Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 33


__ADS_3

Tinggalkan jejak


💕 Like dan komentar 💕


Pagi ini Aku memulai aktivitas seperti biasanya dengan mata yang terlihat sembab, semalam Aku menangis tiada henti, berharap dengan tangis bisa mengurangi semua beban yang menyesakkan dada, semalaman Aku terpekur bersujud menenangkan diri, mendekatkan diri dengan sang khalik, meminta pertolongan dari Nya agar Aku bisa menghadapi semua ujian dalam kehidupanku.


Hari ini terasa ada yang berbeda pada diriku, tidak berada disampingnya, tidak melihat senyum hangat, tidak mendapatkan pelukan dan kecupan saat membuka mata, rasanya sedih menyelimuti hatiku, pagi ini Aku merindukan suamiku.


[Jangan lupa makan, Aku mencintaimu.] Pesan dari Rama pagi ini cukup membuat lekuk bibir tertarik ke atas, tapi tidak lantas membuat Aku membalas pesannya.


Saat melewati kamar Gita, kudengar suara isak tangis, Aku yakin Gita tengah menangis saat ini, dan benar saja saat Aku membuka pintu kamar ku lihat ia menangis.


"Dek, kamu kenapa?" Tanpa menjawab ia memelukku sambil terus menangis, Aku hanya bisa mengelus punggungnya menyalurkan ketenangan.


"Kak Janu kembali ke Australia, dia marah sama Gita, Kak. Apa yang harus Gita lakukan?"


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Gita masih meragukan janji Kak Janu?" Ia pun mengangguk.


"Kak Janu sangat mencintai Kakak, Gita ragu dan takut setelah menikah perasaan cinta itu tetap untuk Kakak."


"Apa yang membuatmu bisa yakin, Dek?"


"Aku tidak tahu harus bagaimana, Kak. Rasanya menyakitkan mengetahui Kak Janu masih mencintai Kakak." Aku hanya bisa mengambil nafas berat.


"Kakak dan Kak Janu mengenal satu sama lain saat kami sama-sama menjadi penghuni panti, saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Bukan hal mudah untuk menghapus rasa cinta itu, Dek. Saat awal Kak Janu memilih Mas Rama menggantikannya menjadi pengantin Pria, jujur Kakak hanya biasa saja mencintai Mas Rama, tapi setelah menikah Kakak semakin mencintainya. Cinta itu datang karena terbiasa, saling membutuhkan, saling mengisi satu sama lain, saling berbagi, lambat laun setelah menikah kamu akan menjadi prioritas kebahagiaan untuk Kak Janu." Aku menghapus air mata Gita. "Percayalah Kak Janu akan mencintaimu, karena kamu pantas untuk dicintai. Kalian harus bahagia, karena kalian jugalah kebahagiaan Kakak. Kamu adek yang sangat Kakak sayangi, walaupun kita tidak dilahirkan dari rahim yang sama." Tangis Gita semakin pecah, bajuku sudah basah oleh air matanya. 


"Terimakasih Kak. Aku akan mengejarnya ke Bandara, pesawatnya akan berangkat sejam lagi." Gita langsung berdiri dan menyiapkan dirinya setelah tenang.


'apapun akan Aku lakukan agar kalian bahagia, layaknya Kak Janu memilihkan kebahagiaan untukku dan Rama.' bisikku dalam hati.


Saat menuruni anak tangga kulihat, Ibu, Ummik dan Atma sedang bercengkrama di ruang tamu. Aku langsung menghampirinya dan mencium punggung tangannya.


"Mas Rama tidak kenapa-kenapa 'kan Bu?" tanyaku khawatir, karena kedatangan Ibu yang tiba-tiba.


"Duh kayanya anak dan menantu Ibu saling merindukan deh," Ibu dan Ummik terkekeh geli melihat sikapku. "Kamu tahu tidak tadi pagi saat Ibu memasak, Rama mengira Ibu itu kamu loh, padahal 'kan dia tahu sendiri kamu dan Atma pergi karena ulahnya. Oh iya, Ibu akan mengajak Atma tetap tinggal di rumah ya menemani Ibu, kalau kamu masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri tidak masalah, yang penting Ibu ada teman selama di rumah. Sepi tidak ada kalian di rumah."


"Amanda terserah Atma saja Bu, Atma mau tinggal sama Omma dan Papa?"


"Mama tidak apa sendiri?"


"Jangan khawatir, Mama bisa menjaga diri, 'kan Mama sudah besar." Atma menyunggingkan senyumnya setelah mendengar ucapanku. Akhirnya Ibu membawa Atma untuk tinggal bersamanya di rumah.


Sepeninggal Ibu dan Atma, Aku bersiap berangkat ke rumah sakit untuk bertugas seperti biasanya. Dina menghampiri Aku yang sedang memeriksa beberapa hasil rekam medis pasien dalam ruangan.

__ADS_1


"Amanda, tahu tidak?"


"Tidak." Dengan cepat aku menjawab pertanyaannya.


"Menyebalkan sekali sih jawabanmu."


"Loh aku memang nggak tahu, memangnya apa yang ingin kamu katakan?"


"Kamu dan Aku ditugaskan ke cabang rumah sakit yang akan di buka di daerah Semarang, kita akan menetap beberapa hari di sana, seminggu mungkin."


"Benarkah?"


"Tentu saja, kita akan menjadi perwakilan di sana."


Dan benar saja apa yang dikatakan Dina, surat penugasan telah turun, besok kami akan berangkat ke Semarang sebagai perwakilan dari rumah sakit pusat selama delapan hari. Anggap saja tugas ini sebagai penghibur dan penenang diri ketika masalah melanda, tapi bukan berarti Aku menghindar atau lari dari masalah karena ini sudah tanggung jawab pekerjaanku.


Hari ini kulalui tanpa semangat, tubuhku berada di rumah sakit tapi pikiran dan jiwaku memikirkan Rama, rasanya Aku sangat merindukannya tapi Aku belum bisa menerima kenyataan pahit, ketakutanku saat ini adalah ketika foto itu benar-benar menunjukkan kelakuan buruk Rama saat tidak bersamaku.


 


[Assalamualaikum, Mas ... Aku meminta ijin untuk berangkat ke Semarang untuk bertugas sebagai perwakilan selama delapan hari, jaga kesehatanmu.] Pesan terkirim ke nomer kontak suamiku.


[Kangen ... Pulanglah dulu ke rumah baru aku akan mengijinkanmu pergi bertugas, ingatlah saat ini kamu istriku dan untuk selamanya menjadi istriku, Ridho Nya ada pada suamimu.] Aku hanya bisa menghela nafas panjang, baiklah Aku akan menjadi istri yang shalehah untuknya dengan menuruti keinginannya, meskipun masih ada rasa belum siap untuk bertemu Rama karena foto itu terekam jelas dalam otakku.


"Kamu tidak bawa mobil, dokter Amanda?"


"Hmm ... tidak, Dok. Tadi Aku diantar menggunakan mobil adikku."


"Tidak usah memesan taksi, biar nanti aku yang antar." 


"Merepotkan tidak?"


"Tenang saja, Aku khawatir kalau kamu di culik sama supir taksi online." Kami berdua tertawa bersama menuju mobil dokter Stanley di parkiran rumah sakit.


Baru saja membuka pintu mobil milik dokter Stanley, lengan tanganku di tahan seseorang, jantungku berdegup kencang melihat tatapan dinginnya, wajah tanpa ekspresi yang sering ia perlihatkan saat awal pertemuan kami.


"Pulang denganku."


"Dokter Stanley, sepertinya suami saya menjemput, terimakasih untuk tawarannya." Dokter Stanley hanya membentuk jarinya O sebagai jawaban seraya tersenyum lalu meninggalkan Aku dan Rama yang masih berdiri.


Sepeninggalnya mobil dokter Stanley, Rama menghadapkan tubuhku lalu memeluk erat tubuh ini hingga deru nafasnya terasa ketika ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.


"Mas, malu dilihat banyak orang." Ia tetap saja tidak merubah posisinya, "ya ampun, Mas. Ini tempat umum, Aku malu ...." Walaupun malu, aku menikmati pelukan ini, pelukan yang aku rindukan.

__ADS_1


"Kembali ke rumah atau Aku tetap seperti ini sampai esok, hmm?" 


"Mas ...."


"Iya atau tidak?" 


"Iya iya iya ...." Setelah menjawab itu, ia langsung melepaskan pelukannya, menatap wajahku lekat dengan tatapan penuh harap. Tanpa sepatah katapun ia menggenggam tanganku lembut dan menarikku agar mengikuti langkahnya.


"Apa sudah lebih tenang?" tanya Rama dibalik kemudinya.


"Sedikit."


"Hanya sedikit, hmm?"


"Iya, paling tidak aku sudah tidak menangis seperti kemarin."


"Maaf, aku sudah membuat istri yang paling aku cintai menangis. Apa kamu masih meragukan suamimu ini?"


"Aku hanya butuh pembuktian, hanya itu Mas."


"Apa kamu tidak merasakan saat malam pertama kita, itu pengalaman pertamaku?" Mendengar ucapan Rama, aku melebarkan mata, menoleh ke arahnya. Ia menaikan kecepatan mobil, membuat aku takut, hingga aku mencengkeram sabuk pengaman dan memejamkan mata.


"Mas turunkan kecepatanmu, ini berbahaya."


"Tidak, jika kamu masih meragukan kesetiaanku."


"Mas, aku takut, tolong hentikan, ini membahayakan kita berdua. Ada Atma dan Ibu yang menunggu kita."


"Apapun yang terjadi asal bersamamu aku akan bahagia." Aku dibuat semakin panik setelah mendengar jawaban dari Rama, ia benar-benar ingin mempertaruhkan nyawa dan berbuat nekat. 


'bagaimana kalau terjadi kecelakaan dengan kami?' bisikku dalam hati. Rama masuk kedalam tol arah luar Jakarta, tidak menuju rumah dengan tetap berkecepatan tinggi.


"Mas, aku mohon turunkan kecepatan mobil kita, baiklah aku akan berusaha percaya padamu, tapi tolong beri aku waktu, aku takut, Mas ...." Tak terasa air mataku mengalir dari pelupuk mata, iya aku takut, selain kecepatan mobil yang tinggi, ketakutanku adalah jika foto itu benar-benar menunjukkan kebiasaan asli Rama saat di luar rumah bersama temannya. "Aku takut kamu akan mengecewakan aku nantinya, aku takut pernikahan kita berujung perceraian, aku takut jika kebiasaan bergonta ganti wanita adalah benar kebiasaanmu seperti yang foto itu tunjukkan, aku takut tidak bisa menerima kenyataan pahit," ucapku menenggelamkan wajah pada telapak tanganku dan menangis, tangisan yang cukup kuat untuk melegakan dada yang terasa terhimpit saat ini.


Rama mencengkeram stir mobil dengan kuat, ia perlahan menurunkan kecepatannya dan membiarkan aku menangis,


"Percayalah, aku sangat mencintaimu Amanda Ayudya Prameswari. Kita akan menghadapi masalah ini bersama, jangan pernah berusaha pergi atau menghindar dariku," ucap Rama di sela isak tangisku, menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya, serta mencium keningku berkali-kali sambil terus mengemudikan mobilnya perlahan membelah jalan menuju Bandung.




Follow akun author ya jangan lupa 😍

__ADS_1


crazy up triple


__ADS_2