Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 40


__ADS_3

...Tinggalkan jejak...


...๐Ÿ’• Like dan Komentar ๐Ÿ’•...


"Sebaiknya Mas di kamar istirahat deh, daripada hanya duduk sambil tersenyum nggak jelas seperti itu." kataku kesal, melihat Rama yang bertingkah aneh. Entah apa yang dipikirkannya, aku tidak bisa menebak, setelah tahu kehamilanku, sejak siang ia mengikuti kemanapun langkahku, terlihat aneh, lucu sekaligus menyebalkan.


Rama menggeleng, "maunya nemenin kamu aja, mual akan hilang ketika dekat denganmu sayang."


"Sejak kapan Mas bisa menggombal?" tanyaku penuh selidik.


"Ini jujur Amanda, melihat dan mencium aroma tubuhmu menghilangkan rasa mual, sepertinya anak kita ingin selalu aku berada di sisi kalian." Rama mendekat, memelukku dari belakang, dan mengendus aroma tubuhku.


"Mas, kamu jangan macam-macam deh, aku sedang memegang pisau."


"Aku hanya ingin memeluk anakku, masa tidak boleh ...." Ia tetap melakukan hal itu tanpa berhenti, aku menghentikan aktivitas mengiris sayuran, membalikkan tubuh ke arahnya. Dengan sengaja aku mencium bibir Rama dan sedikit mencecapnya, Rama ingin membalas ciuman mendadak yang aku berikan tapi aku segera melepasnya dan bergumam.


"Biarkan aku selesaikan kegiatan memasakku, oke?" Rama malah menyerukkan wajahnya di leherku.


"Mama ...." Atma datang tiba-tiba dan berteriak memanggil namaku, kami menoleh, ternyata ibu menutup mata Atma dengan kedua tangannya.ย 


"Kalian kalau mau bermesraan jangan di dapur seperti ini, ckkk ... Kamu juga Rama, ngapain sih kamu di dapur? Sana istirahat!!!" Omel Ibu pada kami, rasanya aku malu sekali, ini semua gara-gara Rama yang bersikap sangat manja padaku. Menyebalkan ....


"Mama sama Papa kok pelukan di dapur? Kenapa wajah kalian sangat dekat sekali." untung saja Atma hanya melihat wajah kami yang dekat, tidak melihat bibir kami yang menyatu. Aku bisa bernafas lega akhirnya.


Rama menghampiri Ibu dan Atma dengan santai, ekspresinya biasa saja seperti tidak terjadi apa pun tadi. Ia menggendong Atma dan mendudukkan tubuh Atma pada kursi.


"Atma dan Omma pasti senang mendapatkan kabar ini. Mama Amanda sekarang sedang mengandung adik Atma, makanya tadi papa memeluk dan mendekat ke wajah Mama." Atma langsung turun dari kursi dan berlari memelukku.


"Alhamdulillah, Ibu akan punya dua cucu, pasti tambah bahagia rumah kita jika ia sudah lahir." Ibu juga menghampiriku dan memelukku.


"Yeahh ... Atma akan punya adik bayi, adik bayi masih di dalam sini ya ma?" tanya Atma sambil menunjuk arah perutku.


"Iya sayang," jawabku tersenyum.


"Atma harus menjaga Mama dan adik ya kalau Papa sedang tidak bersama kalian."


"Siap Bos."


Bahagia melihat kebahagiaan keluarga kecilku sekarang, semoga semuanya berjalan dengan baik, kami semua diberikan kesehatan terutama anak yang aku kandung saat ini.


Hoekkk ... Hoekkk ....


Rama berlari kearah kamar mandi, kami tertawa geli melihatnya, badan yang kekar kini mengalami mual layaknya Ibu hamil.


"Papa lucu kalau lagi hoek hoek seperti itu ya Omma."


"Biar Papa merasakan nikmatnya seorang wanita yang tengah mengandung."


"Sudah dua Minggu Mas Rama seperti itu Bu, semoga tidak menggangu pekerjaan dia nantinya, Amanda terkadang tidak tega melihatnya."


"Mual Rama tidak seberapa dibandingkan rasa sakit dan melahirkan anaknya nanti, biar saja, yang terpenting menantu dan cucu Ibu sehat, bisa makan apa pun yang diinginkan, ini adalah balasan karena dia telah membuatmu hamil," ucap Ibu yang tidak bisa menahan tawanya, aku pun tertawa dengan ucapan Ibu,ย balasan karena telah membuatku hamil,ย rasanya kalimat ibu terdengar sangat konyol tapi cukup membuat kami tertawa geli setelah mendengar ucapan itu.


Sepertinya jarang yang mengalami kejadian sepertiku, dimana istri yang mengandung tapi suami yang merasakan morning sickness sepanjang hari.


"Amanda, Ibu pikir ada baiknya Bik Tarsih menetap di rumah ini saja untuk membantumu. Ibu yang akan mencari pengganti Bik Tarsih untuk mengurus rumah yang di Bandung," ucap Ibu.ย 


Rumah yang kami tempati tidak mewah dan tidak begitu besar,ย memiliki empat kamar di dalamnya, desain rumah kuno, Rama sendiri yang mendesain rumah ini. Oleh sebab itu Aku bisa memegang semua kegiatan mengurus rumah tangga di sela kesibukanku, asisten rumah tangga hanya mengurus kebersihan rumah datang setiap pagi dan sore akan pulang.


Aku tidak bisa melakukannya sendiri kali ini, aku membutuhkan seseorang untuk membantu mengurus Atma dan menemani aku di rumah jika Rama sedang berada di Bandung karena aku juga harus menjaga kesehatan anak yang kukandung.


"Ibu atur saja bagaimana baiknya, apa pun itu Amanda setuju."ย 


"Ya sudah biar Ibu yang meneruskan masak, kamu urus Atma, setelah itu istirahat."

__ADS_1


"Baiklah Bu."


Aku melangkahkan kaki menuju kamar, tidak sengaja mendengar obrolan Atma dan Rama saat sudah memegang gagang pintu untuk bersiap membukanya.


"Pa, nanti ketika adik lahir, jangan tinggalkan kami ya!"


"Kenapa Atma berbicara seperti itu? Papa sangat menyayangi kalian, tidak mungkin Papa meninggalkan kalian."


"Atma hanya tidak mau jika nanti adik bayi tidak mempunyai Papa seperti Atma kecil, rasanya sangat tidak enak terlebih jika ada teman yang mengejek," ucap Atma sambil membenarkan posisi kacamatanya. "Jangan seperti Om Denis yang meninggalkan Atma saat masih bayi."


"Sayangnya Papa, jangan mengingat yang sedih karena sekarang kita sudah bahagia, Atma dari dulu bayi, sekarang dan nanti akan tetap jadi anak yang Papa sayang, begitupun nanti adik bayi. Jangan berbicara sesuatu yang akan membuat Atma sedih, oke? Janji?" ucap Rama sambil mengelus pucuk rambut Atma.


"Janji." Atma akhirnya tersenyum lebar.


"Apa Atma sudah memaafkan Om Denis? Bagaimana pun dia adalah Papa kandung Atma."


"Om Denis bukan Papa Atma. Hanya Papa Rama yang menjadi Papa Atma tidak untuk yang lain."


Aku memundurkan langkah berbalik menjauh dari kamar, memberikan ruang pada Atma dan Rama mengungkapkan apa pun yang mereka pikirkan dan rasakan sebagai sesama laki-laki walaupun beda generasi. Rama selalu menjadi sosok yang bisa mengendalikan Atma, membentuk rasa bahagia pada diri Atma dengan ucapan dan sikap hangatnya.


Bagaimanapun perceraian dalam rumah tangga akan memberikan kesedihan tersendiri terhadap psikologi seorang anak, tapi apa dayaku ketika takdir Nya membuat hidupku penuh lika liku, merasakan pahitnya berumah tangga. Tapi dari kegagalan pernikahanku sebelumnya, kini aku mendapatkan kebahagiaan, inilah proses kehidupan yang mesti dijalani setiap insan manusia, tidak melulu tentang kebahagiaan, karena sejatinya kita akan melewati rintangan dengan kesedihan di dalamnya terlebih dahulu.


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


[Kak, datanglah keacara pernikahanku besok, Gita mohon.] pesan dari Gita dalam ponselku.


[Kakak sudah pernah membicarakan ini sebelumnya 'kan? Kakak tetap pada pendirian, tapi percayalah doa terbaik dari Kakak agar rumah tangga yang akan kamu jalani bersama Kak Janu selalu dilimpahkan kebahagiaan.]


[Ummik dan Abi pasti akan kecewa.]


[Pikirkan perasaan dan kebahagiaanmu saja. Ummik dan Abi sudah kakak beri penjelasan, dan memahami semuanya.] Aku sudah memberikan penjelasan pada Ummik dan Abi tentang hal ini dan mereka menyetujui keinginanku dan memahaminya, itulah yang membuat keputusanku tidak bisa diganggu gugat karena semua mendukungnya.


[Gita sayang Kakak, terimakasih sudah menjaga perasaan Gita, meskipun tetap saja Gita sedih jika Kakak tidak datang.]


Inilah yang menjadi keputusanku ketika melihat Gita menangis karena rasa cemburu yang di rasakannya padaku terhadap Janu, aku tidak akan menyakiti hati adikku sendiri meski kami tidak dilahirkan dari rahim yang sama. Menjauhi kehidupan Janu dan Gita menjadi keputusanku agar kami tidak terlibat konflik dalam rumah tangga kami masing-masing, Rama yang cemburu terhadap Janu, begitupun Gita yang cemburu terhadapku.ย 


Tidak kupungkiri ada rasa sedih yang menelusup dalam relung hatiku dengan keputusan itu karena bertemu Ummik, Abi dan Gita tidak seleluasa dulu, aku harus menjaga batasan untuk keutuhan keluarga kami. Aku sadar diri, aku hanyalah anak angkat keluarga Abi dan Ummik. Aku berpikir seperti itu bukan berarti tidak menganggap Ummik dan Abi orangtua kandung hanya saja selayaknya aku juga harus mementingkan kebahagiaan mereka yang telah membantu dan menyayangi aku dengan tulus. Namun, hatiku terobati oleh kehadiran Ibu yang menjadi pengganti orangtua dalam hidupku, ia sangat menyayangi aku dan Atma.


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


Hari ini adalah pernikahan Dina dan Rio yang digelar, Rama dan Aku hadir dalam pesta pernikahan itu. Aku memaksa Rama agar membolehkanku ikut ke pesta bersamanya, setelah mengetahui kehamilanku Rama benar-benar membatasi kegiatan yang aku lakukan, hanya tugas sebagai dokter yang tidak bisa ia batasi karena itu merupakan tanggung jawabku.


"Harus ya sayang kamu ikut?" tanya Rama sembari memperhatikan aku yang tengah memoles wajah dengan riasan untuk menyempurnakan penampilan.


"Mas, Dina itu sahabatku sekaligus rekan kerjaku, rasanya nggak pantas jika aku tidak datang," ucapku sambil memilih baju yang akan kupakai. "Lebih bagus yang mana Mas? Ini atau ini?" tanyaku menunjukkan dua baju yang masih bingung untuk kupakai.


"Apapun yang kamu pakai bagus, sayang ...."


"Itu 'kan menurut Mas."


"Iya dong menurut Mas, masa menurut pria lain, atau kamu jangan-jangan menginginkan pria lain yang memuji, hmm?"


"Bukan begitu maksudku, mas bilang seperti itu karena sering melihatku ya jadi bilangnya begitu, bagus bagus saja padahal nggak bagus," ucapku berbalik ke arahnya dan tersenyum.


"Duh jangan tersenyum seperti itu, nambah gemesin, nambah manis."


"Helehh Mas, kamu gombalnya kaya anak ABG aja." Ia malah tertawa mendengar ucapanku.


"Sudah jangan terlalu cantik, cantiknya kamu hanya untukku sayang jangan berbagi ke siapapun. Nanti ada yang naksir kamu tambah repot Mas mu ini." Seloroh Rama sambil mengambil dress biru navy yang dipilihkannya untuk dipakai olehku.


"Mana ada yang naksir wanita hamil, Mas, ckkkk ...."


"Baguslah jika seperti itu," sahutnya sambil tertawa.

__ADS_1


Setelah penampilanku di rasa telah sempurna, aku mendekati Rama yang sedang membetulkan letak dasi yang di rasa kurang pas, tanpa di minta dengan sigap aku merapihkan letak dasinya.


"Sini Mas, aku rapihkan." Aku pun membetulkan simpul dasi biru muda motif milik Rama yang sangat cocok dengan kemeja biru navy yang ia pakai. "Nah, sudah rapih dan terlihat sangat tampan,"ucapku tersenyum sambil mengelus dasi yang sudah terpasang rapih.


Cup ....


Sebuah kecupan mendarat sempurna di bibirku.


"Apaan sih Mas, ishh ...."ย 


"Nggak nahan aku jika dekat seperti ini." Ia tersenyum nakal ke arahku, aku hanya bisa memanyunkan bibir sebagai tanda protes atas kecupan yang cukup membuatku kaget.


Suasana ballroom hotel sudah ramai dengan para tamu undangan dari berbagai kalangan, pengusaha, maupun dokter serta petinggi manajemen rumah sakit semua turut serta hadir.ย 


"Hai Rama, apa kabar?" Dua orang Pria menghampiri Aku dan Rama, sepertinya mereka teman yang cukup akrab dengan Rama.


"Amanda tinggal mengambil air dulu ya Mas, silahkan dilanjutkan ngobrolnya." Aku pamit dan melepaskan genggaman tangan Rama.


Suasana cukup ramai di pesta ini, aku mendekati meja yang berisikan air mineral yang disusun menumpuk keatas, tapi aku tidak sengaja menabrak seseorang ketika akan mengambil air.


"Maaf saya tidak ...." Kalimatku terputus ketika mendapati sosok Pria yang berada di depanku.


"Amanda?"


"Feri?"


"Iya, aku kira kamu akan lupa, kamu tetap seperti dulu Amanda, tetap ... cantik ...." Feri adalah kakak tingkatku saat kuliah bersama Dina, dia Pria yang juga mengejarku saat masa-masa kuliah dulu tapi aku selalu menolaknya karena ia termasuk Pria yang suka mempermainkan wanita bahkan pacar seperti koleksi untuknya. "Ah iya, bagaimana kabarmu?" Ia menjulurkan tangannya.


"Baik, dok ...."


"Ah rasanya aneh jika kamu memanggilku dokter, kita 'kan sama-sama dokter, kenapa tidak memanggilku seperti dulu , Kak Feri, ya ... Aku rindu panggilan itu."ย 


"Maaf dok, saya tidak bisa berlama-lama."


"Ayolah Amanda kita mengobrol sebentar saja, sudah lama 'kan kita tidak bertemu."


"Maaf dok, saya buru-buru."


"Jangan seperti ini Amanda, anggap saja kita berteman, hanya mengobrol sebentar tidak masalah kurasa."


"Maaf saya permisi." Tapi bukan menyingkir Feri malah menghadang langkahku dan menarik lengan tanganku.


"Lepaskan tangan anda dari istri saya." Aku bernapas lega setelah mendengar suara seseorang yang berada di belakangku.


"Sayang, ayo kita ke atas panggung memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai." Rama menarik tanganku dan setelahnya melingkarkan tangan di pinggangku dengan possesif menunjukkan pada Feri kepemilikannya atas diriku. Kami pun memberikan ucapan selamat kepada mempelai, Dina terlihat sangat cantik dan bahagia, serasi bersanding dengan Rio.ย 


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


Sepulangnya dari pesta, Rama hanya diam selama perjalanan, kalau mode seperti ini pasti ia sedang menahan emosi agar tidak marah padaku, ia pasti sedang merasakan kesal dan cemburu dengan kejadian di pesta tadi. Aku hanya bisa memakluminya, dan memberikan waktu padanya untuk mengendalikan emosi agar tidak terjadi pertengkaran.


"Atma sudah tidur, Bu?" tanyaku pada Ibu saat kami sudah sampai rumah.


"Sudah sedari tadi." Rama melewati Ibu dan Aku begitu saja tanpa sepatah katapun sambil melonggarkan dasinya dengan wajah tertekuk. "Kenapa?" tanya Ibu bingung dengan sikap Rama.


"Salah paham, Bu"


"Ya sudah, tenangkan Rama, sana!"


Akupun mengiyakan ucapan Ibu, dan berjalan menuju kamar. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, aku duduk di pinggir kasur menunggu Rama,ย 


Tring ... Tring ... Tring


Pesan beruntun masuk di ponsel Rama, menampilkan nama pada layar ponsel Rama yang membuatku kaget. Dia adalah Tasya, ada rasa kecewa ketika Rama masih berkomunikasi dengannya tapi kali ini aku tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan. Penasaran aku membuka ponsel Rama yang tidak menggunakan mode pengaman.ย 

__ADS_1


Klik .... Pesan dari Tasya pun terbuka.


__ADS_2