Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 37


__ADS_3

Tinggalkan jejak


💕 Like atau komentar 💕


Happy reading ♥️


Masih memegang hasil testpack, Aku keluar dari dalam kamar mandi, Dina langsung menyambar benda yang masih dalam genggamanku itu, dan melebarkan matanya serta menutup mulutnya dengan tangan.


"Akhirnya kamu hamil Amanda!" Teriaknya senang dan memelukku.


"Ish ... kamu apaan sih, Din. Garisnya kan masih samar, kenapa kamu yakin sekali aku hamil?"


Tuk .... Ia menyentil keningku


"Kamu bodoh atau apa, hah? Stase obgyn saat koas sepertinya belum kamu pahami dengan baik."


"Enak saja." Aku mengelus keningku yang terasa sakit.


"Bagaimana bisa garisnya tegas jika kamu memeriksanya pada malam hari? Hasil seperti ini sudah di anggap positif, meskipun garis satu terlihat samar."


"Ya tetap saja hasil itu masih meragukan."


"Terserah kamu deh, pokoknya besok pagi aku akan membangunkanmu, Aku sendiri yang akan menampung air seni dan mengetesnya."


"Ckk .... berlebihan sekali sih, Din," ucapku sambil mengambil testpack dalam genggamannya. "memang aku sebodoh itu, bagaimana pun aku juga seorang dokter, masa menggunakan testpack saja tidak mengerti, ishh ... kamu meremehkan aku sekali," ucapku kesal. Dina hanya bisa tertawa puas melihat kekesalanku.


[Assalamualaikum, mas sedang apa?] Aku merebahkan diri, sambil mengirimkan pesan itu untuk suamiku, suami yang kurindukan. Tanpa pesan apapun darinya di gawai ini rasanya sangat sepi, biasanya dia akan mengirimkan pesan singkat tapi sarat akan perhatian. Kulihat hanya centang satu, tanpa menunggu balasan, aku pun memejamkan mata, hari ini sangat melelahkan untukku.


Saat pagi hari, suara Dina menggema di kamar hotel, ia membangunkan aku yang masih terlelap dalam mimpi.


"Bangun, cepat, ayo kita testpack ulang Amanda!!!"


"Nanti saja Dina, testpack sudah tidak ada, aku hanya menyediakan satu di dompetku." Membuka mata perlahan dan mengumpulkan kesadaran. "Awas aku mau sholat dulu." Aku berdiri dan berlalu dari hadapan Dina.


"Aku akan ke apotek 24 jam." Ia menyambar tas yang berada di meja nakas, aku langsung menghalanginya.


"Sudah nanti saja, ini masih pukul lima, Dina."


"Aku penasaran Amanda."


"Kenapa kamu yang penasaran?"


"Hmm ... Itu ... " jawab Dina gugup. "Aku hanya khawatir jika telat mendeteksi kehamilanmu, kita juga telat melakukan pemeriksaan tentang kondisimu nantinya." Aku tersenyum ke arahnya, sebagai seorang sahabat Dina sangat perhatian padaku.


"Terimakasih, kamu sudah memperhatikan sahabatmu ini." Aku memeluknya, hal yang paling membahagiakan adalah saat memiliki teman yang ada disaat susah maupun senang. "Aku janji akan secepatnya melakukan tespack ulang, tapi tidak saat ini."


"Ckkk ... Dasar keras kepala." Aku hanya tersenyum menanggapi nada protes Dina dan masuk ke kamar mandi untuk berwudhu serta melakukan kewajibanku.


Pagi ini seperti biasa, Aku dan Dina ke rumah sakit untuk melaksanakan tugas sebagai perwakilan dokter dari rumah sakit pusat, menilai semua kegiatan yang dilakukan para tenaga medis di rumah sakit yang baru agar berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit pusat. 


Aku menyempatkan melakukan test darah di laboratorium, untuk mengetahui kadar hormon HCG dalam tubuhku, HCG adalah hormon kehamilan yang biasa terkandung dalam darah dan bisa terdeteksi melalui urine. Untuk memastikan kehamilanku, aku memilih menggunakan test darah agar lebih akurat karena secara hitungan manual HPHT jika memang benar Aku mengandung, usia kandunganku masih sangat muda kira-kira enam Minggu.

__ADS_1


Matahari sudah mulai menenggelamkan diri dan berganti malam, kulihat ponsel tidak ada balasan dari Rama, Aku merasa gelisah memikirkannya, setelah sampai di hotel, Aku langsung menghubungi Ibu melalui panggilan video, dan akhirnya panggilanku diangkat oleh Ibu, sosok wajah Ibu tampil di layar ponselku, tapi tempat Ibu saat ini terasa asing bagiku, ini bukan di rumah maupun di butik ....


"Assalamualaikum, Bu ...."


"Wa'alaikumsalam Amanda, gimana hari ini pekerjaanmu?"


"Alhamdulillah lancar seperti biasanya. Oh iya, ibu sekarang berada di mana? Rasanya tempat yang asing."


"Di rumah sakit sayang ...."


"Ibu sakit?"


"Bukan."


"Lalu siapa yang sakit?"


"Rama, suamimu."


"Astaghfirullah, mas Rama sakit, benarkah Bu?"


"Iya, tentu saja benar, masa Ibu bercanda untuk masalah ini," ucap Ibu tetap tersenyum.


"Bagaimana keadaannya, Bu?"


"Jangan khawatirkan keadaannya, mungkin faktor kelelahan, muntah tiada henti sejak kemarin. Lihat Rama dan Atma sedang tertidur di ranjang berdua saat ini." 


Ibu menggeser layar ponsel menuju Rama dan Atma yang sedang tidur dengan Atma yang terlelap tidur diatas dada bidang Rama. Dua laki-laki yang sangat aku sayangi dan cintai serta Aku rindukan. Tak terasa aku meneteskan air mata melihat mereka di layar ponsel, aku merindukan mereka sekarang.


"Maafkan Amanda, Bu ... seharusnya Amanda yang merawat Mas Rama saat sakit seperti ini."


"Sudahlah jangan dipikirkan, kamu kan disana karena tugas sekaligus ingin menenangkan diri. Makanya Rama tidak memberitahu kondisinya padamu, khawatir kamu tidak tenang di sana."


"Amanda akan usahakan segera kembali ke Jakarta, Bu." 


"Tidak perlu sayang, sudah selesaikan saja pekerjaanmu di sana."


"Baiklah Aku akan secepatnya menyelesaikan tugas di sini, setelahnya akan segera kembali."


"Iya kamu atur saja bagaimana baiknya."


"Bu ...."


"Apa mas Rama marah pada Amanda? Sejak Amanda berangkat ia tidak mengirimkan pesan apa pun ke Amanda." tanyaku ragu pada Ibu, bukan menjawab Ibu malah terkekeh.


"Loh bagaimana, kan kamu bilang membutuhkan waktu, Rama memberikan waktu banyak untukmu dan tidak mengganggumu, kenapa sekarang kamu malah bertanya marah atau tidak?"


"Rasanya aneh, Bu."


"Bukan aneh Amanda, itu namanya Rindu." Ibu terkekeh geli. "Mungkin Rama sakit karena merindukanmu juga." Ibu kembali terkekeh sembari tetap menatapku di layar ponselnya. "Sudahlah hilangkan ego kalian, kembalilah secepatnya jika jauh terasa menyiksa."


Setelah menutup sambungan telepon dengan Ibu, aku masih saja memikirkan kondisi suamiku, seharusnya aku berada di sana menemaninya. 

__ADS_1


"Din ...."


"Hmm ...."


"Suamiku sakit."


"Lalu?"


"Aku harus bagaimana?"


"Masih butuh waktu? Masih nggak percaya sama suamimu?" 


"Tentu saja tidak, aku bodoh jika masih meragukannya setelah penjelasan Rio kemarin, rasanya cukup membuktikan suamiku tidak bermain di belakangku."


"Ya sudah, sana kamu kembali ke Jakarta."


"Bagaimana denganmu?"


"Tentu saja aku akan tetap di sini sampai urusan selesai lagipula lusa sudah tidak ada pekerjaan yang begitu penting, rumah sakit sudah melakukan operasional dengan baik kok." Dina bergeser posisi, duduk disampingku. "Kamu kembali saja ke Jakarta, aku tidak masalah. Kamu kan anak Abi Wiyata jadi pasti akan di ijinkan, terlebih alasannya suami sedang sakit dan dirawat, pihak manajemen rumah sakit pasti mengerti."


"Baiklah, aku akan memesan tiket dan bersiap-siap."


Untung saja malam ini aku mendapatkan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta untuk pemberangkatan pagi nanti, akhirnya aku bisa melepas rinduku pada Rama dan Atma, rasanya tidak sabar menanti esok hari.


🌹🌹🌹🌹


Aku sudah tiba di Bandara, dan bergegas menuju rumah sakit untuk langsung bertemu suamiku dan melihat kondisinya. Sebelumnya aku sudah meminta Ibu merahasiakan kedatanganku kali ini. Setelah sampai di ambang pintu, ku lihat Rama tidur seorang diri tanpa di temani siapapun, karena Ibu menyiapkan dan mengantar Atma ke sekolah. Beruntung memiliki Ibu mertua yang sangat menyayangi Aku dan Atma, meskipun Atma bukan cucu kandungnya tapi beliau sangat menyayangi Atma, mungkin karena dari bayi, beliau selalu berada di sisi Atma. 


Mata Rama masih terpejam, selang infus menempel di bagian kiri tangannya, sepertinya benar-benar lemah kondisi Rama saat ini. Melihat Rama dalam kondisi sakit, membuat aku merasa bersalah, sedih dan menyesal. Akulah yang menjadi beban pikiran Rama sehingga tubuhnya lemah seperti sekarang. Perlahan aku duduk di sampingnya agar ia tidak terbangun dengan kehadiranku. Namun, matanya perlahan terbuka, menemukan sosok diriku di sampingnya, ia bahkan mengucek matanya berkali-kali, seperti tidak percaya dengan kedatanganku, hingga akhirnya ....


"Aku rindu, Mas." Aku langsung menubruk tubuhnya untuk masuk kedalam pelukannya, ia membalas pelukanku tidak kalah eratnya. "Maafkan aku, maaf sudah menjadi beban pikiranmu hingga kamu sakit seperti sekarang." 


"Aku yang seharusnya meminta maaf karena membuatmu sedih hingga menangis atas masalah itu," ucapnya. Aku mengendurkan pelukan agar bisa menatap wajahnya. "Kamu sudah kembali dan memaafkan kesalahanku? Sudahkah mempercayai aku lagi?" tanyanya. Aku pun mengangguk tegas.


"Aku sudah tahu kebenarannya, Rio yang menceritakan semuanya padaku. Ahhh, rasanya aku bodoh sekali mempercayai ucapan ayahnya Tasya dan tidak percaya pada ucapan suamiku sendiri." Rama mengangkat alisnya, ia terlihat bingung.


"Rio menemui kamu?"


"Kami tidak sengaja bertemu, ia menceritakan semuanya."


"Kamu bertemu Rio, berdua?" Gemas saat ia mulai menunjukkan sifat possesif dan cemburunya, pasti ia berpikir kami sengaja bertemu dan hanya berdua dalam pertemuan itu. Ide jahilku tiba-tiba saja muncul untuk membuatnya cemburu.


"Tentu saja, habis mau bagaimana lagi, suamiku tidak menghubungiku sama sekali, sesekali boleh lah jalan berdua dengan Pria lain, anggap saja penghilang penat," ucapku santai.


"Tidak boleh Amanda, Arghhhh ...." Benar saja ia cemburu, ekspresinya terlihat kesal. Dengan posisi ia yang terduduk saat ini, ia menarik pinggangku, menyampingkan rambutku yang terurai. Aku merasakan tangan Rama menarik tengkukku, menengadahkan wajahnya ke arah wajahku, lalu tanpa aba-aba bibirnya ******* bibirku. Aku terengah saat ia melepaskan bibirku dari kuasanya.


Ciuman Rama selalu membuat aku hilang akal, kurasakan hasrat kami semakin menggebu setelah menikah. Aku tidak memikirkan bahwa saat ini kami sedang di rumah sakit, sepertinya aku salah telah membuatnya kesal dan cemburu, rasanya seperti membangunkan macan yang tengah tertidur, pasti dia sangat merindukanku sebagaimana aku merindukannya.


~ Bersambung


Jangan mupeng ya ... 🤭

__ADS_1


__ADS_2