
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak setelah membaca part ini. ❤️❤️❤️
"bagaimana Amanda bisa percaya dengan apa yang Ibu katakan? Jika Mas Rama saja diam dan tidak mengakui perasaannya, dan bagaimana hubungannya dengan Tasya, Bu?" Kulihat Ibu menghela nafas berat, Aku menanyakan tentang Tasya bukan karena tanpa alasan, Aku hanya tidak ingin dianggap negatif terlebih dengan status janda yang kusandang, bagaimanapun Aku harus menjaga nama baik keluarga, apalagi Tasya secara pribadi memintaku menjauhi Mas Rama dan Ibu dengan alasan ia merasa keberatan dengan adanya kami diantara mereka.
"Terlalu banyak ketakutan dan pertimbangan pada diri Rama, yang Ibu tahu Tasya hanya sekadar teman kecil, Ibu hanya ingin kamu tahu perasaan Rama terhadapmu, dan berharap Rama tidak menyesali sikapnya yang telah menutupi semua perasaannya," Aku memeluk Ibu, tak terasa air mata mengalir, Aku sudah menganggap ibu Ratri seperti Ummik untukku. "sudahlah Ibu serahkan semuanya kepada Allah, jodoh dan kehidupan kalian, Ibu hanya berdoa yang terbaik untuk kamu, Rama dan Atma."
"Omma dan Mama kenapa berpelukan?" Atma datang kedapur menghampiri kami, kami hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman. Ibu menuntun Atma keluar dapur, akupun membawakan minuman keruang keluarga tempat biasa kami berkumpul jika sedang bersama seperti ini.
"Kak biar Aku yang mengambil camilan di dapur, kakak duduk saja disini." akupun menuruti permintaan Gita, mengambil posisi duduk disamping Abi dan Ummik disamping Ibu, Mas Rama dengan Atma dan juga kak Juna. Kak Janu dan mas Rama sudah saling mengenal, sekali bertemu di area permainan sebuah mall ketika mengajak Atma bermain beberapa bulan lalu.
"Langsung saja saya sampaikan niat baik saya yang sudah saya niatkan bahkan ungkapkan pada Amanda, Ummik dan Abi beberapa tahun lalu. Saya berniat melamar dan menjadikan Amanda istri yang akan menemani hari-hari saya dan menjadi Ibu dari keturunan saya kelak, serta menjadikan Atma anak saya." Ucap Kak Janu tegas tanpa ragu, Aku melirik kearah Mas Rama ia terlihat mendekap Atma dalam pangkuannya dan sesekali mengelus lembut kepala Atma namun ekspresi wajahnya terlihat datar, sehingga Aku meragukan apa yang dikatakan Ibu padaku di dapur tadi, Aku yang salah menilai? Atau Mas Rama memang benar-benar ahli dalam mengendalikan emosi dan perasaan cintanya untukku? Ah Aku bingung memikirkannya....
"Abi serahkan semua keputusan pada Amanda." ucap Abi membuyarkan lamunanku.
"Bagaimana Nak, apa jawaban kamu?" Tanya Ummik padaku, Aku diam beberapa saat untuk menetralisir semua perasaan dan pemikiranku yang berkecamuk saat ini.
"Insyaallah Amanda menerima lamaran Kak Janu." akhirnya Aku memutuskan hal besar itu dalam hidupku, kulihat wajah Ibu terlihat sendu, namun Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak ada ungkapan kepastian yang terlontar dari Mas Rama tentang perasaannya, sementara ada Kak Janu yang memberikan kepastian perasaan dengan cara langsung melamarku. Seandainya Aku menolak Kak Janu yang sudah menunggu lama untuk menantikan kesempatan ini, itu sangat tidak adil untuknya, harapanku semoga keputusan yang diambil benar. Kak Janu terlihat sangat bahagia mendengar jawaban yang Aku berikan, membuat hati ini sedikit lega, setidaknya Aku tidak mengecewakan dirinya hanya karena sebuah ketidakpastian dan ketidakjujuran seseorang. Bagaimanapun yang dibutuhkan seorang wanita hanyalah kepastian.
"Alhamdulillah, terimakasih Amanda. Aku akan merencanakan pernikahan kita secepatnya." Aku hanya bisa tersenyum tipis, karena setelah memberikan jawaban Aku merasa gelisah, entah apa yang dirasakan saat ini, bukankah seharusnya Aku bahagia?
"Wah, Nak Janu sudah tidak sabar sepertinya."
"Saya sudah menunggu lama Ummik kesempatan ini," Kak Janu mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna merah berbentuk hati, kemudian ia membukanya, kulihat sebuah cincin sederhana didalamnya, Kak Janu meminta tanganku untuk dipasangkan cincin olehnya. "ini cincin pertunangan kita, cincin ini menunggu sejak lama agar terpasang dijari manismu, sebenarnya empat tahun lalu Aku sudah mempersiapkan cincin ini." Kak Janu memasangkan cincin itu, dan tersenyum bahagia kearahku. Tatapan cinta dan bahagianya membuat Aku terharu, meskipun keputusan ini menimbulkan sedikit keraguan dalam hatiku, tapi Aku mungkin tidak akan sanggup melihatnya kecewa karena ia sudah sabar dan setia menungguku sampai saat ini.
"Aku disini hanya dua Minggu Amanda, setelahnya Aku akan kembali ke Australia, tapi persiapan pernikahan kita akan kita urus bersama agar semua berjalan sesuai rencana, kamu akan bertemu orang tua angkatku saat akad nikah dilakukan karena kondisi fisik mereka yang sudah lemah karena usia."
"Iya Kak, Aku akan sabar menunggu seperti Kak Janu yang sabar menungguku selama ini." Aku tersenyum sambil menatap manik matanya yang tengah berbinar.
"Aku sayang dan cinta kamu Amanda, rasanya hari ini seperti mimpi, janji yang Aku ucapkan saat kita tinggal bersama dipanti asuhan akan segera terwujud, sebentar lagi Aku akan memiliki kamu seutuhnya, Aku sangat bahagia, terimakasih." hatiku hangat mendengar ucapan Kak Janu, memoriku mengingat masa-masa kecil kita bersama, dia yang selalu ada untukku, menghiburku disaat Aku merindukan sosok orangtua, dan akupun selalu menantinya datang menemui Aku setelah ia diadopsi dan meninggalkan panti, benar yang diucapkan Kak Janu, semuanya seperti mimpi.
Setelah kami berbincang mengenai perencanaan dan persiapan acara pernikahan yang akan kami laksanakan, Kak Janu pamit pulang karena hari sudah mulai gelap. Baru saja Aku melambaikan tangan kearah mobil Kak Janu yang lambat laun sudah tidak terlihat, terdengar suara seseorang yang sejak tadi mengganggu pikiranku
"Selamat ya semoga kamu menemukan kebahagiaan bersamanya." ucap Mas Rama
__ADS_1
"Mas, apa kamu bahagia?"
"Tentu saja."
"Apakah benar-benar sudah menemukan kebahagiaan?"
"Iya."
"Dengan Tasya?"
"Hmmm."
"Kamu yakin? Apa tidak ada yang disembunyikan dariku?"
"Memang harus menyembunyikan apa darimu Amanda?"
"Hmmm tidak, bukan apa-apa, terimakasih ucapan selamatnya, semoga Mas Rama menemukan kebahagiaan juga bersama Tasya." mendengar semua jawaban yang Mas Rama katakan membuat hatiku kecewa, namun kenapa Aku harus kecewa? Apa Aku mengharapkannya? Tidak, tidak Aku tidak boleh berharap apapun padanya, ku tepis semua pemikiran yang ada dalam otakku dan menjauh darinya yang tengah berdiri menatapku.
****
"Aku dalam perjalanan menjemputmu bersama Atma, kami habis bermain disebuah mall, maaf ya sayang Aku tidak meminta ijin sebelumnya." kubaca pesan Kak Janu pada aplikasi hijau diponselku sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian mereka sampai diparkiran rumah sakit, saat melihat mobil Kak Janu, kulihat Atma membuka pintu kaca mobil dan melambaikan tangannya dengan riang, akupun masuk kedalam mobil yang kak Janu kemudikan.
"Mama tadi kita bermain ice skating di mall, Om Janu hebat loh ma' mainnya, Atma tadi diajarkan olehnya"
"Kenapa mama tidak diajak, kalian curang ya ...." Aku pura-pura merajuk pada Atma
"Memang mama boleh main ice skating Om?"
"Tentu saja boleh sayang, nanti kita main lagi ya sama Mama, gimana?"
"Hmm tidak usah Om, Atma ingin mengajak Papa Rama, nanti biar Mama yang ngajarin Papa Rama saja, pasti nanti menyenangkan" Aku melebarkan mata mendengar jawaban Atma, ada rasa tidak enak terhadap Kak Janu, namun Aku bisa apa? Atma masih sangat polos pemikirannya, secara psikologis ia sangat dekat dengan Rama, apapun pasti yang diingat Rama bukan yang lain.
"Ma-maaf kak, jangan dimasukkan hati ucapan Atma."
__ADS_1
"Iya." kak Janu tersenyum getir, Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan berusaha menetralisir keadaan dengan obrolan lain, namun ternyata ucapan Atma membuat kegelisahan dihati Kak Janu, terlihat sekali dalam ekspresinya saat ini.
"Amanda besok malam Aku kembali ke Australia, kamu dan Atma bisa 'kan mengantarku kebandara? Rasanya berat meninggalkan kalian."
"Pekerjaan tetap diutamakan Kak, jangan khawatirkan kami, akan Aku usahakan ya mengantar kebandara, lagipula apa yang Kak Janu khawatirkan?"
"Aku takut kehilanganmu dan juga Atma, Aku khawatir Atma tidak bisa menerima Aku sebagai papa sambung untuknya."
"Aku akan berusaha menjaga kepercayaan yang Kak Janu berikan, jadi jangan takut Aku meninggalkan kakak, untuk Atma nanti ia akan terbiasa dengan kehadiranmu jika kita sudah menikah, percayalah." namun kalimat yang Aku ucapkan tidak menghilangkan rasa kegelisahan Kak Janu.
"Om Janu mau dong dipanggil dengan sebutan papa juga oleh Atma, boleh? Atma bisa 'kan?" Ia melirik kearah Atma yang sedang aku pangku didalam mobil telat disebelah kursi pengemudi.
"No ....tidak .... tidak .... panggilan papa khusus untuk Papa Rama" tolak Atma spontan atas permintaan Kak Janu.
"Kak, jangan dipaksakan, Atma butuh waktu, percayalah seiring waktu ia akan memanggilmu dengan sebutan Papa." Aku tersenyum dan mengelus lengan Kak Juna agar ia bersabar dan mau memahami keadaan Atma yang sangat dekat dengan Mas Rama. Mendengar nama Mas Rama mengingatkan Aku bahwa dua Minggu ini Aku tidak bertemu dengannya lagi sejak acara lamaran Kak Janu, apa kabar Mas Rama? Yang hanya bisa Aku ucapkan dalam hati, dan sosoknya muncul seketika dalam pikiranku. Apa Aku merindukannya? Mengingat selama ini setiap hari aku selalu melihatnya meski hanya sebentar.
~bersambung
Maaf untuk tim Rama kalau kecewa dengan keputusan Amanda di part ini, hanya sekedar mengingatkan, wanita itu butuh kepastian bukan hanya sekedar perhatian. Wanita juga butuh sebuah ungkapan perasaan bukan hanya diam dan memendam perasaan....
Part ini baru akan memulai kepermasalahan inti loh nantinya.
See you next part readers....
Dear readers,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, follow akun juga ya. Biar semangat up-nya. 😍