Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 51


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Denis sampai di halaman parkir rumah sakit, Amanda yang masih berada di parkiran karena si kembar yang rewel pun melihat kedatangan Denis dengan mata membulat. Supir pribadi keluarga Rama tengah menuju rumah sakit untuk menjemput si kembar bersama pengasuh.


Selama menunggu, Amanda memilih di area parkiran mobil yang terdapat taman kecil di sana dengan kolam ikan koi yang membuat si kembar lebih nyaman, tidak rewel ketika mereka berada di dalam rumah sakit.


“Denis,” panggil Amanda yang melihat Denis tergesa ingin menuju lobi rumah sakit.


Panggilan Amanda membuat Denis mencari sumber suara yang telah memanggilnya.


“Amanda,” gumam Denis yang tanpa berpikir panjang melangkah ke arah sang mantan istri yang tengah menggendong Tama—bayi kembar laki-lakinya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Bagaimana keadaan Atma?”


Amanda mendelik ke arah mantan suaminya.


“Cepat sekali kamu mengetahui keadaan, Atma? Luar biasa mata-mata keluargamu, Denis,” sindir Amanda yang menampakkan wajah tidak suka.


Sebelumnya Rama sudah memberi tahukan pada Amanda bahwa orang suruhan Denis selalu memata-matai mereka, hanya saja Amanda tidak terlalu mempercayainya. Dan sekarang ucapan Rama terbukti, cukup membuat Amanda terkejut.


“Please Amanda, kali ini jangan ada keributan di antara kita, jangan ada perdebatan. Sungguh aku ingin memperbaikinya semuanya.”


Amanda berdecih, menggelengkan kepala melihat Denis kini mendesaknya.


“Tidak perlu, ada Rama yang senantiasa menemani anakku.”


“Anak kita,” ucap Denis meralat ucapan Amanda yang hanya mengakui Atma sebagai anaknya.


Amanda tertawa kecil, meledek ucapan Denis. Anak kita ... terdengar memuakkan untuk Amanda. Di saat seperti ini emosi Amanda tidaklah stabil, pikirannya pun tengah mengkhawatirkan keadaan Atma sementara di sisi lain si kembar juga membutuhkannya, tidak bisa melepas begitu saja pada pengasuh.


“Kepercayaan dirimu cukup tinggi, Denis.”


“Lalu aku harus apa? Diam tanpa berbuat sesuatu ketika sekarang kuketahui anakku tengah dalam keadaan tidak baik?”


“Apa yang akan terjadi dengan Atma jika melihat keberadaanmu, Denis?! Apa?! Beban psikologis Atma akan semakin tertekan, lalu kesehatannya pun terganggu. Apa kamu tidak berpikir sejauh itu?”


Denis tertegun mendengar penuturan Amanda, ia tidak memikirkan sampai sejauh itu. Yang lebih berat dihadapi Atma adalah beban psikologis ketika dirinya muncul secara tiba-tiba. Psikis Atma akan terguncang oleh trauma atas apa yang pernah ia lakukan.


“Bodoh!”


“Bodoh!”


“Bodoh!”


Rutuk Denis dalam hati, menarik rambutnya karena frustrasi, ia pun terduduk lemah di kursi panjang sambil menundukkan kepala dalam. Wajah Atma menari dalam pikiran, mimpi yang seolah nyata pun kini mampir berputar dalam otak. Denis semakin tertekan, di satu sisi ia ingin menemani anaknya, di satu sisi lainnya apa yang dikatakan Amanda adalah benar adanya.


“Seperti sejak awal, aku tidak mempermasalahkan kamu bertemu dengan Atma. Tidak sama sekali! Aku pun tidak ingin berdosa ketika memutuskan hubungan darah kalian dengan melarang pertemuan ayah dan anak, tapi kamu harus paham konsekuensinya, Denis! Atma hidup sampai sekarang itu adalah sebuah perjuangan yang luar biasa, kamu tahu bukan bagaimana aku membuat ia menjadi anak yang sempurna ketika kalian tidak menerima ketidak sempurnaan yang Atma miliki.”


“Atma dibesarkan dengan perjuangan dan diiringi air mata, ketika aku harus menjadi singgle parents untuknya. Memantau terus tumbuh kembangnya, berusaha agar ia tetap hidup seperti layaknya anak kecil pada umumnya.”


Amanda mengungkapkan semuanya dengan penuh emosi, matanya pun sudah mulai berembun. Kesal, khawatir, takut bercampur menjadi satu.

__ADS_1


“Aku ingin bertemu dengan Atma dan menemaninya, membuktikan kalau aku benar menyayanginya, Amanda. Jika aku tidak bisa memperbaiki hubunganku denganmu sebagai sepasang suami-istri maka izinkan aku dengan caramu agar aku tetap bisa dekat anakku, darah dagingku,” ucap Denis yang kini meluruhkan tubuhnya ke lantai dengan lutut di tekuk.


Denis duduk bersimpuh yang membuat Amanda malu ketika pengunjung rumah sakit kini fokus menatap mereka, dari kejauhan Rama kebetulan ke luar dari pintu lobi rumah sakit setelah Atma sedang beristirahat akibat pengaruh obat. Rama pun mengkhawatirkan keadaan Amanda di luar tuamh sakit bersama sang pengasuh.


Rama berlari melihat tingkah Denis yang di rasa membuat malu Amanda, seolah ia lelaki yang teraniaya. Tanpa aba-aba, Rama langsung menarik kerah kaos baju Denis hingga Denis berdiri setengah tegak dengan menatap nyalang.


“Bisa tidak kamu tak membuat ulah memalukan ketika kami sedang menghadapi masa sulit, hahh?!” hardik Rama yang emosinya sudah di ubun-ubun.


Denis memejamkan mata, bersiap jika Rama memberikan bogem mentah di wajahnya. Tapi setelah menunggu beberapa saat tak ada pukulan yang mendarat di pipinya, Amanda menahan tangan suaminya yang sudah melayang di udara, menghentikannya tepat pada waktu.


“Tidak, Mas. Aku tidak ingin kamu menjadi contoh buruk anak-anak dengan menyelesaikan segala sesuatu melalui kekerasan,” ucap Amanda.


Rama langsung melemaskan otot tangannya, tangan itu pun luruh dan Amanda menakutkan jemarinya dengan satu tangan sementara satu tangan lainnya tengah menggendong si kembar.


Rama mengembuskan napas kasar, mengusap wajahnya lalu terduduk sambil memijat pelipisnya yang dirasa pusing.


“Apa yang kamu inginkan, Denis?”


“Temui aku dengan Atma, izinkan aku melihatnya.”


Rama langsung berdiri, melepaskan genggaman tangan sang istri lalu menarik lengan Denis dengan kasar. Amanda sudah ketar-ketir dibuatnya, khawatir Tama gelap mata dan membuat keributan di rumah sakit.


“Mas,” panggil Amanda.


Rama menghentikan langkah, ia terlalu larut dalam emosi. Sekali lagi ia mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekati sang istri, mengecup kening Amanda dan kedua anak kembarnya.


“Jangan khawatir, aku tidak akan mempermalukan diri sendiri dengan membuat keributan, jika supir sudah datang maka masuklah, susul aku dan Atma,” kata Rama lembut.


“Tetaplah di sini, kamu boleh menunggu dan melihat Atma dari kejauhan.”


“Tapi!” Denis memprotes.


“Sudah kubilang, Atma butuh waktu. Kamu bisa masuk jika Atma benar-benar pulas tertidur,” kata Rama yang sudah tidak mendapatkan penolakan. Denis mengaggu pasrah.


Rama masuk ke dalam ruang rawat inap, kondisi Atma sudah mulai stabil tapi Dokter merencanakan operasi jantung, menutup lubang yang masih terdapat di jantung serta Aritmia (Detak tidak beratutan) yang dialami Atma.


“Eyang ...,” panggil Atma yang menyangka kalau itu adalah Abi yang memang sedari tadi menunggu Atma.


“Ini Papa sayang.”


“Ha-us,” kata Atma terbata.


Rama menyuapinya minum.


“Mama mana, Pa?”


“Sedang menunggu supir dan satu pengasuh untuk membawa pulang adik.”


“Bolehkah adik menemani Atma di sini?” tanya Atma sangat lirih.


Rama menggelengkan kepala sambil tersenyum lalu mencium pipi kanan Atma dengan sayang.


“Kasihan adik takut tertular virus di rumah sakit, rumah sakit tidak sehat untuk adik kembar. Makanya Atma harus sembuh biar bisa kembali bermain sama adik.”

__ADS_1


Atma mengangguk dan tersenyum tipis, tangannya terulur mengelus wajah Rama.


“Papa sama Atma lebih tampan mana?” tanyanya.


Amanda masuk ke dalam ruang rawat inap, membiarkan Denis yang tetap menatap nanar kondisi putranya yang kini terpasang alat medis, kabel di sekitar dada menempel yang menghubungkan detak jantung ke monitor yang berada di sampingnya.


“Lebih tampan Atma dong, Papa kalah tampan sama anak Mama,” sahut Amanda yang langsung memberikan pelukan dan kecupan keseluruh sisi wajah Atma.


Atma terkekeh mendengar jawaban mamanya, Amanda tersenyum lebih tepatnya memaksakan sebuah senyuman. Seperti biasa seorang Ibu haruslah kuat, ia berusaha tidak menampakkan kesedihan di depan Atma.


“Kalau sama Tama?”


“Tampan semuanya dong, Tama kan kembarannya Atma, kalian kan saudara kembar hanya beda waktu dilahirkan,” sahut Rama yang mencubit gemas Atma seperti biasa yang ia lakukan.


Atma terkekeh kembali.


“Peluk,” kata Atma yang merentangkan kedua tangannya agar kedua orangtuanya masuk ke dalam dekapan tubuh yang kini tengah ringkih.


“Anak Mama dan Papa kuat,” kata Amanda.


“Atma anak Papa yang paling kuat,” timpal Rama berbisik.


Amanda meregangkan pelukan.


“Atma harus bertahan untuk Mama dan Papa saat nanti dioperasi, berjanjilah pada Mama dan Papa.”


Bulir bening menetes dari sudut mata Atma, ia mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan sang Mama. Walaupun Amanda tidak menampakkan kesedihan, ikatan batin mereka tak bisa dibohongi, ketika mamanya merasakan kesedihan Atma pun merasakan kesedihan yang sama.


“Atma sayang banget sama Mama, Papa, dan Adik. Ketika Atma di operasi, Mama tidak boleh nangis. Atma kan jagoan, ya ‘kan, Pa?” kata Atma.


Tanpa berkata-kata lagi, Rama dan Amanda memeluk Atma secara bersamaan. Dinluar ruangan berbatas kaca, hati Denis seperti tersayat sembilu, hatinya remuk redam melihat keadaan putranya. Tangannya meraba kaca, membayangkan bisa meraba wajah tampan anaknya, tapi itu hanya menjadi angannya saja.


Pada nyatanya, kehadiran Denis pasti akan membuat kondisi Atma semakin memburuk.


“Seharusnya Papa berada di sana ikut memelukmu juga, Nak. Ketika kesalahan harus di bayar dengan penyesalan begitu terasa menyakitkan.”


Atma melihat siluet seseorang yang kini melihat kearahnya, tubuh Atma menegang dan ia langsung menggelengkan kepala kuat. Amanda dan Rama mengikuti arah pandang Atma, mereka melupakan untuk menutupi keberadaan Denis di sana dari penglihatan Atma.


“Suruh dia pergi, Ma, Pa,” pinta Atma yang kini memejamkan mata tak mau melihat keberadaan papa kandungnya.


~Bersambung~


Like dan komentar jangan lupa hadiah dan votenya ....☺️


Happy Weekend, maaf telat upload harusnya sore. Mudah-mudahan tetap sabar menanti cerita ini, terima kasih sudah membaca cerita ini ya, love sekebon untuk semuanya.


By the way ... cerita ini "terinspirasi" dari kisah nyata hanya dibubuhi fiksi dalam latar cerita ini. Tokoh Atma kondisi matanya tidak terselamatkan, ia mengalami kebutaan permanen, eits tapi dia ceria loh. Cerita ini merupakan harapan author untuk kebahagiaan mereka.


Sedih?


Iya ... sangat sedih terlebih kisah aslinya.


Terima kasih untuk supportnya ☺️❤️

__ADS_1


__ADS_2