Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 67


__ADS_3

💕Happy reading 💕


Rama dan Amanda berada di dalam kamar setelah selesai sarapan dan mengurus ketiga anaknya, kegiatan rutin mereka pagi hari. Rama bagian mengurus keperluan Atma dan Amanda yang mengurus si kembar, mengikat kedekatan antara anak dan orang tua, Rama dan Amanda sebisa mungkin saat di rumah tidak bergantung dengan pengasuh dan asisten rumah tangga.


Ibu mertuanya sudah kembali ke Bandung karena banyak orderan di butik, Ummik dan Abi bertolak ke negara tetangga tempat di mana Gita dan Janu tengah berbahagia, menjenguk keadaan cucu--anggota baru keluarga mereka--Baby Daren.


"Aku berangkat sekarang ada meeting dengan klien siang dan nanti petang, sepertinya tidak bisa menemani anak-anak dengan pulang lebih cepat, Sayang," pamit Rama yang sudah rapi dengan setelan kemeja.


Ia menyerahkan dasi ke Amanda, seperti biasa meminta sang istri untuk memakaikan dasi di lehernya. Entahlah, menurut Rama dasi yang dipakaikan sang istri lebih rapi dan terlihat bagus, padahal sama saja. Yang berbeda hanyalah ketika memakaikan dasi, ia bisa berkesempatan menggoda sang istri dengan sentuhan yang suka membuat sebal Amanda tapi menjadi sebuah kebiasaan yang tak boleh ditinggalkan mereka setiap hari jika ada kesempatan.


Rama memberikan kecupan di kening dan pipi, mencubit pipi kanan dan kiri Amanda sambil tersenyum jahil. Sesuatu yang berbeda untuk Rama, menambah keharmonisan antara dirinya dan Amanda--istrinya.


"Kebiasaan, iseng! " omel Amanda yang mendapat sentuhan Rama di pagi hari.


"Romantis namanya, Sayang!" Rama tak berhenti menggoda sang istri.


"Aku nanti tugas siang, Mas dan malam baru akan kembali. Anak-anak tidur denganmu sebelum aku pulang ya."


"Baiklah, tanpa diminta, aku akan tetap mengusahakan pulang secepatnya."


"Hmm ... aku juga izin menjenguk Denis dan Mama, boleh?"


"Tentu saja, asal ada perawat yang menemani, jangan hanya berduaan saja di dalam ruang rawat inap, aku cemburu jika seperti itu."


Cup!


Amanda mengecup sekilas bibir suaminya, sambil tersenyum manis.


"Kamu segalanya, tak usah cemburu. Hati ini sudah menjadi milikmu seutuhnya, bahkan sudah menghasilkan si kembar sebagai bukti," kelakar Amanda sambil tersenyum lebar.


"Kurang satu sebagai bukti," sahut Rama yang menangkupkan tangan di kedua pipi Amanda.


"Apa itu?"


"Menambah adik untuk Atma dan si kembar, bagaimana, hmmm?" tanya Rama menggoda sambil menaik turunkan alisnya.


"Boleh."


"Benarkah?"


"Apa pun itu, aku pikir tak ada salahnya menambah momongan, 'kan?"


Rama langsung mendekap tubuh Amanda sangat erat, "Benarkah?" tanya Rama lagi memastikan.


"Tentu saja, aku akan bertanya dengan Dina apakah aman atau tidak jika menambah momongan dalam waktu dekat. Namun, yang pasti menunggu 2 tahun untuk menambah momongan. Selama menunggu proses pembuahan akan tetap kita lakukan, setiap hari pun tak masalah selama ada tenaga, yang menjadi pertanyaan apakah kamu sanggup, Mas?" seloroh Amanda dengan tawanya.


‘Sama saja tidak bisa dalam jangka waktu dekat, huhh.’ Omel Rama dalam hati.


"Kamu mengujiku, hmmm?" tanya Rama memicingkan mata sambil berkacak pinggang.


"Wow! Ekspresi yang menakutkan," ledek Amanda menghentikan tawanya.


"Si kembar yang rewel setiap malam, Atma yang selalu memintamu menemaninya tidur, aktivitas pekerjaan kita di siang hari. Setiap hari itu mustahil, seminggu sekali pun sudah rezeki," kata Amanda tertawa dengan tubuh bergetar terlebih mengingat kejadian semalam yang sudah berada di titik klimaks, kamarnya di ketuk oleh Atma hanya karena meminta Rama agar menemani tidurnya.


Ambyar sudah!


"Tolong jangan mengungkit kejadian semalam, sungguh tersiksa," keluh Rama yang membuat Amanda semakin puas tawanya mengingat wajah frustrasi Rama tapi tak bisa menolak permintaan anak kesayangannya.


"You're the best Papa, selalu memprioritaskan kebahagiaan dan keinginan anak-anak, aku tambah cinta kamu, Mas," ungkap Amanda yang langsung menghambur kepelukan Rama agar ekspresi Rama berubah tidak menyebalkan.


"Rumah tangga tak melulu tentang seksual, kebahagiaan anak adalah prioritas, kita bukan anak muda yang hanya ingin bersenang-senang dengan dunianya, kita orangtua sayang, kebahagiaan anak dan istri adalah hal utama sekarang. Nafkah pun bukan melulu tentang materi, memberikan kebahagiaan untuk anak istri merupakan nafkah yang memang harus didapatkan kalian dari seorang kepala rumah tangga."


"Uhhh! So sweet... always love you, Mas."


Mereka saling bersitatap, Amanda sudah melingkarkan tangan di leher Rama. Tatapan mereka berfokus pada bibir, Rama merapatkan tubuhnya, mengikis jarak mereka sedangkan Amanda sudah memejamkan mata bersiap menerima morning kiss dari sang suami.


Bibir mereka sudah menempel satu sama lain, Rama menekan tengkuk Amanda untuk memperdalam penyatuan, oksigen semakin menipis. Amanda mengikuti ritme sentuhan yang diberikan sang suami, Rama akhirnya memejamkan mata menikmati kegiatan kecil mereka di pagi ini. Istrinya itu seperti candu.


"Maaf Pak, Bu," sapa pengasuh yang muncul di ambang pintu yang sedari tadi terbuka.

__ADS_1


Sang pengasuh diam mematung, setelah sadar apa yang sedang dilakukan majikannya, ia menutup wajah. Sedangkan Rama dan Amanda melepaskan tautan mereka, tersentak kaget juga.


"Ya, ada apa?" tegur Rama dengan suara berat mengembalikan kewarasan, sementara Amanda memalingkan wajah sambil mengulum senyum.


"Ada Pak Rio di bawah," lapor sang pengasuh.


"Saya akan turun," sahut Rama.


Sepeninggal pengasuh si kembar, Rama mengendikkan bahu.


"Selalu ada pengganggu," desis Rama yang di sambut gelak tawa Amanda.


Mereka turun ke lantai bawah, menemui Rio yang tumben sekali datang sepagi ini hingga Rama pun dibuat bingung.


“Apa ada hal penting, Rio?” tanya Rama setelah duduk di ruang tamu.


Wajah Rio terlihat tersenyum tenang, Amanda yang menggendong salah satu kembar menghampiri Rio dan Rama. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, terlebih ekspresi Rio yang seperti mengisyaratkan sesuatu.


“Kenapa Rio? Bukankah kalian sudah ada jadwal meeting pagi ini?” timpal Amanda dengan pertanyaan.


“Ti-tidak, hanya kebetulan lewat dan kupikir lebih enak jika langsung menjemput Bos untuk datang ke tempat meeting bersama.”


“Tumben sekali kamu baik sama Bos-mu!” sindir Rama.


Rio tertawa mendengar sindiran bosnya, memang ia tidak semanis itu dengan Rama. Malah terkadang saling berdebat di kantor, karena selisih paham walaupun pada akhirnya selalu menemukan jalan keluar.


“Kamu kan lebih sering mengerjakan tugas dari rumah akhir-akhir ini, kupikir kamu pun akan cepat kembali ke rumah setelah selesai meeting kali ini. Biar tidak merepotkan, aku berinisiatif menjemput dan mengantar Bos-ku.”


“Sebentar, aku ambil tas dulu,” pamit Rama.


“Biar aku yang ambil, Mas. Yuk! Tama ... ambilkan Papa tas,” ujar Amanda mengajak bicara salah satu bayi kembarnya yang tengah asik memasukkan salah satu tangan kemulutnya.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” cecar Rama yang mengendus sesuatu hal yang tidak beres.


“Kita bicarakan di kantor, Bos. Aku curiga sesuatu, sudah kutelusuri tapi sampai saat ini tidak menemukan jawaban, pokoknya kita harus berhati-hati," jawab Rio yang membuat Rama gusar.


Pasti ada sesuatu, Rama membatin.


**


“Kondisinya masih lemah, belum stabil tapi beruntung ia sudah tersadar dari koma. Semangat hidupnya begitu tinggi, makanya aku sudah memindahkan Bu Sinta ke ruang rawat inap biasa yang tetap mendapatkan pengawasan intensif tim medis. Pemulihannya kuperkirakan cukup lama, beliau akan menjalani beberapa terapi karena pasca tersadar dari koma, setengah tubuhnya mengalami kelumpuhan,” terang Dokter spesialis dalam sekaligus dokter penanggung jawab Bu Sinta.


Amanda mengembuskan napas berat ... Ia sudah memperkirakan sejak awal pasti akan terjadi komplikasi dalam tubuh Bu Sinta pasca melakukan donor hati untuk Denis.


“Maksimalkan fisioterapi agar syaraf bisa berfungsi dengan baik kembali.”


“Sangat sulit Dokter Amanda, tapi kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Bu Sinta.”


“Terima kasih, boleh saya berbicara berdua dengan Bu Sinta, Dokter Rian?” ucap Amanda meminta izin.


“Tentu saja ...,” jawab Dokter yang kemudian undur diri dari ruang rawat inap itu.”


Amanda menghampiri brankar pasien yang ditempati Bu Sinta, ia duduk di sisi ranjang. Mengulurkan tangan menyentuh pipi Bu Sinta dengan lembut, wajahnya terlihat pucat, matanya terbuka perlahan.


“Mama harus kuat ....”


Bu Sinta mengerjapkan mata, dengan bulir bening yang melapisi bola mata yang sudah siap luruh.


“Denis masih di ruang ICU, kondisinya berangsur stabil. Hati Mama sedang menyesuaikan tempat di jaringan tubuh Denis, dia pasti akan sehat kembali. Begitu pula Mama yang harus tetap sehat.”


Anggukkan kepala lemah terlihat, Bu Sinta memaksakan senyum tapi tak sanggup. Wajahnya terasa kaku bahkan sekujur tubuhnya terasa tercabik oleh rasa nyeri.


“Salam dari Atma ... dia tidak Amanda izinkan ke rumah sakit karena harus menjaga kesehatannya juga. Namun, ada rekaman video yang sengaja Atma rekam atas inisiatifnya sendiri. Apa Mama mau melihatnya?”


Bu Sinta kembali mengangguk lemah, Amanda mengeluarkan ponsel dari dalam kantong baju snelli putih yang dikenakan. Membuka folder rekaman via WhatsApp yang dikirimkan Atma beberapa jam yang lalu melalui ponsel pengasuh.


Klik! Rekaman pun di putar.


“Assalamu’alaikum Nenek! Cepat sehat seperti Atma, kalau sudah sehat nanti Atma akan menginap di rumah Papa Denis dan Nenek. Setiap salat Atma selalu berdoa untuk Nenek dan Papa, tapi kalau Nenek dan Papa Denis sayang sama Atma, kalian juga harus sayang sama adik kembar. Lihat ini Tama dan ini si cantik Amara, mereka lucu kan, Nek?” tanya Atma dengan cengiran lebar ke arah layar ponsel lalu mengarahkan kamera ke arah Amara dan Tama yang sedang aktif bergerak.”

__ADS_1


“Atma masih takut sih sama Nenek, makanya ajarkan Atma untuk tidak takut dan sayang sama Nenek setelah Nenek sembuh. Sehat ya Nek, Atma sayang semua, dadah, muahh!”


Klik!


Rekaman berhenti, Amanda tersenyum ke arah Bu Sinta.


“Ajarkan Atma menyayangi Nenek ... ayo, Ma! Tunjukkan Mama dan Denis memang benar menyayangi Atma, bukan hanya sekadar ungkapan tapi pembuktian. Sehat, Ma ... lihatlah Atma sampai ia dewasa nantinya,” ucap Amanda yang memberikan kecupan di kening Bu Sinta.


Derai air mata Bu Sinta tak terelakkan.


‘Betapa beruntungnya aku masih bisa dicintai oleh kalian, aku akan sembuh ... nenek akan sembuh dan menunjukkan semua kasih sayang nenek untukmu Atma dan untuk kalian semua. Biarlah sakitku ini adalah peluruh dosa-dosa di masa lalu, agar aku diringankan dosanya ... dosa yang teramat besar, membuat rumah tangga bercerai dan memisahkan ayah dan anak.’ Monolog Bu Sinta yang hanya bisa tertahan dalam hatinya.


Sakit menunjukkan kalau Tuhan masih menyayangi seorang hamba-Nya, setiap sakit yang dirasakan adalah peluruh dosa-dosa yang telah dilakukan, Bu Sinta sedang tahap melebur semua dosa dengan sebuah ujian kenikmatan berupa rasa sakit.


**


“Bagaimana? Apa rencana kita berhasil?” seorang pria paruh baya bertanya pada seorang orang kepercayaannya.


“Berhasil Bos, kita sudah meyakinkan perusahaan Rama untuk menandatangani kerja sama untuk pembangunan gedung baru perusahaan kita.”


“Bagus!”


“Saya juga sudah menyeting kerugian yang akan perusahaan Alfarez mengalami kerugian hingga nantinya berada di titik nadir, kami pastikan semua berjalan sesuai rencana. Kerugian demi kerugian saat Rama bekerjasama dengan perusahaan kita menangani proyek ini akan membuat perusahaan itu gulung tikar.”


“Bagus! Lakukan terus rencana kita, jangan sampai mereka tahu kalau itu adalah jebakan dari rivalnya,” ucap pria paruh baya itu dengan tawa yang sudah pecah seakan sudah memenangkan semuanya.


Di sisi lain, Rama sedang menadatangani surat kontrak kerja sebuah perusahaan yang memakai jasanya dibidang jasa rekonstruksi bangunan beserta desain arsitektur gedung yang diserahkan pada Rama.


Sesaat Rama menghentikan tanda tangan yang sedari tadi ia bubuhkan di atas kertas, nama yang familiar, batin Rama. Ia kembali mengecek satu persatu surat perjanjian yang dirasa tidak mengenakkan dalam hatinya seperti ada sesuatu yang mengganjal.


“Rio, apakah kamu sudah membaca semua kontrak?” tanya Rama memastikan pada Rio.


'Apa ini yang dimaksud Rio tadi pagi?' batin Rama.


“Sudah Bos,” kata Rio penuh ketegasan.


“Benarkah?” tanya Rama lagi penuh selidik.


Kliennya yang mengetahui Rama mencecar pertanyaan pada asistennya—Rio menjadi gusar, pasalnya surat perjanjian yang diperiksa Rio sudah di tukar dengan surat perjanjian kontrak yang berbeda dan tentu berpengaruh buruk pada kondisi keuangan perusahaannya.


“Tentu, Bos. Saya sudah memastikan semuanya.”


Brak!


Kertas yang cukup tebal itu di gebrak ke atas meja hingga membuat semuanya tersentak kaget.


“Kamu bodoh atau tidak teliti, hah?!” Rama seketika murka pada Rio.


Menyadari perubahan ekspresi Rama yang terlihat murka, wajah merah dan rahang yang mengeras membuat Rio dengan cepat mengumpulkan surat perjanjian yang sebagian sudah ditanda tangani.


Satu per satu surat di tumpuk sampai rata, lalu di baca kembali oleh Rio. Matanya terbelalak kaget, apa yang ia baca saat ini digenggamannya berbeda dengan apa yang ia baca sebelumnya, perjanjian yang justru membuat perusahaan Rama mengalami kerugian nantinya.


“Tidak Rama, Ini bukan surat perjanjian yang tadi kubaca dan sudah kami susun bersama , tidak!” tegas Rio yang berusaha meyakinkan Rama dengan penjelasannya.


2 orang dari perusahaan yang ingin memakai jasa Rama seketika tubuhnya menegang, mereka tidak menyangka Rama seteliti itu padahal sudah dilakukan dengan sangat rapi saat menukar berkas.


“Robek surat itu!” titah Rama kemudian.


Rio langsung merobek tumpukan surat perjanjian menjadi kertas dengan potongan sangat kecil, mata Rama memicing tajam penuh amarah yang sudah di ubun-ubun, ia siap menumpahkan lahar amarahnya yang sudah mendidih di kepala.


Tangan Rama menarik kerah kemeja pria dari perusahaan yang ingin menjebak perusahaan Rama.


“Siapa yang menyuruh kalian? Katakan?!” hardik Rama penuh Amarah, tangan satunya lagi sudah mengepal kuat melayang ke udara ....


~Bersambung~


Happy weekend ....


Dukung terus cerita ini, like dan komentar jangan lupa 😍

__ADS_1


Boleh follow akun Lisfi_triplets di IG atau Facebook Lisfi.


Terima kasih untuk komentar dan like semuanya .... ❤️❤️❤️


__ADS_2