Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 46


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


“Ya ampun, Mas!” pekik Amanda yang muncul di ambang pintu.


Denis mengelap sudut bibirnya yang berdarah, sedangkan Rama memandang Amanda dengan tatapan tak percaya.


‘Kenapa bisa Amanda berada di sini?’ tanya Rama dalam hati.


‘Arghhh! Pasti istriku akan kecewa, sial!’ rutuk Rama yang tertahan di dalam hati.


Amanda langsung mendekati, memposisikan diri di sebelah Rama sambil meneliti wajah Denis.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Amanda menatap bergantian Rama dan Denis yang masih bungkam dan hanya diam, tak ada satu pun yang membuka suara.


“Kenapa kamu berada di sini, Denis? Apa maksud kedatanganmu?” cecar Amanda kini pada Denis.


Denis tersenyum menyeringai menatap Amanda tanpa kedip yang membuat Rama merasa muak.


“Kenapa kalian seperti anak kecil dalam menyelesaikan masalah?!”


Kali ini suara Amanda meninggi, kekanakan sekali pikiran dua pria dewasa dihadapannya.


“Tidak begini cara menyelesaikan masalah, Mas. Tidak dengan kekerasan, seberapa pun emosinya dirimu,” ucap Amanda kini pada Rama.


“Suami mana yang tidak emosi ketika mantan suami istrinya mengungkapkan rasa cinta,” terang Rama yang akhirnya membuka mulut dengan menatap sinis Denis.


Amanda menghela napas lalu mengembuskan perlahan mendengar hal itu.


“Aku belum selesai berbicara tapi Rama langsung memberikan bogem mentah untukku,” sergah Denis.


“Fine, sekarang jelaskan apa yang sebenarnya yang akan kamu katakan Denis!” pinta Amanda.


Menoleh ke sisi kanan dada Rama sudah kembang kempis, Amanda tersenyum tipis, tangannya merambat ke area atas paha yang dijadikan tempat meletakkan tangan Rama. Tangan Amanda menelusup ke sela jari sang suami seraya mengeratkan genggaman tangannya.


Mendapatkan perlakuan itu, Rama yang tadinya menatap intens Denis penuh emosi langsung menatap Amanda dengan tatapan penuh cinta.


Nyes!


Senyuman Amanda sedikit menyejukkan hati Rama, bak api yang di siram air es, begitu mendinginkan dan menenangkan. Tanpa pikir panjang, Rama menarik tangan Amanda ke arah bibirnya lalu mengecup sekilas punggung tangan sang istri.


Melihat keromantisan Amanda dan Rama di depannya, bohong jika Denis tidak merasakan cemburu. Seharusnya ia yang berada di samping Amanda, seharusnya ia yang mendapatkan perlakuan manis dari Amanda, seharusnya ... dan seharusnya. Namun, ternyata sudah tak ada harapan lagi untuk Denis kembali. Ia sudah kehilangan Amanda dan Atma hanya karena keegoisan mamanya.


“Aku pikir masih ada kesempatan kedua untukku yang diberikan Amanda sehingga kami bisa bersatu kembali, aku mencintai seorang Amanda tapi kini sudah merelakannya asal ia bahagia. Cinta sudah kukubur dalam-dalam, terserah kalian percaya atau tidak. Jejak cinta tidak kupungkiri masih ada, tapi aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan Amanda dan anakku hanya karena obsesi semata,” terang Denis.


“Aku akan berusaha percaya dan memegang ucapanmu kalau kamu tidak akan menghancurkan kebahagiaanku, lalu apa maumu sekarang Denis?” tanya Amanda menelisik lebih dalam apa yang sebenarnya Denis inginkan darinya saat ini.


“Aku hanya menginginkan diakui oleh Atma—anakku, kalian tidak bisa memisahkan Ayah dan anak begitu saja hanya karena sebuah perceraian.”


Meja di gebrak kencang oleh Rama mendengar hal itu, seharusnya Denis sadar apa yang telah ia lakukan pada anak istrinya di masa lalu. Tidak ada yang berusaha memisahkan bahkan Amanda begitu bermurah hati membebaskan Denis dari penjara, tidak mengajukan banding untuk kesekian kalinya.


“Tak ada kaca besar kah di rumahmu Denis? Kalau kamu bilang kami memisahkanmu dengan anak kandungmu sendiri jelaslah salah, salah besar! Karena nyatanya kamu menorehkan luka trauma dihati Atma, bukan kami yang menebar kebencian di hati Atma terhadap ayahnya sendiri,” jawab Rama atas permintaan yang menurut Rama adalah tuduhan.


Pintu ruangan terbuka, Rio berdiri di ambang pintu bersama office girl yang membawa minuman sambil menampilkan cengiran.


Rama memutar bola mata malas ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu, Rama menduga Rio lah yang memberitahukan Amanda bahwa hari ini ada pertemuan dirinya dengan sang mantan suami istrinya. Hanya Rio yang tahu akan pertemuan ini, dan hanya Rio yang kemungkinan besar memberikan informasi pada Amanda.


“Di minum, Pak. Menenangkan hati dengan minum supaya sedikit lebih tenang,” kata Rio yang melihat satu persatu orang diruangan itu berwajah tegang.

__ADS_1


“Keluar setelah meletakkan minuman,” titah Rama.


Rio tanpa merasa berdosa menunjukkan jari berbentuk V ke arah Rama, ia sangat tahu sahabatnya itu seperti apa. Tegas, ketus, datar terhadap orang lain terkecuali keluarganya bahkan sebagai seorang sahabat Rio harus bermuka tebal agar Rama mau berinteraksi walaupun dengan respon mimik kesal.


“Kami permisi dulu, Pak, Bu,” pamit Rio yang entah sejak kapan bersikap formal dengan Rama.


Amanda menahan senyum melihat ekspresi kesal Rama pada sahabat sekaligus asistennya sendiri.


“Baiklah kita lanjutkan obrolannya, asal kamu tahu Denis, aku dan Rama sama sekali tidak pernah mendidik Atma agar membencimu. Jika sekarang Atma tidak ingin bertemu denganmu sangatlah wajar, apa kamu tidak ingat kejadian terakhir yang membuat Atma trauma sampai sekarang walaupun hanya mendengar namamu dan Bu Sinta? Kejadian itu sungguh membuat takut Atma untuk bertemu denganmu, bukan kami yang menanamkan kebencian,” bela Amanda meluruskan ucapan Denis yang dinilai tidak benar.


“Sebab itu aku memohon pada kalian untuk membantu Atma keluar dari rasa trauma agar ia bisa menerimaku sebagai papanya,” desak Denis tanpa malu.


Amanda mengembuskan napas, sulit berbicara dengan Denis yang tidak memahami psikologi anak.


“Atma anakku, rasanya aku tidak terima jika kamu menyebutnya sebagai anakmu. Apa yang kamu lakukan selama ini terhadapnya? Pernahkah kamu mengurus Atma bahkan saat di mana ia membutuhkan kasih sayang seorang Papa? Di mana kamu saat Atma sakit dan butuh dihibur dengan pelukan atau memanjakannya? Apa kamu pernah memenuhi tanggung jawab sebagai seorang Papa?” sindir Rama.


Rama tahu persis bagaimana membesarkan Atma, ketika Atma rapuh oleh ejekan teman yang menyebut dirinya tidak memiliki Papa, ketika ia menatap nanar keharmonisan orang tua dan anak dengan kasih sayang utuh. Apa yang sudah Denis lakukan? Bahkan semua yang menjadi tanggung jawab Denis, Rama yang menggantikannya sejak Atma berusia hitungan bulan.


“Darah lebih kental dari air, Rama. Atma lahir dari benihku, bahkan ia adalah anak yang sudah lama dinantikan dalam pernikahanku dengan Amanda,” sergah Denis.


“Lalu kamu membuangnya, bukan? Menganggap Atma hanyalah anak cacat, tidak pantas menyandang nama keluarga terhormat Narendra.”


Telinga Amanda rasanya berdengung kencang mendengar bantahan demi bantahan yang terlontar antar kedua orang dihadapannya.


“Sudah cukup!” bentak Amanda menghentikan perdebatan tanpa ujung jika terus berlanjut bisa jadi baku hantam untuk yang kedua kali.


“Aku menyerahkan semua keputusan pada suamiku, Rama Alfarez untuk memutuskan boleh atau tidak seorang Denis Narendra dekat dengan anaknya,” kata Amanda yang menghentikan perdebatan.


“Kamu benar Denis tidak ada yang bisa memutuskan hubungan darah karena darah lebih pekat dibandingkan air, tapi jangan lupakan jasa seseorang yang sudah tulus menjadi sosok Papa untuk Atma yang sekarang kamu akui sebagai anak.” Lanjut Amanda.


Rama tersenyum dengan perasaan lega setelah mendengar ucapan sang istri, Amanda benar-benar menghargainya sebagai seorang suami dan seorang Papa yang sudah mencurahkan kasih sayang terhadap Atma dari kecil bahkan darah Rama pun mengalir di tubuh Atma.


Diberikan tanggung jawab besar seperti itu membuat Rama berpikir seribu kali ketika mengambil keputusan, sedangkan Denis sudah ketar-ketir dibuatnya setelah mendengar apa yang Amanda katakan, memberikan keputusan pengasuhan pada rival sejatinya—Rama.


‘Pupus sudah harapanku jika seperti ini, aku tahu Rama seperti apa,.’ Monolog Denis yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa.


Rama berpikir keras bagaimana bersikap bijaksana dalam hal ini agar istri tercintanya tidak kecewa dengan apa yang akan ia putuskan, menerima Denis sama saja memasukkan buaya atau macan ke dalam rumah yang akan memporak-porandakan rumah tangganya.


Bohong besar jika Denis sudah tidak mencintai Amanda, semua kan butuh proses dan melupakan bukanlah hal mudah. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Rama memiliki jawaban, tangan Amanda setia mengapit lengan sang suami.


“Apa kamu bisa bersabar dan membuktikan sesuatu?” tanya Rama pada Denis yang sudah menatapnya.


“Katakan saja apa yang harus kubuktikan dan kulakukan untuk bisa mendapatkan pengakuan dari Atma.”


“Good, gentleman juga kamu rupanya.”


Amanda mengelus punggung tangan Rama, ia tahu Rama akan melontarkan kalimat provokasi bagaimana pun Rama adalah lelaki penuh ketegasan dan tidak bodoh hingga bisa diperdaya orang lain.


“Menjauhlah!”


Deg!


Emosi langsung naik ke ubun-ubun mendengar apa yang dikatakan Rama, mata Denis terbelalak.


“Menjauh sebelum trauma yang dirasakan Atma sudah sembuh, ia butuh sendiri. Anakku butuh penanganan medis untuk mengobati traumanya. Setelah traumanya sembuh, aku yang akan menghubungimu agar menemui Atma. Sementara awasi saja terus gelagat Atma, tingkah Atma melalui orang-orang suruhanmu.”


Mendengar lanjutan ucapan Rama kini emosi kembali turun hingga sebatas dada, mungkin.

__ADS_1


“Aku tahu kamu menyuruh orang-orangmu untuk memata-matai kami, benar ‘kan?”


Denis mengangguk kaku, ketahuan juga oleh Rama.


“Cukup lakukan itu saja dulu, aku akan mengobati trauma Atma ke psikiater. Jangan lakukan hal gegabah yang akan membuat Atma membencimu.”


“Baik, aku akan mengikuti semua apa yang kamu katakan, kuharap kamu tidak mengingkarinya, Rama.”


Rama tertawa kecil, lebih tepatnya tertawa meledek, lucu saja dengan ucapan Denis yang meragukannya.


“Aku bukan pecundang, kamu tahu ... apa yang membuatku memberikan kesempatan untukmu dekat dengan Atma?” tanya Rama.


Menoleh ke arah Amanda dengan menatap intens wajah Amanda yang masih terlihat cantik.


“Hidup terus berlanjut, berdamai dengan masa lalu dan mengikhlaskan segala yang telah di takdirkan-Nya dapat menghilangkan belenggu yang menyesakkan hati, memaafkan adalah awal menggapai kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Kalimat istriku yang menginginkan kebahagiaan dan ketenangan tanpa kebencian, love you my sweet heart,” ungkap Rama mengedipkan satu mata lalu tersenyum lebar melihat keterkejutan sang istri disertai rona merah di pipinya.


Tanpa aba-aba, Rama langsung memeluk Amanda di depan Denis lalu mengecup sekilas pipi sang istri.


“Mas malu,” desis Amanda tapi diacuhkan oleh Rama.


Awal kedatangan Amanda, Rama kira istrinya akan berburuk sangka tapi ternyata tidak. Istrinya begitu menghargai dan percaya padanya. Wajar bukan Rama memeluknya walau di depan sang mantan? Hitung-hitung menunjukkan bukti kepemilikan Amanda atas dirinya, pikir Rama.


Denis berdeham cukup keras, Rama merenggangkan pelukan.


“Upss sorry, kukira hanya kami berdua yang berada di ruang ini,” ucap Rama acuh.


“Baiklah aku pamit, kita sekarang bukan musuh dan bisa berteman ‘kan?” tanya Denis memastikan.


Kedua tangan Rama terangkat ke atas, “Sorry, aku membutuhkan waktu dan bukti untuk memastikan tidak ada niat buruk yang akan kamu lakukan untuk keluargaku,” kata Rama.


“Baiklah,” sahut Denis yang berusaha memaklumi.


Akhirnya Denis pamit keluar dari ruangan Rama, menyisakan Rama dan Amanda di ruangan. Sepeninggal Denis, Rama berjalan ke arah pintu lalu ....


Klek!


Ia mengunci pintu ruangannya, lalu menoleh ke arah Amanda yang matanya kini melotot lebar.


“Mas! Jangan aneh-aneh deh,” kata Amanda memperingatkan ketika Rama melonggarkan dasi yang mengikat di kerah baju kemejanya dengan tatapan penuh hasrat.


Bagaimana bisa ia menolak kesempatan ini, lagi pula sudah masuk jam pulang kantor. Terlebih tidak ada si kembar sekarang, Rama pun bebas melakukan apa saja di ruangan ini.


“Short time honey ...,” kata Rama yang sudah mengikis jarak, tangannya sudah bermain membuat Amanda akhirnya pasrah begitu saja, Rama tidak suka dengan penolakan, Amanda pun tidak akan membuat suaminya kecewa.


Baru saja membuka kancing baju atas, suara ketukan pintu terdengar.


“Bos ... Bos!” panggil seseorang yang sudah pasti Rio.


“Sial!” umpat Rama.


Sedangkan di luar Rio terkikik geli dan sudah bersiap mendapatkan semprotan dari bos sekaligus sahabatnya ....


~Bersambung~


Terasa sebentar ya bacanya ... ini hampir 2000 kata loh.


Cerita ini diusahakan update setiap hari, mohon dukungan dengan like, komentar, hadiah dan vote pastinya. Ayolah tinggalkan jejak, semua komentar di baca walaupun respon like atau jika sempat akan di balas, komentar pembaca akan jadi penyemangat menulis tentunya.

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti cerita ini ya ....


~Bersambung~


__ADS_2