
💕 Happy reading 💕
“Mas, ini bagaimana cara menggendongnya?”
“Ckkk ... kamu jangan panik, seorang Ibu harus tetap tenang.”
“Tapi lihatlah, anak kita begitu kecil, aku takut mematahkan tulang atau jarinya jika salah posisi.”
Janu mengusap wajah kasar, ibu baru yang masih perlu banyak belajar. Tadi pagi pihak rumah sakit memberitahukan bahwa bayi yang dilahirkan Gita secara prematur kondisinya sudah stabil hanya saja saat di rumah dokter menyarankan untuk sesering mungkin melakukan suatu metode perawatan bayi prematur di rumah.
Metode Kangoro Mother Care (KMC), meletakkan bayi di atas tubuh sang ibu dengan skin to skin sebagai ganti inkubator agar terjalin ikatan emosional yang kuat, juga bisa menstabilkan suhu tubuh bayi prematur serta detak jantung yang teratur.
Suster sudah mengedukasi Gita, tapi saat di rumah semua materi seakan hilang seketika. Kini gugup dan takut melanda Gita, Mommy dan Daddy Janu hanya bisa menggelengkan kepala melihat keributan Janu dan Gita di kamar. Sudah kesekian kalinya orang tua angkat Janu menengahi keributan mereka, pada akhirnya hanya Janu yang bisa menenangkan Gita.
“Aku yang akan meletakkan tubuh Baby Daren, kamu cukup mengatupkan mulut dan memejamkan mata jika takut, okey?!” kata Janu dengan sedikit penekanan dan kini sudah melepas seluruh baju bayi yang baru dilahirkan ke atas tubuh Gita yang juga sudah tak terlapisi baju, setelah menempel sempurna, Janu menyelimuti keduanya dengan selimut hangat.
Benar saja Gita memejamkan mata, tapi bukan hanya memejamkan mata saja tapi bulir bening mengalir di sudut matanya.
“Honey, kenapa kamu menangis, hmmm?”
Gita masih diam, sementara tangan Janu sudah mengusap air mata yang mengalir.
“Om Janu jahat, marah terus sama Gita dari pagi semenjak Baby Daren di rumah.”
“Sekali lagi Mommy Daren memanggil Daddy dengan sebutan Om, jangan salahkan hukuman menanti dirimu, ini adalah sebuah ancaman dan tidak main-main,” sahut Janu yang sebelumnya mengembuskan napas kasar.
“Sabar Janu, sabar ....,” bisik sisi lain dalam dirinya.
Nyali Gita menciut, ia diam dan tak mengeluarkan air mata maupun kata-kata.
“Belajarlah dewasa, Sayang. Kita sudah menjadi orang tua sekarang, dan panggilan menyebabkan itu sungguh membuatku semakin gemas, you know apa yang akan kulakukan jika gemas,” kata Janu yang sudah memajukan wajah, hingga napas hangatnya terasa di wajah Gita sampai membuat gelenyar aneh, bulu kuduk Gita malah meremang.
Saat membuka mata, tatapan mereka terkunci. Seringaian nakal Janu tampak yang membuat wajah Gita merah merona dengan mata membulat ketika kecupan singkat diberikan sang suami.
“Always love you, kita akan belajar sama-sama menjadi orang tua. Okey?!”
Gita tampak lebih tenang, mengangguk patuh dan Janu memposisikan diri tepat disampingnya sambil memeluk sang istri, anggap saja menguatkan ibu baru yang berada disampingnya. Menjadi seorang ibu di awali dengan kesabaran dan di isi dengan ketegaran sepanjang hidup, peran suami menguatkan istri. Tangan Janu tak lepas menggenggam tangan sang istri, Gita sudah jauh lebih tenang sekarang. Tersenyum dan memandangi wajah baby Daren dengan senyuman bukan omelan.
****
Atma sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, alat medis masih menempel di tubuh Atma. Kabel-kabel yang menempel di bagian depan tubuhnya belum di lepas, monitor holter yang masih menampakkan grafik detak jantung pun masih berada di ruangan itu.
Ruangan di buat sangat nyaman, ruangan yang ketika menyibakkan jendela kamar maka akan terlihat gedung pencakar langit. Rumah sakit swasta yang termasuk elit, rumah sakit yang di kelola Abi Rahman bersama investor lainnya.
Dispesialkan, tentu saja ... Amanda yang praktek di rumah sakit itu pun menjadi pusat perhatian tenaga medis dan juga rekan sejawatnya. Atma bak anak emas sekarang, beruntung bukan? Tapi seenak-enaknya rumah sakit tetap saja tempat orang sakit, tentu saja tidak ada yang menginginkan sakit seberapa pun bagusnya rumah sakit karena kesehatan adalah rezeki dan sebuah nikmat dari Tuhan.
Rama senantiasa menemani Atma, setelah mengetahui Atma sudah sadar Denis tak lantas menemui Atma. Ada perasaan ... ah! Entahlah, takut jika muncul akan ada penolakan dari Atma, ia terlalu pengecut menghadapi anaknya sendiri meskipun rasanya ingin berlari lalu memeluk tubuh anaknya.
Jadi, bukan tidak ingin menemui sang anak, hanya saja menjaga perasaan anaknya agar tidak merasakan tak nyaman setelah melihat kedatangannya.
“Benar kamu akan pulang?” tanya Amanda didampingi Abi.
__ADS_1
Tentu saja tidak hanya berdua menemui Denis, bagaimana pun Amanda harus menjaga perasaan Ra sebagai suaminya sekarang. Ia tidak ingin kembalinya Denis membuat kesalahpahaman antara mereka, Amanda selalu mengusahakan ada pihak ketiga ketika menemui Denis.
“Iya, aku ingin membersihkan tubuh dan istirahat sejenak.”
“Abi rasa keputusannu tepat, Denis. Biarkan Atma tenang dan tidak terusik oleh kehadiranmu, ya ... walaupun kamu sudah diterima Atma, situasi sekarang tidaklah tepat jika intens ketemu Atma. Lagi pula ada Rama yang sudah pasti membuat Atma tenang dan nyaman,” cetus Abi.
“Bi ...,” tegur Amanda.
Ia sangat paham, secara halus Abi memberikan jarak pada Denis agar tidak terlalu dekat dengan anaknya meskipun mereka sudah berdamai.
“Memutuskan silaturahmi adalah dosa besar tapi bukan berarti tidak ada ketegasan di dalamnya, Amanda. Seperti yang sudah Abi minta dan jelaskan padamu, jangan sampai ada desiran rasa di antara kalian. Bagaimana pun Abi adalah saksi saat cinta kalian begitu menggelora hingga Amanda rela cuti dari kuliahnya hanya untuk menikah denganmu, meninggalkan cita-citanya sejak kecil. Bodoh bukan? Dan Abi tidak ingin, lebih tepatnya menjaga agar kamu tidak melakukan sebuah kebodohan,” ucap Abi penuh ketegasan.
Mulut Amanda terkatup rapat, tidak lagi memprotes ucapan Abi. Semua yang dikatakan Abi adalah sebuah kebenaran, lebih bijaksana menghindari masalah ‘kan? Dibandingkan menyelesaikan masalah tapi meninggalkan luka hati seseorang di dalamnya.
Skakmat!
Ucapan Abi membuat tenggorokan Denis rasanya tercekat, begitu tajam dan menusuk. Menjelaskan posisinya di antara Amanda, Rama dan Atma dengan tegas dan lugas.
“Hanya keledai yang melakukan kesalahanan yang sama di waktu yang berbeda, aku paham dengan posisiku, Bi. Denis pamit,” kata Denis yang menjulurkan tangan mencium dengan takzim punggung tangan Eyang anaknya, mantan mertuanya itu.
“Ya ... hati-hati.”
“Aku pamit Amanda,” kata Denis pada Amanda.
“Iya ... aku akan memberitahumu jika Atma ingin bertemu,” sahut Amanda.
“Aku tunggu kabar darimu, salam untuk Atma.”
Denis langsung pergi dari lorong ruang rawat inap rumah sakit.
Setelah kepergian Abi, Amanda masuk ke dalam ruang rawat inap. Rama dan Atma sedang bersenda gurau, senyum mereka berdua tampak sumringah.
“Wah! Papa sama anak Mama bahagia sekali, coba bisikin Mama kalian berbicara apa saja,” kata Amanda yang memposisikan tubuh di belakang Rama yang terduduk, ia melingkarkan tangan ke depan Rama, posisi memeluk sang suami dari belakang.
“Rahasia, okey?!”
Rama mengedipkan satu mata ke Atma sedangkan jari Atma membentuk bulatan pertanda ‘OK’ ke arah sang Papa.
“Ya sudah kalau main rahasia-rahasian, Mama juga punya rahasia memangnya kalian saja.”
Amanda duduk di seberang posisi Rama, kini Atma berada di tengah mereka dengan senyuman mengembang.
“Apa itu, Ma?” tanya Atma penasaran.
“Rahasia Mama dan adik kembar,” sahut Amanda.
Atma memanyunkan bibirnya, sebal. Amanda langsung menarik bibir Atma yang terlihat menggemaskan itu dengan cengiran lebar.
“Ada salam dari Papa Denis,” kata Amanda menyampaikan salam.
“Iya.” Atma hanya menjawab singkat.
__ADS_1
“Atma ingin bertemu Papa Denis?” tanya Rama pada anak pertamanya itu.
Atma mendelik ke arah sang Papa, meneliti wajah Rama setiap inchi dan memperhatikan sorot mata papa sambungnya itu. Melihat tingkah Atma, Rama menaikkan satu alisnya.
“Kenapa, Nak?”
“Apa Papa sedih?” tanya Atma ragu.
Atma dan Amanda sama-sama menautkan alis, bingung tentunya.
“Pernahkah Papa menunjukkan kesedihan?” Rama bertanya balik pada anaknya itu.
“Ketika Atma memiliki sesuatu yang sangat disayang dan di pegang oleh teman, rasanya sedih, tidak rela. Bukankah Papa sayang Atma? Apa Papa merasakan kesedihan yang Atma rasakan juga saat bersama Papa Denis?” ungkap Atma dari pikiran seorang anak.
Rama terkekeh mendengar ucapan Atma, tangannya terulur mengelus puncak kepala hingga wajah dan Atma memejamkan mata merasa nyaman.
“Atma kan bukan barang, semakin banyak yang menyayangi Atma maka Papa semakin bahagia bukannya sedih. Anak Papa berhak untuk disayangi, dicintai dan berhak bahagia. Lakukan apa pun yang Atma ingin tanpa berpikir apakah Papa Rama sedih atau marah jika itu mengenai Papa Denis. Paham?” tanya Rama mencoba memberikan pengertian pada Atma yang langsung di jawab dengan anggukan kepala walaupun terlihat keraguan di sana.
“Papa Denis masih asing untuk Atma,” akunya kemudian.
“Jangan dipaksakan sayang, terpenting Atma sehat dulu dan sudah berniat memaafkan Papa Denis, itu sudah cukup agar Tuhan menyayangi Atma,” timpal Amanda.
“Iya, Ma.”
Beberapa menit kemudian setelah lelah mengobrol Atma akhirnya mengistirahatkan tubuh, dengkuran halus terdengar, Amanda dan Rama masih terus memandangi sang anak dengan tatapan penuh sayang.
“Atma anak kita yang sangat kuat, Sayang.”
Rama merubah posisi, berjalan ke arah Amanda dan memeluknya dari belakang, menaruh kepala di bahu sang istri sedikit bermanja-manja. Keletihan tengah melanda mereka berdua, 2 hari yang penuh ketegangan dan menguras emosi.
Menghirup aroma tubuh sang istri dan memejamkan mata cukup membuat Rama sedikit rileks.
“Mas.”
“Hmmm.”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Semua cinta dan sayangmu untuk kami.”
Rama semakin mengetatkan pelukan tanpa menyahut, matanya tetap terpejam.
“Berterima kasihlah pada masa lalu, jika tidak ada masa lalu maka kini tidak ada masa depan untuk kita. Bukankah itu lebih bijak? Tanpa masa lalu kau dan aku serta Atma tidak akan menjadi kita. Benar ‘kan?”
Amanda mengangguk, tersenyum bahagia. Rama selalu membuatnya menjadi wanita dewasa dengan segala pemikirannya. Menempatkan dirinya menjadi wanita beruntung sedunia ketika dalam rumah tangga dipenuhi cinta ....
~Bersambung~
Terima kasih untuk semua yang sudah support cerita ini.
__ADS_1
Like dan komentarnya ya jangan lupa, bingung komentar apa? Boleh next atau pun unek-unek. ☺️
100 komentar setiap pagi pas buka NT penyemangat banget.