Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 29


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...💕 Like dan komentar 💕...


...Selamat membaca ...


...♥️...


...♥️...


Setelah kepergian Ummik, Gita dan Kak Janu, Rama masuk ke dalam ruangan, dan langsung memelukku sangat erat, mencium seluruh sisi wajahku, dan tetes air mata kurasakan jatuh dari matanya yang mengenai pipiku. Tanpa sepatah katapun yang terucap.


"Mas ...." Ia tetap terdiam


"Mas, kamu kenapa? Ucapkan sesuatu jangan buat Aku khawatir."


"Maaf, maaf tidak bisa menjagamu dan juga Atma, seandainya Aku membatalkan pertemuan itu pasti kalian akan baik-baik saja, seandainya Aku tidak pergi ke Bandung untuk mengontrol perusahaan sesuai keinginan Atma, pasti Aku bisa menolong kalian." Ucapnya penuh penyesalan.


"Seandainya Mas nggak pergi, siapa yang akan menafkahi kami? seandainya terjadi sesuatu dengan perusahaan bagaimana Mas bisa menghidupi kami?" Seulas senyum ia tampakkan pada wajah yang terlihat sangat lelah setelah mendengar ucapanku. "semua sudah terjadi, yang terpenting Aku dan Atma selamat dan saat ini Denis sudah mendekam di balik jeruji besi atas perbuatannya." 


"Seharusnya Aku yang menolong kalian bukan Janu." 


"Kamu cemburu?"


"Tidak."


"Yang dikatakan Gita tadi benar ya berarti."


"Apa?"


"Kamu pergi setelah melihat Janu dan Aku di ruangan karena cemburu."


"Hmm."


"Duh senang ya ternyata dicemburui suami. Terasa ada manis-manisnya dicemburui suami yang kaku, dingin, seperti kulkas. Pantas saja baru datang menjengukku di ruangan ini, ternyata lagi cemburu buta. Ckkk ...." baru saja ingin mengucapkan sesuatu lagi untuk meledek Rama, ia mengunci bibirku dengan ciuman singkatnya.


"Hukuman!" Ia mengedipkan kedua matanya. "Masih meledek, akan Aku tambah hukumannya, mau?" Dengan cepat Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban, dan disambut gelak tawa olehnya. sepertinya Aku menarik kata-kata yang beranggapan dia Pria dingin, karena dia sudah berbeda sekarang.


Setelah tiga hari berada di rumah sakit, Aku belum bisa melihat keadaan Atma, kami di rawat di ruangan terpisah, hanya dengan panggilan video agar bisa melihat kondisinya setiap hari. Rama lebih banyak menghabiskan waktu di ruang rawat Atma, terselip rasa bahagia melihat Rama sangat menyayangi Atma layaknya anak kandung. Wajah Atma sudah tidak mengalami pembengkakan, kondisinya sudah stabil, sedangkan Aku masih harus menjalani beberapa proses fisioterapi agar bisa kembali beraktivitas tanpa merasakan sakit di kepalaku.


"Mama ...." Atma berteriak ketika sampai di depan ruanganku, dan berlari ke arahku dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Sayang Mama." Aku mencium dan memeluknya erat, seraya mengucapkan syukur atas nikmat sehat yang telah di berikan Nya untuk Atma dengan apa yang telah terjadi pada kami.


"Atma sudah boleh pulang, Mama kapan pulang?"


"Mungkin besok, Nak."


"Malam ini kita menginap di sini menemani Mama atau kita berdua di rumah dan membiarkan Mama sendiri di sini, gimana menurut Atma?" Tanya Rama seraya menatap wajah polos Atma.


"Kok Papa jahat sih tega ninggalin Mama disini sendiri? Nanti kalau Om Denis datang dan bawa Mama pergi, gimana?" jawab Atma dengan nada protes, aku terkikik geli, baru kali ini Atma terlihat tidak suka dengan ucapan Rama, biasanya mereka sangat kompak.


"Loh kok jadi marah sama Papa? 'kan papa hanya bertanya. Mana cukup kita bertiga tidur di sini, kasurnya saja hanya satu." jawab Rama memancing amarah Atma dengan sengaja.


"Papa tidur di lantai, Atma di sofa, dan Mama tetap di kasur pasien. Gimana? Adil 'kan?"


"Badan Papa nanti sakit kalau tidur di lantai, bagaimana kalau Atma yang di lantai?" Atma memanyunkan bibirnya menanggapi ucapan Rama.


"Sudah deh Mas jangan isengin Atma, kamu itu ya senang banget ngeledekin Atma sekarang." Rama tersenyum lebar, maju mendekati Atma, dan mengangkat tubuh Atma serta menaruhnya disamping tubuhku di atas ranjang pasien.


"Kalian tidur di kasur berdua malam ini." Mengelus pucuk kepala Atma.


"Papa jaga kami ya, Atma takut ...."


"Takut kenapa sayang 'kan ada Papa."


"Atma takut Om Denis datang menculik Atma dan menyakiti Mama." Mendengar ucapan Atma membuat hatiku sedih, tidak seharusnya ia mengalami trauma terhadap Denis, bayang-bayang kejadian itu pasti menghantui pikiran Atma, bahkan bukan Atma, aku saja masih suka teringat dengan kejadian itu.


"Semua akan baik-baik saja, Papa akan menjaga kalian di pintu untuk memastikan Om Denis tidak menyakiti kalian."


"Lagi pula Om Denis sudah di kurung polisi kok sayang, dikurung didalam jeruji besi yang sudah dikunci rapat jadi tidak bisa keluar menemui kita." ucapku menenangkan.


"Benarkah?"


"Tentu saja, kamu bisa pulas tertidur tanpa memikirkan Om Denis akan mencelakai kita." Atma tersenyum lega mendengar perkataanku.


Akhirnya malam ini kami tidur bertiga di ruangan rawat rumah sakit, Atma sudah tertidur pulas dengan menjadikan lenganku bantal untuknya, sebelum Aku benar-benar memejamkan mata, kurasakan Rama mendekat ke arah kami,


"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, kalian kebahagiaan yang saat ini Aku miliki, tetaplah selalu bersamaku apapun yang terjadi nantinya" gumam Rama lirih kemudian mencium kening kami berdua. Perkataan Rama mengusik ketenanganku, 'memang apa yang akan terjadi?' tanyaku dalam hati.


Matahari kembali menyapa, sinarnya menelusup di celah jendela, saat mata terbuka kulihat Atma dan Rama sedang bercanda, pemandangan yang menyejukkan hatiku melihat dua laki-laki yang sangat aku sayangi dan cintai. Pintu ruangan dibuka oleh seseorang, Aku kira perawat yang rutin mengecek ruangan dan kodisi pasien, tapi nyatanya sosok yang tidak Aku inginkan muncul, menampakkan wajah yang penuh kegelisahan juga kesedihan, dia adalah mantan Ibu mertuaku.


"Maaf mengganggu kalian." Ia melangkah masuk kedalam tanpa meminta persetujuan kami terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bu Sinta." Rama langsung menegakkan tubuh ketika melihat kedatangannya, tatapan mata Bu Sinta jatuh pada Atma yang tengah menggenggam erat tangan Rama dan bersembunyi di balik tubuh Rama. "Untuk apa anda kesini? Sepertinya sudah tidak ada urusan apapun antara kita." 


"Apakah ini Danish Atma Narendra? Cucuku, Apa dia anak Denis?" Bu Sinta malah balik bertanya dan mengacuhkan pertanyaan Rama.


"Dia anakku bila Ibu lupa, dia bukan anak Denis ataupun cucu Ibu, apakah kalian tidak ingat telah membuang kami dan tidak mengakuinya sebagai bagian dari keluarga kalian karena ia terlahir tidak sempurna?" Bu Sinta mulai meneteskan air mata, mungkin air mata penyesalan.


"Mama, apakah Nenek ini nenek Atma? Apakah benar Om Denis Papa kandung Atma?" tanya Atma padaku, Aku baru menyadari ucapanku, Atma bukan anak yang lugu dan polos lagi, ia mengerti dengan semua ucapan orang dewasa, ternyata ia bisa menangkap arti dari perkataanku barusan, dadaku terasa sesak memikirkan bagaimana perasaan Atma jika yang ia katakan adalah kebenaran. Kurasakan genggaman tangan hangat Rama, ia berusaha memberikan Aku kekuatan untuk mengungkap semua kebenaran.


"Berkatalah jujur pada Atma, jangan membohongi Atma, dia berhak untuk tahu semuanya." bisik Rama lirih ditelingaku sambil menguatkan genggaman tangannya. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Atma.


"Iya sayang, wanita yang berada di depan kita saat ini adalah Nenek Atma, yang tidak mengakui Atma ketika Atma dilahirkan, dia adalah Ibu dari Om Denis, dan Om Denis adalah Papa kandung Atma." Setelah Aku menjawab pertanyaan Atma secara jujur dan jelas, Ibu Sinta duduk bersimpuh di depan tubuh Atma,


"Maafkan Nenek, maafkan semua kesalahan Nenek, Nenek sangat menyesal." Ia berusaha memeluk Atma. Namun, tangan Bu Sinta ditepis olehnya.


"Nggak, Ibu bukan nenek Atma, Atma hanya punya Nenek Rahma dan Omma Ratri, Papa Denis bukan Papa kandung Atma, Atma nggak mau punya Papa jahat kaya Om Denis."


"Sayang, maafkan kami." Bu Sinta sampai bersujud di kaki Atma, Atma langsung memundurkan tubuhnya, dan menangis dengan memeluk tubuh Rama, dengan sigap Rama menggendongnya agar ia tenang.


"Om Denis bukan Papa Atma, Ibu ini bukan Nenek Atma, mereka jahat, Atma nggak mau ketemu mereka, mereka udah buat Mama sedih, Om Denis udah buat mama sakit." Ucap Atma sambil menangis histeris, Aku memberikan isyarat pada Rama agar membawa Atma keluar agar tenang. Rama akhirnya membawa Atma keluar bersamanya, Atma menenggelamkan wajahnya di leher Rama, ia benar-benar tidak mau melihat keberadaan Ibu Sinta.


"Lihatlah Bu, anakku tidak menerima keberadaan kalian. Sesuai dengan keinginan Ibu waktu itu, agar tidak pernah menganggap Atma bagian dari keluarga terhormat kalian."


"Ibu menyesal. Ini semua kesalahan Ibu, seandainya Ibu menerima keberadaanmu dan juga Danish, serta tidak meminta Denis untuk bercerai darimu karena anak yang dilahirkan tidak sempurna, pasti kalian masih bersama kami. Denis pasti bahagia."


"Egois, yang Ibu pikirkan hanya kebahagian Denis anak Ibu, pernahkah Ibu memikirkan perasaan Aku dan anakku? Dengan mudahnya Ibu datang dan meminta pengakuan setelah apa yang Ibu dan Denis lakukan? Apakah rasa malu kalian sudah mati?"


"Sejujurnya Ibu telah meruntuhkan semua harga diri yang Ibu miliki saat ini untuk bisa menemui kalian, ibu menginginkan seorang cucu, penerus keluarga Narendra. Setelah perceraian kalian, Denis menjadi sosok anak yang tidak Ibu kenali, perilakunya sangat berubah, mabuk setiap malam, bahkan Vanya ia sia-siakan." Air mata Ibu Sinta luruh tak terbendung. "Ibu tidak ingin sendiri dalam sepi di hari tua Ibu nantinya, kamu juga seorang wanita, bisa merasakan sakitnya jauh dari anak. Ibu mohon Amanda, cabut gugatan kalian untuk Denis, dia berbuat itu karena dalam pengaruh alkohol, sebenarnya ia sangat menyayangi anaknya bahkan masih tetap mencintaimu."


Mendengar perkataan Ibu Sinta membuat emosiku naik ke ubun-ubun, ingin pengakuan dan ingin dimaafkan serta dimaklumi semua kelakuan Denis yang sudah di luar batas, mudah sekali beliau mengucapkan hal itu.


"Tidak ada pemakluman untuk semua tindakan Denis, Aku tidak akan pernah mencabut laporan kejahatan Denis di kepolisian, jika Ibu keberatan silahkan ajukan pembelaan dan ajukan banding atas semua keputusan majelis hakim, tapi Aku tidak akan mengambil jalur perdamaian dengan Ibu dan Denis," kutatap wajah mantan Ibu mertuaku yang penuh penyesalan dan kesedihan, wajahnya yang dulu sangat angkuh dan sombong sudah tidak terlihat lagi. "Ini semua hukuman dari Allah atas semua yang kalian lakukan padaku dan Danish Atma Narendra, Denis akan mendekam di balik jeruji besi, dan Ibu merasakan kesendirian di  masa tua Ibu." Air mata ibu kembali luruh, tubuhnya duduk bersimpuh di lantai menyesali semua yang telah ia lakukan di masa lalu.


"Apa kamu dendam pada kami?" Tanyanya lirih.


"Tidak Bu, bahkan jika Atma benar-benar menerima keberadaan kalian, Aku tidak akan menghalanginya, tapi jangan memaksakan kehendak kalian, biarlah semua berjalan sesuai yang Atma inginkan," kulihat Ibu menghapus jejak air mata di pipinya. "Apapun kesalahan kalian, Aku tidak mempunyai hak untuk memutuskan hubungan darah antara kalian, jika Aku melakukan hal itu, Aku sama jahatnya seperti kalian."


"Boleh Ibu memelukmu? Untuk pertama kalinya Ibu memelukmu sebagai seorang anak dan meninggalkan semua kehormatan, kekayaan bahkan harga diri yang selama ini melekat pada diri Ibu yang sombong dan angkuh." Aku mengangguk, Ibu langsung menghambur dipelukanku.


"Ibu akan memperbaiki semua kesalahan yang telah Ibu lakukan di masa lalu." Ia merenggangkan pelukan, tersenyum tipis sebelum ia berlalu meninggalkan ruangan ini.


Biarlah semua berjalan sesuai dengan takdir Nya, seberapa sakit luka yang diberikan seseorang untuk diriku, tidak akan membuat diri ini berubah menjadi sosok jahat untuk siapapun yang telah menorehkan luka dalam dikehidupanku dan anakku.

__ADS_1


Kesendirian di masa tuanya, tidak diakui oleh darah dagingnya, pukulan terbesar untuk hidup mereka. Semoga itu menjadi hukuman berat untuknya seumur hidup, yang tidak akan pernah terlupakan atas semua kesalahan mereka.


__ADS_2