Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 68


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Rama memerintahkan 2 orang itu keluar dari kafe, Rio membantu Rama menarik salah satu dari mereka.


“Masuk!”


2 orang yang masih samar identitasnya hanya bisa menurut, tatapan Rama yang tajam menyiutkan nyali mereka terlebih mereka pun merasa bersalah.


“Jangan memberontak! Saya tidak segan menghabisi kalian, jangan pernah macam-macam dengan Rama Alfarez,” ancam Rio yang duduk di belakang menahan pergerakan mereka.


“Maaf ... kami hanya menjalankan tugas yang diperintahkan, tidak ada sangkut pautnya dengan anda Pak,” kata salah satu orang dengan tubuh bergetar karena takut.


Rio memegang senjata kejut setrum berbentuk stik tidak terlalu panjang berwarna hitam, sekali di tekan akan mengalirkan tenaga listrik yang cukup membuat jantung mencelos hingga dengkul.


Rama fokus menyetir, sambil terus berpikir apa yang akan ia lakukan untuk memberikan hukuman pada rivalnya yang masih diam-diam menyimpan dendam.


“Di mana kantor kalian?” tanya Rama dengan suara dingin.


“Tower Triangle Group, lantai 12.”


“Jadi benar, kalian orang suruhan Pak Herman, tua Bangka tak tahu diri yang hampir menghancurkan rumah tangga saya dengan siasat busuknya.”


“I-iya.”


Rama terus mengemudikan mobil, memutar setir dengan kecepatan sedang menuju kantornya.


“Apa yang anda rencanakan, Bos?” tanya Rio yang masih bingung dengan jalan pikiran Rama, kenapa bosnya itu malah ke arah kantor bukan ke alamat Tower yang diberitahu salah satu orang suruhan Pak Herman.


“Ikuti saja permainanku, rasanya Pak Herman harus diberikan pelajaran lebih dari kemarin.” Rama menyeringai, ia sudah merencanakan suatu hal besar untuk kehancuran rivalnya itu.


Tidak! Rama tidak akan menjadi korban permainan Herman untuk kedua kalinya, Tasya bukan lah siapa-siapa dan tidak penting untuknya. Kebencian Rama kini diubun-ubun, terlebih masih mengingat bagaimana mereka menjebak dirinya hingga kesalah pahaman antara dirinya dan sang istri—Amanda.


**


“Ummik!” pekik Gita memeluk erat tubuh Ummik kala kedua orang tuanya itu sampai di rumah keluarga Janu di Australia.


“Bagaimana kabarmu Sayang, masyaallah kenapa tubuhmu jadi melebar,” ledek Ummik dengan sapaannya.


“Ummik!” tegur Abi yang sudah melihat Gita mengerucutkan bibirnya.


“Bercanda, Sayang. Tetap cantik anak Ummik,” kata Ummik memeluk erat tubuh Gita yang lebih berisi karena memberikan ASI.

__ADS_1


Janu keluar kamar menggendong Daren dan menyerahkan tubuh Daren pada Abi yang langsung menerima tubuh bayi mungil itu dan mengecup pipi sang cucu.


“Ini cucu ke-4 Abi, Ummi,” kata Abi tersenyum sumringah.


“Sini Bi, gantian Ummik mau gendong juga.”


Giliran Abi menyerahkan tubuh cucunya ke sang istri, Ummik mendekap sayang tubuh baby Daren. Mereka akhirnya bercengkrama bersama di sambut oleh kedua orang tua Janu juga yang sudah saling mengenal satu sama lain bahkan sebelum Janu dan Gita menikah.


Obrolan ringan dengan penuh kehangatan tercipta di ruang keluarga rumah orang tua Janu, semua kejadian yang menimpa keluarga Amanda pun diceritakan. Janu bahkan geram dengan sikap ibunya Denis yang terkesan egois dan sesuka hati, obrolan terus mengalir di antara mereka hingga waktu tak terasa sudah malam.


“Kak.”


“Hmmm.”


“Aku ingin kembali ke Indonesia, bolehkah?” tanya Gita yang memeluk tubuh Janu saat mereka bersiap pergi ke alam mimpi.


Malam ini Daren tidur bersama Ummik dan Abi, Gita sudah menyiapkan ASI perah. Tubuh Gita sedang sedikit kelelahan akibat begadang setiap hari, padahal Janu setia menemani tapi tetap saja melelahkan untuk Gita.


“Kamu akan meninggalkan suamimu ini di sini sendiri, memangnya tega? Memangnya tidak rindu, hmmm?” tanya Janu tetap lembut meski ada nada menolak di dalamnya.


Bagaimana mungkin Janu membiarkan sang istri dan anak yang baru lahir dan sedang bahagia-bahagianya jauh dari sisi Janu? Setiap di kantor dari siang sampai sore saja Janu sudah merasakan rindu luar biasa.


“Aku hanya ingin liburan di sana, Kak. Ingin bertemu dengan Kak Amanda, Mas Rama, Atma dan melihat si kembar. Tidak lama hanya sebulan.”


“Sehari saja aku tidak sanggup, bagaimana mungkin sebulan? LDR dalam rumah tangga itu sangat berbahaya untuk keharmonisan, Sayang. Percayalah ... jangan memberikan celah untuk orang ketiga di antara kita atau celah di mana kita akan mengedepankan emosi dan ego jika berjauhan,” terang Janu yang masih dalam mode memberikan perhatian untuk Gita.


“Lalu, bagaimana solusinya, Kak? Aku ingin sekali,” pinta Gita agar Janu memberikan jalan tengah atas keinginan dirinya agar bisa tercapai tanpa menanggung resiko apa pun.


Sejenak Janu diam, berpikir lalu ia mengambil kalender meja dan membolak-balikkan kalender guna melihat bulan dan tanggal sambil menyesuaikan serta mengingat jadwal yang berhubungan dengan pekerjaannya.


“Aku akan mengosongkan jadwal 2 minggu lagi, Sayang. Kita akan liburan ke Indonesia tapi aku tidak membiarkan dirimu pergi berdua dengan Daren dan meninggalkan aku sendiri di sini.”


“Memang kenapa, Kak?”


Janu menarik hidung Gita sambil tersenyum lebar.


“Mana sanggup suamimu ini jauh dari istri kecil yang menggemaskan sepertimu, sepi, membosankan, dan tidak berwarna tanpamu, Sayang,” terang Janu menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah sang istri lalu memberikan kecupan di kening Gita dengan sayang.


“Tapi kalau di pikir, aku pun takut jika perempuan penggoda itu datang menggodamu, Kak. Ohh! Aku tidak rela jika ia berhasil mengambil Daddy Daren dengan rayuan kata-kata sayang, sungguh menggelikan, Kak.”


Janu tertawa mendengar dan melihat ekspresi Gita yang benar-benar tidak rela jika hal itu terjadi, memutar bola mata malas sambil bersedekap dada.

__ADS_1


“LDR itu ibarat hantu, Sayang.”


“Loh kok gitu?” tanya Gita dengan kerutan di dahi.


“Bisa mendengar suara bahkan gambar tapi tak ada wujudnya untuk bisa dipeluk seperti ini,” kata Janu yang langsung memeluk gemas Gita sampai posisi sang istri berada di bawahnya.


Tatapan mereka terkunci, Janu sudah mengikis jarak wajah mereka menempelkan bibirnya dan memberikan kecupan panas yang menuntut. Tangannya bergerilya membuka kancing demi kancing baju Gita, meremas dua gundukan kembar dengan sangat lembut sambil terus memperdalam tautan.


“Ahh, Kak.” Desahan Gita membuat hasrat Janu semakin tinggi dan tertantang. Untuk pertama kalinya setelah masa nifasnya selesai mereka melakukan penyatuan, melebur rasa rindu dengan desahan kenikmatan surga dunia.


**


“Saya sudah menandatangani sesuai keinginan bos kalian ‘kan?” tanya Rama meremehkan dan tersenyum puas.


Rama membuat surat perjanjian yang baru di mana semua keadaan berbalik, perusahaan Pak Herman yang akan dirugikan dengan bayaran besar yang Rama dapatkan. Kedua orang kepercayaan Pak Herman melakukan perintah yang dilakukan Rama, membuat surat secara resmi antara dua perusahaan. Secara hukum tentu Rama akan menang, karena semua tanda tangan sudah dibubuhi materai bahkan memanggil lawyer.


Stik listrik selalu dipegang Rio, untuk menakut-nakuti. Rama berada di atas angin ketika keduanya sudah diperbolehkan pulang saat sudah merampungkan surat perjanjian yang kali ini di susun oleh Rama bukan pihak perusahaan Pak Herman.


Rama melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari, menyelesaikan semua pekerjaan secepatnya agar bisa berkumpul dengan ketiga anaknya di rumah. Emosi Rama pun mereda, ia paham tidak akan melakukan kekerasan fisik karena justru akan merugikannya, walaupun emosi sudah di ubun-ubun. Dengan kecerdasan dan ketelitian Rama, ia bisa membuat rivalnya mati kutu.


“Sudah tidak ada agenda lagi kan, Rio?” tanya Rama.


“Ada ... menjemput istriku di rumah sakit,” sahut Rio dengan cengiran khasnya.


“Itu bukan urusanku!”


“Memang ... Anda kan hanya nanya agenda, tidak ada embel-embel agenda kantor,” sangkal Rio.


“Hahh! Terserah kamu saja lah! Kita tetap pulang bersama, menjemput istri kita yang berprofesi Dokter, hahh! Beruntung sekali kamu Rio mendapatkan Dina—sahabat istriku.”


“Orang baik akan berjodoh dengan yang baik juga, percaya akan hal itu maka akan terwujud,” kelakar Rio diiringi tawa mereka berdua.


Rama sudah merapikan meja, bersiap-siap pulang. Mereka keluar ruangan dan ke arah parkir mobil secara beriringan, tanpa disadari ada seseorang yang mengintai mereka dari kejauhan dengan seringai jahat.


“Target sudah keluar dari gedung kantor,” kata seseorang melaporkan posisi Rama dan Rio melalu sambungan telepon.


**


~Bersambung~


Tarik napas dalam-dalam sebelum baca part selanjutnya yaa ....

__ADS_1


Sudah di buat group chat untuk sahabat pembaca Lisfi stories, boleh bergabung jika berkenan. Bisa saling sharing tentang apa pun di group chat.


Terima kasih untuk supportnya, love sekebon untuk semuanya.


__ADS_2