
...Jangan lupa ...
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like, vote dan komentar 💕...
Sudah dua Minggu Atma tidak menemui Mas Rama, hanya Ibu yang beberapa kali meminta ijin padaku untuk menjemput Atma dan menemaninya di butik yang Ibu kelola, terkadang Ummik juga menemani Atma dan Ibu, kami tidak pernah membahas masalah Aku dan Mas Rama dan akupun tidak menanyakan apapun pada Ibu, yang aku dengar beberapa hari lagi Mas Rama dan Tasya akan menikah. Tapi Aku berusaha tidak memikirkan apapun tentang Mas Rama walaupun tetap saja Mas Rama selalu menghantui pikiranku, namun sebisa mungkin Aku berpikir jernih tanpa melibatkan perasaan yang akan menyakitiku.
"Ma, nanti kita liburan kemana? Beberapa hari lagi Atma libur sekolah."
"Atma maunya kemana? Nanti biar Mama persiapkan termasuk mengambil cuti beberapa hari menemani Atma liburan."
"Atma ingin ke negara Om Janu, berlibur disana, boleh tidak Ma? Om Janu pernah berjanji mengajak Atma liburan."
"Benarkah? Kamu mau liburan ke Australia tahun ini bersama Om Janu?" Tanyaku tidak percaya atas keinginan Atma, karena Aku pikir Atma akan memintaku menghabiskan liburan bersama Mas Rama, apakah ini tanda Atma sudah menerima kehadiran Kak Janu?Â
"Iya Mama cantik, Atma serius ingin kesana."
"Baiklah, nanti mama akan hubungi om Janu, agar mempersiapkan semuanya." Atma tersenyum mendengar jawabanku,
"Oke Mama."
Ku dengar ada yang menekan bel rumah, akupun segera berlari untuk membukanya, setelah membukanya aku dikagetkan dengan kedatangan seseorang ....
"Kak Janu?" Ia hanya tersenyum hangat kearahku yang kaget melihat keberadaannya.
"Assalamualaikum calon istriku."
"Wa'alaikumsalam, kenapa Kakak tidak memberi kabar?"
"Ini tidak direncanakan Amanda, ada masalah yang harus Aku selesaikan, dan juga kita harus mempersiapkan acara pernikahan kita yang tinggal dua Minggu lagi."
"Lalu?"
"Kita akan fitting baju pengantin"
"Padahal Aku baru saja ingin menghubungi kakak."
"Ada apa memangnya?"
"Atma ingin ke Australia berlibur disana."
"Benarkah?" Kulihat ada binar kebahagiaan setelah Kak Janu mendengar ucapanku,
"Iya benar Kak."
"Baiklah lusa kita akan kesana bersama, sekarang  kamu ikut Kakak ke butik untuk fitting baju pernikahan."Â
Aku, Atma dan Kak Janu pergi bersama menuju kesebuah butik, butik yang dipilih Kak Janu untuk menyiapkan baju pernikahan kami ternyata butik milik Ibu, entahlah kebetulan yang luar biasa menurutku ataukah ini sudah direncanakan sebelumnya?Â
"Ommaaaa ...." Atma berlari bahagia masuk kedalam butik.
"Atma mengenalnya Amanda?" tanya Kak Janu heran.
"Ini butik milik Ibu dari mas Rama, Kak ...."
"Benarkah? Kakak tidak mengetahuinya, ini butik yang direkomendasikan EO yang mengurus pernikahan kita"
__ADS_1
"Kak, Aku kan sudah bilang, pernikahan kita sederhana saja bila perlu cukup melakukan akad nikah, dan mengundang kerabat serta teman dekat kita saja."
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk calon istriku, apa aku salah?" Kak Janu terlihat sedikit kecewa dengan permintaanku.
"Tapi ini pernikahan kedua untukku Kak, rasanya Aku tidak pantas mengadakan pesta pernikahan yang mewah." ia menghadapkan tubuhnya agar berhadapan denganku,
"Jangan pernah merendahkan dirimu dengan status yang kamu sandang Amanda, Aku mencintaimu tulus, dan juga menyayangi Atma." Kak Janu menggenggam tanganku. "jika acara pernikahan ini tidak membuatmu nyaman Aku akan menuruti semua keinginanmu, kita hanya akan melakukan acara akad tanpa resepsi mewah."Â
"Benarkah Kakak tidak keberatan?"
"Apapun demi kamu Amanda." ucapnya tersenyum hangat, lalu ia mengajakku masuk kedalam butik. Ibu kaget dengan kedatanganku, setelah Kak Janu menjelaskan akhirnya Ibu tersenyum dan mengerti.
"Ibu tidak menyangka akan membuatkan baju pernikahan seseorang yang sudah Ibu anggap anak sendiri."Â
"Kebetulan yang luar biasa Bu, saya tidak mengetahui kalian saling mengenal, ini murni atas rekomendasi pihak penyelenggara yang mengurus pernikahan kami." ucap Kak Janu sopan, Aku masih canggung dengan keadaan ini, sehingga Aku tidak banyak mengeluarkan kata, Atma sudah aktif bermain dengan karyawan butik ini, ia sudah terbiasa berada disini.
"Sepertinya gaun ini cocok untukmu Amanda, untuk dipakai akad nikah, ukurannya sepertinya pas untukmu, Ibu baru membuat model ini" ibu memilihkan gaun sederhana namun terlihat elegan berwarna putih, Aku mencoba gaun yang dipilihkan Ibu, Aku dan Ibu berada diruang kamar pas,
"Ibu tidak menyangka menyiapkan baju pernikahan untuk seseorang yang Ibu harapkan menjadi menantu ibu sejak lama." ucap Ibu dengan wajah sendu
"Bu .... maaf Amanda tidak bermaksud membuat Ibu sedih," Aku memeluk Ibu. "Amanda tetap menganggap Ibu seperti Ummik, Ibu kandung Amanda, apapun yang terjadi, tetaplah anggap Amanda anak Ibu."
"Seandainya Rama berkata jujur dari awal, mungkin dia yang akan mendampingimu saat ini."
"Jangan berandai-andai Bu, karena itu akan membuat kita semakin kecewa. Saat ini Amanda hanya mengikuti takdir yang ditetapkan Nya dengan ikhlas."
"Ibu mohon jawab dengan jujur, apa kamu mencintai Rama?" Pertanyaan Ibu sontak membuat Aku melebarkan mata, dan membuat jantungku berdetak lebih kencang, sesaat Aku terdiam merasakan apa yang dirasakan oleh hatiku,
"Iya Bu, Amanda baru menyadarinya. Namun Amanda tidak akan mengecewakan Kak Janu, ia terlalu baik untuk disakiti. Amanda menyayanginya jadi tidak susah untuk mencintai Kak Janu setelah kami menikah, lagipula bukankah Mas Rama sudah memilih Tasya sebagai pendamping hidupnya?"
"Iya Amanda, kamu benar, tidak seharusnya Ibu egois mementingkan kebahagiaan Ibu sendiri tanpa memikirkan perasaan calon suamimu dan juga Tasya," Ibu mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Ibu akan selalu menganggap kamu anak dan Atma cucu Ibu." ia pun tersenyum.
"Amanda aku rasa jangan terlalu lama memakai gaun itu." ucap Kak Janu membuat aku merasa kecewa.
"Tidak pantas ya kak? Apa Amanda terlihat sangat jelek?"
"Bukan .... bukan itu maksudku, Aku tidak bisa menahan diri untuk secepatnya mengucapkan ijab kabul dan membawamu kepelukanku." ia menaik turunkan alisnya sambil tersenyum nakal kearahku, akupun memukul lengannya, Aku kesal jika ia menggodaku seperti itu.
"Berhenti menggodaku atau Aku akan marah, hmm?" Iapun membentuk jarinya dengan huruf V dan berlalu pergi dari hadapanku dengan terkekeh.
"Dia lelaki yang baik Amanda" ucap Ibu
"Sangat baik Bu ...."Â sahutku memandang punggung Kak Janu yang tengah mendekati Atma.
Malam ini Aku mempersiapkan barang-barang yang akan Aku bawa liburan bersama Atma dan Kak Janu,
"Kak, ini murni Kakak ingin liburan atau menghindar agar tidak melihat pernikahan Mas Rama besok?" Tanya Gita yang datang ke kamarku
"Mungkin karena keduanya dek."
__ADS_1
"Kakak kecewa? Kakak tidak mau berusaha memperjuangkan Mas Rama untuk Atma?" Aku mengambil nafas panjang mendengar pertanyaan Gita
"Mas Rama harus bertanggung jawab atas kehamilan Tasya, itu alasan pertama Kakak, yang kedua, Kakak tidak mau Atma mengetahuinya karena itu akan membuat dia sedih, kamu tahu kan dek, Atma sangat menginginkan Mas Rama yang menjadi Papa sambung untuknya."
"Apa Kakak yakin mas Rama yang menghamili Tasya?" Aku mengendikkan bahu, karena akupun tidak mengerti,Â
"Mungkin iya mungkin juga tidak, tapi yang pasti Mas Rama tidak menyangkal itu semua, mungkin ia merasa pernah melakukan hubungan itu dengan Tasya, ah sudah lah dek jangan tanya apapun lagi tentang Mas Rama."
"Kakak mencintainya 'kan? Jawab dengan jujur!"
"Iya Kakak mencintainya, saat jauh dari Mas Rama ada sudut hati Kakak yang terasa hampa, tapi cinta bukan segalanya dek, semoga setelah Kakak menikah dengan Kak Janu, hati Kakak akan terisi olehnya dan melupakan Mas Rama."
"Jika tetap tidak bisa melupakan, bagaimana?"
"Doain Kakak biar bisa melupakan dan mencintai pasangan Kakak nantinya." Aku berlalu dari hadapan Gita dan mencubit pipinya agar ia berhenti bertanya apapun tentangku.
Aku, Atma dan Kak Janu sudah ada diterminal keberangkatan bandara Soekarno Hatta, Atma terlihat bahagia begitupun Kak Janu, tetapi tidak denganku, mengingat Mas Rama akan menikah dengan Tasya mempengaruhi pikiran dan hatiku, dengan meninggalkan Indonesia beberapa hari kedepan berharap bisa melupakan kesedihan dan juga kekecewaanku. Aku diam-diam menatap wajah Kak Janu, pria baik, dewasa, setia dan penyayang yang seharusnya Aku pikirkan saat ini, yang seharusnya Aku jaga perasaannya dengan semua yang telah dia lakukan untuk berusaha membahagiakan Aku dan juga Atma, tidak seharusnya Aku memikirkan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain ....
"Hei apa yang kamu pikirkan, dari tadi Kakak perhatikan kamu hanya melamun"Â
"Tidak Kak, Aku hanya tidak menyangka kita akan liburan bersama seperti sekarang ini."Â
"Kalau kita sudah menikah, akan selalu bersama seperti ini Amanda, sesuatu yang sangat membahagiakan untukku. Banyak wanita yang menawarkan cinta untukku tapi hati ini terus menolaknya karena hatiku sudah dalam genggamanmu sejak kita tinggal bersama di panti, Aku sudah merasakan cinta untukmu walaupun Aku tidak mengerti apa arti cinta saat itu, yang jelas Aku ingin selalu membahagiakan kamu."
"Terimakasih Kak, semoga kelak Aku juga bisa selalu membahagiakanmu." akupun tersenyum dan kurasakan Kak Janu menggenggam tanganku.
"Mama ...." Ucap Atma yang berada dipangkuanku, menghentikan pembicaraan kami,
"Iya sayang, ada apa? Mau makan atau minum, hmm?"
"Andai Papa Rama ikut dengan kita, pasti Atma tambah bahagia."Â
"Apa Om Janu tidak membuat Atma bahagia? Atau malah membuat Atma sedih?" Tanya Kak Janu
"Om Baik, tidak jahat ...."
"Sayang jangan seperti ini ya, kasian Om Janu nanti malah sedih, Om Janu mengajak Atma liburan agar kamu bahagia, Nak."
"Atma kangen Papa Rama, hiks hiks hiks ...." hatiku mencelos mendengar Atma menyebut nama Rama didepan Kak Janu, Aku memeluk Atma agar berhenti menangis dan mengingatnya.
"Kak Maaf."
__ADS_1
"Ssstttt ...." Kak Janu menempelkan telunjuknya kebibirku, lalu menggelengkan kepalanya, menyuruhku diam, dan iapun tersenyum.
'Seluas apa hatimu Kak, hingga dengan sabar dan hanya tersenyum melihat Atma belum bisa menerima dirimu sebagai calon Papa sambung untuknya' bisikku dalam hati.