
“Frans!” Teriak Vanya yang akhirnya bisa menguatkan diri melihat adegan kekerasan tepat di depan matanya.
Sungguh ia tidak menyangka Frans bisa begitu lancang memberikan bogeman di wajah Denis hingga terhuyung, hanya ucapan penuh penekanan yang terlontar langsung membuat Frans naik pitam.
Vanya melangkah ke arah Denis, memegang ke dua lengan Denis agar bisa tetap menjaga keseimbangan, tangan Denis memegang dada, rasa sesak begitu terasa. Dokter mengatakan Denis harus melakukan aktivitas sepelan mungkin jangan ada hentakan dalam tubuhnya menghindari nyeri di bagian dalam pasca operasi transplantasi hati.
Bogeman yang diberikan Frans cukup keras, Denis hanya bisa pasrah ia bukan pria sehat yang bisa bergelut dengan lawan jika tentang perkelahian secara fisik.
“Kamu masih membelanya, Vanya?” tanya Frans yang tak percaya melihat Vanya malah menolong Denis untuk bisa berdiri tegap ketika keseimbangan oleng.
“Tidak dengan cara kekerasan Frans! Aku tidak menyukai kekerasan terlebih itu dilakukan tepat di depan mata kepalaku sendiri. Aku jelas menolak hal itu!” hardik Vanya yang kini terlihat murka.
Denis hanya diam, ia sedang mengatur napasnya agar tidak sesak akibat ulah Frans. Membiarkan begitu saja Frans dan Vanya yang tengah beradu argumentasi, Frans merasa apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar sedangkan Vanya menganggap sebaliknya.
“Lalu dengan cara apa Vanya? Dia sedang mempermainkan hatimu, apa aku salah membelamu agar dia tidak semena-mena mengambil keputusan? Aku membelamu tapi apa yang kudapat? Kamu malah menyalahkanku,” kilah Frans yang terlihat mulai kesal dengan sikap Vanya.
“Cukup Frans ... kamu memberikan bogem mentah pada wajahku karena kamu tidak ingin aku banyak berbicara ‘kan?” Kini Denis sudah mulai bisa berbicara dengan posisi sudah terduduk di sofa ruang tamu rumah, Vanya yang tetap berada di sampingnya sedangkan Frans berada di seberang posisi mereka.
“Apa yang aku takutkan? Kamu hanya mantan Denis, ingatlah posisimu!”
“Aku dan Vanya akan kembali seperti apa yang sudah kusampaikan sebelumnya, karena apa? Tidakkah kamu ingin tahu dibalik keputusanku Frans?”
“Denis, cukup! Hentikan omong kosongmu. Sebaiknya kamu pulang agar suasana tidak semakin keruh oleh sikap kekanak-kanakan kalian, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kita akan bertemu di pengadilan pengucapan ikrar talak, silahkan pulang.” Vanya berdiri mengarahkan satu tangan ke arah pintu agar Denis keluar dari rumahnya.
Namun, menunggu beberapa menit Denis tidak beranjak, hanya tatapannya yang berbicara memindai Frans dan Vanya bergantian lalu tersenyum kecut ketika mendapati wajah Vanya yang sudah menyiratkan keberatan akan keberadaannya di rumah ini.
Denis mengeluarkan ponsel, membuka file yang tersimpan di dalam galeri lalu memberikannya pada Vanya. Kening Vanya berkerut dalam, sempat ragu ketika ingin mengambil ponsel yang disodorkan Denis ke arahnya, tapi rasa penasaran Vanya begitu tinggi. Ia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, kedatangan Denis, murkanya Frans cukup membuat tanda tanya dalam benaknya.
Vanya mulai melihat foto Frans dengan beberapa rekan bisnis yang dikenali juga oleh sebagai pesaing perusahaan yang ia miliki dan sampai saat ini masih bekerja sama dengan perusahaan Denis terlepas kasus perceraian yang sedang mereka hadapi. Video pun di putar, suara Frans dan lawan bisnisnya itu pun terdengar bahkan rencana mereka pun terdengar meski samar tapi masih cukup jelas memahami obrolan Frans dengan beberapa orang itu.
Frans yang menanti apa yang sebenarnya terjadi dibuat bingung dengan ekspresi Vanya yang berubah-ubah ketika melihat ponsel, Vanya sendiri mendengarkan obrolan video menggunakan earphone yang sengaja diserahkan Denis. Frans belum menyadari kalau apa yang Vanya lihat adalah sosok dirinya dengan semua rencana busuknya.
“Aku paham, Denis.” Vanya menyerahkan yang berada digenggamannya pada sang pemilik.
“Aku memiliki alasan, Vanya.”
__ADS_1
“Tapi tidak seharusnya mengambil keputusan yang tadi kau lontarkan Denis,” kata Vanya tertawa sumbang mengasihani dirinya sendiri.
Vanya pikir Frans akan mengobati luka hatinya, ia memiliki harapan besar pada Frans. Namun, nyatanya semua hanya semu belaka, tak ada cinta hanya memanfaatkan materi dan semua aset yang ia miliki.
“Pergi kalian berdua dari rumahku, tanpa bantahan.” Vanya berucap sangat tegas menatap bergantian Denis dan Frans dengan tatapan penuh kesedihan dan kekecewaan.
“Frans ... jika memang kamu membutuhkan dana untuk perusahaanmu, kamu bisa mengajukannya secara resmi melalui pengacara dan bernegosiasi dengan pihak manajemen perusahaan dan juga diriku tidak dengan cara kotor bekerja sama dengan pesaing perusahaan hanya untuk mendapatkan banyak keuntungan. Kamu benar-benar jahat, Frans!” kata Vanya yang berucap sambil terus menekan amarah, suara Vanya penuh penekanan dan ketegasan.
Mata Frans membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan Vanya, sementara Denis langsung menunjukkan gambar di ponselnya sehingga Frans benar-benar terkejut sekarang.
“Fitnah ... ini fitnah Vanya!”
“Tidak perlu berkilah Frans, semua sudah jelas! Sekarang pergilah! Jangan menampakkan dirimu dihadapanku lagi, sungguh memuakkan apa yang kamu rencanakan, kamu tidak lebih dari seorang player Frans, sama seperti dulu saat awal aku mengenalmu.”
“Vanya,” panggil Frans yang mencoba meraih tangan Vanya agar bisa ia genggam, tapi dengan cepat Vanya menepis tangan itu bahkan mendorong tubuh Frans.
Denis tersenyum puas, tak apa mendapatkan bogem mentah darinya saat awal karena kebohongan Frans akhirnya terkuak dan Vanya bisa langsung mempercayainya dengan bukti kuat yang ia miliki. Sementara Denis hanya wait and see, membiarkan Vanya menyelesaikan masalah dengan Frans sebelum ia akan menyelesaikan masalah perceraian dengan Vanya.
“Keluar sendiri atau aku akan memanggil pihak keamanan yang bertugas di gerbang?”
Frans mendengus kesal, ketika Vanya sudah siap menghubungi seseorang dari ponsel yang kini didekatkan ke telinganya.
“Tidak akan, Frans! Jangan pernah kembali muncul dihadapanku, ingat itu!” Vanya kembali memperingatkan.
“Aku jujur mencintaimu, Vanya.”
“Bull shit, keluar!” bentak Vanya yang sudah tak bisa membendung amarah ketika mendengar kata cinta.
Cinta model apa yang Frans maksud? Ketika niatnya hanya untuk kesenangan bisnis semata, meraup keuntungan dari sebuah pernikahan yang seharusnya suci tanpa syarat dari kedua insan, Vanya murka.
Akhirnya tanpa permisi, Frans melangkah keluar tapi sebelum itu mendekati Denis dan memberikan ancaman pada Denis.
“Ini belum akhir, jangan merasa menang di atas angin, Denis Putra Narendra!” ancamnya dengan satu sudut bibir tertarik ke atas dan juga tatapan sinis yang menyiratkan kebencian.
Vanya bisa sedikit bernapas lega sekarang, ia terduduk lemah dengan perasaan berkecamuk antara percaya dan tidak semua ini terjadi padanya, hampir saja ia melakukan kesalahan lagi dengan menerima cinta yang ditawarkan Frans di tengah kerapuhannya.
__ADS_1
“Vanya ...,” panggil lirih Denis.
“Aku mohon kamu pun keluar dari rumahku, Denis. Kita akan bertemu di sidang ikrar talak. Pergilah!” titah Vanya yang tak bisa diganggu gugat, ia sudah lelah menghadapi semua lika-liku kehidupan rumah tangganya.
“Maafkan aku ... kembalilah Vanya.”
Mendengar ucapan Denis, Vanya tertawa sumbang. Dirinya terlihat menyedihkan sekarang, bukan ini yang Vanya inginkan ketika rasa kasihan lebih besar dari rasa cinta, itu yang diyakini Vanya hingga ia merasa apa yang diucapkan Denis hanya karena kasihan.
“Tidak perlu, kasihan padaku Denis. Teguhlah pada pendirianmu untuk bercerai denganku, aku tidak mengharapkan kembali lagi padamu. Sekarang kita hanyalah dua orang yang berbeda dengan semua kenangan pahit yang kita miliki. Tidak ada yang patut dipertahankan, kita hanya teman sekarang Denis. Aku sudah mengikhlaskan jalan takdirku, tidak perlu merasa bersalah.”
Vanya tersenyum getir, mengikhlaskan hanya dalam perkataan saja dalam hati ia masih belum menerima semua ini karena masih ada rasa sakit ketika kata ikhlas terucap, seharusnya jika memang ikhlas tidak ada rasa sakit yang dirasakan seseorang ketika merelakan semua yang terjadi dengan balutan kata ikhlas.
Denis sejenak terdiam, ia bingung cara menenangkan dan meyakinkan Vanya yang pastinya sedang merasakan kesedihan sekaligus kekecewaan.
“Aku akan meminta kuasa hukum agar membuatkan surat kuasa istimewa untuk persidangan ikrar talak, 3 hari lagi aku akan ke Austria, menata hati dan semoga menemukan kebahagiaan. Aku harap kamu akan mendapatkan kebahagiaan juga, Denis. Kita teman,” kata Vanya yang mengulurkan tangan ke arah Denis.
Dengan ragu Denis, menyambut uluran tangan itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Bukan akhir seperti ini yang ia inginkan jauh di dalam lubuk hatinya, bukan hal sulit mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dari Vanya, tetapi mendapatkan wanita yang menerima dirinya apa adanya dan selalu ada menemani kala bahagia maupun sedih yang Denis butuhkan untuk menemaninya yang penuh akan kekurangan.
“Aku akan memberikan waktu padamu, Vanya. Terkadang pasangan harus dipisahkan dulu untuk mengetahui seberapa dalamnya cinta yang ada di hati, ‘kan?”
Vanya tercenung, ia hanya bisa terdiam memahami perkataan Denis dengan tangan yang saling bertautan.
“Biarkan semua berjalan sebagaimana yang kita rencanakan, akhiri semuanya. Sampai pada akhirnya kita dipertemukan dan saat itu aku akan berjuang,” kata Denis tanpa ragu sedangkan sukses membuat jantung Vanya berdegup cepat.
“Meskipun aku bisa mencari wanita yang lebih darimu, tetapi aku pastikan tidak ada wanita yang bisa menerimaku apa adanya selain dirimu. Sejak awal kamu tidak bersalah Vanya, kita adalah korban dari keegoisan orang tua kita karena sebuah obsesi kerajaan bisnis. Tetaplah buka hatimu, kita perbaiki diri sampai tiba saatnya kita dipertemukan kembali dan saat itu kita akan memulainya dari awal sebagai seseorang yang baru yang hadir dari masa lalu,” ungkap Denis yang setelah mengakhiri ucapannya langsung memundurkan langkah menuju pintu luar rumah Vanya dengan keyakinan dalam hati mereka akan kembali.
Vanya menatap nanar punggung tubuh Denis, menghapus jejak air mata yang menerobos tanpa permisi dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Ada harapan untuk mereka meski bukan untuk saat ini, selalu ada harapan untuk mereka yang berdoa dan selalu ada harapan bagi mereka yang berusaha. Apa pun yang terjadi pasti akan ada sebuah akhir, ketika sebuah hal baik berakhir maka yakinlah di lain waktu yang lebih baik lagi akan segera di mulai.
"Aku akan menunggu saat itu, Denis," gumam Vanya.
~Bersambung~
Like dan komentar 😍
__ADS_1
support terus Pasca Cerai sampai Tamat ya, terima kasih. ❤️
Sudah ada GC, boleh gabung jika berkenan biar saling mengenal, cek profil author. 😍