Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 81


__ADS_3

“Sayang, kok diam?” tanya Denis yang melihat Atma hanya menatap tanpa berbicara apakah ia setuju atau berkomentar apa pun tentang rencananya menikah dengan Vanya.


“Apa Tante akan jadi Mama Atma juga?” tanya Atma yang akhirnya tersadar dari pemikirannya sendiri.


“Jika Atma mengizinkan Tante untuk jadi Mama kedua untuk Atma, maka Tante dengan senang hati menerima Atma menjadi anak Tante. Hmm ... sekarang Tante yang bertanya, bolehkah Tante menikah dengan Papa Denis dan menjadi Mama Atma yang kedua?” tanya Vanya sangat hati-hati dengan suara lembut.


Denis menanti jawaban yang akan dilontarkan Atma, ia harap-harap cemas khawatir Atma menolak keinginannya untuk menjadikan Vanya Ibu sambung untuknya.


“Bagi Atma Mama Cuma satu, tidak ada yang lain. Atma hanya memiliki Mama Amanda tidak untuk Mama yang lain,” putus Atma yang membuat jantung Denis dan Vanya mencelos karena jawaban yang Atma berikan.


“Tapi, Sayang--”


Vanya melebarkan mata ke arah Denis agar tidak membantah ucapan Atma, melakukan pendekatan lagi dengan Atma.


“Tidak ... tidak apa-apa kalau Atma tidak menerima Tante,” sela Vanya yang membuat Atma tersenyum lebar, ia pikir Vanya akan memarahi dirinya atas keputusan yang sudah dibuat.


“Tapi Atma bisa memanggil Tante dengan sebutan Mommy, bukan Mama,” terang Atma kemudian yang membuat Denis bingung tapi tidak untuk Vanya.


“Tunggu, maksud Atma apa, Sayang? Tidak mau Mama tapi memanggil dengan sebutan Mommy,” sela Denis yang membuat Atma tersenyum lebar.


“Papa masa tidak mengerti? Payah!” cibir Atma.


Bagaimana mau mengerti? Ucapan Atma sulit ia pahami, rutuk Denis dalam hati.


“Papa menikah saja dengan Tante Vanya tapi tidak akan membuat Atma memanggil dengan sebutan Mama, karena untuk Atma Mama cuma satu yaitu Mama Amanda, Tante Vanya cukup dipanggil Mommy bukan Mama,” terang Atma yang akhirnya membuat Denis paham.


Dengan perasaan lega Denis memeluk tubuh kecil Atma cukup erat hingga Atma sedikit mendorong tubuh papanya untuk melapaskan pelukan.


“Terima kasih anak saleh, Papa.”


“Terima kasih, Sayang. Mommy Vanya ... panggilan yang cocok untuk Tante,” kata Vanya semringah.


Kecupan diberikan oleh Vanya dan Denis di kedua pipi Atma, lalu mereka pun secara bersamaan memeluk Atma.


“Tapi nanti jangan galak ya Tante sama Atma kayak di cerita-cerita dongeng yang dijahatin sama ibunya kayak cerita bawang merah-bawang putih,” kata Atma yang membuat tawa Denis pecah.


“Kalau Tante Vanya galak, bilang Papa nanti Papa cubitin pipi Tante Vanya,” seloroh Denis yang membuat Vanya mengerlingkan bola mata malas ke arah Denis.


“Aku tidak setega itu dengan anak kecil, Denis. Ckkkk!” decaknya kesal yang membuat Denis terkekeh.


“Tante janji, kalau Tante galak, Atma boleh bilangin Tante ke Pak polisi biar Tante ditembak, bagaimana?” tanya Vanya yang membuat Atma mengerjapkan mata berkali-kali.


“Tidaklah, kasihan Tante kalau di tembak Pak polisi, gimana kalau Tante galak, hukumannya Tante harus membelikan banyak Atma mainan dan juga coklat untuk Atma dan dedek kembar?” tawar Atma dengan pemikiran sederhananya.


“Okey, siapa takut,” sahut Vanya sambil tersenyum, mengulurkan satu jari kelingking ke arah Atma yang langsung disambut Atma dengan mengulurkan jari kelingking lalu mengaitkan keduanya sebagai pengikat janji.


Melihat penerimaan Atma atas kehadiran Vanya di tengah dirinya dan Atma, Denis tersenyum lega. Setidaknya Atma menerima dan mendukung keputusannya untuk memiliki pasangan hidup, menemani dirinya sampai sisa penghujung usia.


Ketika memiliki seseorang yang mencintai dengan tulus, genggam dan pertahankanlah selama masih memiliki kesempatan. Dia yang mencintaimu adalah dia yang mampu menerima kekuranganmu, tetap bertahan bersama dan bangga memilikimu.


**


“Atma sudah tampan ‘kan, Ma?” tanya Atma pada Amanda yang juga sudah terlihat rapi dengan dress sambil menggendong Amara—salah satu bayi kembarnya.


“Keren, tampan, luar biasa,” kata Amanda mengacungkan satu jempol ke arah Atma.


Rama yang juga menggendong Tama terkikik geli melihat gaya Atma yang ingin terlihat sempurna hari ini, bahkan kostum kedua adiknya dialah yang memilih. Pagi ini acara akad nikah ulang antara Denis dan Vanya, keluarga yang diundang Denis sudah tentu keluarga Rama dan Amanda beserta ketiga anak mereka. Rama dan Amanda sudah pasti hadir menyaksikan kebahagiaan Denis—Papa kandung Atma, pernikahan hanya akad sederhana di kediaman Denis dihadiri beberapa kerabat dan rekan bisnis terdekat.


Persiapan pernikahan secepat kilat, tidak ada pesta mengingat mereka akan kembali ke Austria untuk mengurus Bu Sinta dan juga melanjutkan terapi pengobatan Denis agar bisa normal kembali di bagian organ vital miliknya.


“Ayo! Cepat Sayang, khawatir telat,” kata Rama yang mengajak Atma dan sang istri agar cepat keluar dari kamar.


“Siap, Pa. Atma sudah tampan, Tama juga dan Amara sudah cantik. Anak-anak Papa keren-keren ‘kan?” tanya Atma merapikan kemeja yang sebenarnya sudah rapi.


“Perfect-nya Atma kayak kamu, Mas,” bisik Amanda yang ditanggapi kekehan kecil Rama.


“Ya ... ya ... ya ... aku seperti melihat diriku waktu kecil pada diri Atma, aku mengakui hal itu. Aku yakin Atma itu berasal dari benihku, bukan Denis,” kelakar Rama yang membuat Amanda menyubit kecil bagian perut Rama.


“Ngaco kamu, Mas.”


“Coba lihat hanya wajahnya saja yang sama dengan Denis, selebihnya mirip denganku,” bela Rama.


“Sama seperti kamu karena sejak kecil kamu yang mengisi hari-hari, Atma. Untuk hal itu, aku bersyukur, Mas. Sifat dan sikapmu menurun ke diri Atma, termasuk perfect dan posesif, entahlah bagaimana si kembar saat dewasa ketika sifat over protective dan possesifnya Atma menjaga mereka nantinya,” kata Amanda yang melihat wajah Amara dan Tama bergantian.


“Mereka tidak akan bisa berkutik,” kekeh Rama memajukan tubuh Tama ke arah Amanda dan pada akhirnya mereka tertawa kecil bersama.

__ADS_1


“Mama sama Papa bicarain apa sih? Dari tadi kok bisik-bisik,” kata Atma ketika Atma membuka pintu mobil dan sudah dalam posisi duduk diikuti Amanda dan Rama di belakangnya.


“Tidak, kami membicarakan ketampanan Kak Atma, adik kembar pasti bahagia punya kakak yang sayang banget sama adiknya,” kilah Amanda menutupi apa yang sedang mereka bicarakan dari dalam rumah sampai di luar.


“Ohh, iya dong adik pasti senang. Kakak kan sayang banget, banget ... banget ... sama adik kembar,” kata Atma dengan bangga.


“Pintar anak Papa, ya sudah ayo kita berangkat, pasti telat nih kita Kak Atma,” ajak Rama yang menutup.pintu depan samping kemudian yang ditempati Atma kemudian membuka pintu mobil belakang untuk dirinya dan sang istri.


**


“Sah!”


“Sah!”


“Sah!”


“Alhamdulillah.”


Sahutan kata sah menggema di ruangan yang sudah dihadiri beberapa tamu undangan, Atma mencebik kesal melihat hal itu. Benar saja mereka telat menyaksikan akad nikah karena terjebak macet.


Denis menandatangani surat nikah, dengan uang yang dimiliki semua proses yang harusnya memakan waktu seminggu paling cepat, disulap menjadi hitungan hari hingga mereka akhirnya bisa menikah secara sah.


“Ya, telat!” gumam Atma yang kecewa ketika melihat prosesi akad selesai tanpa dirinya menemani Denis tepat di samping sang Papa seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


“Tidak apa-apa, Nak. Terpenting kamu hadir sekarang, sana hampiri Papa,” kata Amanda yang diangguki lemah oleh Atma.


“Papa,” panggil Atma yang langsung ditanggapi dengan senyum semringah Denis dan juga Vanya.


Denis yang memakan setelan tuxedo dan kopiah di kepala terlihat tampan, ia langsung menggendong Atma yang disambut dengan pelukan Atma cukup erat sementara Vanya mengelus punggung tubuh Atma dengan sayang.


“Atma enggak menepati janji, tadi terjebak macet,” keluh Atma yang akhirnya membuat Denis paham arti wajah Atma yang ditekuk sempurna.


“Belum terlambat, kita foto, pegang buku nikah Papa dan Mommy Vanya,” kata Denis yang meminta fotografer mengambil gambar mereka.


Atma tersenyum ke arah kamera, rasa kecewanya terobati dengan diajak berfoto buku nikah oleh Denis dan juga Vanya dengan posisi dirinya berada di tengah kedua mempelai. Satu pose lagi kala Denis dan Vanya mencium bersamaan pipi Atma dengan melirik kamera dan senyum bahagia yang terpancar dari ketiganya.


Dari jauh Rama dan Amanda yang menggendong si kembar tersenyum hangat, mereka tidak menyangka kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka yang kini bukanlah keluarga kecil melainkan keluarga besar.


“Benar ya, Mas. Menerima masa lalu sepahit apa pun adalah jalan menggapai sebuah kebahagiaan, tanpa rasa sakit ketika menerima semuanya dengan keikhlasan,” kata Amanda dengan mata berkaca-kaca.


“Tetaplah seperti ini, Amanda. Bijaksana dan tidak mengedepankan ego dalam melihat sebuah permasalahan, kelak itu sangat kita butuhkan untuk mendidik anak-anak agar mereka tidak berpikiran sempit.”


“Kamu merendah, Mas?”


“Merendah?” tanya Rama bingung.


“Aku belajar darimu, kamu yang sudah bisa mendidik istrimu ini hingga dewasa menyikapi masalah seperti sekarang. Partner hidup yang luar biasa untukku,” terang Amanda dengan memberikan kecupan kecil di pipi Rama yang cukup membuat Rama terkejut.


“Amara, Mama genit,” kata Rama yang berbicara pada bayi yang tengah di gendong sang istri lalu disambut dengan Amanda yang mencebik sebal, maksud hati hanya ingin menunjukkan kasih sayang tapi malah mendapatkan ledekan.


Acara akad nikah pun selesai setelah ramah tamah dengan para tamu yang hadir menyaksikan jalannya acara, Atma pun terlihat bahagia tanpa beban.


“Terima kasih sudah datang memberikan doa dan restu pada kami,” kata Denis di akhir acara setelah tamu sudah kembali pulang dan menyisakan keluarga inti saja.


“Samawa, Den. Kuharap kamu benar-benar menggapai sebuah kebahagiaan dalam rumah tangga, jadikan masa lalu pembelajaran berharga untukmu,” kata Amanda yang diangguki Denis dan senyum Vanya.


“Malam ini mau ditemani Atma atau tidak? Atau ingin berdua saja di hotel bintang 5 menikmati malam pertama untuk pernikahan kedua?” tanya Rama berbisik pada Denis yang disambut gelak tawa dan pukulan ringan di bahu Rama.


Balutan kebaya putih sederhana tapi terlihat elegan dikenakan Vanya, senyum tak lepas tersungging dari sepasang pengantin yang tengah dipersatukan kembali oleh takdir dengan pribadi yang baru.


Amanda memberikan kode pada Vanya untuk berbicara berdua, Vanya pun menuruti. Rama dan Denis hanya melihat dari jarak jauh kedua wanita yang kini berteman dekat, terlihat Amanda memberikan sebuah kotak kado ukuran tidak terlalu besar pada Vanya dengan mengulum senyum penuh arti. Denis dan Rama hanya melihat mereka dari jarak jauh dengan penasaran begitu tinggi.


“Kenapa Sayang, ada hal penting?” tanya Rama yang bingung dengan gerak-gerik Amanda ketika kembali kedekatnya setelah memberikan kado untuk Vanya.


“Hanya sebuah kado, Mas.”


“Benarkah? Rasanya aku curiga,” kata Rama menaik turunkan alisnya tapi hanya ditanggapi kekehan tawa sang istri.


Si kembar menangis, selain mengantuk mereka juga sudah tidak kerasan berada di rumah Denis.


“Kami pamit ya, Den,” kata Rama yang bermaksud undur diri.


Atma dan Vanya tengah mengobrol ringan, mendekatkan diri agar nantinya Atma terbiasa dengan keberadaan Vanya dan Amanda membiarkan hal itu karena bagaimana pun sekarang Vanya adalah bagian keluarganya sekarang terutama Atma.


“Biarkan Atma tetap di sini, Ram. Kalian pulang tak masalah,” kata Denis yang masih merindukan Atma.

__ADS_1


“Jangan! Atma ikut kami,” sela Amanda yang membuat Denis mengernyitkan kening bingung, tidak biasanya Amanda melarang Atma tetap bersamanya.


“Atma sayang, kita pulang dulu ya, nanti ke sini lagi besok. Sekarang kita harus ketemu Baby Daren yang akan kembali ke Australia,” kata Amanda membujuk Atma yang kini dalam pangkuan Vanya.


“Siap, Ma. Aku juga mau main sama baby Daren, Amara dan Tama pasti ingin bermain juga,” kata Atma semringah karena antusias akan bermain dengan 3 bayi sekaligus di rumah eyangnya.


Amanda dan Rama sengaja mengosongkan jadwal mereka untuk hari ini, karena memang Gita dan Janu pun akan kembali ke Australia besok sehingga mereka ingin bercengkrama sepuasnya sebelum mereka kembali.


“Tapi, Amanda.”


“Sudah ... kami pamit, kembar sudah rewel, “ sela Amanda yang kemudian pamit dengan Vanya, memeluk dan membisikkan sesuatu yang membuat pipi Vanya merah merona.


“Semoga sukses, Vanya. Jangan lupa hadiahku dipakai saat malam pertama di pernikahan kedua kalian,” kata Amanda mengedipkan mata.


Rama yang melihat tingkah aneh Amanda, menerka-nerka apa yang dilakukan sang istri.


“Bye-bye Papa, besok pulang sekolah Atma akan ke rumah Papa dan Mommy lagi ya,” pamit Atma mencium pipi Denis dan Vanya bergantian.


“Siap, Bos,” sahut Denis mengecup seluruh sisi wajah Atma dengan sayang begitu pun Vanya.


Mereka akhirnya pamit, begitu pun tamu yang sudah benar-benar meninggalkan rumah Denis. Tinggallah Denis dan Vanya beserta beberapa asisten rumah tangga di rumah.


“Aku akan membersihkan tubuh dulu,” pamit Vanya yang masuk ke dalam kamar lebih dulu sedangkan Denis disibukkan dengan ponselnya untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan yang dilaporkan anak buahnya.


Di sisi lain, Atma tertidur pulas saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Ummik dan Abi untuk bertemu Gita dan Janu di sana. Rama duduk bersebelahan dengan Amanda sambil memangku si kembar yang juga tertidur.


“Apa yang kamu berikan pada Vanya, Sayang?” tanya Rama penuh selidik.


“Sesuatu yang akan menyenangkan Denis.”


Dahi Rama berkerut dalam, sedangkan Amanda tersenyum lebar.


“Jahil,” cibir Rama yang ditanggapi Amanda dengan mengendikkan bahu tak acuh.


“Paling Denis panas dingin,” seloroh Amanda.


“Sejak kapan istriku jahil? Hmmm?” kata Rama yang mengapit leher Amanda dengan lengannya hingga Amanda terpekik kaget dengan tawa kecil.


“Sejak memiliki anak 3,” celetuk Amanda yang membuat Rama terkekeh.


**


Malam hari, Vanya membuka kado dari Amanda, matanya terbelalak melihat kado dari mantan istri suaminya.


[Pakai ya, semoga berhasil *emot senyum] pesan dari Amanda yang tertulis di atas hadiah yang diberikan.


Berulang kali Vanya menghela napas panjang, bingung dengan apa yang akan ia lakukan, memakai kado dari Amanda atau hanya membiarkan kado itu di lemari bajunya. Namun, setelah berpikir panjang Vanya akhirnya memakai kado yang diberikan Amanda walaupun ada keraguan.


Kali pertama Vanya memakai ini di depan Denis, pernikahan pertama dengan Denis begitu kaku sehingga tak ada niatan sedikit pun Vanya menggoda Denis dengan pakaian seseksi bahkan bisa di bilang pakaian kurang bahan seperti ini.


Dengan ragu, Vanya keluar dari kamar mandi. Denis tengah bersandar di ranjang dan disibukkan dengan ponsel di tangannya.


“Denis,” panggil Vanya lirih yang membuat Denis menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


Mata Denis terbelalak kaget melihat penampilan Vanya di depannya, leher jenjang Vanya terlihat dengan kulit putih mulus dan bibir ranum yang cukup menggoda. Vanya berjalan ke arah Denis, degup jantung keduanya berpacu cepat terlebih saat Vanya duduk di sisi ranjang dekat dengan sang suami.


“Hmmm ... itu ...,” ucap Denis gugup melihat intens Vanya tanpa kedip bahkan bulir keringat tiba-tiba keluar dari pori-pori kulit di keningnya.


Benar perkiraan Amanda, Denis akan panas dingin setelah Vanya memakai kado darinya.


“Kamu tidak suka? Baiklah aku akan—“


Dengan cepat Denis menutupi tubuh Vanya dengan selimut, setelah kata maaf terucap sementara Vanya merasa kecewa ketika merasa usahanya sia-sia.


“Beri aku waktu, maaf ... aku bahagia dengan apa yang kamu lakukan, tapi belum saatnya,” kata Denis yang merasa bersalah ketika melihat wajah sendu Vanya.


Untuk menghapus rasa bersalah, tatapan Denis tertuju pada bibir ranum Vanya. Ia mendekatkan wajahnya, mengikis jarak lalu melakukan penyatuan di bagian bibir, kecupan lembut itu berubah menuntut hingga membuat lutut Vanya terasa seperti jelly. Diperlakukan seperti ini oleh Denis saja sudah cukup membuat kebahagiaan menyeruak dalam dadanya.


Setelah melepas tautan mereka, Denis mendesah frustrasi kala tak ada tanda-tanda sesuatu di bagian bawahnya menegang. Di saat yang bersamaan, Vanya langsung memeluk lebih dulu sang suami seolah memahami kekecewaan Denis terhadap dirinya sendiri.


“Kita akan berusaha bersama, Denis. Aku akan menunggumu sampai kapan pun itu, diterima olehmu dan dicintai olehmu sudah menjadi kebahagiaan untukku, cinta selalu memiliki alasan untuk memahami dan menerima kekurangan pasangan,” kata Vanya yang membuat Denis membalas dan mengeratkan pelukan mereka.


~Bersambung~


Belum bisa maksimal dalam menulis setiap hari, tapi setiap part 2500 kata(13 lembar) mudah-mudahan puas bacanya. Masih recovery kesehatan, terima kasih sudah menunggu part demi part cerita pasca cerai. keep healthy, perketat prokes terkena covid itu sungguh menyiksa.

__ADS_1


Nantikan terus kelanjutannya, ikuti sampai Tamat ya. Love sekebon untuk semuanya.


__ADS_2