
💕 Happy reading 💕
“Adek!” pekik Atma yang langsung memberondong si kembar dengan ciuman gemas di seluruh pipi kedua adiknya.
“Kangen tidak sama Kakak?”
“Kalau Kakak kangen banget.”
“Nanti malam kita tidur bareng ya, Dek. Kakak di tengah, oke!”
Celoteh Atma saat bertemu kedua adik kembar sesaat setelah sampai di rumah, si kembar menggerakkan seluruh tubuhnya dengan aktif melihat keberadaan sang Kakak yang sudah hampir seminggu tak menyapa.
“Awww!” pekik Atma kala salah satu adiknya menarik rambut Atma dengan gemas dan disertai celotehan berupa gumaman tak jelas.
“Adek sakit!”
Amanda terkekeh, merenggangkan telapak tangan si kembar agar melepaskan genggaman rambut di tangan mungilnya itu.
“Sayang Kakak ya, Tama. Kangen, hmm?”
Gemas melihat adiknya yang sudah menarik rambut, Atma langsung mencium pipi sang adik sampai menangis dan Amanda hanya membiarkan Atma melakukannya sebagai bentuk melepas rindu. Wajah Atma sumringah ketika berhasil membuat sang adik menangis.
Ketika salah satu kembar menangis, saudara kembar lainnya ikut menangis. Hal yang membuat ramai ruang kamar Atma seketika.
“Sini sama Omma, Sayang.”
“Sini sama Eyang, Kak Atma iseng ya.”
Kata kedua wanita yang selalu menjaga si kembar, ketika Amanda mengurus Atma di rumah sakit.
“Sayang, Mama siapkan makanan dulu ya," pamit Amanda yang kembali sibuk dengan kegiatan mengurus ketiga anaknya.
“Kamu sama Papa,” kata Rama yang menepuk sisi kosong di ranjang agar Atma rebahan.
Kedatangan Atma di sambut suka cita oleh seluruh keluarga, Abi bahkan mengosongkan jadwal praktek hari ini. Menyambut Atma dan bermain dengan si kembar.
“Enggak boleh capek, Sayang,” kata Rama yang memeluk Atma dan menjadikan lengannya bantal untuk sang anak.
“Iya, Pa. Ni nurut rebahan, padahal mau main sama adik tapi udah nangis duluan,” ujar Atma memanyunkan mulutnya.
“Makanya jangan iseng, gemesnya kelewatan sih,” sahut Rama dengan menarik hidung Atma.
“Hmmm ... Pa, bisakah Papa Denis sembuh?” tanya Atma menatap lekat wajah Rama, menanti jawaban setelah merebahkan tubuh.
“Tentu saja, Nak. Kamu khawatir sama Papa Denis? Atau mau ke sana lagi nunggu Papa Denis?” tanya Rama dengan penawaran.
Sejenak Atma hanya terdiam, memutar bola matanya lalu menghela napas.
“Ingin, tapi ... kata Mama harus banyak istirahat, nanti kalau Atma sakit bukankah Papa Denis akan sedih?”
“Pintar! Atma juga harus sehat, kamu belum pulih betul. Terpenting doa anak salih, biar Tuhan sayang sama Papa Denis, sebagaimana sayang sama Atma. Paham?”
Atma mengangguk patuh, Rama membawa kepala Atma ke dada dan mengelus dengan lembut.
“Anak baik harus sayang sama Papa Denis, papa yakin Papa Denis sayang banget sama Atma.”
“Kenapa waktu kecil, Papa Denis meninggalkan Atma dan mama?” cecar Atma.
Glek!
Pertanyaan yang sukses membuat Rama meneguk air liurnya hingga tenggorokan rasanya tercekat, sedangkan tatapan Atma menuntut sebuah jawaban darinya. Tarik napas, embuskan lalu tersenyum, Rama berusaha berpikir jawaban yang tepat untuk anak seusia Atma. Salah jawaban sedikit saja, bisa-bisa Atma membenci Denis.
Tidak! Rama tidak menginginkan hal itu, ia ingin berhasil mendidik Atma agar tidak menyimpan kebencian dalam dirinya terlebih pada Papa kandungnya sendiri.
“Karena untuk memberikan kesempatan pada Papa Rama agar bisa menyayangi Atma juga, coba saja Atma bayangkan kalau Papa Denis berada di sisi Atma sejak bayi, maka sekarang tidak ada Papa Rama di samping Atma. Benar ‘kan?”
Atma mengarahkan matanya ke langit-langit kamar, mengetuk dagunya berkali-kali lalu kemudian mengangguk paham.
“Iya ya, Pa.”
“Nah, Papa benar ‘kan?”
__ADS_1
“Iya, benar. Kita enggak bisa berpelukan seperti ini,” kata Atma yang mengeratkan pelukan.
‘Dan juga tidak ada kembar di tengah kita.’ Kata Rama yang tertahan dalam hati sambil bernapas lega jawaban sederhana yang tidak menyakiti Atma.
“Terpenting yang harus Atma ingat, Papa Denis sangat sayang sama Atma. Lupakan hal buruk yang Papa Denis lakukan, perlahan pasti Atma akan melupakannya.”
“Iya, Pa. Atma sayang Papa Denis dan Papa Rama. Sedih saat Papa Denis tidak bisa melihat Atma ketika menjenguknya tadi, sedih tidak mendapatkan pelukan dari Papa Denis seperti sebelumnya. Dan sedih saat melihat selang-selang itu menempel di mulut dan hidung Papa Denis,” ungkap Atma.
Kini Rama bisa benar-benar merasakan lega, sedikit demi sedikit Atma sudah bisa menyembuhkan trauma dan luka hatinya. Ia mengecup kening dan pipi Atma berkali-kali, hingga Atma merasa geli.
“Kamu istirahat, biar nanti kalau makanan datang, Papa bangunkan.”
‘Allah sehatkan Papa Denis, aamiin.’ Doa Atma dalam hati sebelum benar-benar tertidur.
Atma mengangguk, berusaha memejamkan mata sambil mengulas sebuah senyuman. Rama terus mengelus lengan dan kepala Atma bergantian hingga dengkuran halus pun terdengar.
**
[Janu, bisakah kita bertemu?]
Pesan dari nomor tak dikenal masuk, dahi Janu berkerut dalam saat membaca pesan tersebut. Lalu mengabaikan begitu saja. Janu kembali melanjutkan tidurnya, semalam Daren sangat rewel, ia membantu Gita mengasuh dan mengganti popok Baby Daren. Berhubung ini adalah weekend, ia melanjutkan tidur setelah azan subuh terdengar.
Ponsel diletakkan di nakas, kemudian mata Janu tertutup rapat kembali. Gita yang masuk ke kamar sambil menggendong Daren yang habis berjemur, menghentikan langkah ketika layar ponsel Janu menyala.
Penasaran yang tinggi, membuat Gita mengambil ponsel sang suami setelah meletakkan Daren di ranjang tepat sebelah Janu.
[Janu, aku rindu.]
[Ayo! Kita bertemu.]
Pesan yang masuk langsung di baca oleh Gita, ia mendengkus kesal membaca pesan yang tidak di kenal dalam kontak sang suami.
“Apa kamu sengaja tidak memberi nama di daftar kontak, Mas?” gumam Gita sambil melirik sang suami yang terlelap tidur.
Baru mengucapkan hal seperti itu, Gita langsung menggelengkan kepala kuat, mengusir pemikiran negatif tentang suaminya.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol panggilan. Baru satu kali tersambung, panggilan itu langsung diterima, suara perempuan dengan suara sangat lembut menyapa di telinga tapi langsung membuat dada Gita terasa terbakar. Bukan terbakar oleh api, tapi terbakar cemburu.
Dari logatnya, perempuan itu asli orang Indonesia. Tidak ada logat bule dari nada suaranya.
“Apa kabar, Sayang? Akhirnya kamu menelepon, aku ingin menelepon dari tadi tapi enggan khawatir mengganggumu.”
“Siapa kamu?” tanya Gita dengan suara dingin.
“Ka-kamu?”
“Saya istrinya, kamu siapa?”
Hening!
Sambungan telepon langsung di putus, suara mendayu-dayu itu pun hilang di telan bumi.
“Kak!” panggil Gita yang menggoyangkan tubuh Janu.
“Hmmm ... biarkan aku tidur sayang, ini weekend ‘kan?” tolak Janu yang tetap memejamkan mata.
“Siapa perempuan tadi?”
Janu mulai mengerjapkan mata, mengucek matanya berkali-kali dan yang dipandangi untuk pertama kali bukanlah Gita yang tengah berkacak pinggang di sisi ranjang. Namun, Baby Daren yang tengah menoleh kanan dan kiri, anteng terlentang di sampingnya.
Kecupan langsung dihadiahkan Janu untuk Baby Daren sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah sang Istri yang tengah berkacak pinggang dengan satu tangan memegang ponselnya.
“Ada apa? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?” tanya Janu yang memang bingung dengan apa yang terjadi dengan ekspresi yang tak mengenakkan sang istri.
“Siapa perempuan dengan nomor telepon tanpa nama kontak di ponsel? Tadi aku meneleponnya tapi langsung dimatikan setelah tahu bahwa bukan Kakak yang menelepon melainkan aku,” cerocos Gita.
“Good, akhirnya ia tidak menerorku dengan pesan tak jelas. Aku tak mengenalnya, Sayang.”
“Kamu tidak bohong ‘kan, Kak?”
“Kalau aku berbohong sudah pasti ponsel di kunci dengan mode pengamanan, ini tidak ‘kan? Kamu masih bebas memegang ponselku? Membuka bahkan menelepon balik?!”
__ADS_1
Gita mengangguk kaku, ‘Iya juga, ya ....’ batinnya.
Janu menarik tangan sang istri, hingga tubuhnsang istri duduk di atas pangkuannya. Tangan Janu melingkar di tubuh Gita, mengendus-endus wangi sang istri. Tangan Gita melingkar di leher Janu, tatapan mereka bertemu, seulas senyum tampak di wajah bantal Janu yang tetap terlihat tampan.
“Jangan berprasangka buruk pada suamimu, begitu pun aku yang tidak akan berprasangka buruk padamu, Sayang.”
“Kenapa, Kak? Cemburu itu kan tanda cinta,” sergah Gita.
“Tapi akan menimbulkan ketidaknyamanan terhadap pasangan, kalau cinta jangan curiga, kalau curiga jangan cinta. Percaya pada pasanganmu, selama ia dalam posisi benar dan tidak melakukan tindakan yang mencurigakan,” terang Janu.
Bukan menjawab, Gita malah memeluk sang suami cukup erat.
“Kakak Cinta ‘kan?”
“Pertanyaan macam apa itu?!”
Janu langsung menyentak tubuh Gita hingga terlentang dengan posisi Gita berada di atas, deru napas Janu menyapu wajah Gita dengan seringai nakal.
Ia mulai mengikis jarak, tatapannya tertuju pada bibir Gita yang terlihat menggemaskan.
“Mau bukti? Fix ... kita buat saja adik Daren tanpa jeda waktu, bagaimana?” tawar Janu yang langsung merampas bibir ranum Gita, tangan satunya sudah mulai meraba bagian lainnya, baru akan melanjutkan aksinya terdengar panggilan alam.
Owaa!
Tangis baby Daren langsung memekakkan telinga, pertanda ... tidak boleh memberikan adik untuknya!
Janu menarik diri, mengacak GT rambutnya frustrasi sedangkan Gita tertawa geli sambil memeletkan lidah ke arah sang suami.
Hah! Janu membuang napas kasar.
Gagal!
**
Sudah hari ke-3 Denis menghuni ruang ICU, rekaman dari Atma selalu diperdengarkan di telinga untuk menyemangati. Selama itu juga Vanya menanti sang suami, Bu Sinta sudah diperbolehkan pulang dan ikut menunggu dan selalu memantau perkembangan kesehatan Denis.
“Vanya ...,” panggil Bu Sinta ketika mereka menunggu Denis.
“Iya, Ma.”
“Titip Denis, jaga dan temani dia jika terjadi sesuatu pada Mama.”
“Apa maksud Mama?”
Bu Sinta hanya tersenyum tipis, tidak menjawab dengan gamblang.
“Mama seseorang Ibu yang jahat, sudah menghancurkan kebahagiaan anak sendiri dan juga menghancurkan kebahagiaanmu, Vanya. Maaf ....”
“Vanya ikhlas, Ma. Sejak awal menikah dengan Denis, Vanya sudah tahu bahwa ia tidak mencintaiku, tatapannya dingin. Vanya hanya memiliki raga selama menikah tapi tak pernah memiliki cintanya.”
“Apa kamu bersedia kembali dengan Denis?” tanya Bu Sinta menatap instens Vanya, berharap jawaban darinya.
“Cinta untuknya masih ada, Ma. Tapi tidak diakui itu sangat menyakitkan, Vanya tidak mau memaksakan kehendak. Perpisahan tetap akan terjadi, sesuai keinginan Denis. Namun, Vanya akan menunggu sampai Denis sadar ... tidak diwakilkan oleh pengacara. Ketika keputusan diketuk oleh hakim, Vanya ingin Denis menyaksikannya. Agar semua terasa nyata bukan mimipi buruk semata,” ungkap Vanya dengan hati berdenyut nyeri.
Bu Sinta langsung memeluk Vanya dan mengucapkan berkali-kali kata maaf, mata Vanya berkaca-kaca sambil terus menatap sosok seseorang yang dicintainya masih setia memejamkan mata.
Mata Denis mulai berkedut, cahaya mulai masuk dalam matanya hingga terasa menyilaukan. Perawat langsung memeriksa kondisi fisik Denis, Vanya dari kaca pembatas hanya bisa mengelus kaca seolah menyapa.
“Alhamdullillah,” kata Vanya dan Bu Sinta berbarengan ketika melihat dari jauh mata Denis terbuka.
Haru bahagia seketika menyeruak dalam dada ... setelah mengetahui Denis membuka mata, Bu Sinta langsung memundurkan langkah meninggalkan tempat itu tanpa izin saat Vanya larut dalam bahagia menatap lekat Denis dari jarak jauh sambil terus berdoa dalam hati.
“Mama akan melakukan apa pun untukmu, Sayang,” gumam Bu Sinta mempercepat langkahnya.
~Bersambung~
Bu Sinta mau ngapain ya?
Like dan komentar jangan lupa, dukung terus pasca cerai, nantikan kelanjutannya.
Terima kasih untuk supportnya .... ❤️
__ADS_1