Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 72


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Denis dipersilahkan masuk ke dalam rumah, di gandeng Atma sementara Amanda dan Rama jalan bersisian dengan senyum mengembang.


“Papa Rama sakit, Papa Denis sakit, kenapa kompak sakitnya?” tanya Atma yang menatap bergantian Denis dan Rama.


“Namanya sedang disayang sama Allah, Nak,” jawab Amanda yang membawakan minum serta cemilan.


“Benarkah?”


“Iya ... ujian yang Allah berikan pada hamba-Nya bukti kasih sayang agar kita semakin dekat dan lebih banyak berdoa serta beribadah.”


Atma manggut-manggut seolah paham apa yang dikatakan Amanda.


“Apa yang terjadi denganmu, Ram?”


“Ulah seseorang, tapi kini kasus tengah ditangani pihak kepolisian, aku serahkan semuanya pada hukum, Nis. Oh iya, bagaimana ibumu?” kini Rama balik bertanya.


“Iya, Pa. Bagaimana Nenek? Atma kan enggak boleh ke rumah sakit, masih kecil karena banyak virus di rumah sakit. Waktu Papa Rama dan Papa Denis dirawat rasanya ingin lari dan berada di kamar rumah sakit, habis setiap mimpi selalu memimpikan Papa Denis dan Papa Rama, rumah juga sepi enggak ada Papa Rama,” keluh Atma dengan cengiran lalu mengambil cemilan yang dibawakan Amanda.


“Makanya Atma bersyukur sekarang sudah bisa berkumpul dengan kedua Papa, tinggal mendoakan Nenek supaya sembuh dan diperbolehkan pulang,” kata Rama.


“Iya, Papa.”


Denis duduk bersisian dengan Atma, seperti tidak ada masalah di masa lalu, Atma bergelayut manja dengan Denis. Tubuh Atma pun selalu dalam lingkaran tangan Denis, dan kecupan di pipi sering dilayangkan ketika ada kesempatan. Mereka mengobrol santai, bukan obrolan orang dewasa mengingat ada Atma di tengah mereka.


“Minum Nis,” sela Amanda.


“Terima kasih.” Denis mengangkat cangkir berisi air putih, ya ... hanya air putih, Denis di larang meminum teh atau kopi untuk menjaga organ hati bekerja lebih keras.


“Aku izin mengajak Atma ikut tinggal di rumah sehari saja, apa boleh Amanda, Rama?” tanya Denis ketika meletakkan cangkir.


Rama dan Amanda saling bertukar pandang, mencari jawaban yang tepat untuk permintaan Denis. Sementara Atma pun kaget dengan permintaan Denis yang menurutnya mendadak.


Sejenak Amanda menoleh ke arah Rama, memminta persetujuan lewat tatapan mereka yang bertemu. Rama menganggukkan kepala, sambil tersenyum hangat lalu menautkan jemari mengisyaratkan memberi izin dan semua akan baik-baik saja.


“Aku terserah Atma, apakah mau atau tidak menginap di rumahmu, Denis,” putus Amanda meski berat tapi ia juga tidak bisa egois, merasa paling berhak atas Atma karena bagaimana pun Denis ayah kandungnya.


“Kamu mau, Sayang?” tanya Denis.


Atma menatap bergantian ketiga orangtuanya, ia pun bingung memutuskan. Sedari kecil Rama adalah tempat ternyaman Atma saat ia tertidur, dan semenjak ada si kembar, ia juga baru bisa tertidur ketika puas bermain dengan si kembar. Namun, ia teringat janji ketika Denis koma melalui rekaman suaranya sendiri.


“Iya ... Atma mau tapi bolehkah bersama kembar?”


Jelas kali ini menggelengkan kepala, begitu pun Amanda yang tanpa meminta persetujuan dari Rama sudah tentu Amanda keberatan.


“Sayang, adik masih kecil harus menyesuaikan suasana rumah dulu, kalau tidak betah bisa rewel dan akhirnya sakit. Mama sama Papa enggak mengizinkan Adik kembar ikut, tapi kalau Atma memang mau ke rumah Papa Denis, tidak apa-apa, Mama dan Papa enggak melarang,” terang Amanda yang membuat wajah Atma tertekuk.


Iya.


Tidak.

__ADS_1


Iya.


Tidak.


Dua kata yang berputar di otak Atma, akhirnya Atma mengangguk mengiyakan ajakan Denis untuk tinggal di bersama sehari. Atma berdiri, memeluk Rama cukup erat.


“Atma simpan bau Papa Rama dulu biar menempel sampai malam,” kata Atma polos yang ditanggapi kekehan Rama.


“Bisa Video Call sayang,” kata Rama yang langsung membuat Atma menepuk keningnya sambil tertawa memikirkan betapa bodohnya ia tidak berpikir bisa video call sebelum tidur.


“Kenapa Atma enggak berpikir video call ya, duh! Kelamaan di rumah dan tidak bersekolah hanya mengerjakan tugas dari rumah tidak bertemu Bu guru jadi sedikit telat berpikir,” seloroh Atma yang membuat ketiga orang tuanya tersenyum.


“Sebentar ya, Pa. Atma siap-siap dulu, bawa mainan yang banyak,” pamit Atma.


“Tidak usah sayang, kita belanja mainan dan baju untuk diletakkan di kamar Atma saat di rumah Papa Denis,” tolak Denis.


“Benarkah?”


“Iya, Sayang,” kata Denis meyakinkan ketika ekspresi Atma tidak percaya.


“Ya sudah, Atma mau cium adik kembar dulu.” Atma langsung berjalan menuju kamar mereka untuk pamit ke adik kembarnya sebelum menginap di rumah Denis.


“Titip Atma, Denis. Jangan berbicara terlalu berat padanya,” pinta Amanda.


“Kamu tidak perlu khawatir Amanda, aku akan menjaga Atma dengan baik. Terima kasih Rama, sudah mengizinkan Atma bersamaku, entah bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu.”


“Tidak perlu berterima kasih, Denis. Sudah seharusnya kamu mencurahkan kasih sayang untuk Atma.”


“Jika seperti itu, aku merasa memanfaatkan kekayaanmu, Denis,” tolak Rama secara halus.


“Okey, bagaimana kalau kita membuat surat perjanjian kontrak kerja, anggap kita sedang bekerja sama mengelola aset juragan kecil. Kamu akan mendapatkan komisi beberapa persen dari keuntungan dan keuntungan lainnya dikhususkan untuk Atma. Ini kerja sama, Rama. Kurasa akan lebih jelas dan adil, tidak ada yang merasa dimanfaatkan atau memanfaatkan,” terang Denis panjang lebar dengan penawarannya.


“Aku rasa tidak masalah, Mas,” imbuh Amanda yang memberikan saran untuk sang suami. “kita menjaga aset perusahaan bersama sampai nantinya Atma dewasa dan mewarisi setengah harta yang memang menjadi haknya. Aku bukan berbicara tentang materi tapi itu memang hak Atma,” kata Amanda selanjutnya.


“Kenapa setengah, Atma pewaris tunggal keluarga Narendra, Amanda,” sergah Denis.


“Baiklah, pengacaramu bisa menghubungi pengacaraku membicarakan hal ini, semua kulakukan demi Atma,” putus Rama yang membuat Denis merasa sedikit lega karena otomatis ia akan terbantu dengan keahlian yang Rama miliki.


“Memangnya kamu tidak mau rujuk kembali dengan Vanya?” tanya Amanda penuh selidik.


Denis menggelengkan kepala, “Tidak ... akhir mingu ini persidangan perceraian, kami akan tetap bercerai.”


“Kenapa? Apa kamu masih mencintai istriku?” tebak Rama dengan suara dingin seperti mencurigai sesuatu.


Denis tertawa sumbang, “Aku sadar posisiku, Rama. Aku tidak akan merusak kebahagiaan Amanda dan juga Atma jika rumah tangga kalian pecah dan disebabkan oleh diriku. Ini murni aku ingin memperbaiki diri, menebus kesalahan dengan mencurahkan semua kasih sayang untuk Atma. Dan kupikir Vanya berhak bahagia dengan pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus, dan itu bukan aku. Sungguh aku tidak pantas untuknya,” terang Denis.


“Kuharap kamu tidak menyesal menyia-nyiakan perempuan sebaik Vanya, Denis,” sela Amanda.


“Jika memang jodoh kita pasti akan dipertemukan kembali,” jelas Denis yang tetap pada pendirian.


“Ya ... ya ... ya ... terserah kamu saja, sedari dulu kamu kan memang suka-suka, ketika sudah mengambil keputusan sulit untuk diganggu gugat dan ketika melakukan kesalahan saat sudah mengambil keputusan baru bertobat,” sindir Amanda yang disambut kekehan tawa Rama dan jempol ke arah sang istri karena ucapan yang cukup mengena dihati.

__ADS_1


“Hahhh!” Denis membuang napas kasar, ia jadi bingung sendiri.


“Calon duda galau,” seloroh Rama yang langsung membuat Denis semakin gusar.


‘Apa benar aku sudah siap menjadi calon duda bahkan untuk yang kedua kali?’ tanya Denis yang tertahan dalam hati tapi tetap merasa tak pantas untuk Vanya.


“Hening sejenak, tanyakan pada hatimu yakinkan diri jika memang kamu tidaklah salah mengambil keputusan. Dan aku sangat paham 2 pilihan yang memberatkan adalah meninggalkan atau mempertahankan, kamu harus benar-benar berpikir jernih,” kata Rama yang akhirnya berbicara serius setelah meledek Denis.


**


“Senang, Sayang?” tanya Denis yang sudah menenteng barang belanjaan bahu serta mainan untuk Atma.


Mereka berjalan santai, ketika lelah akan berisitirahat dan mengobrol ringan sambil menikmati makanan sehat yang terhidang. Mereka ditemani salah satu perawat pria untuk memastikan kondisi Denis dan Atma yang tetap baik-baik saja sesuai saran Amanda untuk mengambil perawat home care.


“Senang banget, Pa.”


“Kamu mau apa lagi habis ini?”


“Kita pulang saja, Pa. Kayaknya kaki Atma sudah pegal deh.”


“Siap, Bos kecil,” kata Denis memberi hormat ke arah Atma hingga Atma melebarkan senyuman.


Mereka sudah berdiri, bersiap ke arah parkiran mobil dengan tetap bergandengan tangan. Pintu mall terbuka ketika mereka akan keluar, saat itu mata Denis terkunci dengan mata seseorang yang kebetulan berpapasan di ambang pintu.


“Denis? Atma?”


Merasa namanya dipanggil Atma menoleh, menatap bingung perempuan yang seumuran dengan mamanya tengah menatapnya sambil tersenyum hangat. Mereka menghentikan langkah, untuk bertegur sapa.


“Halo Atma, benar ‘kan?”


“Iya, Tante siapa?”


“Kita belum pernah bertemu ya, tapi Tante kenal dong sama Atma, anak Mama Amanda. Kenalin Tante Vanya,” kata Vanya memperkenalkan diri dengan menurunkan tubuh sejajar dengan Atma.


Tatapan Denis tidak putus melihat pria yang menemani Vanya, cukup tampan yang membuat Denis gusar dan salah tingkah.


“Oh, salam kenal Tante, Om,” sapa Atma pada Vanya dan pria di samping Vanya.


“Bagaimana kabarmu, Denis?” sapa Vanya kini pada Denis.


“Baik, siapa dia?” tanya Denis dengan suara terdengar ketus.


“Ohh perkenalan saya Frans—"


“Kekasihku,” aku Vanya yang sukses membuat Denis melebarkan mata tak percaya, ada rasa tak terima dan denyut nyeri dalam dada.


Seseorang itu terkadang aneh, kenapa ketika benar-benar merasa kehilangan baru menyesal, sakit, sedih dan merasa risau? Sementara ketika masih berada digenggaman, disia-siakan dan terabai. Benar adanya seseorang tak akan pernah menyadari kedalaman cinta ketika tak merasakan kehilangan ....


~Bersambung~


Like dan komentar 😍

__ADS_1


Terima kasih untuk support di karya pasca cerai, lope sekebon ❤️❤️❤️


__ADS_2