
Denis baru saja memasuki ruang rapat setelah Vanya keluar dari ruangannya, dering ponsel berkali-kali diabaikan oleh Denis.
Sampai akhirnya, ia berkesempatan menerima panggilan telepon dari salah satu karyawan yang merupakan general manager perusahaan Denis.
“Pak Denis, Bu Vanya mengalami musibah di area parkiran kantor, Pak.”
“Istriku?”
“Iya, Pak.”
Denis panik bukan kepalang saat diberitahukan musibah yang menimpa Vanya, bergegas Denis keluar dari ruangan setelah mendapatkan telepon dari asistennya yang kemudian langsung membawa Vanya ke rumah sakit.
Saat diperjalanan barulah sang Asisten sempat menghubungi Denis, keadaannya begitu panik. Yang ada dipikiran sang asisten hanya bagaimana cepat-cepat membawa Vanya ke rumah sakit.
Denis memacu kendaraannya ugal-ugalan, ia ingin segera sampai rumah sakit tempat di mana Vanya mendapatkan perawatan.
Sesampainya di rumah sakit karyawan yang tadi memberitahukan Denis langsung menyambut, menunjukkan tempat di mana Vanya di rawat.
“Bagaimana keadaan istriku?”
“Ada di dalam, Pak.”
Bergegas masuk IGD, Denis langsung membuka tirai yang didalamnya di tempati Vanya.
Sang istri hanya menatap nanar Denis, matanya dilapisi bulir bening yang Sudan mulai luruh.
“Anak kita Denis,” kata Vanya yang menggelengkan kepala, tubuhnya bergetar menahan kesedihan.
“Anak?”
“Dia pergi, dia pergi,” kata Vanya menahan sesak nyeri di dada, pecah sudah tangisan Vanya.
Denis hanya mendekap erat tubuh Vanya yang bergetar hebat, janinnya tidak bisa diselamatkan. Padahal baru beberapa minggu menghuni rahim Vanya, kandungannya terlalu lemah dan tak bisa bertahan dari benturan ketika tubuh Vanya jatuh terduduk dengan gerakan sangat cepat.
“Tenangkan dirimu, Sayang. Ikhlaskan, ikhlaskan, kumohon jangan seperti ini. Kita harus kuat, ini adalah musibah. Ujian untuk kita bersabar,” kata Denis menenangkan walaupun perasaannya juga sedih tak karuan. Baru saja merasakan bahagia, ia sudah diberikan ujian kembali untuk kesekian kalinya.
“Allah betapa Engkau menyayangi kami dengan segala ujian yang Kau berikan,” gumam Denis memeluk erat tubuh sang istri dan mengecup puncak kepala dengan sayang. Mereka larut dalam tangisan, ketika yang mereka harapkan kehadirannya sudah kembali pada-Nya.
**
Vanya baru saja tenang, ia sedang beristirahat sekarang dengan pendarahan yang tidak berhenti. Dokter sudah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, tindakan kuretase pun sudah selesai dilakukan.
Pengaruh obat anestesi masih dirasakan tubuh Vanya, ia masih terlelap dalam mimpi setelah cairan obat bius yang masuk ke dalam tubuhnya membuat tak sadarkan diri.
“Ini adalah kantung janin yang telah gugur, Pak.” Dokter menyerahkan wadah bening yang didalamnya terdapat gumpalan darah tempat di mana janin yang dikandung Vanya gugur.
Rasa sedih menyeruak dalam dada, Denis menekan rasa itu. Ia harus kuat demi Vanya agar tidak semakin drop kondisi kesehatannya. Ia yakin Vanya jauh lebih sakit setelah kehilangan calon bayi mereka, sosok anak yang sangat diinginkan Vanya setelah Denis sembuh dari penyakitnya dan bisa menafkahi Vanya.
“Satu yang menjadi kabar buruk untuk Anda dan entah bagaimana bisa menjelaskan pada Bu Vanya, mengingat bukan hanya keguguran yang dialami Bu Vanya. Melainkan penyakit yang tak sadar dialami Bu Vanya dan itu salah satu faktor Bu Vanya mengalami keguguran juga selain benturan.”
Melihat raut wajah serius Dokter sambil melihat detail rekam medis sang istri, membuat Denis mulai khawatir.
“Apa itu, Dok?”
“Bu Vanya masih mengalami pendarahan pasca tindakan kuretase, pendarahan yang ternyata dari suatu sebab yang sangat serius.”
__ADS_1
“Tolong jelaskan secara detail, Dok. Saya sudah siap dengan apa pun yang akan disampaikan Dokter mengenai kondisi istri saya.”
Menguatkan diri sendiri, Denis mengatakan hal itu dengan sangat yakin padahal jantungnya berdegup cepat menanti penjelasan demi penjelasan dari dokter yang hanya melihat ekspresi saja sudah dipastikan berita yang tidak cukup baik untuknya dan Vanya.
“Pendarahan abnormal menunjukkan suatu tanda penyakit yang serius, Pak.”
Dokter menjeda ucapannya sebelum menjelaskan kembali, beliau mengambil hasil USG transvaginal yang merupakan alat USG dengan cara memasukkan alat rekam ke dalam mulut rahim hingga masuk ke dalam rahim dan melihat penyakit dalam rahim melalui monitor yang menampilkan gambar.
“Terdapat Mioma dalam rahim Bu Vanya, Mioma merupakan suatu pertumbuhan massa atau daging di dalam rahim. mioma terletak di dinding rahim dan bentuknya menonjol ke rongga endometrium atau permukaan rahim. Sebagian besar mioma tidak bergejala ditemukan pada wanita usia 35 tahun, ini yang terjadi pada Bu Vanya,” terang Dokter.
“Lalu bagaimana tindakan selanjutnya, Dokter?”
“Maaf, Pak. Kita harus melakukan tindakan pengangkatan rahim mengingat pendarahan abnormal serta pertumbuhan miom yang lebih dari satu,” terang Dokter yang membuat lutut Denis lemas rasanya.
“Bu Vanya tidak bisa mengandung, jika tidak diangkat pun bisa berpotensi kanker. Pendarahan abnormal kali ini memperburuk kesehat rahim Bu Vanya,” putus Dokter kemudian, membuat Denis menangkupkan kedua tangan di wajah dan mengusapnya dengan kasar.
“Lakukan yang terbaik untuk istri saya,” kata Denis pada Dokter, ia tidak menginginkan terjadi hal buruk nantinya jika tetap mempertahankan rahim Vanya.
Dokter langsung melakukan persiapan proses pengangkatan rahim Vanya yang akan dilakukan beberapa jam lagi, hati Denis hancur bukan hanya Denis bahkan Vanya lebih hancur.
“Amanda, tolong aku menjelaskan pada Vanya tentang kondisinya,” kata Denis pada Amanda yang kini memang dekat dengan Vanya. Sungguh Denis tidak sanggup mengatakan kenyataan ini pada Vanya jika tanpa seseorang yang membantunya.
Pada akhirnya Amanda mengambil alih tugas menjelaskan dan menenangkan Vanya, sementara di sisi lain Mommy Vanya mengurus kepindahan dirinya ke negara yang sama sekali tidak diketahui Vanya.
“Apa yang terjadi dengan Vanya? Sungguh aku tidak sengaja dan aku tidak ingin Denis murka dan memenjarakanku seperti ia memenjarakan Frans,” gumam mommy Vanya yang langsung bergegas mengumpulkan aset berharga di Indonesia dan menjual cepat pada teman-teman terdekat untuk ia jadikan modal melarikan diri.
Harta Mommy Vanya tidak sebanyak dulu, karena seluruh hartanya dibagi rata dengan Vanya atas pembelaan hukum dari tim pengacara hukum Denis.
**
Setelah dirawat selama seminggu, kondisi Vanya sudah membaik. Ia dibolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, belum bisa melakukan banyak kegiatan Vanya sering termenung ketika mengingat apa yang baru saja terjadi dengannya, entah sudah berapa banyak air mata yang luruh bahkan tidak ada habisnya.
“Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Vanya,” kata Bu Sinta yang melihat Vanya tak bersemangat setelah sampai di rumah, bahkan matanya terlihat sembab.
“Vanya sudah tidak berguna, Ma.”
“Vanya.”
“Vanya sudah tidak bisa memberikan keturunan untuk Denis, wanita tidak berguna yang berstatus istri dan menantu keluarga Narendra,” ujar Vanya lirih, mendengar ucapan penuh kesedihan itu Bu Sinta langsung menarik Vanya ke dalam pelukan, memeluknya erat dengan air mata yang sudah tak tertahankan.
Denis yang berada di luar ruangan hanya bisa menyeka air mata, ia tidak sanggup seminggu ini menghadapi dan melihat kerapuhan Vanya. Tak tega melihat Vanya semakin pecah tangisnya, Denis melangkah masuk ke dalam kamar itu. Duduk bersisian dengan Vanya di ranjang, setelah pelukan dengan Bu Sinta terlepas kini giliran Denis memberikan penguatan pada Vanya.
“Kamu wanita hebat, Vanya. Kamu kuat, kita kuat. Kamu bukan wanita tak berguna, dengarkan aku!”
Tangan Denis terangkat, menangkupkan pada kedua sisi wajah Vanya. Mengecup seluruh sisi wajah itu dengan sayang dan penuh cinta.
“Kamu akan tetap menjadi istriku, walaupun kini kamu adalah wanita tanpa rahim. Kamu akan tetap prioritas kebahagiaanku aku berjanji kamulah terakhir wanita yang kucintai, aku menerima kekuranganmu sebagaimana kamu menerima kekuranganku, Vanya. Love you so much, nothing else,” kata Denis Menangis tergugu juga sama seperti Vanya yang tak bisa membendung air matanya.
“Aku takut kehilanganmu, aku takut kamu membenciku, aku takut sendiri, aku—“ Denis membungkam mulut Vanya yang bergetar itu dengan kecupan hangat, melebur air mata menjadi satu.
Bu Sinta menyeka air matanya juga, melihat suami-istri dihadapannya sedang saling menguatkan di antara musibah dan kenyataan dengan cinta.
“Mommy, Papa, Nenek,” teriak anak kecil siapa lagi kalau bukan Atma menggelegar di seluruh rumah hingga terdengar sampai kamar.
Benar saja Atma hadir di ambang pintu dengan senyuman lebar, memecahkan kesedihan yang sedang dirasakan ketiga orang dewasa yang berada diruangan itu. Semua menghapus air mata mereka, menyambut Atma dengan senyuman seperti biasa.
__ADS_1
“Dede kembar bawa peralatan banyak banget, katanya mau menginap di rumah Mommy dan Papa Denis,” terang Atma setelah menyapa dengan pelukan dan cium sayang di pipi ketiga orang yang sudah menjadi bagian hidupnya.
“Surprised,” kata Amanda didampingi Rama menggendong si kembar lalu melangkah masuk ke dalam kamar bahkan meletakkan si kembar di samping kanan dan kiri Vanya.
Melihat bayi yang lucu, membuat kesedihan Vanya meluap entah kemana. Ia langsung mencium gemas kedua bayi yang aktif menggerakkan seluruh tubuhnya. Sapaan hangat Denis dan Rama terdengar seperti biasanya, mereka menjadi sangat dekat sekarang.
“Jangan pernah merasa sendiri Vanya, ada Atma dan si kembar yang bisa kamu jadikan anak dan bisa membahagiakan hari-harimu.”
“Benarkah Amanda?”
“Tentu saja, kami akan selalu ada untukmu Vanya. Kita keluarga ‘kan?”
“Tentu,” kata Vanya tersenyum hangat, setidaknya di antara kekurangan yang sekarang ia miliki masih ada keluarga yang mencintai dan menyayanginya.
“Terima kasih, Ram, Amanda, kalian berbesar hati memberikan kesempatan kami menjadi orang tua juga.”
“Hei kamu kan memang orang tua, atau jangan-jangan tidak mengakui Atma darah dagingmu?”
Denis meninju lengan Rama, “Enak saja!”
“Lalu?”
“Menjadikan kami orang tua untuk ketiga anak sekaligus,” kata Denis yang diakhiri senyum, Rama mengulurkan tangan memeluk khas pria yang diakhiri penyatuan kepalan tangan mereka.
“Kamu dan istriku memanglah sudah berpisah, tapi bukan berarti kisah kita semua berakhir dengan sebuah dendam dan kebencian, ingatlah ada Atma di antara kita dan ketika dirimu diuji oleh keturunan anggap saja cara Tuhan agar kamu lebih mensyukuri anak yang sudah diamanahkan oleh Tuhan,” kata Rama memandang Amanda, Denis dan Vanya bergantian.
Perpisahan membuat mereka kuat dan bijaksana, meninggalkan masa lalu tanpa mengulangi kesalahan yang sama. Mensyukuri apa yang sudah dimiliki akan terasa indah dari pada dibebankan dengan sesuatu yang belum dimiliki termasuk keturunan bukan hanya tentang harta.
“Entah dengan apa Mama mengucapkan terima kasih untuk kalian dan entah dengan apa Mama merasa puas untuk meminta maaf,” sela Bu Sinta.
“Dengan doa agar kita semua memperoleh kebahagiaan, Ma,” sahut Amanda melemparkan senyum seraya berjalan ke arah kursi roda Bu Sinta dan memeluknya.
“Duh pada bicara tentang apa sih? Aku bingung,” kata Atma yang sedari tadi hanya memandang bergantian orang dewasa yang berada di depannya.
Rama dan Denis saling bersitatap lalu mereka menoleh ke arah Atma, dan mengangkat tubuh kecil itu dengan menghujani kecupan sayang diakhiri kelitikan yang membuat Atma tertawa geli hingga memecah situasi haru diruangan itu.
~TAMAT~
Terima kasih untuk supportnya di karya PASCA CERAI.
Alasan kenapa Author beberapa hari ini enggak update adalah membuat bab untuk sequel PASCA CERAI dengan season kedua berjudul “TAKDIR CINTA AMARA”
Masukkan ke dalam favorit agar mendapatkan update bab terbaru, update setiap hari. Yuk! Langsung baca sequelnya.
Blurb sequel TAKDIR CINTA AMARA
Amara Althafunnisa
Aku akan berusaha terus untuk mengikhlaskan kepergianmu, Mas, karena kini salah satu bentuk mencintaimu adalah mengikhlaskan dirimu pergi. Namun, kenangan bersamamu adalah hal indah yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidup. Terimakasih atas cinta dan sayang yang kau titipkan padaku, biarlah kusimpan dalam ruang khusus dalam hatiku untuk kuingat di sepanjang sisa hidupku, titip kasih pada-Mu illahi Rabbi."
Amanda
Beberapa orang yang kamu cintai dan sayangi akan pergi, cepat atau lambat, tapi bukan berarti kisahmu berakhir, yang berakhir hanyalah bagian mereka dalam kisah hidupmu. Semangat dan lanjutkan hidupmu, yakin ada kebahagiaan yang akan menyertai perjalanan hidup kita nantinya.
Kisah Dokter spesialis anak, Amara Althafunisa. Siapakah yang akan menjadi jodohnya?
__ADS_1
Siapakah jodoh Atma dan juga Tama? Ayo baca ... banyak hikmah yang akan di dapat dari cerita ini.
Follow akun author ya, terima kasih ....