
...Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar setelah baca part ini ya .... ❤️...
...Happy Reading...
Australia lebih cepat tiga jam dari Indonesia, saat ini sudah pukul delapan pagi, pasti Kak Janu sudah sampai dan sedang beristirahat, Aku hanya membalas pesan singkat pada Kak Janu.
[Pasti kakak sedang istirahat, setelah kakak bangun kita lakukan panggilan video ya, akan Aku jelaskan nanti alasan Aku dan Atma tidak mengantarmu] klik, pesan telah terkirim dan hanya centang satu, kumasukkan ponsel kedalam tas. Kulihat cairan infus Mas Rama sudah mulai habis setelah waktu subuh tadi Aku menggantinya, kumatikan aliran cairan selang pada tubuhnya dan mengganti cairan infus yang baru, setelahnya Aku mengecek suhu tubuh Mas Rama dengan telapak tangan "Alhamdulillah, sudah tidak demam," gumamku, Mas Rama menggeliatkan tubuhnya, pandangan netra kamipun bertemu ....
"Pagi Amanda."
"Pagi mas, bagaimana terasa lebih baik?"
"Hmm .... terimakasih ya sudah mengurus dan menemaniku malam ini bersama Atma." aku mengangguk dan tersenyum, mengingat kebersamaan kami semalam rasanya bahagia sekaligus canggung, dan rasa bersalahku datang ketika mengingat kak Janu. Aku sadar posisiku saat ini calon istri Kak Janu, tidak selayaknya Aku dekat seperti tadi malam bersama Mas Rama, tapi Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolaknya, jauh didalam hatiku, Aku mengkhawatirkan dirinya.
"Sepertinya kamu tifes Mas, jika masih terasa lemas sebaiknya lakukan perawatan dirumah sakit, bagaimana?"
"Tidak perlu, cukup kamu dan Atma yang merawat dan menemaniku." jawabnya singkat, ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Atma yang masih tertidur pulas disampingnya, dan mengacuhkan Aku.
"Hmmm, baiklah aku akan menyiapkan makanan."
Baru saja Aku membuka pintu kamar, kulihat Tasya berada dibalik pintu luar kamar, dia langsung masuk kedalam kamar tanpa berucap sepatah katapun dan menganggap Aku tidak ada didepannya, ia langsung memeluk Mas Rama dari belakang posisi Mas Rama saat ini membelakangi kami karena Mas Rama memeluk Atma,
"Amanda ...." Tanpa melihat siapa yang memeluknya, ia menggumamkan namaku, mungkin Mas Rama berpikir Aku yang memeluknya, Aku hanya memejamkan mata saat mas Rama menyebut namaku, ya Tuhan apa yang akan terjadi? Ingin Aku berteriak, " itu Tasya bukan Aku." tapi kalimat itu tercekat dikerongkongan.
"Aku Tasya, bukan Amanda. Ohh jadi kalian semalam tidur bertiga, apa yang kalian lakukan, hahh? Jawab? Dasar janda tidak tahu diri ya kamu Amanda."
"Jaga ucapanmu Tasya!!!" Ucap Mas Rama setengah berteriak
"Walaupun Aku seorang janda, tapi Aku tidak serendah yang kamu katakan, jaga ucapanmu, Aku tidak mau Atma terbangun dan mendengarkan semua ucapan jahatmu Tasya." Aku menarik paksa tangan Tasya untuk keluar kamar agar tidak menggangu Atma yang masih tertidur.
"Mas Rama sakit, ia ditemukan pingsan dikamar ketika Aku dan Atma datang, kami tidak melakukan apapun seperti yang kamu bayangkan, jangan menghina dan menuduhku jika kamu tidak tahu kebenarannya, ada yang ingin kamu tanyakan lagi?"
"Kenapa Rama memanggilku dengan nama Amanda ketika aku memeluknya? Apa semalam kamu memeluk Rama?"
"Kamu pikir Aku wanita yang haus dengan dekapan seorang pria? Aku sudah mempunyai calon suami, dan sebentar lagi akan menikah, Aku akan memeluk suamiku, bukan pria lain nantinya." Aku berkilah seperti itu, karena memang benar Aku tidak memeluk Mas Rama, tetapi dia yang memelukku. Tapi Aku tidak akan berkata jujur karena pasti dia akan tetap menyudutkan Aku.
"Baiklah Aku tidak mau berdebat lagi denganmu, anggaplah Aku percaya padamu, karena Aku meragukan apa yang kamu katakan."
"Terserah, Aku akan menyiapkan sarapan untuk mas Rama dan Atma." akupun berlalu meninggalkannya menuju dapur, kulihat ia kembali kedalam kamar, Aku berusaha tenang tidak terpancing emosi, Aku tahu Tasya dari awal pertemuan tidak menyukai Aku dan juga Atma.
Didapur bik Tarsih sudah menyiapkan sarapan untuk kami, Aku makan terlebih dahulu untuk mengisi energi, sebelum kembali ke kamar untuk membangunkan Atma dan mengurus kesehatan Mas Rama, aku duduk dimeja makan ditemani bik Tarsih.
__ADS_1
"Mbak, ngapain sih nenek sihir kesini?" Bik Tarsih asisten rumah tangga keluarga Ibu Ratri selama Aku dan Atma menetap dibandung, jadi ia mengenal semua kerabat dan keluarga ini.
"Huss bik, nanti Tasya dengar jadi masalah loh."
"Bibik ga suka sama non Tasya, sombong dan angkuh, Mbak Amanda tau tidak?"
"Mana saya tahu bik, lah Bik Tarsih aja belum ngomong apa-apa." Aku terkekeh melihat raut wajah bik Tarsih yang terlihat kesal
"Sebentar lagi non Tasya akan menjadi bagian keluarga ini, Minggu lalu Mas Rama melamar dia, dan sebulan lagi akan dilakukan akad nikah serta resepsi." Aku cukup kaget mendengar kabar pernikahan itu karena sama sekali Ibu atau siapapun tidak memberi tahu hal ini, mendengar kabar itu entah kenapa Aku merasakan sakit didalam hatiku sampai terasa sesak rasanya, berulang kali menetralkan perasaan yang sedang aku rasakan, 'apakah ini rasa cinta? Aku tidak boleh mencintainya, rasa ini salah, Aku sudah mempunyai Kak Janu, dan sebentar lagi Mas Rama juga akan menikah dengan Tasya' ucapku dalam hati. Dan aku berusaha menekan semua perasaan ini agar tidak berkembang dan mengakar dalam hatiku.
"Mas Rama sudah sangat cukup dari segi materi maupun umur untuk membina rumah tangga bik, lalu masalahnya apa?" Ucapku terlihat biasa saja, padahal hatiku tengah bergejolak.
"Bibik ga setuju kalau sama non Tasya, kenapa ga sama mbak Amanda saja"
"Saya itu hanya seorang janda beranak satu Bik, jarang ada yang mau sama janda kalau tidak cinta banget." akupun tertawa miris, mengingat perjalanan hidupku sebagai orang tua tunggal untuk Atma dan pandangan orang yang menganggap miring status yang kusandang.
"Berarti calon suami mbak Amanda cinta banget banget ya ...." ucapan bik Tarsih membuat gelak tawaku pecah juga, ia menyadarkan aku, aku memiliki seseorang yang mencintaiku selama ini, Kak Janu ....
Melangkahkan kaki menuju kamar dilantai atas, Aku berusaha menetralkan perasaanku, meyakinkan diri ini, Mas Rama tidak berarti untukku dan perasaan ini bukanlah cinta. Aku harus bahagia melihat seseorang yang telah dianggap papa oleh Atma akan hidup dengan wanita yang akan memberi kebahagiaan untuknya.
"Ayo dong pilih Rama, model undangan mana yang akan kita pakai?" Kudengar Tasya sangat antusias ketika menyodorkan beberapa model undangan ke mas Rama,
"Kamu saja yang pilih, Aku ikut." jawab Mas Rama acuh.
"Papa akan menikah dengan Tante Tasya?" Pertanyaan Atma kepada kami semua,
"Iya dong, nanti kalau Tante sudah menikah dengan Papa Rama, Atma tidak boleh manja ya sama Papa Rama!" Ucap Tasya membuat Atma bangkit dari pangkuan Mas Rama dan memelukku yang tengah berdiri.
"Tasya tolong jangan berbicara yang membuat Atma sedih!!!"
"Rama dia harus paham, Aku tidak mau setelah kita menikah kamu sibuk menemui dia dan mamanya"
"Atma masih sangat kecil memahami ini semua, tolong kamu mengerti!"
"Kenapa kamu menyalahkan Aku Rama? Harusnya mamanya bisa mendidik Atma dengan baik, dia seharusnya menyuruh anaknya tidak terlalu dekat denganmu karena kamu bukan papanya!!! Rama bukan Papa Atma, kalian saja yang membuat rumit keadaan, apa Atma bukan anak yang terlahir dari ikatan pernikahan sehingga ia tidak memiliki papa?"
"Sudah aku bilang jaga ucapanmu Tasya!!!" Ucapku geram dengan tuduhannya "Atma bukan anak dari hubungan terlarang, ia anak yang terlahir dari buah cinta pasangan yang bernaung dalam sebuah ikatan suci pernikahan."
"Tapi lihatlah sekarang, kamu menjadikan Rama sosok Papa untuk Atma, iya 'kan? Hmm tapi kasihan juga ya, kalian ditinggalkan oleh pria yang saat itu menjadi suamimu dan juga papa kandung Atma." ia tersenyum sinis.
"Jika kamu tidak berhenti berbicara Aku tidak segan menyuruhmu keluar dari rumah ini Tasya!!!" Wajah putih Mas Rama terlihat memerah menahan amarah atas ucapan Tasya.
__ADS_1
"Mama ayo kita pulang." kulihat Atma meneteskan air mata sambil menunduk, Aku mensejajarkan tubuhku agar bisa melihat wajahnya dan menghapus air matanya,
"Ssstttt .... jangan nangis ya sayang!" aku menggendong Atma, ia menenggelamkan wajahnya diceruk leherku, semakin lama terdengar isak tangisnya.
"Keterlaluan kamu Tasya sampai membuat Atma menangis" Mas Rama terlihat marah. "sayang maafin Tante Tasya ya ...." Ucapnya ke Atma, ia berusaha berdiri untuk menggapai tubuh Atma, namun sebelum itu terjadi tubuh Mas Rama dihalangi oleh Tasya agar tidak bisa menggapai Atma.
"Biarkan dia menangis, memang ini kenyataannya kok kamu itu calon suamiku, calon Papa dari anakku kelak bukan Papa Atma, Aku yakin Atma hanya akal-akalan mamanya saja untuk bisa dekat denganmu." ucap Tasya santai tanpa merasa bersalah.
"Cukup Tasya, jangan lontarkan kalimat merendahkan aku lagi di depan anakku, asal kamu tahu, Aku tidak pernah meminta Mas Rama menjadi sosok seorang Papa untuk Atma, itu semua atas kemauan Mas Rama sendiri, terlalu picik jika kamu berpikiran Atma dijadikan alat olehku untuk bisa dekat dengan Mas Rama. Aku bukan tipe wanita yang mengejar seorang Pria seperti halnya yang kau lakukan meskipun Aku seorang janda, Aku masih memiliki harga diri. Aku bukan kamu yang sampai hati menyakiti hati anak kecil hanya untuk mendapatkan perhatian Mas Rama seutuhnya."
"Amanda jangan dengarkan perkataan Tasya, Atma sayang, Papa Rama tetaplah menjadi papa untukmu, jangan dengarkan Tante Tasya, papa mohon Atma, berhentilah menangis!"
"Lebih baik kalian selesaikan masalah kalian, Aku akan menenangkan Atma." akupun keluar dari kamar itu dengan menggendong Atma yang masih menangis, hatiku sedih melihatnya seperti ini, namun aku tidak menampakkan kesedihan didepan Atma, Aku harus tetap tegar agar Atma tidak semakin bertambah sedih.
Aku melajukan mobil yang kukendarai menuju rumah, Atma masih terus menangis meski Aku sudah menenangkannya. Setelah sampai rumah Gita berlari menghampiri kami, iapun melihat Atma masih menangis sampai mata dan hidungnya terlihat merah, Gita mengikuti kami sampai masuk dalam kamar.
"Keponakan tampan Tante kenapa? Duh jelek sekali nangisnya, Tante tidak suka liat Atma menangis seperti ini." Gita juga berusaha agar Atma tenang.
"Sayang sudah ya nangisnya, Mama sedih kalau Atma terus saja menangis."
"Maafkan Atma, karena Atma, mama dimarahi Tante Tasya."
"Mama tidak apa-apa sayang, asal kamu jangan nangis ya ...."
"Nanti biar Tante yang marahin lagi si Tasya itu, enak saja sudah buat keponakan Tante menangis."
"Jangan Tante, Atma sudah tidak mau ketemu Papa Rama, jadi Atma tidak akan ketemu Tante Tasya lagi."
"Sayang jangan berpikir seperti itu ya, Papa Rama 'kan sayang sama Atma."
"Atma udah ga mau Papa, Papa Rama bukan Papa Atma lagi, Papa Rama akan menikah dengan Tante Tasya, Tante Tasya benar, Atma ga boleh deket sama Papa Rama, Atma ga mau ketemu Papa Rama, hiks hiks hiks ...."
"Iya sayang, terserah Atma ya, yang penting Atma jangan menangis."
"Ma-maafin Atma ya ma', Atma udah ga mau punya Papa, nanti kalau teman Atma meledek karena Atma tidak punya Papa, Atma akan jawab, Atma masih punya Mama." Atma memelukku erat, luruh sudah air mata yang sejak tadi kutahan agar tidak menerobos keluar, ucapan Atma membuat hatiku terenyuh mendengarnya, perceraian orang tua meninggalkan luka untuk setiap anak karena ia akan tumbuh dengan kasih sayang yang tidak utuh dari kedua orang tuanya, namun inilah takdirku dan Atma, ia tumbuh menjadi seorang anak yang tidak memiliki sosok Papa disisinya.
"Atma mau ketemu Papa kandung Atma, hmm? Asal Atma bahagia, Mama akan melakukan apapun untuk Atma." Sontak ucapanku mendapatkan protes dari Gita
"Cukup Kak, cukup kakak menyakiti diri sendiri, aku ga mau kakak sedih dan mendapatkan masalah yang lebih rumit, Gita mohon Kak ...." Mendengar ucapan Gita, Atma perlahan berhenti menangis meskipun sesenggukan akibat lama menangis masih terdengar,
"Apa Papa Atma jahat ma?" Aku hanya diam saat Atma bertanya, Aku tidak mungkin menceritakan semua luka masa lalu pada anak sekecil Atma "kalau Papa jahat, lebih baik Atma tidak bertemu dengannya, Atma nggak mau mama sedih dan menangis, biar saja Atma tidak memiliki Papa asal Atma masih bisa terus bersama mama, Atma sayang Mama ...." Ia memelukku erat, kuciumi pucuk kepalanya serta mengelus punggung kecilnya. Anakku sayang anakku malang, Mama janji akan menjadi Mama sekaligus papa yang baik untukmu, Mama akan selalu membahagiakanmu sayang ....
__ADS_1
Akhirnya kami bertiga larut dalam tangis dan pemikiran masing-masing.