Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 50


__ADS_3

đź’• Happy reading đź’•


“Atma!”


Rama langsung menggendong sang anak masuk ke dalam mobil, diikuti Amanda dan pengasuh yang juga menggendong si kembar. Amanda langsung memposisikan diri duduk di kursi penumpang, Pengasuh duduk di kursi paling belakang bersama si kembar, walaupun kewalahan memegang 2 bayi sekaligus tapi sang pengasuh begitu cekatan membuat tenang si kembar yang aktif.


Amanda memangku Atma yang sudah dalam keadaan tak sadar, Rama begitu panik sementara Amanda terus melakukan pemeriksaan pada anaknya. Memeriksa denyut nadi, menggosok telapak tangan agar bisa mendapatkan respons dari Atma.


Ingin rasanya menangis, tapi Amanda harus tetap tenang dan tegar. Jika ia menangis bukan tidak mungkin si kembar ikut rewel di kursi penumpang paling belakang yang akan membuat semuanya semakin runyam.


“Sayang dengar Mama, Nak,” kata Amanda yang menepuk-nepuk pipi Atma lembut.


“Ini semua salahku, seharusnya tidak mengajak Atma berlari dalam waktu lama,” sesal Rama sambil terus mengemudikan mobil menuju rumah sakit.


“Mas, tidak ada yang patut dipersalahkan. Atma baik-baik saja, dia anak yang kuat. Percayalah!” Amanda berusaha menenangkan sang suami.


Sejak dulu ketika Atma sakit, Rama lah yang paling terlihat panik.


“Lihat, aku sudah melakukan tindakan yang tepat. Kaki Atma sudah kuletakkan lebih tinggi untuk mengembalikan aliran darah ke otak, melepaskan pakaian agar lebih leluasa bernapas. Aku sudah lebih paham menghadapi keadaan darurat seperti ini, Mas. Jangan lupakan profesi istrimu,” terang Amanda yang membungkam mulut Rama.


Ya ... saat Atma mengalami pingsan, Rama menggiring pengasuh dan si kembar lebih dulu ke dalam mobil. Amanda melakukan tindakan CPR untuk Atma, membaringkan tubuh Atma di permukaan datar dan keras, meletakkan satu telapak tangan di bagian tengah dada tepatnya di antara payudara, lalu menekan dada Atma 100-120 kali per menit dengan kecepatan 1-2 tekanan per detik.


“Sayang,” panggil Amanda di telinga Atma.


Terdapat gerakan di tangan kanan Atma, respon yang membuat Amanda semakin lega. Mengecek ritme jantung yang masih berdetak lebih cepat di atas rata-rata, setidaknya sudah merespon.


“Ma ... Pa ...,” panggil Atma sangat lirih.


“Sayang kamu sudah sadar, Nak. Bertahan ya, Papa sudah menuju rumah sakit.”


“Apa yang dirasa, Nak?” tanya Amanda yang mengelus pipi Atma yang berisi.


“Ka-ca-ma-ta,” kata Atma lirih.


Amanda tersenyum, ia yakin anaknya akan baik-baik saja. Ia sangat kuat, menantang maut sejak bayi, Atma selalu bisa melewati masa kritisnya. Kacamata yang di simpan Amanda, akhirnya dipakaikan ke Atma.


“Anak Mama selalu tampan dan kuat,” kata Amanda mengecup kening Atma cukup lama sambil memejamkan mata.


“Pu-sing, Ma,” keluh Atma.


“Setibanya di rumah sakit, Atma akan mendapatkan perawatan.”


“Kenapa bukan Mama yang merawat?” tanya Atma yang sudah mulai bisa berbicara meski sangat lirih.


“Karena ada yang namanya kode etik, Nak. Kalau Atma jadi dokter, nanti Atma pasti paham.”


Amanda terus mengajak Atma berbicara agar kesadarannya terjaga.

__ADS_1


“Atma mau seperti Papa Rama.”


“Ya ... ya ... ya ... Atma memang anak Papa Rama, semua harus sama seperti Papa bukan Mama.”


“Adik kembar yang akan jadi Dokter, Ma.”


“Benarkah?”


Atma mengangguk dan tersenyum tipis dengan mata terpejam, menetralkan rasa pusing yang ia rasakan.


“Kamu tahu apa arti nama Atma?”


Atma menggelengkan kepala, elusan di puncak kepala sang anak tak berhenti. Rama hanya memperhatikan istri dan anaknya dari kaca spion dengan perasaan haru bercampur takut. Ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Atma, bayi merah yang selalu membuatnya bahagia sejak awal pertemuan.


“Atma artinya hidup, kamu hidup Mama dan Papa. Atma kebahagiaan Mama dan Papa, selalu ada nama Atma dalam lantunan bait-bait doa. Kamu harus kuat, kamu sehat, kamu akan menjadi seorang kakak yang sangat disayangi adiknya, bukankah sangat membahagiakan, hmmm?”


Senyum Atma tersungging, tampan sekali ....


Atma membayangkan semua hal-hal indah, perasaannya menjadi bahagia, rasa sakit bahkan tak ia rasakan. Satu kali lagi operasi jantung yang memang harus dilewati Atma sejak operasi terakhir waktu Atma bayi, masih ada harapan menunda operasi sampai umur Atma 10 tahun, harap Amanda dan Rama.


“Atma sayang semua,” ungkap Atma yang langsung mendapatkan kecupan hangat di pipi, air mata Amanda pun tak terbendung.


Semangat dan kekuatan Atma sungguh luar biasa untuk bisa sembuh, satu yang diinginkan Atma saat ini. Bersama dengan orang-orang yang ia sayangi dan selalu memberikannya cinta.


Sesampainya di rumah sakit, Rama langsung menggendong Atma ke ruang IGD. Sedangkan Amanda mengurus si kembar yang tiba-tiba menangis. Dilema ... ketika Atma membutuhkannya dan si kembar pun menangis ingin selalu di dekat mamanya.


“Aku yang akan mengurus semuanya, Abi sudah sampai di rumah sakit. Kamu urus si kembar,” titah Rama sebelum melangkah menuju ruang IGD.


“Anak papa pasti kuat,” kata Rama saat menuju IGD di telinga Atma.


“Asal ada Papa,” sahut Atma yang langsung mengalungkan tangan di leher Rama dan menyembunyikan wajah di dada bidang papa sambungnya lalu menghirup aroma tubuh papanya seperti setiap malam yang selalu ia lakukan sebelum tidur.


Rama mengecup puncak kepala Atma, tim medis langsung memberikan pertolongan, oksigen sudah di pasang. Rangkaian test laboratorium langsung dilakukan.


“Cucu Abi, kenapa?”


Abi datang ke ruang IGD ikut mendampingi bersama dokter spesialis bedah jantung di sampingnya.


“Serahkan pada Abi dan teman Abi,” kata abinya—mertua Rama.


Atma menggelengkan kepala ketika Rama memundurkan langkah, Rama tersenyum lalu tangannya terulur menggenggam tangan sang anak lalu mengecupnya.


“Papa tidak akan meninggalkan Atma, menanti di sini, okey?”


Atma mengangguk dan matanya terpejam.


“Papa sayang banget sama Atma, jangan takut,” bisik Rama lagi yang kini mengecup seluruh sisi wajah anaknya.

__ADS_1


Respon Atma hanya mengangguk lemah, dengan mata tetap terpejam, oksigen terpasang dan selang infus sudah tertancap di pergelangan tangannya.


**


“Atma sayang tidak sama Papa?” tanya Denis yang tengah duduk di sebuah taman bersama Atma yang tengah menikmati es krim.


“Tergantung.”


“Tergantung?” Alis Denis terangkat mendengar jawaban Atma yang ambigu.


“Tergantung Papa berubah atau tidak, nyakitin Atma lagi atau tidak, sayang seperti Papa Rama atau tidak,” jawab Atma santai tanpa beban.


“Papa benar-benar sayang sama Atma, izinkan papa memperbaiki kesalahan, Nak. Papa janji akan berubah dan tidak jahat lagi sama Atma.”


Es krim yang di tangan Atma sudah habis, wajahnya kotor terutama di bagian mulut yang terdapat sisa es krim. Denis tersenyum, mengelap mulut yang kotor dengan tangannya.


Lalu berniat untuk memeluk sang anak tapi dengan cepat tubuh Atma menghilang dari hadapannya.


“Papa datanglah!” suara Atma mengisi ke seluruh indera pendengaran Denis hingga rasanya memekakkan telinga.


“Atma!” teriak Denis terbangun dari tidur dengan bulir keringat sebesar jagung yan memenuhi kening padahal ruang kamar ber-AC.


Brak!


Pintu terbuka keras, Bu Sinta terlihat panik saat masuk ke dalam kamar.


“Bangun, Denis. Kamu harus ke rumah sakit!” titah Bu Sinta.


“Apa yang terjadi, Bu?”


“Orang kepercayaan kita mengatakan anakmu tengah berada di rumah sakit.”


Deg!


Jantung Denis seperti turun ke rongga perut, napasnya tercekat. Mimpi yang terasa nyata, dan pada nyatanya sang anak tidak ada dihadapannya tetapi di rumah sakit.


“Lihat! Ini papa sambung anakmu, kan?” Bu Sinta menunjukkan video dari orang kepercayaan yang sengaja memata-matai Atma.


Terlihat Rama tengah menggendong Atma dengan raut wajah panik, Denis mengusap wajah kasar. Ia langsung menyambar kunci mobil dan berlari ke arah mobil dengan pakaian sekenanya, tujuannya saat ini adalah rumah sakit.


“Papa datang, Nak. Papa akan membuktikan kasih sayang papa padamu, seberat apa pun perjuangannya. Kali ini tak akan papa biarkan kamu sendiri, izinkan papa memperbaiki semuanya,” kata Denis dengan mata berkaca-kaca, mengingat masa-masa ia menyia-nyiakan bayi tak berdosa hampir 7 tahun yang lalu.


Rekaman dosa masa lalu berputar dalam otak layaknya sebuah kaset, ketika seorang papa menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri ....


Seorang manusia harus berani mengakui kesalahan dan mengambil manfaat dari kegagalan serta memperbaiki kesalahan, seberapa pun kesalahan yang telah diperbuat. Bukankah Tuhan maha pemaaf? Dan selalu ada kesempatan merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


~Bersambung~

__ADS_1


Hadiah, vote, like dan komentarnya ya ... biar semangat menulis dan semakin banyak yang membaca.


Terimakasih, love untuk kalian semua .... đź’•đź’•đź’•


__ADS_2