Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 82


__ADS_3

“Jadi benar kalian akan kembali besok ke Australia?” tanya Amanda yang kini berada di rumah Abi dan Ummik menemui Janu dan Gita.


“Kak Janu ada urusan pekerjaan yang enggak bisa ditinggal, Kak. Mau tidak mau aku menuruti, padahal masih betah di sini. Seandainya dibolehkan LDR, sepertinya menyenangkan,” jawab Gita yang kini melirik ke arah Janu yang menggendong Baby Daren.


“Mana bisa om-om yang satu ini pisah jauh dari istri muda,” sindir Rama hadir ditengah obrolan sambil menggendong Tama yang rewel karena mengantuk.


“Terasa jadi sugar Daddy kalau kayak gitu,” celetuk Janu melayangkan tinjuan di lengan Rama hingga mengaduh sambil terkekeh mendapatkan protes dari Janu.


“Kamu juga, Mas. Bakalan protes dan enggak mengizinkan kalau aku dan anak-anak jauh,” timpal Amanda.


“Kata siapa?”


“Ohh ... perlu bukti? Baiklah aku akan ikut bersama Gita dan Kak Janu ke Australia tanpamu, bagaimana?” Amanda menantang yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala kuat.


“Kamu tidak bisa meninggalkan tugas di rumah sakit begitu saja, apalagi sekarang kamu adalah anak dari direktur rumah sakit, jadi sangat tidak mungkin berlibur terlebih baru masuk beberapa bulan setelah cuti melahirkan,” kilah Rama dengan banyak alasan tapi tidak mengakui bahwa ia keberatan.


“Bilang aja tidak sanggup jauh dari Amanda, alasannya banyak sekali dan berputar-putar,” cibir Janu yang tak mau kalah meledek Rama.


“You know-lah, Amanda dan anak-anak penyemangat. Baiklah aku akui, sama sepertimu Janu yang tak bisa jauh dari istri dan anak jadi jangan diperpanjang, okey?” kata Rama menyerah.


“Hahh! Tipe suami kita ternyata sama, Kak,” keluh Gita yang lehernya langsung diapit oleh lengan Janu dengan satu tangan yang masih menggendong Baby Daren.


“Tapi suka kan, ayo ngaku! Bahagia kan punya suami yang bergantung sama istri karena menandakan kalau suamimu ini cinta pakai banget sama istri,” cecar Janu, Gita terkekeh dengan wajah yang pura-pura sakit dan berusaha melepaskan lengan Janu yang tengah mengapit lehernya sambil menciumi pipi sang istri.


“Ampun, Daddy Daren,” kata Gita, Amanda dan Rama hanya tertawa kecil melihat keharmonisan saudaranya.


“Om! Tante Gita jangan dianiaya, nanti Atma bilangin Eyang loh,” ancam Atma yang kebetulan melihat kelakuan gemas Janu pada Tante dan mengira sang Tante tengah dianiaya.


Atma tolak pinggang dengan mata menatap sinis Janu, dadanya kembang kempis. Rama tidak pernah bercanda seperti itu pada Amanda, sehingga Atma menilai Janu melakukan kekerasan fisik.


“Oh Rama junior datang.”


Janu melepas apitan lengan, menyerahkan Baby Daren pada Gita dan kini melangkah lebar ke arah Atma dan menggelitik Atma lalu mengangkat tubuh Atma untuk ia cium dengan gemas.


“Ampun Om, ampun! Baby Daren cepat besar biar bisa bantuin Kakak,” teriak Atma dengan tawanya ketika tidak tahan dengan kelitikan Janu.


**


“Om sama Tante Gita menikah seperti Papa Denis dan Mommy Vanya, benar ‘kan Pa?” tanya Atma, mereka tengah menikmati makan malam bersama.


“Iya Sayang.”


“Nanti Atma besar, Amara paling cantik boleh tidak menikah dengan Baby Daren nantinya biar Amara bisa selalu dijagain?”


Semua orang dewasa meneguk ludah yang rasanya tersangkut di kerongkongan, mereka menatap Atma semuanya. Pemikiran Atma terlalu panjang untuk kedepannya, bahkan orang dewasa pun tak memikirkan sampai ke sana.


“Atma sayang banget sama Amara, Papa Denis melindungi Mommy Vanya, Mama dilindungi Papa, dan Tante Gita dilindungi Om Janu. Atma ingin nanti baby Daren melindungi Amara juga,” ungkap Atma kemudian.


Amanda yang sudah selesai makan, menggenggam tangan Atma dengan senyum hangat.


“Kita akan jaga Amara bersama, okey?”


“Bisakah?”


“Tentu saja, Sayang. Kan Amara adik Atma, Tama dan Kakak sepupu Baby Daren,” terang Amanda sesederhana mungkin agar Atma paham.


“Yeayy, udah ah Atma mau main lagi sama tiga bayi di kamar, dadah semua,” kata Atma langsung berlari ke arah kamar bayi yang sedang dijaga oleh dua pengasuh.


Abi dan Ummik bertukar pandang, tersenyum penuh arti, ada hati yang terusik dengan ucapan Atma barusan. Padahal Atma tidak begitu serius dan memahami apa yang diucapkan, tidak begitu dengan Abi dan Ummik yang malah memiliki sebuah harapan keluarga mereka tetap utuh hingga anak cucu.


“Bagaimana kalau Amara dijodohkan sejak kecil dengan Baby Daren?” tanya Ummik yang membuat mata Amanda membulat sempurna begitu pun yang lainnya.


**

__ADS_1


“Tidak Mas, aku tidak setuju dengan rencana Ummik,” kata Amanda saat mereka sudah sampai di rumah sehabis makan malam bersama selesai.


“Tidak ada salahnya Sayang, cara satu-satunya agar keluarga kita tetap solid,” bela Rama yang merasa tidak ada salahnya menjodohkan Daren dan Amara sejak kecil sesuai apa yang menjadi keinginan Ummik dan juga Abi.


“Tidak! Pokoknya aku tidak setuju, biarkan anak-anak mencari pasangan dan kebahagiaannya sendiri,” tolak Amanda yang akhirnya diangguki pasrah oleh Rama.


“Terserah kamu Sayang, itu kan hanya keinginan Abi dan Ummik, bukan berarti harus menuruti keinginan itu. Lagi pula kamu dengar sendiri kan Gita pun tidak setuju seperti dirimu yang juga menolak keinginan Ummik dan Abi, bukan karena tidak ingin hubungan keluarga kita tetap erat tapi lebih membiarkan anak-anak memilih kebahagiaannya.”


“Lalu kenapa Mas bilang sama Abi dan Ummik akan dipikirkan?”


“Ya karena untuk menghargai Ummik dan Abi saja, tidak langsung mematahkan keinginan yang nantinya akan membuat orang tua kita kecewa.”


“Bagaimana kalau Abi dan Ummik berharap lebih? Apa situasi tidak rumit nantinya?” cecar Amanda yang keberatan dengan jawaban yang dinilai tidak tegas oleh Amanda.


“Kita tolak secara halus nantinya, lagi pula anak-anak masih bayi, pemikiran jangka panjang dan tidak seharusnya kita pikirkan sedari awal seperti ini.”


“Tapi aku khawatir Ummik dan Abi berharap lebih,” ucap Amanda yang masih diselimuti kekhawatiran.


Rama memeluk sang istri dari belakang, melingkarkan tangan ke depan tubuh Amanda dan menyandarkan kepalanya di bahu.


“Itu hanya kekhawatiranmu saja, Amanda. Kita juga harus menghargai orang tua kita dengan tidak mematahkan langsung keinginan mereka, Janu pun berpendapat sama denganku. Saat kalian menggantikan popok, kami berbicara 4 mata dan setuju akan menolak halus keinginan Ummik dan Abi.”


“Hahhh! Syukurlah, aku khawatir kamu dan Janu pun setuju dan memaksa anakku untuk menikah dengan saudaranya sendiri.”


“Jangan lupakan mereka bisa dinikahkan, Sayang. Dan jangan lupakan juga kalau anakmu adalah anakku,” ucap Rama mengingatkan sang istri ketika hanya menyebut Amara anaknya.


“Oh iya, anak kita,” sahut Amanda tersenyum, “aku tidak akan melupakan bahwa tidak ada hubungan darah antara mereka, Mas. Aku hanya anak dari panti asuhan yang tengah beruntung diangkat sebagai anak oleh Abi dan Ummik.” Lanjut Amanda kemudian dengan ekspresi sendu.


“Sayang ... aku tidak bermaksud menjelaskan statusmu, maaf jika itu membuatmu sedih,” kata Rama yang membalikkan tubuh Amanda dan memeluknya kembali.


“Aku ingin anak kita bebas memilih pasangan hidupnya nanti tanpa kita paksa mengikuti keinginan kita dan mengabaikan kebahagiaan mereka nantinya. Aku tidak ingin menjadi orang tua yang egois, Mas.”


“Ya ... aku paham, karena kecerdasan Atma membuat orang dewasa kini dibingungkan bersikap dihadapan Abi dan Ummik, anak kita memang cerdas memeras otak dan emosi orang dewasa,” kekeh Rama yang diangguki Amanda.


“Aku enggak menyangka juga Atma berpikir menikahkan Amara dengan Daren jika dewasa, ini efek Denis yang menikahi Vanya hingga akhirnya ia memahami sedikit apa itu pernikahan,” ujar Amanda yang juga disetujui Rama.


Pelukan Rama dan Amanda terlepas seketika melihat kedatangan Atma ke kamar pribadi mereka, Ada mulai melangkah masuk ke dalam kamar.


“Ada apa Sayang?” tanya Amanda yang juga menghampiri sang anak.


“Papa Denis kok enggak telepon Atma ya? Apa lupa ya sama Atma karena sudah menikah dengan Mommy Vanya? Janjinya malam sebelum tidur akan menelepon Atma tapi bohong,” keluh Atma yang kini terusik dengan janji Denis.


Rama dan Amanda saling bertukar pandang, ingin rasanya mengatakan dengan jujur kalau malam ini adalah malam pertama untuk pengantin baru walaupun pernikahan kedua mereka.


“Oh! Bukan lupa, Sayang,” imbuh Rama yang mensejajarkan posisi tubuh dengan Atma dengan duduk di sisi ranjang dan membawa Atma ke dalam pangkuan.


“Lalu apa dong, Pa?”


“Papa Denis dan Mommy Vanya sedang sibuk membuat adik untuk Atma,” kata Rama yang mengedipkan satu mata ke arah Amanda sedangkan Amanda langsung melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata mendelik memprotes jawaban yang sudah terlanjur terlontar dari mulut Atma.


“Yeyy! Atma nanti punya adik bayi lagi, tambah banyak adik Atma,” sorak Atma bahagia.


Amanda menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.tak percaya ke arah Rama, sedangkan Rama hanya tersenyum tanpa dosa.


“Biar Denis dicecar Atma dengan meminta adik baru,” bisik Rama sangat pelan di telinga Amanda sebelum melangkah mengantar Atma kembali ke kamarnya.


“Ckkkk! Ada-ada saja,” cebik kesal Amanda yang akhirnya membiarkan Rama berlalu begitu saja.


**


“Saya sudah memaksimalkan meresepkan obat-obatan yang dapat memaksimalkan ereksi, tetapi belum ada perkembangan yang signifikan. Tapi paling tidak saat anda terbangun sudah mulai menunjukkan sesuatu bhal yang positif. Kita harus menggunakan bterapi lain selain obat-obatan yang sudah dikonsumsi 3 bulan ini,” terang Dokter Erik.


Dokter yang merupakan warga negara Indonesia yang memang sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Austria. Sehingga Denis dan Dokter yang menanganinya menggunakan bahasa Indonesi, bukan bahasa Jerman—bahasa keseharian di Austria.

__ADS_1


“Saya akan mengikuti saran apa pun dari Dokter,” kata Denis.


Vanya senantiasa menemani Denis setiap sang suami melakukan kontrol dan berkonsultasi dengan Dokter untuk mengobati kelemahannya.


“Saya merekomendasikan terapi hormon testosteron untuk meningkatkan libido atau mengatasi lemah syahwat pada pria seperti Anda yang berdasarkan hasil laboratorium menunjukkan kalau anda mengalami kekurangan hormon testosteron, bagaimana apakah anda setuju?”


“Baik, Dok.”


“Dan satu lagi kasus lemah syahwat bisa juga disebabkan gangguan psikologis, gangguan ini dapat diatasi dengan konseling ke psikolog atau psikiater. Setelah permasalahan diketahui psikiater daapat melakukan psikoterapi agar hasilnya semakin maksimal,” saran Dokter menerangkan terapi pengobatan tahap lanjutan yang harus dijalani Denis.


“Apa pun itu akan saya lakukan untuk kesembuhan saya, Dok.”


“Baiklah saya akan mempersiapkan semuanya,” putus Dokter yang menuliskan beberapa resep dan rekomendasi ke seorang psikiater untuk membantu memulihkan kesehatan organ vital Denis.


“Anda bisa menunggu di ruang tunggu untuk semua persiapan, Tuan Denis. Suster tolong diarahkan,” titah Dokter yang langsung dilaksanakan suster dengan mengarahkan Denis dan Vanya ke sebuah ruang tunggu ekslusif.


“Kami persiapkan semuanya dulu Tuan Denis,” kata perawat yang meninggalkan Vanya dan Denis di ruang tunggu.


“Kamu harus semangat, Denis,” ujar Vanya menyemangati.


“Tentu saja, asal kamu ada di sisiku,” sahut Denis menggenggam tangan Vanya lalu mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut.


Ponsel berdering, menampilkan panggilan video dari Indonesia tepatnya nomor ponsel rumah keluarga Rama dan Amanda yang dipegang Atma saat berada di rumah ketika orang tuanya tidak ada.


“Sepertinya Atma, paket hadiahku pasti sudah ia terima,” kata Denis tersenyum semringah.


“Angkat saja, pasti Atma kangen sama kamu.”


Denis langsung menggeser layar ponsel menerima panggilan, benar saja tidak berapa lama sosok Atma memenuhi layar ponselnya.


“Hallo Papa.”


“Hallo Sayang, paket Papa sudah sampai ya?”


“Iya, Pa. Bagus banget heli RC-nya,” puji Atma.


“Bagaimana kamu bahagia ‘kan, sayangnya Papa?”


“Bahagia sih, cuma akan lebih bahagia kalau perut Mommy Vanya membesar supaya aku punya adik bayi lagi,” celetuk Atma, “coba lihat perut Mommy Vanya sudah membesar belum seperti saat Mama hamil dedek kembar?” tanya Atma kemudian yang membuat Denis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan Vanya mengulum senyum mendengar permintaan Atma.


“Hmmm ... doakan Mommy saja ya Sayang, supaya perut Mommy akan membesar seperti Mama Amanda saat mengandung adik kembar,” kata Vanya mengambil alih ponsel Denis dan mengarahkannya pada perutnya yang masih rata.


“Perut mommy masih rata, Atma doakan saja supaya segera terisi adik bayi, semangati Papa juga,” kata Vanya tersenyum hangat ke arah kamera.


“Semangat Papa!” teriak Atma yang membuat Denis tersenyum kaku pada akhirnya.


Mereka melakukan obrolan kecil sebelum akhirnya menutup sambungan telepon, dengan situasi canggung. Denis diam tak mengucapkan sepatah kata pun, ekspresinya terlihat tak bersemangat.


“Perjalananku masih panjang.”


“Dengarkanlah yang dikatakan Atma, kamu harus semangat, Denis.”


“Bisakah aku memiliki anak Vanya?” tanya Denis ragu.


“Kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga tidak semata-mata ditentukan ada atau tidaknya keturunan, kita sudah memiliki 3 anak walaupun bukan dari rahimku. Setidaknya cukup syukuri itu sehingga tidak menjadi beban untukmu, Denis,” kata Vanya berusaha menenangkan dan menyemangati Denis.


“Aku yang merasa tidak berguna dan lemah, Vanya,” keluh Denis yang pada akhirnya Vanya memberikan pelukan pada suaminya karena percuma Denis tengah larut dalam pemikirannya sendiri.


Keturunan dalam rumah tangga biasanya menjadi tolak ukur kebahagiaan pasangan, tetapi banyak yang sering melupakan rasa syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan dengan meratapi sesuatu yang belum dipunyai.


Biarlah tangan Tuhan yang bekerja, tugas seorang hamba hanya belajar bersabar menanti dengan menikmati segala prosesnya yang diberikan pada kita.


~Bersambung~

__ADS_1


Like dan komentar 😍


Terima kasih untuk supportnya, keep healthy, keep strong, perketat prokes. Sehat untuk semuanya ... lope sesamudera deh kali ini. ❤️


__ADS_2