Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 30


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...💕 Like dan komentar 💕...


...♥️...


...♥️...


Semua keadaan sudah membaik, setelah sebulan kejadian itu menimpa kami. Atma sudah tidak mengalami trauma penculikan yang dilakukan Denis, beberapa kali melakukan konsultasi ke ahli psikologi anak untuk menghilangkan trauma tersebut. 


Sedangkan mantan Ibu mertuaku sedang sakit dan dirawat di rumah sakit tempatku bertugas, rasa iba hadir ketika kulihat ia termenung sendiri di ruang rawat tanpa di temani siapapun, Denis dijatuhkan hukuman selama 15 tahun penjara dan mungkin akan mengajukan banding untuk meringankan hukumannya.


"Ma, Papa kapan kembali dari Bandung?" tanya Atma ketika dalam perjalanan menuju sekolah.


"Mungkin besok, kenapa sayang?"


"Papa akhir-akhir ini sibuk, jarang bermain sama Atma." Atma menoleh kearahku, "ma, bagaimana kabar Om Denis?" pertanyaan Atma membuat aku mengerem mobil secara mendadak.


"Kenapa, sayang? Apa Atma mau menemui Om Denis?" Ia menggelengkan kepalanya.


"Atma ingin mengembalikan sesuatu." jawabnya.


"Apa yang ingin Atma kembalikan?"


"Ini." Atma mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam tasnya. "saat itu Om Denis memberikan kotak kado yang disembunyikan di tas, sehingga Papa Rama tidak mengetahuinya. Om Denis bilang, Atma boleh membukanya saat Atma ulang tahun."


"Apa Atma sudah membukanya?" Ia menggeleng. "Kenapa tidak di buka?"


"Atma ingin membukanya bersama Om Denis sebelum Atma tahu dia Papa kandung Atma."


"Atma sudah nggak takut dengan Om Denis?" Ia menggeleng sebagai jawaban. "Atma hanya ingin Mama berikan kembali ke Om Denis?" tanyaku pada Atma, untuk kali ini ia menganggukkan kepalanya.


"Atma tidak ingin melihat Om Denis, dia bukan Papa kandung Atma, hanya Papa Rama yang Atma miliki. Berikan saja kotak ini untuknya, Atma tidak ingin menerimanya." 


Atma tidak mengakui bahwa Denis adalah Papa kandungnya sejak awal ia mengetahui kebenaran itu. Aku tidak akan memaksanya, yang terpenting Aku sudah bersikap jujur tentang semua kenyataan pada Atma, sehingga tidak ada beban untukku nantinya jika ia telah dewasa.


"Baiklah, kotak ini akan Mama simpan, 'Oke?" Ia pun mengangguk.


"Lebih baik Atma tidak memiliki Papa jika Papa kandung Atma adalah Om Denis." ucapnya tegas. "Om Denis telah menyakiti kita, membuat Mama terluka dan menangis, dia yang membuat Atma diejek oleh teman-teman bahwa Atma tidak memiliki Papa." Aku tercenung mendengar ucapan Atma, kesedihan yang di torehkan Denis sangat melukai hatinya. ia sangat mengharapkan kehadiran Papa kandung saat masa kecilnya dan itu tidak bisa dipenuhi oleh Denis.


Diumur yang terbilang masih anak-anak, Atma harus merasakan luka hati yang cukup dalam. Aku hanya bisa memeluknya, mengusap pucuk kepala dengan lembut untuk menenangkan hatinya tanpa berucap sepatah katapun, biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka yang ditorehkan Denis.


Hari ini Aku mendapatkan giliran bertugas malam di rumah sakit, setelah memastikan Atma masuk ke dalam kelas, Aku masuk kembali ke dalam mobil, rencananya akan kembali ke rumah. Namun, setelah melihat kotak kado yang diberikan Denis untuk Atma, membuat rasa penasaranku muncul, ingin mengetahui isi dalam kotak itu. Perlahan Aku membuka kotak itu, ada selembar foto. Aku mengingatnya dengan jelas foto itu. Rasa sakit menelusup menyesakkan dada ini, foto dimana beberapa saat sebelum talak terucap dari mulut Denis, perkataan Denis terngiang ....


"Ingatlah Amanda, kita pernah bahagia bersama, menjalin rumah tangga penuh cinta, meskipun akhir dari pernikahan yang kita jalani adalah perceraian." ucapan itu seketika berputar dalam memori ingatan otakku setelah melihat foto itu, foto dimana Aku, Atma bayi dan Denis masih menjadi keluarga yang utuh sebelum ia menjatuhkan talak. 


Denis masih menyimpan rapih semua kenangan itu, ia pernah sehari menjadi sosok Papa yang baik untuk Atma meskipun atas permintaanku. Apa yang Aku minta hari itu ternyata tidak sia-sia, rasa sayang untuk Atma telah hadir dihatinya meski ia belum menyadarinya, rasa penyesalan dan rasa cintanya untukku benar-benar sesuatu yang menyakitkan untuk hidupnya setelah perpisahan kami.


Dengan cepat Aku mengemudikan mobil ke tempat dimana Denis berstatus sebagai tahanan. Ya, Aku menemuinya untuk menyelesaikan semuanya, untuk terakhir kali Aku akan menemuinya. 


"Bagaimana kabarmu?" Denis menyapaku saat kami duduk berhadapan.


"Sangat baik."


"Bagaimana anak kita?" Tanpa menjawab, Aku menyodorkan kotak kado yang Denis berikan untuk Atma.


"Ini, Atma meminta Aku mengembalikannya, dia belum sempat melihat foto itu, dan Aku harap tidak akan pernah melihatnya."


"Kenapa? Sebegitu bencinya 'kah Atma padaku?"


"Ia tidak membencimu, hanya tidak mengakuimu sebagai Papa kandungnya. Jangan perlihatkan foto itu, karena akan membuat dia sedih dan tidak menutup kemungkinan membencimu, karena kamu telah meninggalkan dia bahkan tidak mengakuinya setelah melihat kebersamaan kita dalam foto itu." Denis menarik nafasnya berat, matanya terlihat berkaca-kaca, bulir demi bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya, Pria yang dihadapanku sangatlah rapuh.


"Apa kesalahanku tidak pantas untuk di maafkan? Kalian tidak tahu betapa sakitnya Aku setiap malam merindukan kalian, ketika Atma memanggil Aku dengan sebutan Om dan memanggil Rama dengan sebutan Papa, padahal Aku Papa kandungnya."


"Bukan hanya kamu yang tersiksa, menjadi orang tua tunggal untuk Atma bukanlah hal yang mudah, besar tanpa seorang Papa di sisinya bukan juga hal yang mudah untuk Atma jalani, seharusnya kamu berterimakasih pada Rama karena ia menyayangi Atma dari bayi seperti anak kandungnya sendiri." ucapku sinis kepadanya. 


"Apa tidak ada cinta sedikitpun di hatimu untukku Amanda?"


"Cinta itu telah mati. Kamu hanya seseorang yang pernah mengisi hati dan hari-hariku di masa lalu, sekarang ada Rama yang memenuhi hatiku dan hari-hariku untuk selamanya."


"Apa yang harus Aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"


"Lupakanlah kami, jangan ganggu hidup kami lagi, sudah cukup kesedihan yang kamu berikan untukku dan juga Atma. Temukan kebahagiaanmu sendiri dengan wanita lain, bukan dengan Aku. Jangan mengharapkan sesuatu yang sudah tidak mungkin kamu capai. Nikmati semua hasil yang telah kamu tanamkan di masa lalu, penyesalan serta tidak diakui sebagai Papa kandung oleh Atma merupakan hukuman atas perbuatanmu pada kami di masa lalu. Ini terakhir kalinya Aku menemuimu, Denis." 


"Maaf, maafkan semua kesalahanku yang telah menyakiti kalian, tidak ada yang bisa menggeser posisi kalian di hatiku, Aku menjalani semua hukuman ini untuk menebus kesalahanku meskipun tetap saja tidak sebanding dengan kesedihan yang Aku berikan pada kalian." Ucapnya lirih.


Akupun berdiri dan meninggalkannya yang masih terpaku diam membisu dengan tatapan nanar dan meninggalkan kotak itu di genggaman tangan Denis tanpa berucap satu katapun lagi. 


__ADS_1



Aku kembali ke rumah untuk menjalankan tugas sebagai Ibu rumah tangga sebelum menjalankan tugas sebagai Dokter. Bersantai sejenak menghilangkan penat dengan melihat televisi progam memasak. Dengan pembawa acara salah seorang chef dengan wajah oriental dan bertato.



"Jadi kamu sukanya Pria yang bisa masak? Dan yang bertato seperti yang kamu lihat sekarang?" Suara Rama memecah konsentrasiku, hingga Aku terperanjat kaget. 'bukankah seharusnya dia masih di Bandung?' ucapku dalam hati.



Lalu Rama mengambil remote yang ku genggam dan mematikan acara memasak yang tengah kulihat.



"Kok dimatikan, Mas? Liat Pria sedang masak itu seksi loh Mas."



Dia mendengus sambil menggelengkan kepalanya, seakan ucapanku tidak masuk akal untuknya.



"Lebih seksi mana, Pria bisa memasak atau Pria yang bisa mendesain dan membangun rumah? Hmm?"



Bibirku berkedut menahan tawa, jadi Rama tidak rela jika Aku mengagumi Pria lain selain dirinya? 



"Hmmm ....sebenarnya sih lebih seksi yang bisa desain dan membangun rumah." jawabku akhirnya dengan mata berbinar menatapnya.



"Pinter kamu berarti memilih Pria." Sebentuk senyum cerah menghiasi wajahnya yang sempat terlihat kaku, mendekat kearahku dan langsung memelukku seperti biasanya yang ia lakukan jika tiba di rumah.



"Kamu kok sudah pulang, Mas?"




"Aku hanya bertanya Mas."



"Aku mual dari pagi, badan terasa lemas." Aku membalikkan tubuhku berhadapan dengannya, menyentuh kening dan bagian leher Rama.



"Tidak demam. Mungkin kamu terlalu lelah, sebaiknya istirahat, biar Aku siapkan makanan, bersihkan tubuhmu dulu, nanti Aku bawa makanan ke kamar."



"Baiklah." Ia berlalu menuju kamar, Minggu ini kondisi kesehatannya menurun, bahkan makanan yang baru di makan bisa ia muntahkan tanpa sebab, hal aneh menurutku.



Kuraih ponsel yang berada di meja, mencari kontak Gita, untuk meminta dia menjemput Atma karena Rama dalam keadaan sakit sekarang.



\[Gita, tolong Kakak untuk jemput Atma, bisa nggak? Mas Rama sedang sakit.\]



\[Bisa, Kak. Kebetulan Aku dan Kak Janu ingin kesana, memberikan undangan pernikahan kami.\]



\[Kebetulan kalau begitu, terimakasih ya adikku yang cantik.\]



Urusan menjemput Atma sudah selesai, sekarang saatnya merawat bayi besar di kamar. Setelah menikah Rama sikapnya tidak kalah manja dengan Atma, pakaian, makanan harus Aku yang menyiapkan jika sedang ada di rumah.


__ADS_1


"Makanannya di makan, Mas!!!" ucapku kesal saat kembali ke kamar tapi makanan yang kusuguhkan masih utuh.



"Amanda, tolong jangan paksa Aku makan, mual rasanya."



"Ckk ....kamu seperti orang hamil saja, ishh." mendengar ucapanku Rama melebarkan matanya.



"Terakhir kamu datang bulan kapan?" 



"Aku lupa, sepertinya ...." Aku menepuk keningku. "Seharusnya Aku sudah mendapatkan menstruasi Minggu ini. Apa jangan-jangan ...."



"Kamu hamil?"



"Tidak, mungkin ini hanya telat."



"Aku yakin kamu hamil, buktinya Aku yang ngidam mual seminggu ini."



"Mana mungkin bisa Aku yang hamil, kamu yang Mual, ngaco kamu Mas."



"Pokoknya Aku nggak mau tahu, besok kamu harus cek dengan testpack."



"Aku nggak merasakan tanda kehamilan Mas, tubuhku biasa saja."



"Periksa atau Aku nggak akan makan sama sekali hari ini?"



"Iya, iya, ya ampun kamu pemarah sekali sih Mas."



"Nggak marah sayang, malah tambah cinta dan sayang." Ia memeluk pinggangku, mencium bagian perutku seolah-olah Aku benar hamil saat ini.



"Mas, jangan berharap lebih, Aku takut kamu kecewa."



"Mas yakin, Amanda."



"Terserah kamu deh ....oh iya, tadi ada kurir datang mengirimkan sesuatu berupa amplop, Aku letakkan di meja kerja."



"Boleh minta tolong ambilkan?" Aku mengangguk, setelahnya Aku mengambil amplop itu di ruang kerja Rama dan kembali lagi ke kamar.



"Ini mas." Ia segera membuka amplop itu, dan Aku terkejut dengan isinya, hatiku terasa di remas-remas, tubuhku sudah tidak mampu untuk berdiri, Aku terduduk lemas tanpa ekspresi dengan air mata yang mulai menerobos keluar dari pelupuk mataku.



'ya Allah apalagi yang akan terjadi dalam hidupku? Sangat sayang 'kah engkau terhadap diri ini hingga memberikan cobaan padaku lagi?' bisikku dalam hati.


__ADS_1


💕 Happy reading readers 💕


__ADS_2