
💕 Happy reading 💕
“Terima kasih,” ucap Frans pada Vanya ketika mereka sudah berada di restoran setelah bertemu Denis dan Atma di pintu masuk.
“Untuk apa, Frans?”
“Karena sudah mau mengakuiku sebagai kekasih.”
Ekspresi Denis terlihat biasa saja di mata Vanya, harapan ada wajah amarah atau kekecewaan pun tak tampak justru Vanya yang kecewa terhadap Denis dan semakin yakin ia memang bukan wanita yang ada di hati lelaki yang masih sah menjadi suaminya.
“Bahagiakan aku, Frans. Sekarang aku menyerah dengan rumah tangga tak sehat yang sudah kujalani.”
“Seharusnya sejak awal kamu tidak menerima pernikahan itu, Vanya. Seharusnya akulah sejak awal yang menikahimu bukan lelaki yang tak mencintaimu itu,” kata Frans yang ditanggapi dengan senyuman getir Vanya.
“Nasi sudah menjadi bubur, Frans. Aku akan melepasnya sekarang, temani aku melewati fase tersulit dalam hidupku ketika menyandang status janda,” ucap Vanya yang merupakan sebuah permohonan untuk Frans.
“Kita akan kembali ke Austria, Vanya. Memulai semuanya dari awal ... kamu tak perlu melupakan, karena ketika kamu berusaha untuk melupakan maka hatimu akan semakin tersakiti. Lambat laun hatimu akan melupakannya, tidak sulit karena akulah cinta pertamamu,” ungkap Frans.
“Akan kucoba, Frans. Terima kasih untuk semuanya.”
“Anything for you ... kita memang jodoh, aku pun duda. Tidak ada kebahagiaan dalam pernikahanku, bukan karena aku menyia-nyiakan istriku tapi ia tak bisa menerima kekuranganku hingga selingkuh. Tuhan punya seribu cara untuk mempersatukan dua insan yang memang sudah ditakdirkan bersama, Vanya.”
Vanya tersenyum, ada binar bahagia di mata Vanya ketika mendengar ucapan Frans. Jika memang jodoh, mau sejauh apa pun terpisah, dua insan akan tetap dipersatukan.
**
“Papa kenapa? Kok jadi diam sehabis bertemu dengan Tante Vanya?” kata Atma di tengah perjalanan mereka menuju kediaman Denis.
“Tidak apa, Sayang. Papa hanya merasa lelah.”
“Kata Mama enggak boleh berbohong, bohong itu dosa,” sindir Atma yang merasa Denis berbohong padanya, mendengar celotehan Atma membuat Debut tertawa kecil.
“Benarkah?”
“Ya ... benar, masa Atma bohong, Mama berkata seperti itu.”
“Mau Papa jujur?” tanya Denis menatap lekat wajah Atma yang pipinya semakin berisi sehabis operasi karena aktivitasnya seharian hanya di kamar, istirahat dan makan.
“Tentu saja, mana ada yang mau dibohongi, Atma pun tak suka kalau ada yang berbohong,” ujar Atma.
“Papa ingin sekali membahagiakan Atma, disisa umur hidup Papa, Nak.”
Atma langsung memeluk Denis, menyandarkan kepala di dada Denis sambil mendengar detak jantung dan tersenyum lebar.
“Atma sudah bahagia, Pa. Ketika Papa sakit, Atma sedih dan sudah berjanji akan membuat Papa Denis bahagia juga, tidak marah dan memaafkan Papa Denis.”
“Uhhh ... tambah sayang sama anak, Papa,” ucap Denis yang mendekap tubuh Atma cukup erat.
‘Aku akan menjadikanmu prioritas hidupku, tidak untuk yang lain. Aku akan mengikhlaskan Vanya, dia berhak bahagia dan itu bukan bersamaku. Rasa sakitku saat melihat Vanya bersama Frans hanya keegoisan diriku semata, tidak aku tidak bisa egois seperti ini.’ Batin Denis bermonolog untuk menambah keyakinannya.
Atma meneliti kamar yang sudah disiapkan Denis untuknya, Kamar yang sama megahnya dengan kamar yang biasa ia tempati hanya saja kamar semegah ini hanya diisi satu ranjang king size tidak ada ranjang bayi seperti di rumah. Rumah, mengingatkan Atma pada kedua adik kembarnya.
“Suka, Sayang?” tanya Denis yang menekuk lutut agar bisa sejajar dengan posisi Atma.
“Suka, Pa. Bagus ... kita tidur bareng ‘kan?” tanya Atma memastikan.
Kalau harus tidur sendiri sudah pasti ia akan takut, terlebih bukan rumah yang biasa ia tempati, bagaimana kalau ada hantu atau zombi? Atma menggelengkan kepala berkali-kali ketika imajinasinya membuat ia takut sendiri.
Azan berkumandang, seperti alarm dalam otak, Atma langsung berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar pribadinya.
“Apa yang akan Atma lakukan?” tanya Denis yang bingung dengan tingkah Atma.
“Salat dan berdoa di awal waktu, kata Papa Rama dan Mama seperti itu, Pa. Papa Denis salat ‘kan? Semua agama mengajarkan kebaikan dan setiap agama mengharuskan setiap manusia beribadah dengan kepercayaan masing-masing. Teman-teman Atma ada yang ke gereja dan Vihara, mereka juga beribadah, malu kalau kita pun tak beribadah, Pa.”
__ADS_1
Hati Denis seperti tersentil oleh perkataan anaknya sendiri, entah sudah berapa lama ia tak beribadah pada sang ilahi Rabbi.
“Terima kasih sudah mengingatkan Papa, Mama Amanda dan Papa Rama luar biasa mendidikmu, Nak. Anak pintar,” kata Denis yang mengecup pipi Atma setelah menghampirinya dan langsung melangkah ke lemari mempersiapkan alat salat, melaksanakan kewajiban.
“Papa payah! Pasti Papa enggak salat, ya ‘kan?” cibir Atma yang ditanggapi dengan senyum canggung Denis karena malu dengan anak 7 tahun yang malah lebih baik dibandingkan dirinya.
“Papa kan baru sembuh,” kilah Denis dengan cengiran semakin lebar.
“Alasan,” kekeh Atma yang memeletkan lidah ke arah papanya, gemas Denis menarik pipi kanan dan kiri Atma.
“Ampun Papa!” pekik Atma sambil mengelus pipinya yang terasa sakit.
“Gemas, nanti malam Papa pelukin Atma sampai pagi kayak guling,” celetuk Denis.
“Sudah ah, Salat ... Papa bisa jadi imam ‘kan?” tanya Atma yang meragukan papa kandungnya.
“Kamu meledek atau memang ragu sama Papa?” tanya Denis penuh selidik dengan manik turunkan alisnya yang membuat Atma tergelak tawa.
Mereka wudu, menggelar sajadah dan melakukan kewajiban. Seketika hati Denis terasa lebih tenang, selesai salat melihat Atma yang berdoa sangat khusyuk dengan mata terpejam.
“Apa yang menjadi doa utama Atma?”
“Semua yang Atma sayang sehat dan bahagia, termasuk Papa,” kata Atma ketika selesai mengusap wajah dengan kedua telapak tangan selepas berdoa.
Denis menarik tubuh Atma dan memeluknya dengan sayang, banyak fase yang sudah terlewati selama ini termasuk terlewat mendidik Atma. Dalam situasi apa pun berpijaklah pada tali yang kuat dan merapat pada-Nya. Bukan mencari jalan tertentu yang memperkeruh pikiran dan menciptakan penyesalan. Sejatinya tak ada manusia yang kuat menopang diri, selalu ada Tuhan sebagai sandaran.
**
“Esok aku akan menghadiri sidang cerai dengan Vanya,” kata Denis memberitahukan kabar itu pada Rama di kantor ketika mereka membicarakan dan menyepakati kerjasama pengelolaan aset atas nama Atma yang sudah diberikan Denis.
“Lalu apa selanjutnya rencanamu?”
“Membawa Ibu berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan lebih intensif dengan alat-alat canggih, berharap ada kemajuan nantinya. Melepas Vanya adalah hal yang terbaik menurutku, jika kami tetap bersama ia akan tetap terabaikan karena prioritasku saat ini dan sampai sisa hidupku adalah ibuku dan juga Atma,” terang Denis yang sengaja bertukar pikiran dengan Papa sambung anaknya.
“Laki-laki tidak akan menjadi kuat jika tanpa wanita yang mendampingi, Denis. Itu bagiku, karena selama ini Amanda sangat berpengaruh untuk hidupku bisa jadi benteng terkokoh yang membuatku selalu bisa bertahan menghadapi apa pun masalahnya.”
“Kau beruntung,” kata Denis.
“Ya ... sangat beruntung.”
“Kalian memang cocok, entahlah melihat Atma tumbuh menjadi anak baik seperti sekarang, berprinsip kuat sejak kecil cukup membuatku speechless dengan cara didik kalian. Bahkan aku meragukan diriku sendiri bisa mendidik Atma seperti itu, rasa cintaku tercurah hanya untuk Atma sekarang. Melihat kamu bahagia dengan Amanda sudah cukup membahagiakanku, Rama.”
“Lalu kamu? Akan sendiri sampai sisa umurmu dan menua? Konyol Denis!”
“Ya ... karena kupikir prioritas utama saat ini dan seterusnya bukanlah wanita melainkan Atma dan ibuku.”
“Terserah padamu, Denis. Aku tidak bisa memaksakan kau menuruti apa yang kukatakan, ketika prioritas sudah ditentukan kuyakin tidak akan ada kesalahan yang akan kau perbuat, dibandingkan memaksakan bersama dan Vanya akan tersakiti,” terang Rama yang membuat Denis lega sekarang.
**
Hakim sudah memberikan ketuk palu untuk sidang putusan perceraian Denis dan Vanya, mereka sudah resmi bercerai mulai hari ini. Vanya sudah mempersiapkan hati sejak ia menginjakkan kaki di pengadilan, hatinya sudah tak karuan tapi ia berusaha bisa berpijak dan melangkah menghadapi persidangan.
“14 hari ke depan perkara cerai talak akan dilakukan sidang lanjutan yaitu sidang pengucapan ikrar talak dan ini dilakukan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, penggugat atau pun tergugat menerima hasil putusan. Kedua belah pihak akan dipanggil lagi untuk menghadiri sidang,” putus hakim yang didengarkan dengan seksama seluruh orang yang berada diruangan.
Ada denyut nyeri dihati Denis tapi ia sudah yakin ini yang terbaik, berharap lelaki yang bersama Vanya yang pernah ia lihat bisa membahagiakan wanita yang kini berstatus mantan dan sudah sah di mata hukum.
Vanya mengulurkan tangan ke arah Denis, berusaha tegar menghadapi putusan yang memang sudah lama bergulir alot di meja persidangan.
Tidak ada rumah tangga yang mengharapkan sebuah perceraian, tapi ketika bersama hanya ada saling menyakiti dan tidak ada kebahagiaan didalamnya salah satu jalan adalah perpisahan. Pernikahan yang kandas terkadang salah satu cara Tuhan membuat seseorang sadar menjadi lebih baik itu perlu untuk pernikahan yang akan dijalani nantinya dengan pasangan baru.
“Terima kasih sudah mengabulkan keinginanku, menghadiri sidang putusan perceraian kita, Denis.”
“Aku harap kamu bahagia setelah ini, Vanya. Bukan denganku tapi seseorang yang bisa membahagiakanmu dan mengobati luka hatimu karena diriku.”
__ADS_1
“Lupakan, Denis. Perpisahan ini bukanlah akhir, tapi awal ketika kita tidak saling menyakiti satu sama lain dan bisa menemukan kebahagiaan baru.”
“Perpisahan ini pasti menyakitkan, bukan hanya untukmu Vanya. Aku pun merasakannya terlebih telah merasakan untuk yang kedua kalinya, tetapi yakinlah selalu ada rencana dibalik itu semua yang telah Tuhan rencanakan,” ungkap Denis yang membuat dada Vanya terasa terhimpit dan berada di ruang pengap udara hingga sulit untuk bernapas dan mata terasa panas.
Tak terbendung lagi, air mata Vanya akhirnya menerobos keluar membasahi pipinya hingga Isak tangis terdengar. Spontan Denis menarik tubuh Vanya dalam rengkuhannya, “Maaf ...,” bisik Denis lirih yang di jawab dengan anggukan lemah Vanya.
**
“Kita beli mainan dulu untuk si kembar,” kata Denis yang sedang mengajak Atma berjalan-jalan, sesuai perjanjian, akhir pekan saatnya Atma menghabiskan waktu dengan Denis.
“Asik ... pasti kembar suka, nanti kita beli mainan yang banyak biar adik bingung, Pa,” ucap Atma girang memasuki sebuah mall dengan tangan bergandengan erat dengan Denis.
“Atma juga pilih mainan, tambah koleksi hot wheels yang Atma belum punya.”
“Siap, Pa,” kata Atma tersenyum sumringah dan langsung mencari model mobil hot wheels yang belum ia miliki, Denis menanti Atma memilih mainan sesuka hati.
“Oh iya, Papa benar 2 minggu lagi sama Nenek bertolak ke Singapura?” tanya Atma di sela aktivitas memilih mainan.
“Iya, Sayang. Nenek akan terapi di sana biar cepat pulih,” kata Denis menyahuti.
“Pasti Atma nanti kangen sama Papa,” sahut Atma yang terlihat bahagia, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Denis disisinya walaupun tidak setiap hari berkunjung karena Rama membatasi Denis untuk main ke rumahnya tanpa Rama di rumah supaya tidak terjadi fitnah dan kecurigaan mengingat Amanda dan Denis pernah menjadi pasangan suami-istri.
Denis sangat memahami apa yang menjadi keputusan Rama dannmemang itu yang terbaik, bagaimana pun Amanda dan dirinya adalah orang lain sekarang. Hanya karena Atma yang menjadi jembatan yang mengharuskan mereka tetap menjalin hubungan dengan baik.
“Kan ada Papa Rama,” kata Denis sambil menaruh mainan yang menurut dirinya bagus ke ranjang yang Atma pegang.
“Pasti dong, Pa. Papa Rama is the best,” seloroh Atma memuji Rama di depan Denis.
“Sudah belum?” tanya Denis pada Atma yang sepertinya sudah bingung memilih mainan.
“Sudah deh, Pa. Ini sudah banyak.”
“Siap Bos kecil.”
Mereka berjalan ke arah kasir untuk membayar semua mainan yang sudah dipilih, Atma langsung menenteng belanjaannya dengan bangga dan tersenyum lebar.
“Masukkan troli, bila perlu Atma naik di atas troli.”
“No, Papa! Atma sudah besar, bagaimana kalau gendong belakang?” tawar Atma.
Denis mengarahkan satu telunjuk ke arah dada, “Papa belum bisa mengangkat beban berat, nanti kalau papa sembuh total jahitannya Atma akan Papa gendong berputar mall 7 kali,” kelakar Denis yang mengundang gelak tawa Atma.
“Nanti Atma yang muntah-muntah karena pusing dikelilingi Papa memutari mall,” sahutnya.
Mereka keluar dari mall sambil melakukan obrolan kecil yang tak ada habisnya, dipenuhi kebahagiaan dan benar-benar akrab satu sama lain. Keberadaan Denis sudah sangat di terima Atma, tidak ada penolakan, ketulusan sayang Atma begitu kentara.
Dari jarak jauh, Denis melihat seseorang yang masih ia kenali dengan mata membulat.
“Atma masuk mobil dulu ya, Sayang.”
“Papa mau ke mana?”
“Toilet sebentar saja, Pak titip sebentar tunggu di sini,” kata Denis pada supir pribadinya.
“Baik Pak,” kata supir pribadi mengiyakan.
Bergegas Denis mengikuti arah seseorang yang ia lihat, mempercepat langkah dengan langkah lebar dengan dada bergemuruh seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Setelah dekat dengan seseorang itu dan memastikan penglihatannya, tangan Denis terkepal kuat dengan mata menyalak tajam.
“Kurang ajar!” katanya dengan gigi bergemeretak menahan amarah. “aku tidak akan membiarkan kamu lolos dan bersikap seenaknya, lihat apa yang akan kulakukan!” geram Denis yang langsung mengambil ponsel di saku yang tersimpan menelepon seseorang di seberang sana.
~Bersambung~
Like dan komentar 😍
__ADS_1
Maaf baru bisa update, selain kegiatan dunia nyata dan menulis di PF sebelah, kondisi fisik kurang fit. Terima kasih untuk supportnya dalam cerita ini, ikuti terus Pasca Cerai sampai Tamat. ☺️