Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 43


__ADS_3

...Tinggalkan jejak...


...πŸ’• Like dan komentar πŸ’•...


Rama dengan sigap menggendong aku keluar dari rumah keluarga Denis, menuju rumah sakit, Atma menangis, menambah kepanikan pada diri Rama.


Kami sudah sampai di IGD rumah sakit, untung saja saat aku datang, Dina masih bertugas di rumah sakit sehingga penanganan dilakukan dengan cepat.


"Kita harus segera melakukan operasi malam ini, sudah terjadi kontraksi, tapi tidak ada pembukaan karena kehamilan gemeli, dengan posisi sungsang dan lintang, melahirkan dengan operasi SC menjadi jalan satu-satunya untuk Amanda," ucap Dina, Rama menyetujui sarannya, ia langsung memerintahkan perawat mengurus semua persiapan sebelum operasi, mengecek kondisi tubuh secara keseluruhan dan melakukan beberapa rangkaian test kesehatan.


"Sayang, aku sangat mencintaimu, berjanjilah kamu akan baik-baik saja setelah melahirkan anak kita."


"Mas, kenapa kamu yang panik dan takut? Ini adalah kodrat seorang wanita."


"Aku takut Amanda, ini pertama kalinya aku melihat kamu menahan sakit seperti ini. Aku takut terjadi sesuatu terhadapmu." Wajah Rama terlihat sangat khawatir.


"Percayalah, aku dan anak kita akan baik-baik saja. Asal kita tidak berhenti berdoa, memohon kemudahan dan kekuatan," ucapku menyemangati diri dan juga Rama.


"Iya sayang, aku mencintaimu." Rama mencium keningku cukup lama, tanpa terasa air matanya menetes dan jatuh di pipiku. Aku meresapi moment bahagia ini, di mana hanya akan terjadi ketika detik-detik orang tua mengharapkan anggota baru yang akan hadir melihat dunia dalam rumah tangga kami.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Aku sudah berada di ruang operasi bersama tim medis, walaupun aku seorang dokter tetap saja ketegangan menyelimutiku saat proses operasi berlangsung.


"Sebelum memulai operasi, kita lakukan doa bersama, agar rekan kita dan kedua bayinya selamat dalam proses pembedahan," ucap Dina memimpin doa dan memimpin jalannya tindakan operasi kali ini.


"Tarik nafas dalam, aku akan melakukan suntikan epidural di punggungmu, Amanda," ucap dokter anastesi yang juga rekan sejawatku.


"Kateter sudah terpasang."


"Pastikan obat bereaksi."


"Sudah terasa kebas di kaki, Amanda?" aku menganggukkan kepala.


"Lakukan pembedahan!"


"Kepala bayi pertama sudah terlihat, dokter anak, perawat tolong bersiap."Β 


Tenaga medis saling bersahutan ketika melakukan tugas masing-masing dalam proses operasi dan beberapaΒ menit kemudian ....


Owaaa ... owaaa ... owaaa ...


Terdengar nyaring suara bayi kembar yang pertama, memecah kesunyian ruang operasi.


"Bayi kedua sudah terlihat."Β 


Aku merasakan tarikan ketika bayi diangkat dari dalam perutku.


Owaaa ... owaaa ... owaaa ....


Akhirnya aku bisa bernafas lega ketika kedua bayiku sudah berada di luar rahimku saat ini.


"Tekanan darah naik."

__ADS_1


"Amanda tolong tetap jaga kesadaranmu." Pinta Dina setengah berteriak.


Aku merasakan pusing yang luar biasa, perut terasa mual, semua persendian terasa lemas, dan beberapa saat kemudian semua terasa gelap ....


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Tut ... Tut ... Tut ... Tut ....


Suara monitor bedside terdengar saat aku tersadar, bukan hanya suara itu saja tapi suara kecil isak tangis dari sisi kiri tempat tidurku.


"Mas ...," ucapku lirih. Rama langsung mendongakkan kepalanya ke arahku, dengan mata yang tergenang oleh air mata, ia langsung menghujani dengan kecupan di wajahku.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang kamu sudah sadar, Mas sangat takut kehilanganmu." Aku hanya bisa tersenyum tipis kearahnya, tubuhku masih terasa lemas.


"Bagaimana kondisi anak kita?"


"Mereka sehat dan sempurna, cantik sepertimu dan juga tampan sepertiku, sayang ... Terimakasih telah memberikan aku kebahagiaan yang lengkap, menghadirkan mereka, mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak kita," ucap Rama dengan memberikan kecupan penuh cinta di keningku lagi. Tanpa terasa air mata ini meleleh dari sudut mataku.


"Terimakasih juga, karena Mas sudah menjadi suami dan Papa yang terbaik untuk keluarga kecil kita." Kami larut dalam suasana haru yang membahagiakan.


"Syukurlah kamu sudah sadar Amanda," Dina masuk ke dalam ruangan dan memelukku. "Terjadi pendarahan saat proses operasi, untung saja fisikmu cukup kuat untuk bertahan sehingga semua bisa terkendali."


"Terimakasih sudah membantu proses kelahiran anakku, Din. Kekuatanku karena doa orang yang mencintai dan menyayangiku." Rama menggenggam tanganku seraya mengecup penuh sayang punggung tanganku.Β 


"Apa anakku termasuk terlahir prematur, Din?"


"Untuk kehamilan kembar usia kandungan 37 Minggu sudah masuk kelahiran mature, jangan khawatir, semua kondisi stabil." Dina tersenyum, dan pamit untuk melanjutkan tugasnya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Seperti wajah Abi ya, Mik ...."


"Lebih tampan cucu kita lah Bi, menggemaskan, kalau Abi sudah nggak menggemaskan." Sanggah Ummik yang langsung mendapat lirikan tajam dari Abi. Kami yang berkumpul dalam ruangan ini pun tertawa melihat ekspresi Abi.


"Oh iya Kak, namanya siapa?" tanya Gita.


"Untuk nama Mas Rama yang menentukan, Dek."


"Siapa nama anak kalian, Ram?" Giliran Janu yang bertanya.


"Amara dan Tama. Amara singkatan Amanda dan Rama sedangkan Tama kebalikan nama Atma agar mereka memiliki kesamaan, sama-sama menggemaskan seperti Abi dulu. ya, 'kan Abi? Akhirnya tawa kami kembali pecah melihat ekspresi protes Abi dan senyum puas Ummik, sehingga membuat kedua bayi mungilku menangis karena terganggu dengan tawa orang dewasa yang berada di sekelilingnya.


Mendengar tangisan si kembar dengan sigap Rama menggendong Amara, Rama tipe Pria penyayang sedari dulu ketika Atma bayi, jadi menggendong tubuh Amara yang masih kecil bukanlah suatu masalah untuknya.


"Janu kamu yang gendong Tama." Pinta Rama.


"Tidak, aku takut, nanti kalau jatuh bagaimana?" jawab Janu penuh keraguan.


"Kak, kamu harus belajar, kita juga 'kan nanti punya bayi mungil seperti ini." Pinta Gita.


Akhirnya dengan hati-hati Janu menimang Tama. Rama dan Janu akan menjadi sosok Papa idaman untuk anaknya kelak, dengan ketegasan dan kelembutan yang mereka miliki, pikirku.


"Adekkkk ...." Atma datang bersama Ibu, ia terlihat sangat bahagia melihat kedua adiknya berada di ruangan. Rama dan Janu duduk sambil tetap menggendong si kembar agar posisi sejajar dengan tinggi Atma, ia langsung menciumi kedua adiknya.

__ADS_1


"Ini anak Om loh, adik Atma hanya satu yang sedang di gendong Papa Rama." Ledek Janu.


"Nggak bisa, semua ini adik Atma, ya 'kan Pa?" Sanggah Atma.


"Iya Kakak Atma, semuanya nanti kita bawa pulang ke rumah." Jawab Rama menenangkan Atma yang sudah terlihat kesal.


"Yeeeee .... Wleee bukan anak Om Janu." Atma memeletkan lidah ke arah Janu, dan memeluk adiknya yang sedang dalam gendongan Janu, menunjukkan kepemilikan atas bayi yang berada di tangan Janu.


Kami yang berada di ruangan akhirnya tertawa melihat tingkah Atma.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Dek, cepat kalian besar, Kakak ingin mengajak kalian bermain ice skating bersama Om Janu." Celoteh Atma pada Tama yang sedang menyusu ASI dalam dekapanku.


"Sayang, besok 'kan Papa ke Bandung untuk mengecek pekerjaan di sana. Kamu jaga Mama dan Adik ya ...."


"Siap, Papa!" ucap Atma sambil mengangkat satu tangannya hormat pada Rama.


"Pintar, anak Papa yang tampan."


"Ma, Pa, diantara kami, siapa yang paling Mama sayangi?"


"Loh kok bertanya seperti itu, Nak? Tentu saja Mama sayang semua anak yang sudah mama lahirkan."


"Benarkah?" tanya Atma lagi.


"Tentu saja sayang, tidak ada bedanya kasih sayang Mama dan Papa untuk kalian semua, kami sayang kalian semuanya," ucap Rama.


Tidak dipungkiri tetap ada rasa khawatir pada Atma, ada rasa takut pada dirinya jika nanti ia tidak disayangi lagi. Oleh sebab itu, Aku dan Rama melibatkan Atma dalam mengurus kedua adiknya yang masih sangat membutuhkan banyak perhatian.


Setelah memberikan ASI untuk Tama dan meletakkan tubuhnya di ranjang, Amara kembali menangis, ingin beranjak menenangkan Amara tapi tangan kekar Rama menghalangiku.


"Biar aku yang menenangkan Amara, kamu istirahat sayang ...." Rama berdiri ke arah ranjang Amara. "Kak, ayo bantu Papa ganti popok adik, sepertinya adik PUP."


"Siap Bos ...." Atma berlari, membuka lemari perlengkapan bayi. "Ini tissue basahnya, dan ini popok pengganti." ucap Atma.


"Pegang kaki Amara agar tetap di atas." titah Rama.


"Uhh ... Dek, kamu jorok, ish ...," ucap Atma sambil menutup hidungnya. Aku dan Rama hanya tersenyum melihat reaksi Atma seperti itu.


Mereka berdua dengan hebohnya berhasil mengganti popok dan tersenyum puas menatap satu sama lain serta bertos ria, setelahnyaΒ Rama membuatkan susu formula untuk Amara, aku mencampur ASI dan susu formula untuk mencukupi kebutuhan susu si kembar, jika hanya mengandalkan ASI tidak akan cukup untuk mengenyangkan perut mereka.


Melihat Atma yang sangat menyayangi kedua adiknya membuat hatiku bahagia, Rama juga tidak berubah sikapnya, ia tetap menyayangi Atma dengan tulus.


Setelah lelah dengan aktivitas mengurus kedua adiknya bersama Rama, Atma tertidur. Rama membetulkan posisi tidur Atma dan menyelimuti serta mengecup kening Atma dengan penuh sayang sebagai penghantar tidur, senyum Rama mengembang melihat wajah Atma yang sudah terlelap.


"Terimakasih telah memberikan banyak kebahagiaan untukku Amanda Ayudya Prameswari. Aku mencintaimu ...," ucap Rama mendekatiku sambil memberi kecupan di keningku.


Rasanya kebahagiaanku telah lengkap sekarang, Ibu yang menyayangiku, suami yang sangat mencintaiku dan kehadiran anak yang melengkapi kebahagiaan kami.


Semua rasa sakit dan semua kesedihanku tergantikan oleh kebahagiaan, ketika manusia ikhlas dengan apa yang sudah di takdirkan-Nya, maka kebahagiaan adalah balasannya.


~ Bersambung

__ADS_1


Follow akun ya jangan lupa 😍


__ADS_2