
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like atau komentar 💕...
Aku, Rama dan Atma mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan kelahiran anak kami, usia kandunganku saat ini sudah memasuki usia sembilan bulan, perut sudah terlihat buncit.
Namun, menurut Rama aku semakin terlihat seksi dan cantik, padahal aku tahu itu hanya kalimat menenangkan dari Rama ketika aku merasa tidak percaya diri dengan kondisi tubuhku saat ini. Nafsu makan bertambah tiga kali lipat, bukan tanpa alasan, itu semua karena bayi yang kukandung adalah kembar.
Mendengar kehamilan kembarku, seluruh keluarga sangat bahagia, dan Rama sangat protektif terhadap apapun kegiatan yang aku lakukan.
"Kak ...." Teriak Gita dari jauh saat melihat kami, sebelumnya kami membuat janji untuk bertemu di sini.
"Jangan berjalan terlalu cepat sayang, takut terpeleset!" Ucapan Rama menghentikan langkahku berjalan menuju Gita dan Janu.
Hubungan Aku, Rama, Gita dan Janu sudah tidak canggung, tidak ada rasa cemburu satu sama lain, kami benar-benar meninggalkan semua kenangan masa lalu kami. Saat ini kami adalah saudara tanpa rasa cinta, tapi penuh dengan kasih sayang satu sama lain.
Akhirnya kami duduk dalam satu meja di sebuah restauran.
"Kak, aku hamil," ucap Gita dengan senyum mengembang di wajahnya. "Kak Janu berhasil menghamili aku, Kak ...."Â
"Alhamdulillah, selamat ya, Dek," ucapku memeluknya sambil tertawa karena mendengar ucapan Gita yang tetap ceplas-ceplos berbicara sesuka hati. Janu menghamilinya, rasanya kalimat yang cukup konyol.Â
"Dek, aku suami kamu, masa di bilang menghamili, wajar 'kan seorang suami membuat istrinya hamil, ckkk ...." Protes Janu.
"Loh memang nyatanya Kak Janu yang menghamili aku kok." Gita tidak mau kalah.
"Menghamili itu terkesan hamil diluar nikah, sayang. Kita 'kan suami istri sah."
"Sudahlah Jan, jangan berdebat dengan wanita yang sedang mengandung, atau kamu tidak akan mendapat jatah tiap malamnya," sahut Rama.
"Mas ... Jangan memulai bicara masalah ranjang ya, ada Atma, atau nanti kamu yang nggak aku kasih jatah, mau?" sahutku atas ucapan Rama.
"Hahaha, emang enak kamu, Ram!" Seru Janu tertawa senang.
"Nanti aku bakal punya adik bayi banyak dong, ma?"
"Iya sayang, nanti rumah Nenek, Kakek, Omma akan ramai dengan tangisan dan celotehan bayi."
"Pasti adik aku yang lebih tampan dan cantik dibandingkan anak Om Janu dan Tante Gita, ya 'kan Pa?" tanya Atma dengan mengerjapkan matanya.
"Tentu saja, Papa 'kan lebih tampan dari Om Janu."
"Enak saja, lebih tampan aku dong dibandingkan kamu, buktinya aku mendapatkan Gita, istri yang masih muda, imut, cantik, dan gemesin," Sahut Janu tidak menyanggah ucapan Rama.
"Halah itu karena kamu sedang beruntung saja," jawab Rama tidak kalah.
__ADS_1
"Hei, ingatlah, kamu juga beruntung, siapa yang menyiapkan pernikahan, siapa yang melamar, kamu yang nikah pas hari H." Dua Pria itu akhirnya tertawa terbahak.
Masa lalu kami bukan sesuatu yang sensitif sekarang, kadang di jadikan candaan satu sama lain, karena hubungan kami benar-benar murni persaudaraan.
Jangan tanyakan lagi, apakah Kak Janu masih mencintai aku? jawabnya tentu saja tidak. Sesuai janjinya, Janu mencintai Gita sepenuh hatinya setelah mereka menikah, rumah tangga mereka tidak kalah bahagia dengan rumah tanggaku dengan Rama.
Rama sudah tidak merasakan cemburu terhadap Janu, begitu pun Gita terhadapku, memiliki keluarga yang utuh adalah kebahagiaanku saat ini, aku bersyukur dengan hal itu. Janu tetaplah menjadi sosok sahabat sekaligus Kakak yang aku sayangi dan kagumi.
💗💗💗💗
Aku mendorong pintu kamar membawa nampan dengan menjaga keseimbangan kehadapan Rama yang sedang fokus menatap layar laptop dengan duduk bersila, bersandar di tempat tidur sedangkan jemarinya mengetik dengan cepat. Sejak kehamilanku, Rama mengerjakan tugas di rumah dan hanya sesekali berangkat ke kantor yang di Bandung untuk mengontrol keadaan di sana.
"Mas, minum kopinya dulu biar lebih semangat."Â
"Cukup kamu menemaniku sudah membuatku selalu semangat sayang."
"Kamu sangat sibuk ya Mas?"
"Hmm, siang ini harus mengirimkan rancangan bangunan bentuk blue print kepada salah satu pengembang melalui email. Rio sedang cuti, proyek ini sangat penting jadi harus aku yang mengambil alih jika Rio tidak bisa," ucap Rama sambil tetap fokus pada layar laptop dengan jemari yang lincah mengetik. "Anak kita menginginkan sesuatu, hmm? Katakan saja meninggalkan pekerjaan ini sebentar tidak masalah."
"Tidak, hanya ingin sup ceker sebenarnya, nanti aku pesan online saja jika Mas sibuk."
"Jangan, nanti aku yang akan membelikannya untuk anakku, tunggu sebentar ya anak Papa, oke?" ucap Rama sambil mengelus perutku yang sudah menonjol. Aku pun tersenyum bahagia mendengarnya, ketika menginginkan sesuatu dan suami yang membelikan keinginan kita di masa ngidam seperti sekarang adalah suatu kebahagiaan dan kepuasan tersendiri untuk wanita yang tengah mengandung.
"Buatkan air ya, Bik." Bik Tarsih mengangguk dan berlalu meninggalkan kami.
"Sebelumnya perkenalkan kami pengacara dari keluarga Ibu Sinta, maksud kedatangan kami adalah memberitahukan kepada Ibu Amanda selaku wali yang menerima hak asuh atas Danish Atma Narendra untuk menandatangani beberapa dokumen pengalihan sebagian harta Ibu Sinta yang di berikan untuk cucunya Danish Atma Narendra."Â
"Maaf, maksud anda, Ibu Sinta memberikan sebagian hartanya untuk anak saya?"
"Benar, tapi sebelumnya beliau menginginkan bertemu dengan cucunya."
"Katakan kepada beliau, saya tidak bisa menerima itu semua, jika memang Ibu Sinta ingin bertemu dengan anak saya yang ia sudah akui sebagai cucunya, silahkan datang ke rumah ini, karena saya tidak akan menghalangi Ibu Sinta untuk bertemu."
"Tetapi masalahnya saat ini Ibu Sinta sedang sakit, penerus harta yang di milikinya hanya anak dan cucunya."
"Saya akan menemuinya terlebih dahulu sebelum menandatangani semua dokumen yang anda berikan."
"Baiklah jika memang seperti itu, saya akan menyampaikan pesan ini kepada beliau." Mereka pun pamit, meninggalkan rasa gelisah dan kesedihan untukku.
Walaupun mantan Ibu mertuaku menorehkan banyak kesedihan untuk Aku dan Atma, dia tetaplah seorang Ibu untukku dan dalam diri Atma mengalir darah keturunannya. Hubungan darah yang tidak akan bisa diputuskan oleh sebuah perceraian, tapi aku tidak bisa memaksa Atma untuk bisa menerima kehadirannya, Atma sudah bisa berpikir dengan pemikirannya sendiri.
Rama datang membawa bungkusan plastik di tangannya dengan senyum sumringah menyodorkan bungkusan itu padaku, ekspresi gelisah pada diriku terbaca oleh Rama.
"Kenapa sayang? Aku 'kan sudah membawakan makanan sesuai keinginan anak kita." tanya Rama bingung. Akhirnya aku menceritakan semua kepada Rama, termasuk mengungkapkan kegelisahanku.
__ADS_1
"Jangan khawatir, biar aku yang membujuk Atma untuk bertemu neneknya, serahkan semua padaku, jangan terlalu di pikirkan, aku tidak mau anak kita ikut gelisah di dalam kandungan." Aku tersenyum tipis dan mengiyakan perkataan Rama.
Sesuai ucapan Rama, ia berhasil membujuk Atma untuk mau menemui neneknya, setelah pulang sekolah, Atma langsung kami ajak ke rumah Ibu Sinta, mantan Ibu mertuaku.
"Bagaimanapun dia adalah Nenek kamu sayang, nggak baik marah terlalu lama, beliau hanya ingin bertemu denganmu, hanya itu. Kalau kamu menolak nanti Mama dan adik bayi di dalam perut Mama sedih." ucap Rama meyakinkan Atma.
"Baiklah, ini semua bukan karena Nenek, tapi karena Mama dan adik bayi agar tidak sedih." jawab Atma dengan memanyunkan bibirnya. Atma anak yang memiliki watak sangat keras, sama seperti Denis. Mengingat Denis, aku harus bisa menerima keputusan majelis hakim yang memberikan hukuman lima tahun penjara atas apa yang ia perbuat padaku dan Atma beberapa bulan yang lalu. Aku berharap ia akan berubah menjadi lebih baik setelah menjalani hukumannya.
Kami sudah sampai di rumah keluarga Denis, Ibu tersenyum bahagia, matanya berbinar melihat kedatangan kami.
"Bolehkah Nenek memelukmu anak tampan?" Atma mengangguk dan Ibu memeluknya. "Maafkan Nenek atas semua kesalahan yang telah dilakukan padamu dan Mama Amanda."
"Apa Nenek menyesal?" tanya Atma ragu.
"Sangat, sangat menyesal sayang. Maaf darimu meringankan rasa bersalah Nenek padamu."
"Atma kesini bukan karena Nenek, tapi karena Mama dan adik bayi yang masih di dalam perut Mama," ucapnya ketus lalu menarik tangan Rama keluar dari rumah.
Air mata Ibu Sinta luruh membasahi pipi, penolakan Atma terhadapnya membuat beliau semakin merasa bersalah.
"Berapa usia kandunganmu?"
"Hampir sembilan bulan, Bu."
"Bolehkah Ibu mengelus perutmu Amanda?"
Ia mengelus perutku dengan lembut, dahulu saat aku mengandung Atma, sangat mengharapkan sentuhannya seperti ini, tapi itu hanya harapan ketika Ibu tetap bersikap dingin kepadaku. Tak terasa air mataku menetes, ingatanku terlempar beberapa tahun yang lalu saat aku masih menjadi seorang menantu dari keluarga Narendra.
"Dahulu keangkuhan, kesombongan, harga diri yang tinggi, membuat ibu tidak sudi mengakui kamu sebagai menantu. Dan sekarang Ibu hanya bisa mengakui kamu sebagai Mama dari cucu Ibu, tanpa ada sebutan seorang menantu keluarga Narendra. Ibu telah menyia-nyiakan wanita baik sepertimu. Kata maaf tidak akan bisa menebus kesalahan Ibu padamu."
"Amanda sudah memaafkan Ibu, sekarang Amanda dan Atma sudah bahagia, dan kebahagiaan saat ini karena kesedihan masa lalu. Semua sudah menjadi takdir Nya, Amanda sudah mengikhlaskan semuanya."
"Terimakasih Amanda." Aku tersenyum tipis, dan menyerahkan amplop coklat kepadanya.
"Amanda tidak butuh harta keluarga Narendra, harta bukan segalanya untukku. Aku akan membesarkan Atma dari hasil keringatku sendiri. Ibu bisa datang ke rumah kapan pun untuk bertemu Atma."
"Tidak Amanda, ini adalah hak cucu Ibu, salah satu cara Ibu menebus segala kesalahan yang pernah Ibu lakukan pada kalian. Ibu akan tetap memberikan semua ini untuk seorang Danish Atma Narendra."
"Tapi ... Arghhhh, sakit ...."Â
Belum selesai berbicara, perutku terasa sangat nyeri, hingga aku tidak mampu berdiri.
"Tolong ...." Teriak ibu panik.
~ Bersambung
__ADS_1