
💕Happy reading 💕
Flasback On
Bu Sinta menemui Dokter spesialis penyakit dalam yang ada di rumah sakit, dokter yang juga menangani Denis, kebetulan dokter spesialis penyakit dalam sedang ada waktu praktek di poliknik jadi tidak sulit untuk berkonsultasi.
“Anak saya mengalami kerusakan hati, saya bermaksud untuk memberikan sebagian hati untuk anak saya, Dok.”
“Apa anda dalam keadaan sehat?”
“Untuk saat ini saya merasa sehat, Dok.”
“Hanya merasa itu tidak cukup, Bu. Saya butuh rekam medis atau anda bisa berbicara dengan jelas penyakit yang pernah di derita sebelumnya,” desak Dokter.
Percuma saja berbohong karena semua akan terungkap melalui serangkaian test laboratorium jika memang dijadikan pendonor hati.
“Beberapa kali mengalami serangan jantung dan juga hipertensi, Dok.”
“Maaf Bu, pendonor harus dalam kondisi sehat. Mendonorkan hati beresiko besar jadi tidak bisa sembarangan melakukan tindakan.”
“Tapi, Dok—"
“Maaf, Bu. Itu sudah prosedur pasti untuk tindakan pendonoran organ dalam tubuh. Karena akan mengalami resiko fatal untuk keduanya jika tidak dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur tindakan.”
“Syarat menjadi pendonor hati apa saja, Dok?”
“Memiliki golongan darah yang sama, bukan hanya itu sampel jaringan pun harus sama jika tidak maka operasi pengambilan hati dari pendonor akan sia-sia dan malah membahayakan keduanya.”
“Saya mohon untuk memberikan izin agar bisa mendonorkan sebagian hati untuk anak saya, Dok.”
“Maaf, tetap tidak bisa.”
Bu Sinta kecewa mendengar penjelasan dari Dokter, ia terduduk lesu saat keluar dari ruangan konsultasi.
‘Golongan darah yang sama, Rama ... ya Rama ... tidak ada salahnya aku mencoba kemurahan hati Rama untuk membantu anakku.’ Monolog Bu Sinta.
Ia langsung bergegas ke rumah Rama dan Amanda dengan harapan besar Rama mau membantunya kali ini untuk yang terakhir, apa pun yang diminta Rama sebagai syarat akan ia penuhi, pikir Bu Sinta dengan membulatkan tekad, menampik rasa malu, tidak enak, dan memasang muka setebal mungkin atas permintaan besar yang ingin ia ajukan.
Flashback back Off
**
“Tidak!”
Amanda menolak dengan penuh ketegasan dan keyakinan atas apa yang diminta Bu Sinta kali ini.
“Mama mohon Amanda, apa pun yang kalian minta akan mama turuti asalkan Rama mau mendonorkan sebagian hatinya untuk Denis,” kata Bu Sinta yang masih dalam posisi menekuk lutut, duduk bersimpuh di depan Rama.
Air mata Bu Sinta berduyun-duyun turun dari pelupuk mata, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kini tengah meminta belas kasih dari Rama dan Amanda.
“Berdirilah Bu Sinta,” kata Rama yang mengangkat bahu Bu Sinta dan menggiringnya kembali untuk duduk di tempatnya.
“Saya mohon Rama, demi anak saya,” pinta Bu Sinta yang tetap meminta hal yang tidak akan pernah diwujudkan oleh Amanda tentunya.
Amanda menggelengkan kepala, sungguh ia tidak percaya Bu Sinta meminta sesuatu hal besar ini pada suaminya.
Rama yang melihat betapa emosinya Amanda, mengelus punggung tubuh bagian belakang sang istri dan tangannya merayap berusaha menggenggam tangan sang istri yang sedang dalam emosi.
“Amanda tidak butuh harta Mama, Amanda tidak menginginkan apa pun. Memang Mas Rama tidak sekaya Denis, keluarga Narendra tapi kami tidak akan mengemis harta dan menjual organ tubuh Mas Rama hanya demi iming-iming kekayaan,” tukas Amanda penuh emosi.
“Bukan maksud Ma—"
“Stop!” teriak Amanda, membuat mulut Bu Sinta terkatup rapat.
“Sayang,” tegur Rama yang berusaha menenangkan sang istri.
__ADS_1
“Tolong jangan ganggu kebahagiaan kami, menjadi pendonor memiliki banyak resiko termasuk bisa mengorbankan nyawa. Mama tahu, betapa berartinya Mas Rama untuk anak-anak? Denis hanya diharapkan Atma dan Mama serta Vanya. Namun, Rama lebih dari itu, Ma!”
“Sayang, sudah.”
“Tidak, Mas! Biar aku tegaskan agar wanita di depanku ini tidak hanya mementingkan egonya, kita baik padanya dan juga Denis tapi kita tidak bodoh!”
Rama memberikan pelukan untuk sang istri, “Jaga emosimu, Sayang. Dalam situasi apa pun jangan sampai emosimu mengalahkan kecerdasanmu,” bisik Rama yang melihat dada Amanda naik turun menahan kesal.
Kita hidup untuk bermanfaat bukan memanfaatkan orang lain apa lagi dimanfaatkan, big no!
“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Bu Sinta frustrasi menangkupkan dua tangan ke wajah.
Amanda sedang berusahalah menurunkan emosi, bahkan Rama memberikan minum untuk sang istri sambil terus mengelus punggung tangan Amanda dengan sayang.
“Maaf, Bu. Untuk tranplantasi hati kami tidak bisa membantu, terlalu beresiko. Saya sangat mencintai istri dan keluarga, tidak akan saya berkorban pada sesuatu yang akan menolong orang lain tapi menyakiti orang yang saya sayangi dan cintai. Bu Sinta memang memiliki segalanya, tapi kami sudah cukup bahagia dengan apa yang kami miliki,” imbuh Rama kemudian.
“Maaf, Nak. Maaf ... saya hanya frustrasi dengan keadaan Denis, bukan saya tak mau berkorban, tapi Dokter tidak memberikan izin untuk menggunakan hati saya sebagai pengganti hati Denis yang rusak dengan alasan kesehatan, padahal sungguh saya rela berkorban untuk Denis terpenting dia hidup dan bisa mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang sudah saya lakukan pada hidupnya. Dosa masa lalu yang selalu membuat saya merasa bersalah sepanjang masa,” ungkap Bu Sinta.
“Jika itu alasannya, jika memang Mama mau menyumbangkan hati milik Mama maka Amanda akan mengurus prosesnya. Perjanjian sebelum operasi dilakukan untuk pendonor hati bisa dilakukan.”
Wajah Bu Sinta mendongak, binar bahagia jelas sangat kentara.
“Mama akan melakukannya, Nak.”
“Namun, Mama juga harus tahu resikonya. Kehilangan nyawa atau membuat fisik lemah pasca operasi akan terjadi, dan Mama tidak bisa menuntut tim medis atas apa yang terjadi pada tubuh Mama setelah operasi dilakukan.”
“Tidak Mama akan menanggung semua resiko.”
“Secara medis tranplantasi hati memiliki 2 resiko, reaksi penolakan pada tubuh Denis kemungkinan besar tetap terjadi dalam arti ada penolakan di tubuh Denis atas hati yang diberikan pendonor dan jika itu terjadi tranplantasi hati tidak akan berpengaruh pada kesehatan dan kedua Denis lebih rentan terkena infeksi walaupun Denis bisa saja meminum obat penekan infeksi untuk meningkatkan imun sepanjang hidupnya,” terang Amanda dari sisi medis dengan wajah kaku dan tetap berekspresi kesal.
“Mama akan melakukan apa pun, Nak.”
“Baik ... Amanda akan membantu, tapi tidak untuk memberikan hati Mas Rama untuk Denis yang hanya berstatus mantan suami, sudah banyak pengorbanan Mas Rama untuk Amanda dan Atma, dicintai olehnya selama ini adalah anugerah terbesar dari Tuhan dan Amanda tidak akan menyia-nyiakannya apalagi menjerumuskan seseorang yang Amanda cintai ke dalam rasa sakit. Tidak akan!” tegas Amanda.
“Maaf, Maaf ... saya hanya berpikir kalut, ketika usaha sudah dilakukan. Sungguh bukan untuk membodohi kalian.”
“Pulanglah, Ma. Besok akan Amanda bantu untuk mengurus semuanya,” kata Amanda dengan nada mengusir secara halus.
Selang beberapa menit akhirnya Bu Sinta angkat kaki dari kediaman Rama dan Amanda, wajah kesal masih tampak terlihat di wajah cantiknya. Rama terkekeh melihat untuk pertama kali Amanda marah seperti tadi atas permintaan gila mantan ibu mertuanya.
“Jelek kalau marah,” kata Rama menoel dagu sang istri.
“Kukira Mas akan mengiyakan atas dasar kemanusiaan, huhh! Jika itu terjadi maka aku akan sangat marah.”
“Benarkah? Bisakah kamu marah dengan suami tampan yang sangat dicintai ini?” tanya Rama menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
Bukan menjawab, Amanda malah menubruk tubuh suaminya, mengeratkan pelukan sambil memejamkan mata.
“Love you so much, Mas Rama,” ungkap Amanda menaruh kepala di bahu kokoh Rama.
“I know,” jawab singkat Rama sambil mengulum senyum.
Plak!
Pukulan di bahu langsung dilayangkan Amanda, “Enggak romantis!” protesnya yang di sambut gelak tawa Rama.
“Mau romantis? Hmmm?” tanya Rama menaik turunkan alisnya.
“Jangan aneh-aneh!”
“Tidak ... hanya menambah anak ke-empat akan menambah bukti keromantisan, tak perlu ucapan, lebih baik bukti, benar ‘kan?”
“Modus!” elak Amanda yang melepaskan pelukan lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Rama.
Tawa Rama akhirnya pecah, tapi bisa membuat sedikit rasa kesal Amanda menghilang.
__ADS_1
**
“Hari ini mama sudah harus bekerja aktif di rumah sakit ya, Sayang. Titip adik, Atma harus menjaga kondisi tubuh agar tidak lelah, kurangi kegiatan perbanyak istirahat,” pamit Amanda pada Atma pagi ini.
Selain sudah bekerja aktif kembali melakukan tugasnya sebagai dokter, ada satu hal yang akan dilakukan Amanda hari ini terkait membantu Bu Sinta menyelesaikan administrasi sesuai kode etik dan prosedur rumah sakit untuk menjadikannya pendonor hati untuk Denis sesuai ucapannya semalam.
“Papa akan menemani kalian sampai siang, Pagi ini kita main bersama dulu, biarkan Mama berangkat bertugas,” kata Rama yang juga ada di kamar besar milik Atma bersama si kembar.
Rama menggendong salah satu kembar yang baru saja terlelap dalam tidur.
“Iya, Ma ...,” jawab Atma lirih tak bersemangat, berat hati ketika ditinggal sang Mama bertugas.
Rama tersenyum ke arah Amanda, berisyarat agar Amanda tetap berangkat dan menyerahkan urusan Atma padanya yang akan memberikan pengertian lagi dan menghibur sampai siang nanti.
“Semangat, Sayang,” kata Rama saat Amanda mencium punggung tangan sang suami dengan takzim.
“Titip anak-anak ya, Mas,” ujar Amanda sebelum ia meninggalkan kamar.
“Jangan khawatir.”
“Anak Mama sayang, jangan cemberut dong,” kata Amanda yang di balas dengan senyum terpaksa Atma.
Akhirnya Amanda menuju rumah sakit setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, perawat langsung menyapa dengan senyum hangat ketika wanita bersnelli putih memasuki lobi rumah sakit. Kini tujuannya adalah bertemu dengan Dokter yang menangani Denis dan juga Bu Sinta.
Bu Sinta sudah menyambut kedatangan Amanda ketika ia menghampiri di ruang tunggu ICU, dokter yang menangani Denis pun berada di ruangan. Amanda membawa Bu Sinta memasuki ruangan dokter yang merupakan rekan seprofesinya dan langsung mengungkapkan apa yang sudah menjadi kesepakatan saat pembicaraan semalam.
“Surat secara resmi tentang tidak ada paksaan pendonor dan juga tidak menuntut sesuatu jika terjadi hal buruk pasca operasi saya rasa sudah cukup kuat, Dok,” ucap Amanda.
“Tapi kondisi riwayat kesehatan terkena serangan jantung beberapa kali dan hipertensi, itu sangat beresiko Dokter Amanda.”
“Tapi sudah disetujui oleh pendonor dan itu pun tanpa paksaan, saya hanya menghindari Ibu dari pasien atas nama Denis malah bunuh diri untuk bisa menyerahkan organ hatinya, bukankah itu lebih beresiko sangat fatal?” desak Amanda dengan sedikit menakut-nakuti walaupun bisa saja terjadi.
Dokter yang menangani Denis terdiam sejenak.
“Bukankah kita ketahui, organ hati bisa dilakukan dari seseorang yang sudah meninggal bukan hanya khusus orang yang meninggal saja? Terpenting detak jantung masih hidup dengan kematian di bagian otak saja? Apa anda akan menerima kemungkinan Ibu dari pasien berbuat nekad, Dok?” Amanda kembali mendesak dengan semua pendapatnya secara medis.
“Semisal dari 6 syarat, hanya satu yang tak terpenuhi, apakah objektif jika ditolak niatan seorang Ibu untuk mendonorkan hatinya untuk sang anak? Sampel jaringan 90 persen pasti sama karena beliau ibu kandungnya dengan golongan darah sama-sama Rhesus negatif,” cecar Amanda.
Sang Dokter menghela napas panjang, berpikir keras sedari tadi.
“Baiklah, kami akan persiapkan semuanya termasuk surat pernyataan di atas materai untuk melindungi rumah sakit ini dari sanksi karena itu keinginan dari keluarga pasien dan si pendonor hati itu sendiri,” putus Dokter yang akhirnya memberikan keputusan.
Bu Sinta yang sedari wajahnya terlihat tegang, akhirnya bisa tersenyum lebar dan sedikit bernapas lega. Hanya sedikit ... karena ia tak tahu setelah tranplantasi hati apakah masih bisa bertahan hidup atau tidak, masih banyak kemungkinan yang akan terjadi.
“Terima kasih Amanda,” kata Bu Sinta.
Amanda mengangguk kaku, ia masih merasa kesal atas kejadian semalam.
“Hati Denis terluka kala perceraian kami dan harus dipisahkan dari Atma—anaknya, itu semua karena kerasnya hati Mama. Membuat luka hati itu sangat mudah, menyembuhkan sangat sulit hingga Denis merusak organ hati hanya karena hati perasaannya yang tersakiti. Berpikirlah sebelum berkata karena kata maaf belum tentu menyembuhkan luka.”
Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, Amanda berlalu tanpa pamit, ucapan yang rasanya menghunus jantung hingga wanita tua itu merasakan denyut nyeri yang luar biasa mengingat semua kesalahannya pada anak, mantan menantu dan juga cucu. Tidak untuk Rama! Papa sambung cucunya. Bu Sinta terduduk lemah dengan tubuh bergetar karena tangisan ....
Salah satu hal yang paling menyedihkan ketika terlalu baik pada seseorang, dia akan berpikir kamu cukup bodoh untuk bisa dimanfaatkan. Kita hidup untuk bermanfaat bukan memanfaatkan orang lain apa lagi dimanfaatkan, ingatlah akan hal itu!
~Bersambung~
Enggak di demo online 'kan?
By the way ... nikmati saja alurnya yang bikin hati naik roller coaster.
Penulis tidak akan mematikan passion menulisnya hanya karena mengikuti keinginan pembaca, akan selalu terselip sebuah makna dalam cerita pada setiap bab, cerita ini sudah sesuai kerangka, terprogram dan terstruktur.
Like dan komentar biar lebih semangat menulis cerita ini di platform Noveltoon.
Terima kasih untuk supportnya ....
__ADS_1
Love semuanya 💕💕