
Jangan lupa tinggalkan jejak
💕 Like dan komentar 💕
"Ini mas." Ia segera membuka amplop itu, dan Aku terkejut dengan isinya, hatiku terasa di remas-remas, tubuhku sudah tidak mampu untuk berdiri, Aku terduduk lemas tanpa ekspresi dengan air mata yang mulai menerobos keluar dari pelupuk mataku. 'ya Allah apalagi yang akan terjadi dalam hidupku? Sangat sayang 'kah engkau terhadap diri ini hingga memberikan cobaan padaku lagi?' bisikku dalam hati.
"Ini nggak seperti apa yang kamu lihat Amanda." Aku hanya bisa meneteskan air mata. "ini memang Aku, tapi Aku tidak melakukan apapun seperti yang terlihat di foto." Rama mengakui dirinya di foto itu.
"Bagaimana Aku bisa percaya kamu tidak melakukan apapun, Mas?" Aku menyentuh dadaku yang terasa sesak kemudian menenggelamkan wajah di balik kedua tanganku.
"Tolong jangan seperti ini Amanda, tolong hentikan tangismu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini." Ia berusaha memelukku tapi dengan cepat Aku menepisnya.
"Jangan sentuh Aku, Mas ... Aku jijik, tangan itu sudah menyentuh wanita lain bukan hanya Aku, bahkan lebih dari satu wanita yang kamu ajak untuk melayanimu." Foto itu menampilkan sosok Rama dengan tidak berpakaian sedang tidur dengan wanita yang berbeda. Amplop yang kuterima adalah foto-foto kemesraan Rama dengan wanita lain. Rama seorang pengusaha, bukan hal asing lagi di kelilingi oleh wanita bayaran di kehidupan dunia bisnisnya bersama klien dan rekan sesama pengusaha, pikiran itu yang meruntuhkan kepercayaanku terhadapnya.
"Amanda dengarkan penjelasanku, ini semua jebakan dari om Herman, dia ayahnya Tasya dan juga Tasya untuk menghancurkan rumah tangga kita. Kamu bilang sendiri 'kan rumah tangga kita harus dilandaskan saling percaya satu sama lain, lalu kenapa kamu nggak percaya sama Aku?"
"Memang Aku mengatakan hal itu, Mas. Tapi bukan berarti Aku menutup mata dengan bukti foto yang Aku lihat."
"Lalu Aku harus bagaimana, Amanda?" Ia duduk bersimpuh di hadapanku dengan raut wajah muram, menenggelamkan wajahnya di pangkuanku. Aku menghapus air mataku, menetralkan segala emosi yang membuncah di dada.
"Berikan Aku bukti bahwa semua ini tidak benar." Ia mendongakkan kepalanya hingga netra kami bertemu. "Sebelum kamu memberikan bukti bahwa foto itu hanya sebuah jebakan, jangan temui Aku, biarkan Aku menenangkan diri," lanjutku.
Ia menggenggam dan mencium punggung tanganku, seketika Aku refleks menariknya. Dan berjalan cepat ke arah luar kamar untuk menghindarinya sambil tetap memegang foto itu ditanganku, langkahku terhenti ketika kulihat, Atma, Janu dan Gita.
Melihat kedatangan mereka, seketika Aku memeluk Gita dengan menangis, rasanya sangat sakit ketika melihat suami yang dicintai tidur dengan banyak wanita di sisinya walaupun hanya melihat dari sebuah foto cukup membuat hati ini terasa sakit.
"Kak, apa yang terjadi?" Aku hanya bisa menangis, foto yang kugenggam ditarik oleh Janu, setelah melihat foto itu Janu melebarkan matanya, rahang mengeras, dan tangannya mengepal.
"Ini semua tidak seperti yang kalian lihat dalam foto itu, Aku mohon dengarkan penjelasanku. Ini semua jebakan dan fitnah dari Tasya," ucap Rama memohon.
"Jadi begini caramu menjaga wanita yang telah Aku amanahkan untukmu, brengsek ...." Janu menarik kerah baju Rama. "seandainya tidak ada Atma disini Aku akan menghabisimu." bisiknya pelan ditelinga Rama, tetapi Aku masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Sudahlah, Kak mungkin saja apa yang dikatakan Mas Rama benar. Kita tidak boleh menghakimi Mas Rama hanya dari sebuah kiriman foto dari orang yang tidak dikenal."
"Pa ... Mama kenapa? tanya Atma menghentikan pembicaraan kami.
"Hanya salah paham sayang, jadi Mama sedih." Rama menjawab dengan tenang pertanyaan Atma.
"Mama marah sama Papa?"
"Mama tidak apa-apa, Atma jangan khawatir, Mama hanya sedikit marah sama Papa, semua akan baik-baik saja," jawab Rama, Atma pun hanya mengangguk sebagai jawaban karena mungkin bingung dengan situasi saat ini.
"Kak, antar Aku ke rumah Ummik." Aku meminta Janu untuk membawaku pergi dari rumah ini.
"Tidak akan ada yang pergi dari rumah ini," ucap Rama dengan tegas. "Aku tidak sanggup tinggal di rumah tanpamu dan juga Atma."Â
"Mas Rama, biarkan Kakak tenang dahulu di rumah Ummik, ijinkan Aku dan Kak Janu membawa Kakak dan Atma kerumah," pinta Gita.
Tanpa mendengar jawaban dari Rama, Aku mengemasi pakaian yang dibutuhkan dengan air mata yang masih keluar dari pelupuk mata.
"Atma menginap di rumah Nenek dulu ya, Pa ...." Atma memeluk Rama dengan sayang, seperti berat untuk meninggalkan Rama di rumah sendiri.
"Jaga Mama ya anak tampan," ucap Rama sendu mencium kening Atma. Sebenarnya tidak tega meninggalkan Rama, hanya saja Aku membutuhkan ketenangan agar berpikir objektif dengan masalah yang tengah Aku hadapi. Rama hanya terpaku diam menatapku ketika Aku melewatinya dan masuk ke dalam mobil Janu.
[Bu, Amanda dan Mas Rama sedang ada masalah, saat ini Amanda tinggal di rumah Ummik beberapa hari untuk menenangkan diri. Amanda minta Ibu menemani Mas Rama, ia sedang sakit, Amanda khawatir dengan keadaannya. Doakan masalah kami cepat selesai ya Bu.] Aku mengirim pesan ke Ibu untuk menemani Mas Rama, walaupun kecewa terhadapnya tetap saja sebagai seorang istri Aku mengkhawatirkan dirinya.
Dalam perjalanan menuju rumah Ummik, Atma tertidur, seperti ia lelah bersekolah hari ini.
"Maaf, Aku sudah merepotkan kalian."
"Tidak apa-apa Kak," jawab Gita.
"Maaf tadi Aku sempat emosi pada Rama, seharusnya Aku tidak bersikap seperti itu," ucap Janu, Aku hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dari cara Kak Janu melindungi Kak Amanda, Aku tahu masih ada rasa cinta untuk Kak Amanda," ucap Gita dengan memaksakan senyuman diwajahnya, tapi aku paham ia menyembunyikan kesedihan di hatinya.
"Dek ... jika memang Kakak membuat kamu ragu untuk menikah dengan Kak Janu, lebih baik Kakak menjauh dari kehidupan kalian."Â
"Maafkan Gita, Kak. Bukan maksud Gita meminta Kakak jauh dari kami, hanya saja rasanya menyakitkan ketika calon suami masih memiliki rasa cinta untuk orang lain."
"Butuh waktu untuk melupakan seseorang bahkan mengubur dalam cinta yang sudah lama menghuni hatiku, Gita. Aku mohon beri sedikit waktu untukku, tetaplah disisiku Gita, tetaplah menjadi istri untuk masa depanku, jangan pernah berpikir pergi atau menjauh dariku hanya karena perasaan cinta yang masih ada dalam hatiku untuk Amanda." Kudengar Janu berusaha meyakinkan Gita.
"Maafkan Kakak sudah membuatmu sedih, percayalah apa yang diucapkan Kak Janu. Dia membutuhkan kamu disisinya, Kakak ingin kalian bahagia, sebagaimana kalian menginginkan Aku dan Atma bahagia," sahutku yang juga ikut meyakinkan Gita.
"Akulah yang seharusnya kalian salahkan, Aku yang memilihkan jalan kebahagiaan Amanda dengan merelakannya untuk Rama, padahal bukan hal mudah mengubur rasa cinta ini. Tapi percayalah kelak kamu adalah wanita yang akan menggenggam hati ini bukan siapapun." Janu berusaha meyakinkan Gita lagi.
"Maafkan Aku, Kak. Bukan maksudku menyalahkan Kakak. Aku akan berusaha menggapai cinta Kak Janu, karena Aku yakin dia Pria dan calon suami yang pantas untuk diperjuangkan." Gita memelukku dan menangis di pelukanku, kami larut dalam kesedihan masing-masing, sebagai manusia kami hanya bisa melalui semua yang telah ditakdirkan Nya dengan ikhlas apapun yang akan terjadi.
Kami tiba di rumah Ummik, Abi dan Ummik terlihat kaget setelah melihat Aku membawa banyak baju dalam tas, dan Aku menceritakan semua yang terjadi.
"Kamu yang sabar, jangan mengambil keputusan apapun ketika hatimu masih diliputi emosi," ucap Abi setelah aku menceritakan semuanya.
"Iya, Abi. Amanda hanya menenangkan diri dulu di sini sampai Amanda bisa mengendalikan emosi. Dan tidak akan mengambil keputusan apapun apalagi keputusan untuk mengakhiri pernikahan, hanya ingin meyakinkan diri saja, Bi."
"Syukurlah jika memang seperti itu."
"Iya, Nak. Jangan sampai kamu menyesali keputusan yang kamu ambil nantinya, anggaplah ini ujian dalam rumah tangga kalian." Ummik dan Abi berusaha menenangkan diriku dengan berbagai nasihat yang mereka berikan agar Aku tidak mengambil keputusan yang salah. 'semoga Aku bisa melewati ujian demi ujian yang diberikan Nya agar kelak merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga kami.' Doaku dalam hati.
"Ma, Papa sedang apa ya di rumah, Atma kangen."
Deg ... baru saja meninggalkan rumah beberapa jam, Atma sudah merindukan Rama. Sebegitu besar kasih sayang Atma untuk Rama, begitupun sebaliknya, tapi Aku tidak bisa kembali saat ini, Aku butuh meyakinkan diri untuk menerima semua kenyataan yang akan Aku hadapi nantinya. Aku sedang mengalami trauma kegagalan sebuah pernikahan, banyak ketakutan yang hadir dalam hatiku, bahkan sekedar percaya pada Rama terasa sangat sulit untukku.
~Bersambung
Dear pembaca,
__ADS_1
Sudah masuk ke konflik ya, tersisa 13 part lagi menuju ending