
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like dan komentar 💕...
...Happy reading...
Aku membuka mata perlahan, tangan Rama masih melingkar di pinggangku, ia masih pulas tertidur sepertinya sangat lelah dengan aktivitas ranjang yang telah kami lakukan.
Aku mengambil ponsel di bawah bantalku, ada sebuah pesan dari Dina tentang hasil darah yang ia ambil dari laboratorium sore kemarin.
[Amanda, selamat ya kamu positif hamil saat ini, aku sudah membuka hasil laboratorium yang kuambil sore ini. Aku jadi ingin memelukmu sekarang, aku turut bahagia, jaga baik-baik ya keponakanku yang berada dalam rahimmu, pasti ia akan menggemaskan seperti Atma ....] Aku tersenyum bahagia membaca pesan Dina.
'Aku harus melakukan testpack ulang agar lebih mendapatkan kepastian' ucapku dalam hati.
Walaupun aku seorang dokter, tetap saja harus memastikan keakuratan hasil melalui serangkaian test tidak hanya dengan 'merasa' hamil. Oleh sebab itu, aku tidak gegabah memberitahukan tentang kehamilan meskipun tanda-tanda sudah kurasakan, sebelum melakukan serangkaian test yang akurat 100% tidak akan kuberitahu pada siapa pun, mencegah agar tidak berharap besar dan pada akhirnya kecewa.
Perlahan aku menggeser tangannya dari tubuhku, dan mengambil sesuatu yang telah aku beli sebelumnya, kemudian aku masuk ke dalam kamar mandi, menampung urin dalam wadah dan memasukkan testpack yang kupegang, kupejamkan mata ini, tanganku gemetar, aku tidak berani melihat hasil yang mungkin sudah terlihat dalam testpack tersebut. Membuka mata sedikit demi sedikit, menyiapkan hati dengan apa pun hasil yang nanti terlihat dalam testpack yang kugenggam.
Mataku membulat, menutup mulut dengan satu tanganku, dua garis tegas terpampang dalam testpack yang kupegang. Kehamilanku kali ini benar-benar anugerah untukku yang akan membawa kebahagiaan untuk kami.
Kali ini aku tidak perlu menjadi pejuang garis dua layaknya dulu saat menginginkan kehadiran Atma, kehamilan yang cukup cepat setelah pernikahanku dengan Rama yang kurang dari setengah tahun berumah tangga.
Setelah membersihkan tubuh, aku membangunkan Rama dari tidurnya untuk melaksanakan kewajiban kami.
"Mas, bangun ...."
"Sebentar lagi sih sayang, mas masih ngantuk, lima menit lagi, oke?" Matanya tetap terpejam.
"Mas ... Ayolah, habis sholat dilanjutkan tidurnya tidak masalah."
"Baiklah." Ia terduduk dengan mata tetap terpejam.
"Buka matamu, Mas. Lihat aku."
"Beri semangat dengan kecupan, disini, sini dan sini." Ia menunjuk pipi kanan, kiri dan bibirnya.
"Baiklah," ucapku pasrah, ia pun tersenyum puas.
"Aku mencintaimu."
"Iya aku tahu."
"Sangat mencintaimu." Ia melingkarkan tangannya pada pinggangku.
"Mas, sudahlah berhenti merayuku, ishh ...."
"Lagi sayang."
"Mas ...." baru saja tangan ini ingin memukul lengannya, ia langsung melepaskan lingkaran tangan di pinggangku dan berlari ke arah kamar mandi dengan terkekeh geli serta membentuk jarinya V kearahku.
🌹🌹🌹🌹
"Ma, hari ini aku diantar siapa?" tanya Atma padaku saat kami sarapan bersama.
"Tetap sama Omma, sayang ...." Ibu yang menjawab pertanyaan Atma.
"Mama kan libur hari ini, Atma ingin diantar Mama."
"Nanti kalau Mama mengantar Atma, siapa yang jaga Papa?" tanya Rama.
"Ckk ... Papa seperti anak kecil saja yang selalu dijaga." Rama hanya terkekeh mendengar jawaban Atma.
"Sayang, mama janji deh besok mama yang mengantar, hari ini Mama sangat lelah, kemarin Mama kurang istirahat, maafin Mama ya sayang, kali ini aja."
"Baiklah," jawab Atma lesu.
Aku mengantar Atma dan Mama sampai mobil mereka tidak terlihat lagi dari gerbang rumah. Ketika ingin menutup pintu gerbang, ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depanku, dan terlihat sosok Kak Janu yang keluar dari mobil itu. Seseorang yang sebenarnya aku hindari saat ini, ia tersenyum hangat dan mendekat ke arahku.
"Assalamualaikum, Amanda ...."Â
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Kak, wah tumben sekali Kakak kerumahku." aku sebisa mungkin tenang saat berbicara dengannya, padahal dalam hatiku, aku takut jika pertemuanku kali ini di salah artikan oleh Gita nantinya.
"Sengaja mampir, untung saja kamu berada di rumah."
"Ayo masuk, Kak!"
"Tidak perlu, hanya sebentar, kakak kesini hanya ingin memintamu lagi untuk datang ke acara pernikahan Kakak dan Gita."
"Maaf, Kak ... Amanda tetap tidak akan hadir besok, tapi Amanda tetap berdoa untuk kebahagiaan kalian, Amanda hanya tidak ingin membuat hati Gita sedih. Mengertilah, Kak."
"Kakak meminta kehadiranmu sebagai seorang adik, apa salah? Kakak akui masih ada rasa cinta untukmu walaupun tidak seperti dulu, tapi bukan berarti ini semua kesalahanmu sehingga kamu menghindariku dan Gita dalam acara pernikahan kami nantinya. Bagaimanapun kamulah Kakak dari Gita, kakak yang ia sayangi. Apa kamu tidak mau hadir dalam acara yang hanya sekali seumur hidupnya?"
"Ingin Kak, bahkan sangat ingin. Tapi keputusanku sudah bulat, aku yakin Gita memahami semuanya."
"Kenapa kamu nggak percaya Kakak bisa mengendalikan perasaan nantinya? Kakak masih memahami batasan-batasan yang tidak mungkin Kakak langgar."
"Aku hanya khawatir Gita akan ragu padamu, jika melihat kedatanganku, bagaimanapun aku wanita yang pernah mengisi hati Kakak dari masa lalu."
"Ahh ... Kenapa serumit ini." Ia menyenderkan tubuhnya pada mobil. Kami mengobrol di depan gerbang tanpa masuk ke dalam rumah.
"Kakak mulai membuka hati untuk Gita 'kan?"
"Gita yang mengisi hari-hari Kakak setelah Kakak melepasmu, tidak akan sulit untuk mencintainya. Apa kamu juga meragukan keseriusan Kakak untuk setia dan mencintainya?"
"Aku tidak pernah meragukan keputusan apapun yang Kakak buat, aku yakin Kakak tidak akan mengecewakan Gita. Amanda titip Gita, jangan pernah sakiti hatinya."
"Jadi kamu akan datang, 'kan?"
"Tetap tidak." Aku tersenyum tipis kearahnya.
"Ckkk ....keras kepala," Ia menghembuskan napas dengan kasar. "Kakak juga kesini atas permintaan Gita, Ia merasa tidak enak padamu karena kecemburuannya terhadapmu."
"Sepertinya Gita, benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Kak."
"Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesonaku, ya 'kan?" ucapnya penuh percaya diri.
"Ishh tetap saja bagiku, Rama paling mempesona."
Akhirnya kami tertawa bersama, lalu Kak Janu pamit pergi setelah tetap tidak merubah keputusanku untuk bersedia hadir ke acara pernikahannya.
Aku hanya ingin menjaga perasaan Gita, bukan memutuskan komunikasi secara total, kami masih sering bertukar kabar satu sama lain. Tapi dalam hal kedatanganku ke pesta pernikahan mereka, tidak bisa di ganggu gugat, aku ingin Gita benar-benar bahagia bersama Kak Janu tanpa dibayang-bayangi oleh masa lalu.
Melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, mendapati Rama yang sedang melipat tangannya di dada, setelah melihat keberadaanku tepat di depannya, ia membalikkan tubuh, dan ....
Brakkkk
Aku terjengkit mendengar suara pintu ditutup dengan keras, dan beberapa saat ia kembali keluar dengan memegang kunci mobil di tangannya.
"Mau kemana?" Aku mencoba bertanya tapi kali ini Rama hanya menatapku tajam.
"Ikut aku." Rama menarik tanganku dan digenggamnya tangan ini, kemudian dengan langkah cepat keluar rumah menuju mobil yang terparkir.
"Kita mau kemana, Mas?" Ia hanya diam, membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk kedalam mobil, setelahnya ia menutup.Â
Aku terkadang bingung kalau Rama dalam mode dingin seperti ini, tapi aku harus tenang jangan sampai terpancing emosi. Aku menoleh kearahnya, melihat rahangnya mengeras, tatapan mata tajam ke depan.
"Mas ...." Aku menyentuh dan mengelus punggung tangannya, hal ini membuat ia menoleh ke arahku, lalu raut wajahnya seketika berubah.
Rama menggenggam jemariku, lalu membawanya ke arah bibirnya, dan ia mengecup lama punggung tanganku.
"Kita makan es krim, untuk mendinginkan otak dan hatiku." Ia menepikan mobilnya di sebuah mini market, dan langsung masuk kedalamnya.Â
Beberapa saat ia keluar dengan menenteng banyak es krim dalam kantong plastik, bahkan ia sudah membuka satu kemasan es krim ketika masuk ke dalam mobil.
"Kita makan es krim bareng ...." pintanya setelah di dalam mobil. Aku hanya bisa diam melihat ia menyantap es krim dengan lahap di pagi hari. 'apakah ini yang dinamakan ngidam?' tanyaku dalam hati.
"Ini masih pagi loh, Mas. Es krimnya taruh dulu nanti di kulkas, jangan di makan semua," ucapku melarangnya.
"Aku tidak suka kamu berduaan atau dekat dengan pria lain, terlebih ketemu mantan sampai lupa masuk kedalam rumah bahkan tertawa bersama," ucapnya ketus tanpa menggubris ucapanku.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum melihat sikapnya, ternyata sedari tadi ia cemburu melihatku dengan Janu.
"Iya dong mas, mantan terindah sulit dilupakan," sahutku tersenyum dengan meluruskan tangan dari lipatan didadanya, dan berganti memeluknya. "Suami terindah ada nggak, Mas? Biar jangan hanya mantan terindah saja."
"Entahlah," jawabnya acuh.
"Sepertinya ada yang cemburu."Â
"Sangat cemburu, puas? Hmm? Apa yang dikatakannya?"
"Hmm... Aku lupa apa yang dikatakan Kak Janu tadi, soalnya kami membicarakan banyak hal." Pura-pura berpikir dengan ekspresi polosku.
"Amanda ...." teriaknya kesal sambil mengacak rambut. Aku senang jika Rama cemburu seperti sekarang, cemburu kan tandanya cinta.
"Baiklah, kamu seperti detektif sekarang, selalu mau tahu apa saja yang aku lakukan. Tadi Kak Janu memintaku untuk datang ke acara pernikahannya dengan Gita, karena sebelumnya aku menolak untuk datang."
"Kenapa kamu tidak datang? Masih mencintai atau mengharapkannya? Sehingga ketika ia bersanding dengan Gita tidak membuatmu sanggup untuk melihatnya." Sepertinya Rama benar-benar diliputi rasa cemburu yang tinggi hingga berkata seperti itu.
"Mas, kamu meragukan cintaku untukmu? walaupun pernikahan kita atas keputusan Kak Janu, bukan berarti aku tidak mencintaimu."
"Bukan maksudku seperti itu, aku hanya memastikan kamu tidak mencintai atau mengharapkannya lagi. Terkadang aku merasa pernikahan ini hanya aku yang menginginkannya, sedangkan kamu tidak menginginkannya." ucapan Rama membuat aku terluka dan juga kesal dibuatnya, 'bagaimana bisa ia berpikir seperti itu?'
"Aku mau pulang, sekarang ...." Setelah mengucapkan itu, tidak ada obrolan apa pun diantara kami, aku memandangi sisi luar jendela mobil tanpa mau melihat ke arah Rama yang sekilas mencuri pandang ke arahku.Â
Sesampainya di rumah, aku langsung berlari menuju kamar dan mengunci pintu kamar. Rama langsung mengejarku, dan mengetuk beberapa kali pintu kamar yang terkunci.
"Amanda, maaf, aku hanya emosi tadi."
"Amanda, keluarlah."
"Amanda, Amanda, Amanda ...." teriak Rama dari luar. Namun, aku tetap diam dan menutup telingaku dengan bantal, lebih baik diam daripada nantinya kami bertengkar, baru saja tadi malam kami berbaikan, aku tidak ingin ada selisih paham antara kami. Tanpa terasa mataku terpejam, suara Rama semakin mengecil dan lama-kelamaan menghilang, aku pun tertidur pulas, tubuhku terasa sangat lelah sekali.
Merasakan ada tangan yang mengelus wajah ini dengan lembut, aku mengerjapkan mata, dan melihat sosok Rama sedang menyandarkan tubuhnya dengan tangan satu menopang kepala dan memejamkan mata.
"Mas .... " Ia membuka matanya. " Apakah mas marah?" tanyaku lirih, ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Maaf, aku tadi emosi, aku tidak marah padamu sayang. Lupakan ucapanku tadi jika membuatmu sedih. Jangan mengunci pintu seperti tadi, aku khawatir. Lebih baik kamu marah dan mengomel dibandingkan mengunci pintu."
"Lalu, bagaimana mas bisa masuk?"
"Aku mencongkel handle pintu." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyuman di wajahnya. "Aku kira kamu pingsan, ternyata hanya tertidur."
"Maaf membuatmu khawatir. Aku hanya nggak mau menambah rumit masalah, dan juga tubuhku sangat lelah, Mas."Â
Memang benar tubuhku saat ini sangat terasa lelah, perjalanan dari Semarang, mengurus Rama saat di rumah sakit dan kejadian tadi membuat tenagaku terkuras, terlebih aku sedang berbadan dua.Â
'ahh hampir saja aku melupakan sesuatu.' rutukku dalam hati. Aku mengambil sesuatu dalam dompetku, dan memberikannya pada Rama.
"Bukalah!" Ia menerima amplop yang kuberikan. "Itu sebagai tanda aku sangat mencintaimu dan mengharapkan hanya dirimu yang berada di sisiku sampai kita menua nantinya."
Rama perlahan membuka amplop yang ada di tangannya, ia membulatkan mata, dan mengagetkan aku dengan teriakan kebahagiaannya.
"Alhamdulillah, yeaaaahhhh ...." Ia langsung menghambur kepelukanku, mencium semua sisi wajahku bahkan setetes air mata kebahagiaan keluar dari pelupuk matanya.Â
"Aku akan jadi seorang Papa dari dua anak, terimakasih sayang." Ia mengecup pipiku sekali lagi.Â
Bahagia dan merasa lega ketika ia menyebut dua anak, ia tetap menganggap Atma anak pertamanya meski bukan darah dagingnya.
"Terimakasih, Mas." Ia langsung menatapku lekat.
"Kenapa kamu yang berterima kasih, hmm?"
"Terkadang ada rasa khawatir jika ketika kamu memiliki anak dari benihmu sendiri, kamu tidak menyayangi Atma atau membedakannya nanti."
"Ssstt ...." Ia menempelkan telunjuknya pada bibirku, "jangan pernah berpikir seperti itu, aku sudah bersama Atma dari dia bayi, dia tetaplah anakku, anak kita." Rama memegang perutku yang masih rata, "anak ini akan menambah kebahagiaan kita semua, dia tetaplah adik Atma meski dari benih yang berbeda, kita akan membesarkan mereka bersama."
Akhirnya kami larut dalam kebahagiaan, senyum tidak lepas dari wajah Rama. Ia menggeser kepalaku ke pangkuannya, mengelus kepalaku dengan sayang. Betapa beruntungnya diri ini memiliki seorang suami yang sangat mencintaiku dan sosok Papa yang baik serta menyayangi Atma dengan tulus.
💖💖💖💖
__ADS_1
Follow akun jika berkenan ....