Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 38


__ADS_3

...Tinggalkan jejak...


...💕Like atau komentar 💕...


...Happy reading...


"Mas ini di rumah sakit ya, kamu jangan aneh-aneh deh," ucapku saat terlepas dari bibir Rama.


"Hukuman, karena sudah berani pergi dengan Pria lain tanpa suami. Jangan pernah ngulangin itu lagi, oke?"


"Duh, Aku nggak bisa janji Mas, gimana ya, kalau dipikir-pikir Rio tampan juga," jawabku terkekeh memancing emosi Rama.


"Mau lagi?" tanyanya membuat aku bingung.


"Apanya?"


"Hukumannya." Ia mengedipkan matanya, dan menarik turunkan alisnya sambil tersenyum penuh arti, Aku langsung beringsut menjauh, ia pun terkekeh melihat tingkahku yang terlihat takut kepadanya.


"Kamu nggak ngerti gimana rasanya merindukan seseorang yang sangat dicintai, duh ... aku harap ini yang terakhir kalinya kepisah darimu. Dan terakhir kalinya kamu jalan berdua dengan Pria lain selain aku. Ingat itu!" Setengah intonasi meninggi mengancam diriku, sifat possesif yang dimiliki Rama terhadapku cukup tinggi.


"Aku nggak jalan berdua Mas." Aku duduk di pinggir kasurnya. "Rio ternyata calon suami sahabatku, Dina ...."


"Benarkah?"


"Iya, kami tidak sengaja bertemu, Dina minta aku mengantarnya menemui calon suaminya, ternyata itu Rio. Dia mengatakan semuanya padaku apa yang telah terjadi dengan kalian di rumah keluarga Tasya." Rama merengkuh tubuhku dalam pelukannya. 


"Terimakasih, sudah mau kembali berada di sisiku."


"Maafkan Aku yang tidak percaya padamu, Mas."


"Sudah, anggap ini pelajaran untuk kita kedepannya saling percaya satu sama lain, dan selalu menjaga kepercayaan itu sendiri." jawabnya menenangkan dari rasa bersalah yang sedang aku rasakan.


Krek .... Pintu terbuka


"Permisi Pak, Bu, maaf mengganggu, saya hanya mengantar ini untuk makan siang," ucap seorang perawat yang tiba-tiba masuk saat kami sedang berpelukan. Menghilangkan rasa gugup, aku langsung berdiri dan tersenyum canggung.


"Terimakasih suster," jawabku singkat, Rama hanya tersenyum ke arahku, dan aku melebarkan mata ke arahnya. "Jangan senyum terus, Mas."


"Lucu, gemas."


"Memang Aku badut ... Menyebalkan."


"Maaf, maaf sayang jangan ngambek, kita 'kan baru ketemu."


"Hmm ...." Aku melirik menu makanan yang diantar perawat tadi terlihat sangat lezat dan ingin memakannya.


"Mas, makanannya untuk Aku aja ya!"


"Kamu lapar?"


"Tidak, aku sudah makan tadi saat di Bandara, hanya ingin saja, kelihatannya lezat."

__ADS_1


"Yakin? Itu bubur tanpa rasa loh, Mas aja selalu membuang makanan itu."


"Mubadzir, Mas." Aku membuka plastik pembungkus makanan, aroma makanan menyeruak dalam ruangan, rasanya menambah rasa inginku untuk memakannya, meskipun hanya bubur, sayur bening, tahu kecap, dan ikan sebagai menunya. Baru saja Ingin menyuap makanan ke dalam mulut ....


Hoekkk ... Hoekkk .... 


Rama muntah tanpa mengeluarkan apapun dari mulutnya, hanya suara dan wajah yang terlihat merah saat ini.


"Amanda, tutup makanan itu, aku nggak suka bau makanannya." pinta Rama sambil menutup hidungnya, buru-buru aku menutup makanan itu dan membawanya keluar ruangan kamar.


"Kamu kenapa sih, Mas?"


"Entahlah, mual jika mencium makanan yang mengandung ikan di dalamnya."


"Lalu kamu makan apa?"


"Hanya roti dan susu yang bisa masuk ke dalam perutku."


Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Atma dan Ibu, Atma langsung berlari ke arahku setelah melihat keberadaanku sekarang.


"Mamaaaaa ...." 


"Kok sudah pulang, Nak?" Tanyaku pada Atma sambil mencium pipinya serta mengelus pucuk kepalanya.


"Gurunya sedang ada rapat jadi dipulangkan lebih awal," jawab Ibu, aku langsung mencium punggung tangannya, Ibu seperti biasa selalu tersenyum hangat.


"Mama kok sudah pulang?"


"Kangen sama Papa juga 'kan?"


"Loh kok nanya seperti itu?"


"Habis Mama tidak menghubungi Papa hanya menghubungi Aku dan Omma."


"Mama juga kangen sama Papa kok. Kangen banget malahan," sahut Ibu, aku hanya bisa tersenyum malu ke arahnya. "Kamu kenapa Rama diam saja?"


"Mual Bu."


"Tadi Amanda buka menu makanan dari rumah sakit, eh malah mual Bu, hoek Hoek kaya orang hamil." Ibu dan Atma tertawa mendengar ucapanku.


"Papa aneh loh Ma .... Mangga asam dibilangnya enak."


"Masa iya kamu ngidam, Mas?"


"Maksudnya?"


"Eh, nggak ada maksud apa-apa," jawabku gugup, hampir saja aku mengungkapkan bahwa kemungkinan aku hamil, tapi urung kulakukan mengingat hasil laboratorium belum sempat aku ambil kemarin, aku butuh kepastian sebelum berita ini aku sampaikan.


[Assalamualaikum, Dina. Aku mau minta tolong padamu untuk mengambil hasil test darah yang aku lakukan kemarin, form pengambilan nanti akan aku foto ya. Terimakasih sahabatku yang cantik.]


[Jika Aku tidak lupa ya, Aku sibuk. Hihihi.]

__ADS_1


[Tuh 'kan kamu gitu, kata cantik aku tarik kembali.]


Setelah mengirim pesan pada Dina Aku kembali memasukkan ponsel kedalam tasku.


🌹🌹🌹🌹


Sore ini Rama diperbolehkan pulang, bukan diperbolehkan sebenarnya tapi memaksa ingin pulang, Aku dan Ibu tidak bisa menahannya, dengan alasan agar aku yang merawatnya di rumah, sikap manjanya kembali terlihat, Rama yang kaku dan dingin sudah tidak ada lagi sekarang, tergantikan sikap manja dan sikap hangatnya, tapi tetap sikap tegas melekat pada dirinya, hidung mancung dengan mata yang terlihat tajam saat menatap seseorang tidak pernah hilang dari ekspresinya.


"Sayang, nanti Atma tidur sama Omma ya," ucap Ibu saat kami dalam perjalanan pulang, Aku yang menyetir mobil, Ibu duduk di samping kemudi, Rama dan Atma di belakang kemudi.


"Loh memang kenapa Omma?"


"Papa kan harus tetap mendapatkan perawatan dari Mama, biar kamu nggak terganggu tidurnya jika sewaktu-waktu Papa Rama muntah."


"Oh gitu ... Iya juga sih, Papa kalau lagi muntah sangat berisik." Kami tertawa mendengar ucapan Atma.


"Duh alamat Mama nggak bisa tidur ini, pasti Mama juga akan terganggu nantinya dengan suara hoekk hoekkk," ucapku kali ini Atma yang tertawa.


"Anehnya tidak keluar apapun ma, hanya suara saja, Papa sih nggak mau makan ya ma?"


"Papa nanti maunya makan Mama," ucap Rama singkat sambil memejamkan matanya serta menyenderkan tubuhnya di kursi mobil yang sudah sengaja diatur posisinya lebih rendah, tidak tegak.


"Wah Papa berarti omnivora dong kalau seperti itu, jadi berubah dinosaurus pemakan daging sesama."


"Kalau pemakan daging sesama itu namanya Karnivora, sayang," jawabku meluruskan ucapan Atma yang salah.


"Lebih dari sekedar karnivora Omma rasa deh Atma."


"Lalu disebut apa Omma?"


"Harimau pencari mangsa," ucap Ibu terkikik geli bersama Aku dan Atma, tapi tidak dengan Rama ia tetap diam.


"Tertawalah sepuasnya Amanda, nanti saat di rumah kamu akan menjadi santapan harimau yang tengah lapar." Ia menyeringai dengan mengedipkan matanya yang bisa ku lihat dari kaca mobil saat pandangan kami bertemu.


Ucapan Rama membuat Ibu tertawa semakin keras melihat sikap genit anaknya. 'kode keras, sepertinya aku dalam bahaya nanti malam.' rutukku dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Aku melangkah masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Atma di kamar Ibu. Aku membuka pintu perlahan, menoleh ke arah ranjang tidak kutemukan sosok Rama, saat ingin berbalik ku lihat sosoknya tengah berdiri dengan senyum mengembang ternyata Rama bersembunyi di belakang pintu, ia langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. 


Pandangan Rama fokus menatap wajahku, perlahan tangannya terulur melingkar di pinggang. Kami saling menatap dalam diam, aku sangat memahami tatapan itu, tatapan yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga, tatapan penuh cinta.


Kemudian tangannya meraih daguku, kupejamkan mata ini, hingga akhirnya aku merasakan bibirnya menyelimuti bibirku. Awalnya lembut tapi dengan cepat berubah menjadi pagutan dan ******* penuh gairah. Aku terengah, membalas ciumannya dengan segenap kerinduan yang kurasakan pada suamiku. Rama melepaskan ciumannya, napas kami sama-sama terengah.


Perlahan bibirnya beralih mencium keningku, Aku memejamkan mata, meresapi moment kebersamaan kami, meresapi degup jantungku yang bertalu, meresapi semua rasa cinta dan sayang yang tercurah dari sosok suami yang sangat aku cintai.


Ia menyatukan kening kami, jarak yang sangat dekat, serta berbisik dengan suara serak.


"I love you. You hold my heart Amanda Ayudya Prameswari, now and forever ...." Degup jantungku semakin menggila.


"Jangan pernah jauh lagi dari sisiku, kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku selalu jatuh dalam pesonamu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu dalam hatiku. Aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu ...." 

__ADS_1


Perasaanku sangat bahagia mendengar setiap ungkapan yang Rama ucapkan. Aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya yang sekarang menjadi tempat ternyaman saat berada disisinya, ia membalas dengan mendekap tubuhku. Malam ini, tubuh, rasa cinta serta kerinduan bersatu, menghabiskan malam penuh kebahagiaan dan menyalurkan rasa kerinduan yang kami rasakan di setiap sentuhan. Aku mencintaimu suamiku ....


__ADS_2