Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 36


__ADS_3

Tinggalkan jejak


💕 Like dan komentar 💕


Happy reading


"Bu bos?" Ia juga melebarkan mata memastikan apa yang dilihat adalah benar istri dari bosnya sekaligus teman masa kuliahnya yaitu Rama.


"Rio?" Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega karena penglihatannya tidak salah.


"Kalian saling kenal?" tanya Dina bingung.


"Dia teman suamiku sekaligus asisten suamiku, Din," jawabku.


"Bagaimana kabar Bu Bos?" tanya Rio sambil mengulurkan tangannya


"Cukup baik." Aku menyambut uluran tangan Rio.


"Hanya cukup, berarti tidak terlalu baik sepertinya." Tebak Rio penuh selidik. "Sebentar aku pesan makanan dulu, calon istri tolong pesankan ya," ucap Rio dengan tingkahnya yang terlihat tengil.


"Ya ampun, kamu kan bisa memesannya sendiri, kenapa menyuruhku? Tinggal angkat tanganmu maka pelayan akan menghampirimu."


"Belajarlah menjadi calon istri yang baik, terutama melayani calon suami dalam hal menyediakan makanan, contohlah Bu Bos, Pak Bos selalu membawa bekal jika kekantor dan menceritakan Bu Bos sambil memakan makanan yang ia bawa." Mendengar tingkah Rama saat di kantor membuat pipi ini merona, Aku tidak menyangka ia menceritakan aku pada Rio, padahal beberapa kali bertemu dengan Rio selalu ada keributan diantara mereka.


"Ingat ya baru ca-lon."


"Pernikahan itu pasti terjadi, kita tidak akan bisa mengelak perjodohan ini. Tenang saja pasti kamu tidak akan rugi menikah denganku, aku setia dengan pasangan kok." Mendengar itu Dina langsung melemparkan tisu ke arah Rio, dan Rio terkekeh melihat Dina yang terlihat kesal. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan interaksi calon pasangan di depanku.


"Aku pesan beef teriyaki dua porsi ya, Din."


"Apa???" ucap Dina kaget. "Kamu sudah menghabiskan banyak makanan, nggak biasanya kamu makan banyak Amanda, aku tahu banget porsi makanmu."


"Saat ini aku hanya ingin makan lebih banyak, memangnya ada aturan porsi makan yang harus aku konsumsi, hmm?"


"Sudahlah Dina, turuti saja istri bosku, toh dia ini yang bayar, kenapa kamu bawel. Huhh ...." sahut Rio


"Baiklah baiklah, ter-se-rah," jawab Dina kesal.


Beberapa saat pesanan kami datang, aku pun benar-benar menghabiskan makanan yang cukup banyak, entahlah karena mood yang sedang kacau mungkin mempengaruhi nafsu makanku, banyak masalah membuat nafsu makan berkurang sepertinya tidak berlaku padaku.


"Kamu memang tidak bekerja? Cuti berapa hari memangnya?" tanyaku pada Rio.


"Dua Minggu, sudah beberapa hari terakhir aku berada di Jakarta tidak di Bandung, untuk mempersiapkan pernikahan kami."

__ADS_1


"Lalu siapa yang nantinya membantu suamiku?"


"Tentu saja karyawan yang lain, aku tetap memantau mereka meskipun tidak aktif masuk bekerja, memangnya pak Bos tidak bilang?" Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Apa kalian masih berselisih paham?" Aku mengerutkan dahi, memikirkan maksud ucapan Rio.


"Apa Rama menceritakan sesuatu padamu?" Rio mengendikkan bahunya acuh.


"Rio, jawab dong pertanyaan Amanda dengan benar, bukan hanya mengendikkan bahu seperti itu, terlihat menyebalkan tahu nggak ...."


"Loh, kenapa kamu yang sewot?"


"Sudah, sudah, kenapa kalian malah ribut seperti ini? Bagaimana nanti setelah kalian menikah?" tanyaku menatap Dina dan Rio bergantian, aku seperti wasit saat ini.


"Setelah menikah aku pasti menyayangi Dina kok Bu Bos, dia itu menggemaskan dan juga cantik, terlebih seorang dokter seperti Bu Bos." Rio menarik turunkan alisnya ke arah Dina, yang dibalas dengan tatapan tajam Dina. "Baiklah aku akan menjawab dengan serius sekarang, apa yang ingin Bu Bos tanyakan?"


"Taukah kamu tentang masalah kami?" ucapku serius menatap wajah Rio, menanti jawaban darinya.


"Sebelum aku menjawab, berjanjilah jangan menyela apapun yang akan aku ucapkan, cukup dengarkan."


"Sudah cepat katakan, terlalu bertele-tele, ckkk ...." Decak Dina tidak sabar.


"Saat itu Om Herman datang ke kantor menemui Rama, ia bilang kalau Tasya mogok makan dan juga berusaha menggugurkan kandungannya. Awalnya Rama menolak, tapi Om Herman terus saja memaksa dan memelas sehingga Rama kasihan padanya, ia memintaku untuk menemaninya kala itu."


"Lalu?"


"Aku sudah sempat curiga, pasti ada sesuatu yang direncanakan om Herman, sempat meminta Rama membatalkan keinginan om Herman, tapi saat itu Rama tidak mendengarkan ucapanku dan tetap pergi ke rumah keluarga om Herman."


"Kami tiba di rumah itu, dan disuguhkan minuman, setelah kami berdua menyicip minuman tersebut, kepalaku terasa berputar, pandangan mengabur dan kulihat kondisi Rama juga sepertiku, Rama sampai meremas kepalanya untuk menekan rasa sakit sebelum akhirnya kami pingsan berdua." Rio meneguk minuman yang berada di depannya sebelum melanjutkan cerita. "Aku tidak tahu apa yang Om Herman dan Tasya katakan tapi terdengar samar-samar mereka ingin menghancurkan rumah tangga Rama, saat itu aku belum sepenuhnya tersadar. Setelah sebulan kejadian itu, ternyata mereka mengirimkan foto-foto itu untuk memfitnah Rama. Dan sialnya kamu percaya, yang membuat Rama akhirnya frustasi akhir-akhir ini."


Mendengar ucapan Rio aku hanya bisa menundukkan kepala dan menumpukkan kepalaku diatas tangan yang terlipat di meja, kepalaku terasa pusing, perasaanku bercampur aduk, antara sedih, senang, kecewa dan menyesal.


"Aku sudah ingin menemuimu sebelumnya untuk membantu menjelaskan, tapi Rama melarang, karena khawatir kamu malah semakin tidak percaya dan menuduh kami bekerjasama. Namun, Allah memberikan jalan keluar lain, ternyata kita bertemu di sini, dan ternyata Bu Bos sahabat calon istriku, kebetulan yang luar biasa yang di rencanakan oleh Nya untuk membantu Bos Rama."


"Kamu nggak bohong 'kan?" tanya Dina pada Rio. 


"Aku berani sumpah, Din." tegas Rio. "Aku menceritakan ini di depanmu karena khawatir kejadian Rama menimpaku nantinya, karena Aku nggak tahu dan nggak sadar dengan apa yang mereka lakukan pada kami."


"Pantas saja kamu kurang bersemangat, ternyata masalah yang cukup rumit, menyangkut kesetiaan pasangan," ucap Dina padaku.


"Apa Bu Bos percaya padaku?" tanya Rio ragu.


"Aku percaya, dan aku menyesal."


"Lalu apa rencanamu Amanda?" tanya Dina padaku.

__ADS_1


"Hanya menunggu sampai kita kembali ke Jakarta, aku akan menyelesaikan masalah ini, rasanya aku sangat bersalah pada suamiku," ucapku menyesal


"Selesaikanlah permasalahan itu secepatnya Bu Bos agar tidak berlarut-larut, permasalahan kalian benar-benar membuat pak Bos uring-uringan di kantor, bahkan karyawan ia marahi padahal hanya masalah sepele, semakin mengerikan para karyawan yang didekatnya sekarang."


"Benarkah sampai seperti itu?" tanyaku pada Rio.


"Sungguh, seorang Rio tidak pernah berbohong."


"Masa? Sepertinya aku meragukan kejujuranmu," sahut Dina acuh.


"Asal jangan meragukan keseriusanku untuk menjadikan kamu istriku Aldina Larasati." Dina langsung memukul lengan Rio cukup keras hingga Rio mengaduh dan setelahnya ia tertawa melihat ekspresi Dina.


Kami kembali ke hotel setelah berbincang cukup lama dengan Rio, darinya aku sekarang yakin jika om Herman hanya bermain peran padaku saat Aku dan Rama menemuinya, sesuai yang Rama katakan padaku. Menyesal, ya ... Saat ini aku sangat menyesal karena tidak mempercayai suamiku sendiri, tapi aku tidak bisa mengesampingkan logikaku begitu saja. Wajar 'kan? Ketika foto kemesraan dengan banyak wanita mengguncang kepercayaanku padanya. Bagaimana pun aku hanya wanita yang tetap tidak terima jika diduakan.


Tring .... Pesan masuk di ponselku menampilkan sebuah pesan.


[Amanda, pernikahanku dua hari lagi, kudengar kamu sedang menerima tugas di luar kota, apakah kamu tidak akan hadir di acara terpenting dalam hidupku?] Pesan dari Kak Janu.


[Doaku selalu yang terbaik untukmu, Kak. Tapi aku tidak ingin kehadiranku nantinya akan merusak suasana hati Kakak dan Gita. Kakak mengerti 'kan maksudku?]


[Tapi dengan kedatanganmu saat pernikahanku akan membuat diri ini benar-benar ikhlas melepasmu ketika melihat keluarga kecil kalian tersenyum bahagia padaku dan Gita.]


[Aku bahagia dengan pernikahan yang Kakak pilihkan dan korbankan untukku, Rama mencintaiku, hanya rumah tangga kami sedang di uji, tapi tenanglah semua akan baik-baik saja. Pikirkan saja pernikahan Kakak dan Gita, aku tidak akan muncul dalam kehidupan kalian apalagi menjadi alasan adikku menangis, ketika melihat rasa cintamu yang masih ada untukku. Dengan tidak melihatku, aku harap lebih mudah untuk melupakan, jangan sia-siakan cinta Gita untukmu Kak, ku lihat ia mulai mencintaimu.] Pesanku tidak dibalas lagi olehnya, mungkin ia memikirkan pesan yang ku kirimkan. 


Aku memutuskan menjauhi diri dari Janu dan Gita, aku berusaha untuk menghindari mereka agar tidak menggangu kebahagiaan mereka dan juga menjadi sumber kesedihan Gita, tapi bukan berarti aku memutuskan tali silaturahmi kami, hanya saja menghindari bertemu langsung dengan mereka sekarang. Melihat terakhir Gita menangis, membuat diri ini merasa bersalah karena menjadi salah satu alasan ia meragukan janji Janu padanya, hubungan kami tidak akan seharmonis dahulu karena diantara kami harus ada yang kujaga hatinya, yaitu hati Gita. Wanita manapun tidak akan rela melihat orang yang di cintainya, dekat dengan seseorang di masa lalunya, bahkan masih ada cinta di mata Janu untukku. Rasanya pasti sangat menyakitkan untuk Gita.


"Huaaaaa ...." teriak Dina dari dalam kamar mandi membuyarkan lamunanku.


"Ada apa sih, Din?"


"Aku menstruasi Amanda."


"Loh bagus dong, masalahnya dimana sampai kamu histeris seperti itu."


"Masalahnya saat aku menikah nanti, aku dalam masa subur yang kemungkinan bisa membuahkan kehamilan saat kami berhubungan nantinya."


"Ishh, belum tentu sekali berhubungan kamu langsung hamil, Dina ...." ucapku gemas melihat tingkahnya.


"Aku bilang kan mungkin, bukan sebuah kepastian."


"Ckk ... Berhubungan saja belum sudah membayangkan kehamilan, terlalu jauh memikirkan hal itu."


"Iya juga ya ...." Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu saja sudah menikah beberapa bulan belum hamil ya Amanda, padahal rajin kontrol dan selalu minum supplement yang kuanjurkan." Mendengar ucapan Dina aku baru sadar jika belum mendapatkan periode menstruasi hampir dua minggu.

__ADS_1


Aku langsung mengambil sesuatu yang sudah aku siapkan sejak lama dalam dompetku lalu masuk ke kamar mandi untuk menampung urin. Dan hasilnya masih meragukan ku, satu garis tegas dan satu lagi garis samar, aku hanya bisa menghela nafas karena hasil itu belum memastikan bahwa ada janin dalam rahimku saat ini. Hasil yang masih meragukan untukku.


~ Bersambung


__ADS_2