
💕 Happy reading 💕
“Bagaimana kondisinya, Abi?” tanya Amanda yang masuk ke dalam ruang observasi setelah Atma sadar.
Hanya Amanda yang diperkenankan masuk ke dalam, Rama dan Denis menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Ingin rasanya bisa melihat wajah tampan Atma secepatnya, melihat kondisi dan langsung menciumi anak lelaki yang telah mencuri hati siapa saja yang melihatnya. Atma ... sosok anak yang menggambarkan kekuatan dan ketegaran serta tengah belajar melapangkan hati untuk seseorang yang berharap dicintai—Denis.
“Masih pengaruh obat bius, tadi kami menambah dosis karena operasi berjalan sedikit lebih lama,” terang Abi yang juga masuk ke dalam tim Dokter saat proses operasi.
“Oh iya, Amanda sangat paham. Overall stabil kan, Bi?” Amanda kembali memastikan.
“Bersyukur semua baik-baik saja, hanya setelah operasi jantung kamu harus berkonsultasi pada dokter spesialis mata, lakukan pemeriksaan untuk menjaga-jaga kondisi mata Atma mengalami peningkatan rabun pasca operasi dilakukan.”
Terlahir prematur dengan virus TORCH mewajibkan Atma setiap tahun memeriksakan kondisi mata, sebenarnya bukan hanya bayi prematur atau berkebutuhan khusus, pemeriksaan mata secara rutin setiap tahun pun harus dilakukan untuk siapa saja.
“Amanda masih terus berkonsultasi dengan dokter spesialis mata, Bi. Rencananya memang setelah ini akan melakukan operasi kecil di bagian mata, operasi laser untuk memperbaiki jarak pandang Atma.”
Sang Abi menepuk pundak Amanda, “Abi tahu kamu melakukan perawatan medis yang terbaik untuk Atma sejak dulu. Abi sangat paham akan hal itu dan percaya kamu akan melakukan tindakan medis agar penglihatan Atma setidaknya tidak semakin memburuk.”
Amanda terus mengelus puncak kepala Atma yang masih terpejam, “Sejak ia bayi, Amanda selalu berjuang agar ia seperti anak normal lainnya. Sedih ... bahkan sangat sedih ketika ia harus menjalani terapi pengobatan dan menjalani tindakan dengan alat medis, tapi Amanda tidak bisa berbuat apa-apa, Bi. Selain melakukan tahap demi tahap pengobatan.”
“Kamu kuat, Nak. Terlebih ada Rama yang selalu mendukungmu dan menguatkan Atma.”
Semburat senyum tampak di wajah cantik Amanda, mengingat Rama yang memang selalu ada untuknya dan Atma sejak dulu. Takdir begitu indah, ketika keikhlasan dan kesabaran berbuah kebahagiaan.
“Dia lelaki terbaik yang Tuhan berikan untuk Amanda, Bi.”
“Kamu tahu, Nak?”
“Bagaimana Amanda tahu, kalau Abi belum memberitahukan apa-apa?” tanya Amanda dengan kekehan tawa, Abi tersenyum lebar.
“Kamu dan Gita mendapatkan lelaki yang luar biasa, Abi dan Ummik merasa berhasil menghantarkan kalian mendapatkan kebahagiaan dengan jodoh terbaik. Dulu Abi dan Ummik, khawatir ... ya! Khawatir tidak bisa berlaku adil, takut salah satu dari kalian mendapatkan jodoh yang bukannya membawa kebahagiaan tapi kesengsaraan. Pernikahanmu dengan Denis cukup membuat kami syok. Namun, itulah jodoh ... jodoh itu rezeki, kewajiban kita menjalani semua takdir yang telah ditentukan bukanlah menentukan.”
Amanda langsung menggapai tangan Abi, menggenggam erat dan mengecup punggung tangan dengan takzim. Tanpa seseorang yang kini dihadapannya, entah hidup Amanda akan seperti apa. Terlunta-lunta tanpa orang tua, tidak akan ada kehidupan cerah dan bahagia, menjadi seorang dokter yang dulunya hanya cita-cita kini terwujud nyata.
Tubuh Amanda luruh kelantai, dengan lutut tertekuk.
“Apa yang kamu lakukan, Nak?” Abi tersentak kaget.
“Terima kasih, Abi. Terima kasih ... berkat Abi, Amanda bisa seperti sekarang. Menjadi perempuan yang sangat beruntung dan bahagia.”
“Kamu anak Abi, Nak. Anak Abi .... walaupun bukan dari benih Abi dan dilahirkan dari rahim Ummik, kamu anak pertama untuk Abi.”
Abi menaikkan tubuh Amanda dan memeluk hangat, “Kamu sudah menjadi orang tua sekarang, begitu juga Gita. Jadilah orang tua yang baik, bijak dan selalu menggunakan kekuatan yang dahsyatnya melebihi dari kekuatan siapa pun.”
“Apa itu, Bi?”
“Kekuatan doa seorang Ibu, selalu doakan anak keturunanmu agar mereka menggapai kebahagiaan, kemudahan dan keberkahan. Seperti apa yang selalu Ummik-mu lakukan, kedahsyatan doa seorang ibu mampu mengubah takdir seorang anak. Doakan kesempurnaan untuk Atma, abi yakin doamu akan menembus bumi dan langit.”
Nyes!
Hati Amanda menghangat seketika, ucapan Abi yang selalu membuat pencerahan untuknya bagaimana menjadi orang tua yang baik.
“Ma ...,” panggil Atma lirih, matanya masih terpejam.
__ADS_1
Obrolan Abi dan Amanda langsung berhenti, Abi langsung memeriksa kondisi Atma secara keseluruhan. Dokter yang sebelumnya menangani Atma dinrumah sakit dengan tim medis lainnya menyerahkan perawatan post operasi pada Abi, bukan tanpa alasan tapi karena Abi sendiri yang ingin menangani sang cucu.
“Sayang, apa yang di rasa, hmm?”
Atma menggelengkan kepala, matanya perlahan terbuka, satu tangan meraba area dada.
“Sakit di sini, seperti di gigitin banyak semut,” keluh Atma.
“Sebentar ya sayang, Eyang kasih suntikan pereda nyeri lagi. Nanti semutnya enggak akan gigitin Atma lagi.”
“Iya, Eyang.”
Kecupan diberikan ke seluruh wajah Atma, tangan tergenggam erat. Atma masih memakai seragam operasi, ia meneliti ruangan serba putih yang berbatas tirai dan berdinding kaca. Abi sudah memasukkan obat anti nyeri, Atma masih takut untuk melakukan gerakan ia hanya terbaring kaku.
“Pegal Eyang,” keluh Atma lagi.
Operasi besar yang dilakukan lebih dari satu jam sudah tentu membuat tulang belakang rasanya ngilu, Atma harus merasakan betapa sakitnya pasca operasi. Ketika operasi saat bayi, ia belum mengetahui apa itu rasa sakit, tapi sekarang ia sepertinya akan merasakan trauma ketika merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
Hati Amanda sebagai seorang Ibu begitu teriris, ia saja yang melahirkan si kembar sakitnya begitu terasa apalagi Atma yang masih kecil merasakan sakitnya post operasi. Wajah meringis Atma membuat hati Amanda rapuh, ia tidak sampai hati melihat itu semua.
“Atma kuat, kalahkan rasa sakit ya, Nak.”
“Sakit, Ma, Eyang,” keluh Atma.
“Apa yang membuat Atma tidak merasakan sakit?” tanya Amanda.
Atma memutar bola mata, ia seperti tengah berpikir bagaimana caranya agar mengurangi rasa sakit yang tengah dirasakannya.
“Kan ada Mama ...,” tolak Amanda, Abi tersenyum.
“Eyang pun tidak meredakan rasa sakitmu?”
Atma menggelengkan kepala kuat.
“Kalau sama Papa Rama, Atma enggak boleh nangis jadi Atma akan kuat. Kalau sama Mama bawaannya nangis karena wajah Mama begitu terlihat tegang. Atma semakin takut dan merasakan sakit jadinya.”
Amanda tercengang dengan jawaban Atma, ia meraba wajahnya sendiri. Lalu sesaat kemudian terkekeh, bisa jadi apa yang dikatakan Atma benar adanya, wajah dirinya begitu tegang. Abi malah terkekeh mendengar pengakuan Atma.
Rasa sakit bukan karena operasi sepertinya, karena melihat ketegangan Amanda yang begitu kentara.
‘Hahh! Andai kamu tahu betapa takutnya Mama saat kamu berada di ruang operasi, rasanya jantung tak bisa tenang berdetak kencang selama kamu menjalani operasi. Tapi benar juga, kalau sama Mas Rama aku pun bisa merasakan tenang ternyata Atma juga merasakannya.’ Monolog Amanda dalam hati.
“Kondisimu stabil sayang, tidak perlu masuk ruang ICU, sebaiknya langsung ke ruang rawat inap dengan perlengkapan komplit agar kamu nyaman.”
Amanda langsung mengangguk dan menyutujui saran Abi, kondisi Atma sangat stabil. Walaupun ruang ICU sudah disediakan tapi tak berguna untuk Atma, semua berjalan dengan baik.
“Abi yang keluar saja mengurus ruangan, biar Rama yang menemanimu di sini, Abi akan memanggilnya.”
“Iya, Abi,” jawab Amanda.
“Mama masih terlihat tegang tidak?” tanya Amanda pada Atma yang malah memejamkan mata selepas kepergian Abi.
“Atma tidak mau lihat wajah Mama.”
__ADS_1
“Loh! Kenapa, Sayang?!”
“Wajah Mama tambah cantik soalnya,” kata Atma yang langsung tersenyum lebar.
“Pasti ini diajarkan Papa Rama,” sahut Amanda yang mencubit gemas Atma.
“Kata Papa, Mama paling cantik.”
“Kata Mama, Atma yang paling tampan.”
“Ini pasti ajaran Eyang Abi, Eyang Ummik dan Omma,” tebak Atma.
Amanda tertawa kecil, mereka memang selalu menyematkan panggilan tampan untuk Atma.
“Apa Papa Denis masih ada, Ma?”
Deg!
Untuk hal ini Amanda harus berhati-hati, khawatir akan menjadi beban Atma nantinya.
“Ada.” Amanda hanya menjawab singkat, menanti pertanyaan Atma selanjutnya.
“Dalam mimpi, Atma melihat Papa Denis menangis di sudut ruang, entah ruang apa, Ma.”
“Mungkin Atma hanya terbawa perasaan sehingga dalam keadaan tidak sadar yang dilihat adalah Papa Denis dalam mimpi. Tahukah kamu? Banyak pasien Mama yang seperti itu juga, bahkan enggan terbangun karena melihat seseorang yang disayang menemani dirinya, pasien Mama mengakui hal itu setelah sadar.”
Atma menggelengkan kepala kuat.
“Tidak, ini nyata ... Papa Denis menangis sambil meminta maaf dan memanggil Atma padahal Atma berada di sampingnya tapi Papa Denis tak melihat.”
Amanda mengelus pipi Atma, “Hanya halusinasi, lupakan.”
“Apakah Papa Denis benar menyayangi Atma, Ma?”
Walaupun masih tahap observasi, Atma tak henti berbicara seperti biasanya. Ia termasuk anak yang kritis, tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban memuaskan. Padahal saat berbicara ia memejamkan mata, meredakan rasa pusing yang melanda. Suara Atma juga begitu lirih, Amanda menaruh wajah tepat di samping Atma agar bisa mendengar apa yang diucapkan anaknya.
“Semua orang tua sayang sama anaknya, Nak. Tak terkecuali Papa Denis, dan setiap manusia pasti memiliki kesalahan, Atma pun punya kesalahan kan sama Mama ketika Atma tidak mendengarkan Mama agar tidak makan ini dan itu supaya kesehatan tetap terjaga, begitu pun Papa Denis. Berusahalah untuk terus memaafkan Papa Denis, lambat laun kamu akan terbiasa.”
Atma mengangguk lemah, masih terus berusaha dan membulatkan tekadnya agar bisa menerima Denis apa adanya.
“Syukurlah anak Papa sudah sadar.” Rama datang dan langsung menangkupkan kedua tangan di wajah Atma kemudian mencium pipi sang anak dengan sayang. Ketakutan dan kekhawatiran Rama menguap seketika.
Atma tersenyum melihat kehadiran Rama, tangannya terulur mengambil tangan Rama dan Amanda lalu menyatukan tangan kedua orangtuanya.
“Kalau seperti ini, Atma tenang dan bahagia. Mama sama Papa jangan bertengkar seperti yang terjadi dalam mimpi Atma tadi.”
Amanda mengambil napas dan membuang perlahan, hatinya gusar setelah mendengar ucapan Atma.
‘Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Nak? Apakah kamu tertekan sehingga dalam alam bawah sadarmu melihat kami semua, Denis menangis dan orang tuamu bertengkar?’ tanya Amanda dalam hati menatap nanar Atma yang kini bermanja ria dengan bergantian mencium pipi sang Papa dengan sayang.
~Bersambung~
Support selalu cerita ini, ditunggu like komentarnya biar selalu semangat. Terima kasih, love sekebon teh 💕💕💕💕
__ADS_1