ummik?"


"Kita turun kebawah sekarang." ajak Ummik, Aku mengikuti langkah Ummik untuk turun kelantai bawah, saat menuruni anak tangga kulihat Abi, Mas Rama, Gita dan juga Tio, Tio adalah pengacara yang biasa menangani masalah tentang hukum yang kami hadapi, perceraianku ia yang mengurusnya.


"Duduk Amanda." ucap Abi, akupun duduk disamping Abi. "Jelaskan secara detail apa yang terjadi ketika kamu dan mantan suamimu bertemu dirumah sakit Minggu lalu?"


"Apa yang sebenarnya terjadi Abi?" 


"Begini Amanda, pihak Denis mengajukan permintaan hak asuh terhadap Atma." ucap Tio


"Dan bukan hanya itu saja, dia juga akan melaporkan Rama atas penganiayaan yang ia lakukan terhadap Denis" lanjut Tio, Aku tidak menduga Denis membuktikan ucapannya waktu itu untuk mengajukan hak asuh atas Atma, sangat egois dan tidak tahu diri kurasa, dan yang Aku tidak terima ia melibatkan mas Rama dalam hal ini. Akhirnya akupun menceritakan secara detail apa yang terjadi.


"Lalu apa langkah hukum yang bisa kita lakukan Tio?"


"Coba mediasi terlebih dahulu agar diselesaikan secara kekeluargaan." ucap Tio

__ADS_1


"Tidak perlu, lanjutkan saja secara hukum" ucap Mas Rama, aku keberatan dengan saran darinya.


"Tapi jika kita kalah kamu bisa mendekam di penjara mas Rama." ucapku padanya.


"Namun jika Aku menang dia yang akan dipenjara, bahkan jika kami dipenjara berdua Aku tidak keberatan asal ia tidak menggangu Atma untuk mendapatkan kasih sayang dari mamanya."


"Aku akan menyelesaikan masalah ini, yang Denis inginkan sebenarnya hanyalah Aku bukan Atma, Aku tidak mau mengorbankanmu dalam masalah ini Mas."


"Ummik rasa benar yang dikatakan Amanda, kita temui saja dulu Denis, Ummik tidak ingin anak dari sahabat Ummik merasakan dinginnya lantai penjara!"


"Amanda lakukan apapun yang menurutmu baik, Abi percaya padamu."


"Iya Abi, Amanda akan segera menyelesaikannya" 


"Apa kamu perlu bantuanku?" Ucap Tio


"Tidak, Aku bisa sendiri, Ummik titip Atma, Aku akan menemui Denis dikantornya." Sebelum aku berangkat ke Bandung, aku ingin menyelesaikan permasalahan ini agar tidak menjadi beban untukku, akupun bersiap-siap dan pamit, namun Mas Rama mengikuti langkahku.


"Saya ikut, masuk kedalam mobil!" Akupun mengangguk, karena ia masuk dalam pusaran permasalahan yang aku hadapi.


"Maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini."


"Tidak masalah, kemana tujuan kita?"


"Rumah keluarga Denis."


"Kau yakin?"


"Tentu saja."


Mas Rama melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Denis, lihatlah apa yang akan Aku lakukan .... Seseorang membuka pintu rumah, menampilkan sosok Vanya dihadapanku saat ini, ia terlihat kaget dengan kedatanganku kali ini.


"Siapa Vanya?" ucap wanita paruh baya, dan ketika tatapan mata kami bertemu, ia pun kaget dengan kedatanganku, rasanya aku seperti hantu yang mereka temui dirumah ini, akupun tersenyum melihat ekspresi kaget mereka.


"Masih berani kamu kesini? Mau minta biaya pengobatan untuk anakmu itu, hah?" Ia langsung menaikkan satu oktaf intonasi suaranya.


"Tenang saja mantan ibu mertuaku, Aku tidak akan mengemis uang pada kalian, apakah kami tidak dipersilahkan duduk? Rasanya lelah jika harus berbicara sambil berdiri seperti ini"


"Silahkan duduk, Vanya tolong bilang simbok untuk membuatkan air mereka!" Ucap ibu ketus, sangat terlihat kesombongan dalam dirinya.


"Tidak usah repot, Vanya. Aku ingin kamu mendengar semua yang nanti akan Aku ucapkan, tolong duduklah!"


"Langsung ke inti pembicaraan saja! Saya tidak punya waktu lama"


"Perkenalkan dulu ini temanku Rama, ia pernah memberikan bogem mentah pada Denis ketika kami bertemu dirumah sakit, kamu masih mengingatnya kan?" Tanyaku pada Vanya


"Berani sekali kamu memukul anakku, kurang ajar!!!" Ucapnya, Aku masih terdiam melihat reaksinya, mas Rama nampak menyeringai, sepertinya ia sangat menikmati ekspresi marah mantan ibu mertuaku itu.


"Jangan merasa anak anda benar, lihatlah video yang berada di ponsel saya!!!" Dengan santai mas Rama membuka galeri video pada ponselnya lalu memutar video itu, bukan hanya mereka yang kaget melihat video tersebut, namun aku juga. Video itu menampilkan seluruh adegan dan pembicaraan aku dengan Denis disalah satu lorong rumah sakit yang terlihat sepi, bahkan detik-detik Denis memelukku terekam olehnya. Aku tidak menyangka ia merekam semuanya, Mas Rama memang ditakdirkan ada untuk menolongku saat ini.


"Lihatlah apa yang anak anda lakukan, dan saat ini ia mengancamku untuk menuntut hak asuh. apakah ibu masih ingat, bahwa anakku tidak kalian akui karena ketidaksempurnaan yang dimiliki? Dan dengan menuntut hak asuh apakah ibu tidak malu menjilat ludah sendiri? Mengakui sesuatu yang telah dibuang itu sangatlah memalukan dan menjatuhkan harga diri kalian"


"Apa yang kamu inginkan?"


"Cukup sederhana, larang Denis melakukan hal-hal yang akan merugikan kalian, pastikan jangan ganggu aku dan anakku lagi, dan satu lagi jangan melaporkan Rama atas tindakan pemukulan itu karena semua dilakukannya hanya untuk melindungi aku, jika kasus ini masuk ke jalur hukum maka aku akan melaporkan Denis atas tindakannya yang telah lancang menarik dan memelukku."


"Sampai kapanpun saya tidak akan mengakui anakmu sebagai cucuku, anakmu itu hanya anak yang cacat dimataku, hanya anak dari Vanya yang saya akui sebagai cucu, ingat itu!!!"


"JAGA UCAPAN ANDA!!!" Kulihat mas Rama menggebrak meja "seharusnya anda memahami arti seorang anak untuk seorang wanita, bukan malah menghina seperti ini, dia TIDAK CACAT, tapi anda yang cacat secara mental saya rasa." Mas Rama berucap dengan menekan beberapa kata agar mereka memahaminya, melihat tangannya terkepal Aku menyentuh tangan itu dan menggenggamnya agar emosinya reda. 

__ADS_1


"Saya pegang ucapan anda mantan ibu mertuaku, untuk menyuruh Denis berhenti mengganggu aku dan anakku serta menghentikan niatnya untuk melaporkan Rama"


"Kamu bisa pegang ucapan saya, saya akan memastikannya!"


"Baiklah tepati janji anda mantan ibu mertuaku" Akupun pergi, menggenggam tangan mas Rama dan menariknya keluar.


Kamipun melajukan mobil meninggalkan rumah kediaman keluarga Denis.


"Terimakasih atas bantuanmu mas, Aku tidak menyangka kamu merekam semuanya, itu sangat membantu sekali"


"Ada yang terlewat tidak terekam olehku."


"Benarkah? Kurasa semuanya sudah terekam olehmu" ucapku, dan Mas Rama menggelengkan kepalanya.


"Saat kamu memelukku Amanda ...." Jawabnya, ya ampun kenapa dia harus membahas ini, sungguh akupun malu jika mengingat itu.


"Hmm, itu hanya memberi pelajaran padamu agar tidak seenaknya menilai seseorang."


"Oh ya???"


"Hmmm."


"Kenapa kamu tidak langsung menemui Denis?"


"Aku tidak mau bertemu lagi dengannya."


"Takut?"


"Tidak hanya menjaga diri."


"Apa khawatir jatuh cinta padanya lagi?"


"Tidak akan pernah terjadi."


"Oh iya, Aku lupa jika ada seorang Pria yang sudah melamarmu."


"Bukan karena itu, ishhh sudah jangan membahas Denis, dan jangan bertanya apapun lagi karena pertanyaan Mas Rama menyebalkan sekali, ternyata Mas Rama malah semakin menyebalkan jika berbicara, lebih baik diam kurasa"


"Benarkah?" Ia menaikkan kedua alisnya dan tersenyum, baru aku sadari mas Rama sangat tampan jika tersenyum, 'ahhhh apa yang Aku pikirkan? Kenapa aku malah memperhatikan wajahnya?' rutukku dalam hati.


"Setelah sampai rumah kita langsung berangkat ke Bandung saja mas, biar tidak terlalu malam sampainya."


"Iya"


"Ingin secepatnya meninggalkan Jakarta, dan memulai kehidupan baru disana."


"Aku titip Ibu, tolong temani dia."


"Aku pikir kita akan serumah."


"Pikiranmu sempit sekali, ckkk ....mana mungkin ibu mengijinkan kita serumah, ia memilihmu untuk menemaninya dirumah dan Aku akan tinggal di lantai dua butik milik Ibu. Kalau kamu memang benar ingin tinggal serumah denganku, kamu harus menikah dulu denganku." aku melebarkan mata atas ucapan mas Rama, tapi Amu hanya diam tidak menjawabnya, karena percuma Aku pasti akan terpojok dengan setiap kalimat yang Mas Rama ucapkan.


Dengan kepindahanku ke Bandung, Aku harap bisa melupakan semua kesedihanku, menata kebahagiaanku bersama anakku, aku harus membuktikan kepada mereka yang telah menghina aku, bahwa aku bisa bahagia.... Dan aku harap Denis tidak menggangu kebahagiaan dan ketenanganku, sudah cukup ia memberikan kesedihan untukku dan Atma.


Tring....pesan masuk dalam ponselku diaplikasi hijau


"Aku akan menuruti permintaanmu untuk tidak mempermasalahkan hak asuh putra kita, dan mencabut laporan terhadap pria yang bersamamu, tapi maaf aku tidak akan berhenti mencintaimu, Amanda .... pertemuan dan pelukanku padamu menyadarkan cinta masih utuh untukmu dihatiku, Vanya hanya memiliki ragaku."


Pesan dari nomer yang tidak aku kenal, namun Aku yakin itu pesan dari Denis, segera aku memblokir nomer itu. Bernafas lega Denis menuruti semua perkataan ibunya sesuai dengan perkiraanku, ia akan lemah jika dihadapkan ibunya dan menuruti semua permintaan sang ibu, untuk cinta??? Biarlah ia akan tersiksa dengan rasa itu, yang jelas aku tidak akan mencintai seseorang yang telah membuang Aku dan Atma, ia hanyalah masalalu untukku ....

__ADS_1


__ADS_2